
Tanaman yang tumbuh di tempat yang salah pada akhirnya akan mati juga.
Sepulang sekolah tadi, aku tidak langsung melanjutkan ke rumah, lebih tepatnya aku nongkrong terlebih dahulu di toko swalayan yang seperti biasanya.
Ini sebenarnya sudah keempat kali aku seperti ini, sebelum pulang menuju rumah pasti aku akan tersangkut di sini, selain enak menikmati suasana sore juga enak untuk bermain game.
Satu hal lagi, saat aku datang selalu saja bertepatan dengan jam istirahat Nina. Sudah berhari-hari kami saling berbicara membuat kita menjadi lebih akrab, Nina juga sekarang tidak menyebutku dengan sebutan ‘Mas’ seperti sebelumnya, melainkan dengan menyebut nama asli.
Kalian tahu, Nina ternyata mempunyai hobi yang sama denganku yaitu sama-sama penyuka game, jadi tidak terlalu heran kalau kami bisa akrab secepat itu.
Nina mempunyai kepribadian yang terbuka, bisa dibilang dia mudah sekali menceritakan sesuatu pada orang lain. Untukku sendiri, orang yang terbuka seperti itu biasanya tidak pandai dalam menjaga rahasia.
Kedatanganku di sana juga sedikit membantu Nina, katanya dia dulu selalu sendirian ketika jam istirahat dan tidak ada yang mengajak ngobrol. Namun sejak kedatanganku, dia merasa ada yang menemani.
Aku hanya menggaruk kepala saat ketika ucapan itu dilontarkan, entah ia memuji atau apa aku tidak terlalu peduli mendengarkannya.
Ngomong-ngomong tentang tidak peduli, aku juga tidak peduli dengan UAS yang sudah hampir mendekat, kata murid-murid sekolah hanya kisaran seminggu lagi ujian itu dimulai, kami bersitatap, lalu tetap berlanjut bermain game.
“Hei, kau sedang melamunkan apa?” Nina menepuk pundakku yang membuat tatapanku mengarah padanya.
“Tidak, aku tidak melamunkan apapun,” Jawabku berbohong.
“Oh, apa kau memikirkan ujianmu itu? tenang saja aku bisa mengajarimu, kau tinggal tanya saja padaku, aku bisa menjawab semua pertanyaanmu itu.” Ucap Nina percaya diri.
Menurut Nina sendiri katanya dulu disekolah dia adalah murid yang berprestasi yang mempunyai nilai tertinggi disekolahnya. Aku yang dari awal mendengarnya tidak percaya, tetapi setelah aku iseng bertanya pelajaran sekolah, ia dengan telak menjawabnya dengan sempurna bahkan terkesan lebih dipahami.
Bukan itu saja, kata Nina dia mendapatkan tawaran beasiswa dari lima universitas yang ternama, lalu akhirnya dia memilih salah satu di antaranya yaitu universitas yang di kotaku sekarang.
Aku jelas-jelas lebih terkejut, aku tidak menyangka bahwa wanita di depanku ini mempunyai latar belakang yang menarik.
“Hei, kau bengong lagi, apakah sebegitu cantiknya hingga pandanganmu tidak beralih dari wajahku.” Ucap Nina becanda.
“Yeah, Kau memang cantik.” Jawabku singkat sambil mengambil air minum.
“Eh, benarkah? Apa… apakah seperti itu?” Nina gelagapan.
Aku mengerutkan kening, kenapa pula dia tiba-tiba menjadi seperti itu, apalagi wajahnya yang berubah merah. Ah, mungkin itu hanya salah lihat, mungkin itu cahaya matahari sore yang membuatnya terlihat demikian.
Sore itu kami habiskan sejam dengan mengobrol dan bercanda-canda, sebelum akhirnya Nina berpamitan pergi karena jam istirahatnya sudah habis.
Di keesokan harinya aku kembali kesini, dan seperti biasa juga aku duduk di sebelah meja paling pinggir, itu adalah posisi meja paling baik karena aku bisa melihat suasana taman yang ada di samping sana.
“Hei, kau menungguku?”
Tiba-tiba Nina sudah berdiri di sampingku dengan baju seragam kerjanya, wajahnya yang putih serta senyuman yang terukir membuat dia menjadi lebih cantik.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak menunggumu,” Jawabku ketus.
“Hmm… siapa pula yang mau ditunggu olehmu, wle…,” Nina berkacak pinggang dengan menjulurkan lidah keluar.
Aku tertawa kecil, tentu saja dia tidak marah hanya karena seperti itu, buktinya ia malah duduk di depanku.
“Tumben istirahatnya telat?” Ucapku berbasa-basi.
