
Pria lupa, tapi tidak memaafkan. Wanita memaafkan, tapi tidak melupakan.
Aku menyeringai lebar melihat Reza yang mendengus sebal melihatku, itu tidak sulit di jelaskan, karena dia marah saat aku meninggalkan permainan game online kemarin secara tiba-tiba.
“Payah! Seharusnya aku tidak bermain denganmu semalam. Lihat gara-gara kau tingkat rank ku jadi turun.”
Aku menggaruk kepala membuat senyuman yang lebar, aku tidak bisa menjelaskan apapun padanya, mana bisa bilang bahwa ponsel ku diambil oleh Bu Lisa tiba-tiba.
Di pagi hari yang kesekian kalinya, cahaya matahari tidak muncul di upuk timur, awan mendung mengepul hitam di atas sana, membuat suasana pagi menjadi lebih suram.
Teman-teman kami satu persatu datang bermunculan memasuki kelas, mereka menyapa kami bertiga, aku mengangguk membalas sapaan mereka kembali.
Tiga puluh menit sebelum jam pelajaran dimulai, salah satu teman kami Reno sudah menggenggam ponsel di tangan, ia melangkah menuju bangku Reza yang saat ini ada aku dan Zildan di dekatnya.
“Ayo main lagi?” Ucap Reno, mengangkat kedua alis memberi instruksi bahwa dia berbicara pada kami bertiga.
Aku dan Reza saling lirik lalu dengan cepat menggelengkan kepala, ini terlalu pagi untuk bermain game.
“Ayolah ini masih pagi, setengah jam lagi kita masuk, setidaknya kita bisa main satu babak.” Reno membujuk kami berdua yang langsung aku jawab dengan penolakan, begitu juga dengan Reza yang tegas menolaknya.
“Zil, kamu?” Kini tatapan Reno menoleh ke arah Zildan yang sedang asik menatap buku. Zildan yang merasa namanya terpanggil mendongak “Aku tidak tertarik dengan game ponsel.” Katanya singkat membuat mulut Reno tertutup sempurna.
“Aih, sepertinya aku harus main sendiri.” Reno menggaruk kepala, berbalik arah dan kembali ke kursi bangkunya. Aku curiga, sepertinya dia ke sekolah berniat untuk bermain game.
Dari arah pintu kelas murid lainya muncul, itu adalah si kembar, Arin dan Airin, mereka berdua melambaikan tangan menyapa kami bertiga. Wajah cantik yang seiras dari keduanya menambah nilai unik bagi mereka, tidak mengherankan jika kelas lain menyebut keduanya sebagai dua bunga lotus kembar.
Tidak berangsur lama Della juga datang, dia tengah memakai jaket dengan kancing depannya terbuka, pandangannya sekilas menatap kami bertiga, lalu berlanjut pergi ke bangkunya tanpa menyapa.
Mataku menyipit melihat jaket Della yang berwarna biru dan putih itu, rasanya aku pernah melihatnya namun entah dimana.
Beberapa menit berlalu lonceng bel masuk terdengar diikuti robohnya hujan dari awan, suasana kelas menjadi sejuk. Ini adalah hal bagus, setidaknya kami akan nyaman selama jam pelajaran akan di mulai.
Burung-burung yang bertengger di salah satu kabel listrik mulai berterbangan saat tetesan hujan mengenai bulu halusnya, berpencar riuh kemana-mana mencari tempat berteduh.
__ADS_1
Silauan putih muncul di celah-celah awan yang hitam, sesekali cahaya itu menampakan wujud seramnya sebagai petir, sesekali ia hanya bersuara keras tanpa terlihat cahayanya.
Para murid berduduk rapih di bangku masing-masing, mengeluarkan buku di tas ranselnya, bersiap akan pelajaran pertama di mulai. Aku menghela nafas pelan, melihat keluar jendela, sepertinya hari ini langit akan mendung seharian.
\*\*\*
“Gila! main game sampai segitunya,” salah satu murid wanita menutup mulut, wajahnya penuh ketidak percayaan.
“Aku juga sama, tidak habis pikir kalau dia bakal senekat itu.” Teman murid lainya menimpali.
