
Walaupun aku berkata penuh percaya diri pada Rena, sebenarnya ada sedikit keraguan untuk melawannya. Dari pertukaran singkat tadi saja aku bisa merasakan kalau Rena adalah lawan yang merepotkan.
Rena masih mengamatiku, ia tidak lagi gegabah langsung menyerang setelah serangan sebelumnya bisa dihindari.
Aku meneguk ludah, pirasatku mengatakan kalau saat ini Rena tengah menyusun strategi agar bisa membuatku jatuh. Setiap detik ia melihatku membuat debaran jantungku semakin cepat.
Aku melirik jam tangan, ini sudah 10 menit aku disini. Jika aku melanjutkan meladeni Rena bertarung, mungkin ini akan berakhir lama. Lagian, aku harus segera kelapangan untuk berolahraga, Pak guru pasti menanyakan kenapa aku tidak kembali-kembali.
Aku menghela napas sejenak, menatap mata hitamnya.
“Aku menyerah, Rena, aku kalah!” Aku menyatukan kedua tangan, ingin meminta maap padanya. “Kau mungkin masih sulit memaapkanku, kau bisa meminta sesuatu dariku sebegai penebusan kesalahan tadi.”
Aku tahu, dalam posisi ini akulah yang salah. Rena tidak akan menyerangku jika saja aku tidak menyentuh tubuhnya.
Rena mengerutkan dahinya sejenak sebelum diganti dengan senyuman sinis.
“Kau bilang, aku bisa minta sesuatu darimu agar aku memaapkanmu, bukan?”
Aku mengangguk, hanya ucapan itulah yang terbesit dipikiran kalau Rena masih tidak memaapkanku.
“Kalau begitu aku menerima tawarannya.”
“Apa yang kau mau minta dariku?”
“Sebenarnya aku sempat berpikir memintamu agar menjadi pelayanku selama seminggu, tetapi setelah mengetahui kau bisa beladiri, rasanya aku ingin bertarung denganmu.”
Aku mengerutkan alis, alasan kenapa aku tidak ingin membawa ini lebih jauh adalah karena tidak mau bertarung dengan dia.
“Gini saja, aku buat penawaran yang menarik. Jika kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan beladiri hari ini, aku akan melupakan kejadian sekarang.”
“Bagaimana jika aku kalah?”
“Tidak ada. Mungkin kau hanya babak belur atau paling tidak patah tulang.” Rena tersenyum lebar.
Aku menyipitkan mata curiga, entah kenapa aku merasa kalau ini hanya alibi Rena agar bisa memukuliku lebih keras dan puas. Bisa jadi dia berencana ingin mematahkan kedua lenganku.
Aku menyetujuinya. “Baiklah, sepertinya aku tidak dalam kondisi memilih.”
Kepercayaanku menang melawan dia hampir sekitar 40 persen, Rena pasti belum menggunakan seluruh teknik beladirinya.
“Tidak harus basa-basi lagi, kita mulai sekarang!”
Sembari berkata demikian, Rena berlari kearahku dan memulai serangan dengan tendangannya. Kali ini aku sudah siap, aku bergeser sedikit kekiri untuk menghindari serangan kakinya. Rena mengayunkan tendangan selanjutnya, sedangkan aku terus menghindar dan menghindar.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, gerakan tendangan Rena mulai berubah, jika sebelumnya ia melakukan serangan biasa tanpa teknik, kali ini ia menggunakan kemampuan khusus pada tendangannya.
Rena seperti seorang yang menari dengan kakinya, setiap serangannya sungguh cepat dan tak dapat diprediksi. Jika aku dalam posisi menonton sekarang, mungkin akan terpukau dengan teknik tendangannya itu.
Dia terus mengayunkan kakinya menyerangku. Kali ini aku sudah tak bisa lagi menghindar, 90 persen tendangan Rena aku tangkis dengan punggung tangan, 10 persen sisanya, tendangan dia meleset.
Walaupun tidak ada serangan yang mengenai tubuhku, aku tetap dalam posisi tidak menguntungkan. Beberapa tendangan Rena sangat kuat, tanganku yang menangkisnya mulai bergetar merasakan sakit dan nyilu.
“Sampai kapan kau bisa bertahan, heh?” Rena tertawa mengejek, jelas dia mengetahui rasa sakit ditanganku dengan ekpresi wajah.
Aku mengumpat dalam hati. Pada dasarnya, teknik tendangan Rena yang seperti menari itu tidak membiarkanku untuk menyerang balik. Bahkan dengan teknik khususnya, ia tidak memberikan jeda untukku mengambil napas.
“Kau seharusnya membuang pikiran untuk tidak memukul seorang wanita. Ini adalah pertarungan kita, kau boleh memukulku dengan kemampuanmu, itupun jika kamu bisa…”
Aku menggertakan gigi dengan kesal, jelas-jelas dia ingin memprovokasiku agar terbawa emosi.
Ungkapan Rena memang ada benarnya, walaupun samar, aku secara sadar akan sulit memukul atau menyakiti wanita dengan kontak fisik. Sebaliknya, jika Rena terus menyerang tanpa aku melawan, maka kemenangan sudah jelas ditangan dia.
Rena mengayunkan tendangannya kearah dadaku yang segera aku tahan dengan kedua tangan. Kali ini tendangannya sangat kuat, membuatku mundur beberapa langkah.
Rena membiarkanku mengambil napas sebentar.
“Kau benar-benar sudah berpengalaman dalam pertarungan, aku bisa merasakannya saat kau menghindari seranganku dengan seminimal mungkin.” Rena tersenyum lebar, seperti menikamati hal ini. “Aku jadi penasaran? Bagaimana jika kau yang menyerangku sekarang, dan kini aku akan bertahan?”
