
Hari libur telah tiba, hal yang selalu dinanti-nanti oleh pelajar sepertiku. Di hari ini ada banyak rencana untuk menghabiskan waktu libur tersebut, dan salah satunya adalah membuat kue.
Tapi tentunya bukan aku yang persis membuatnya, melainkan Bu Lisa, disini aku hanya membantunya saja.
“Kita buat kue yuk Mas besok dirumah.” Ujarnya disaat kami hendak mau tidur. “Adek bosan santai-santai terus, jadi ingin sekali beraktivitas. Boleh ya?”
Dia menatapku dengan wajah yang memohon, terlihat imut dan manis. Aku mengangguk, sulit rasanya untuk menolak permohonan dari istriku ini.
Memang saat Bu Lisa hamil, dia dilarang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat karena kondisi perutnya yang kian membesar. Bahkan kalau bisa, dia harus bersantai dalam waktu kehamilannya. Saat aku pergi kesekolahpun, Bu Lisa hanya diam dirumah saja. Dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku, menyiram tanaman, bersantai di teras rumah, dan lain sebagainya yang membuatnya benar-benar nyaman.
Segala aktivitas dirumah ini sudah dikerjakan oleh para pelayan, termasuk pelayan yang bekerja untuk menjaga kehamilan Bu Lisa, yang dimana mereka siap memenuhi segala yang dibutuhkan oleh istriku.
Bisa dibilang, istriku sangat dimanjakan dirumah ini, diberi kasih sayang, cinta, dan pengertian. Itu memang wajar sekali, karena bagaimanapun dia tengah hamil muda. Jangankan dari orang yang kaya sepertiku, dari kalangan menengah saja, suami pasti akan berusaha memanjakan istri hamilnya.
“Nanti aku bantu ya, Ma?” Aku mengelus pucuk kepala Bu Lisa yang kini berada di dada bidangku, menyandar manja.
“Memang kamu bisa?” Dia mendongak.
“Tidak sih, aku cuma ingin memasak bersama kamu aja, sayang.”
Bu Lisa mengangguk, tersenyum. “Besok kita masak yang spesial ya, Mas. Namanya kue bolu ala Ralisa, Mas Raka dan Lisa.” Guraunya.
“Bisa aja kamu...” Kucolek hidungnya dengan gemas, sedangkan yang dicolek justru malah tertawa kecil kemudian menenggelam wajahnya ke dadaku lagi. “Suka deh kalau Bunda manja-manja gini.”
“Hehe... Soalnya Adek ingin deket terus sama Mas Raka.”
Aku terkekeh kecil, mungkin alasan sifat Bu Lisa kian hari kian manja adalah karena dia tengah mengandung. Entahlah, aku tidak tahu persisnya, namun yang pasti aku suka dengan Bu Lisa yang seperti ini.
***
Aku baru saja turun dari anak tangga setelah usai mandi pagi, celingukan melihat rumah yang terlihat lengang, menyisakan para pelayan yang sedang bekerja. Aneh, kenapa mamahku dan Bu Ayu tidak terlihat?
Aku kemudian ke dapur. Istriku sudah ada disana sejak 5 menit lalu dengan seragam celemeknya, di bagian perutnya terlihat menggelembung besar. Rambutnya yang panjang diikat seperti ekor kuda. Bu Lisa begitu sangat cantik dan manis. Ia siap membuat kue.
“Pagi, Mas.” Sapanya dengan senyuman paling indah sepanjang masa.
“Pagi, Sayang.” Kukecup keningnya singkat lalu pindah ke perut hamilnya. “Pagi anak-anak ayah.”
Bu Lisa tersenyum hangat. Dia paling senang kalau aku berbicara pada perutnya.
__ADS_1
“Apa kabar anak-anak ayah disana, hm? Ayah sama ibu sudah kangen nih, pengen cepat ketemu.” Aku melanjutkan berbicara. “Ralisa kecil, sekarang papah sama mamah buat kue, kalian jaga kesehatan ya kalau nanti sudah bertemu.”
“Mereka pasti sehat, Mas.” Bu Lisa berkata optimis.
Aku mengangguk. Mencium keningnya sekali lagi. “Aku akan menjaga kalian berdua, sayang, sebagai seorang suami dan ayah.”
Wajah Bu Lisa seketika memerah, tergugup salah tingkah.
“Begitu saja kamu sudah tersipu, Lisa?”
“Mas sih.. bikin jantung adek deg-degan tahu.”
“Hehe… Maap sayang. Sini, mau Papah peluk?” Aku tersenyum, merentangkan kedua tangan.
Tanpa di tawar dua kali, Bu Lisa langsung berhambur kedalam pelukanku. Tangannya begitu erat melingkar. Aku mengelus punggungnya, ikut membalas pelukan tersebut.