“Tadi ada banyak pembeli yang datang ke toko, kata senior kerjaku, aku tidak boleh dulu istirahat sebelum semua pembeli itu diselesaikan.”
Aku memiringkan kepala melihat situasi di toko, di sana para pembeli masih ada hanya saja tidak terlalu padat seperti yang dikatakan Nina.
“Apakah hubunganmu dengan pegawai lainnya sudah membaik?”
“Ah, lumayan.”
Aku menghembuskan nafas sejenak, sepertinya hubungan dia dengan pegawai lainnya tidak ada kemajuan sedikitpun. Aku bisa menebaknya ketika melihat tatapan dia yang menunduk.
Ah, sudahlah lupakan, mana ngerti aku tentang dunia kerja.
“Raka, kau mau?” saat aku baru mau menyalakan ponsel, tatapanku teralih menuju sebuah kotak bekal yang dipegang Nina.
“Itu apa?”
Aku mengangguk dan mengambil salah satu bola coklat tersebut. “Dari mana kau membeli ini?”
“Membeli? Enak saja, aku buat sendiri lah.”
“Oh, hebat juga.” Kataku mengangguk-ngangguk dengan tangan yang terus mengambil bola coklatnya.
Nina tidak protes sedikitpun saat aku mengambil cemilan itu satu persatu, ia malah seperti sengaja membiarkanku menghabiskan semuanya.
“Bagaimana, enakkan? kalau kau mau lagi besok aku akan membuatkannya.”
“Cemilannya enak! Tapi sepertinya itu tidak perlu, aku besok tidak akan kesini lagi.”
“Kenapa?” tanya Nina.
“Kata istriku—“
“istri?”
“Eh, maaf salah, maksudku kata orang tuaku aku harus lebih giat belajar, karena sebentar lagi UAS akan dimulai.”
Hampir saja aku ketahuan kalau aku sudah menikah, bisa terkejut setengah mati kalau dia tahu diusiaku saat ini sudah mempunyai istri, terlebih lagi istriku adalah guruku.
__ADS_1
“Kapan kau kesini lagi?” tanya Nina dengan suara rendah.
“Entahlah, aku kesini bisa kapan-kapan, tidak harus menunggu ujian selesai.” Jawabku santai.
Nina menghembuskan lega. “Kupikir kau akan membutuh waktu yang lama hingga bisa datang kesini.”
Aku mengangkat bahu, tidak peduli dengan gumammannya.
“Raka, boleh aku bertanya sesuatu hal?” Tanya Nina tiba-tiba.
“Bertanya apa? Sepertinya serius.” Jawabku becanda.
“Eh, cuma mau nanya. Kalau wanita diatas seusiamu, bagaimana?”
Aku tidak mengerti maksud perkataannya, “Bagaimana apanya?”
“Eh, maksudku, gimana ya… Mm… gadis di atas usiamu menarik gak?”
“Tergantung.” Jawabku asal, mana ngerti maksud ‘menarik’ dari pertanyaan yang absurd gitu.
Entah hanya perasaanku saja, sepertinya Nina sedang sakit, kenapa dia bertanya aneh seperti itu, selain itu juga kelakuannya seperti orang yang gugup.
Setelah itu suasana hening sebentar, baru sekitar sepuluh menit berlalu Nina mulai berbicara lagi. “Eh, boleh aku bertanya lagi?”
Aku menghembuskan nafas pelan. “Boleh Nina, kenapa kau terlihat segan berbicara, seperti aku seorang bos kamu saja.”
Nina tertawa singkat, lebih tepatnya dipaksa tertawa. “Kalau boleh tahu, siapa wanita waktu lalu yang deket sama kamu, yang tiba-tiba duduk di meja kita.”
Waktu lalu? Siapa? Ah, apakah maksudnya istriku, Kalisa. “Perempuan yang lima hari lalu?”
Nina mengangguk.
“Dia itu paca–”
Perkataanku harus terhenti saat tiba-tiba ada telpon dari seseorang, saat aku melihat ponselku ternyata Bu Lisa yang menelpon.
“Obrolan kita sampai disini dulu Nin, aku ada keperluan mendadak di rumah.” Kataku seraya menutup ponsel.
“Eh, tapi… tadi belum— Ah, sudahlah, pergi sana hush… hush..,” Nina berseru kecewa.
Aku tertawa lalu pergi dan berkata selamat tinggal padanya, aku bisa melihat dia juga melambaikan tangan.
Saat itu aku tidak tau bahwa pertemuan lima hari dengan seorang gadis, akan menumbuhkan sebuah rasa istimewa dihatinya.
Jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.
__ADS_1
Terima kasih