Rena mengangguk. “Tidak usah ragu-ragu untuk menyerang, anggap saja lawanmu sekarang adalah laki-laki.” Rena mengayunkan jarinya, memberi intruksi agar aku maju.
Aku merasakan jelas kalau Rena tengah meremehkanku. Bukankah dia terlalu percaya diri dengan beladirinya.
“Kalau begitu, aku tidak akan sungkan!”
Aku berlari dan memberikan serangan tendangan padanya secara terus menerus.
Rena mendengus, mencibir kecil, ia menghindari hal itu dengan mudah. Dengan kelenturan tubuhnya, tidak sulit tendanganku ia tangkis dan membalasnya, tapi Rena memilih menolak untuk menyerang.
Wajah Rena yang awalnya tersenyum sinis sambil menghindari seranganku, mulai luntur seiring berjalannya waktu. Rena merasa teknik ayunan kakiku terasa familiar, hingga dititik puncak, ia mulai menyadari sesuatu.
“Tendangan ini… jangan-jangan kau?!”
Aku tidak menanggapi responnya, lebih memilih terus mengayunkan kakiku tanpa ragu-ragu.
Rena yang masih terkejut melihatnya, mulai kewalahan dengan seranganku. Ia tidak lagi menghindar tetapi menangkisnya, kejadian ini peris seperti diposisiku yang tadi. Aku jelas tak memberi ia jeda sedikitpun.
“Kau mencuri teknik tendanganku?!” Rena berseru lantang sambil menerima tendanganku selanjutnya.
__ADS_1
“Mencuri? Lebih tepatnya aku mempelajarinya.”
Kali ini, kaki yang kuayunkan mengenai perut Rena, membuat ia mundur beberapa langkah. Rena bertekuk lutut memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.
“Kau! Bagaimana bisa menggunakan teknik tendanganku?! ‘Tendangan Tarian Rembulan’ adalah teknik yang aku ciptakan sendiri.” Rena bertanya sekaligus takjub, dia masih meringis merasakan sakit diperutnya.
Aku memang menyerang Rena dengan teknik yang sama yang ia gunakan sebelumnya, saat dia menyerangku, secara sadar aku mempelajari hal tersebut lalu mengcopy’nya sepersis mungkin.
Singkatnya, aku bisa menggunakan teknik ‘Tendangan Tarian Rembulan’ dengan sekali melihat.
Ada satu hal yang aku sadari, apa yang dinamai teknik ‘Tendangan Tarian Rembulan’ itu, adalah teknik beladiri khusus yang digunakan perempuan.
Walaupun Rena melihatku seperti meniru tendangannya tadi, secara detail aku tidak bisa menggunakan tekniknya semaksimal mungkin.
Ada alasan kuat kenapa aku tidak 100 persen menirunya.
Pada dasarnya struktur tubuh laki-laki dan perempuan mempunyai lekuk tubuh yang berbeda. Wanita mempunyai keunggulan dalam kelenturan sendinya dibandingkan laki-laki, terutama di bagian sendi pinggulnya. Bisa dibilang, wanita mempunyai pinggul yang lebih lebar dari pada laki-laki, artinya, jangkauan dan gerakan mereka akan lebih kuat dan cepat.
Serangan tendangan dari teknik tadi jelas hanya bisa disempurnakan oleh wanita, atau dengan kata lain, laki-laki tidak bisa mempelajari dengan sepenuhnya. Mungkin saat ini, Rena sudah menyadari hal itu.
Rena mencoba bangkit dan bersiap kembali, kali ini boleh jadi dia akan menyerangku setelah mengetahui potensi pada diriku. Tetapi, sebelum itu terjadi, aku sudah bergerak terlebih dahulu.
Aku menghilang dari pandangan Rena dan tiba-tiba muncul dihadapannya.
Rena tanpa menduga sedikitpun, tidak bisa menghindar saat serangan tapak tanganku menyentuh perutnya kembali. Alhasil ia terpental ke belakang hingga menyentuh sesuatu dibelakangnya.
Aku tentu menahan tenagaku agar tidak terlalu menyakitinya, niat awalku adalah agar melumpuhkan Rena dan membuatnya menyerah.
Sialnya, diluar dugaanku, Rena terpental kearah batang kayu yang menyandar didinding pagar. Kayu-kayu yang sebelumnya berdiri mulai bergeser ketika tubuh Rena mengenainya, hanya soal waktu batang kayu itu jatuh.
“AWAS!” Aku berseru.
Rena mana paham yang aku maksud, ia masih terkejut dengan seranganku yang tiba-tiba tadi.
Aku merapatkan gigi, segera bergerak mendekat.
Aku memeluk tubuh Rena lalu menindihnya dilantai, aku berada diatas tubuhnya. Rena hendak protes dan marah atas tindakanku yang sembrono, namun setelah mendengar suara keras yang mengenai punggungku, ia mulai mengerti maksudnya.
Dengan sengaja, aku menjadikan tubuhku sebagai tameng agar batang balok kayu itu tidak mengenai Rena.
“Raka, kau…”
“Diam, jangan bergerak dulu!” Aku mengigit bibir, menahan rasa sakit ditulang punggungku.
__ADS_1
Sekitar ada 7 balok kayu yang menghantam kuat pada panggungku, selain besar kayu tersebut juga memiliki berat yang lumayan. Aku sebaik mungkin melindungi Rena yang kini ada dibawahku, jika tadi telat sedikit saja, mungkin ada balok kayu yang mengenainya.