“Sudah ah, kapan kita buat kuenya kalau saling peluk terus.” Bu Lisa melepaskan pelukan setelah satu menit lamanya.
“E’hem.. Memang yang meluk aku duluan tadi siapa ya?” Aku memasang wajah polos.
“Tapikan Mas yang menawar pelukan sama Adek.” Bu Lisa tidak mau kalah.
“Kalau nanti Adek tolak. Mas pada akhirnya tetep aja meluk.”
“Sok tahu kamu...”
“Memang kenyataan.”
Kami malah saling sindir, tidak mau mengalah. Aneh, cepat sekali suasana berbalik. Pada akhirnya karena Bu lisa merasa kalah, ia memberikan cubitan padaku lantas berlari kecil menjauh dariku.
Aku juga tidak mau kalah, langsung menghampiri dan membalasnya dengan gelitikan di pinggangnya. Membuat ia tertawa lepas. Kami malah saling kejar didapur, lupa akan tujuan awal membuat kue.
“Sudah ya, Mas, jangan main-main lagi. Kalau gini terus kapan kita buat kuenya.” Bu Lisa berkata lemas, ia terlalu banyak tertawa karena gelitikanku.
Aku mengangguk mengerti, “Ngomong-ngomong mamah sama Ibu kamu dimana, Dek?”
“Adek juga gak tahu, tadi kata pelayan katanya Mamah Ratna keluar sebentar, mungkin bersama ayah kamu? Kalau Ibu Adek sihh harus kerumah dulu, ada yang ketinggalan saat kami pindah kesini.” Jelasnya.
Keluarga istriku yaitu Pak Harun dan Bu Ayu, memang pindah kerumahku sejak sebulan yang lalu karena kondisi kehamilan Bu Lisa yang sudah menginjak kesembilan bulan.
__ADS_1
Aku memangut-mangut kepala. Bagus! Kalau keadaan seperti ini aku bersama istriku bisa bebas mesra-mesraan, tidak perlu khawatir akan ketahuan. Tentu saja, jika itu mengecualikan para pelayan yang ada.
Setelahnya kami memulai membuat kue. Tidak banyak yang kubantu, aku cuma berbuat apa yang disuruh Bu Lisa.
Walaupun dalam keadaan hamil, istriku masih terampil dalam membuat kue. Aku sungguh terpana saat ia begitu gesit membuat adonan, merekahkan cangkang telur, menuangkan pada loyang, memasukan ke dalam oven, lalu tidak lama ‘TING!!’ Bu Lisa mengeluarkan bolu yang masih panas. Sungguh terlihat lezat…
“Kenapa mandangnya gitu sih?” Bu Lisa yang hendak menghias kuenya merasa risih saat ada sepasang mata terus menatapnya.
“Adek itu memang istri idaman deh.” Aku melangkah mendekat lalu berdiri dibelakangnya lantas memeluknya erat.
“Kenapa bilangnya gituh?” Istriku tergugup, sudah lama dirinya tidak dipeluk ketika memasak.
“Kenapa? Karena kamu itu sudah cantik, cerdas, pintar masak lagi. Siapa laki-laki yang nolak menjadikanmu sebagai istri.”
“Tapi kalimat itu tidak penting. Karena sekarang Lisa sudah punya suami yang Lisa sayang.”
“Siapa memang?” Aku semakin erat memeluknya, meletakan daguku di pundaknya.
“Tentu saja kamu, suamiku.”
Suasana kami berdua semakin rumit, menuntut hal yang lebih. Di tambah karena aku memeluknya dari belakang membuat hal ini mengarah pada yang lain.
Dari depan Bu Lisa tiba-tiba mencengkramkan tangannya dengan tanganku, saling berpegangan. Wajah dia sudah semakin memerah, ternyata Bu Lisa juga menginginkan hal ‘itu’.
“Sayang, kita ke kamar yuk?” Aku berkata pelan, “sudah lama kita gak ngelakuin itu, Mas jadi rindu...”
Bu Lisa mengangguk, pipinya merona jelas. “Tapi Adek malu sama pelayan-pelayannya.”
Aku menoleh kesalah satu pelayan yang sedari tadi pura-pura tidak melihat aksi romantis kami, ia sedang mengelap kaca jendela. Aku memberikan sedikit intruksi padannya yang segera ia pahami.
“Mereka pasti memahami hal ini.” Aku berbisik di telinga Bu Lisa.
Aku menarik tangannya pelan dan mengajaknya ke lantai dua kamar. Bu Lisa malu-malu mengangguk, menatapku dengan salah tingkah.
Sedangkan untuk kue bolu itu kami biarkan begitu saja, karena sekarang aku dan dia menginginkan hal yang lebih dari sekedar kue bolu.
__ADS_1
**Like dan komennya**...