“Jadi gimana sekarang, dia dibawa ke BK (Bimbingan Konseling)?”
“Kata orang lain seperti itu, bahkan orang tuanya juga di panggil untuk memberikan kebenarannya.”
Sebuah kasus sekolah yang tengah heboh di bicarakan! Kejadiannya tepat ketika jam pertama berlangsung, seperti yang dikatakan gadis itu, ini semua karena sebuah game online.
Ceritanya sangat singkat dan sederhana.
Tentu saja si orang tua murid itu percaya dan memberikan uang tersebut. Namun setelah beberapa waktu berlalu, di suatu hari orang tua murid itu bertemu dengan temannya yang kebetulan guru di sekolah kami. Dia menanyakan tentang buku tersebut, kenapa buku wajib itu harganya bisa semahal ini.
Dengan waktu singkat kebohongan itu cepat terungkap, sang guru keesokan paginya memanggil murid yang bersangkutan dengan orang tuanya untuk melakukan pernyataan.
Tidak aneh ketika kejadian ini di bisa ketahui semua murid, hanya butuh waktu dua jam agar seisi sekolah mengetahuinya dengan cepat.
Kami yang saat ini sedang mengumpul bermain game di jam istirahat pertama, merasa tersinggung ketika kumpulan wanita itu memandang kami. Mungkin mereka berpikir bahwa aku dan laki-laki lainya sama persis dengan kelakuan laki-laki yang berada dalam kasus tersebut.
Memang benar bahwa salah satu temanku, misalnya Reno, ia juga melakukan pembelian game dengan uang. Namun tentu saja kami tidak nekat, apalagi sampai membohongi orang tua.
Pembicaraan tentang murid yang menipu orang tua ini, akan mengisi kehangatan sekolah beberapa waktu ke depan, bisa di bilang tranding topik paling top di sekolah.
Aku berjalan menyelusuri lorong sekolah sendirian, berniat pergi ke perpusatakaan. Tidak biasanya guru Bahasa Indonesia membutuhkan buku paket untuk belajar, ketika ia membicarakan seperti itu, ia menyuruhku agar mengambilnya di perpus (Singkatan perpustakaan).
Aku pun tidak keberatan dan pergi melangkah keluar, jarak kelas ke perpus lumayan agak jauh, jadi guru tersebut memberikan jeda waktu 20 menit untuk memberikanku waktu mengambilnya.
__ADS_1
Jumlah buku di perpustakaan terbilang banyak dan mempunyai ruangan yang cukup luas sama dengan seukuran kelas murid-murid. Di sekolah kami perpustakaan adalah satu kebanggaan sekolah itu sendiri, karena simpelnya kepala sekolah memfasilitasi perpustakaan dengan sangat baik.
Setelah menjelaskan kedatanganku ke sini pada penjaga perpus, akhirnya aku di perbolehkan masuk ke dalamnya.
Rak-rak buku yang menjulang tinggi membuatku harus menengadahkan kepala mencari buku paket terebut, ini akan memakan waktu lama, karena kebetulan penjaga perpus itu tidak tahu di mana letak bukunya, sehingga aku sendirilah yang harus mencarinya.
“Aduhh!”
Salah satu wanita menabrak ku hingga membuat kami sama-sama jatuh ke lantai. Aku mengaduh kesakitan, pantatku benar-benar mendarat telak ke lantai.
“Adek!” wajahku terkejut saat mendapati wanita itu adalah Bu Lisa,
“Mas, itu kamu!” Bu Lisa juga memasang wajah yang sama namun sedikit meringis sakit akibat terjatuh.
“Kamu tidak apa-apa,” aku segera bangkit dan membantunya berdiri.
“Aku tidak apa-apa,” Ucap dia yang langsung mendorong tubuhku agar menjauh.
“Tenang, tidak ada yang melihat kita.”
Bu Lisa tidak langsung menjawab melainkan melirik area sekeliling, karena kami berada di salah satu celah rak buku, penjaga perpustakaan tidak akan melihatnya, selain itu juga, hanya kami berdua yang berkunjung di perpustakaan.
Setelah melihat situasinya aman, mata Bu Lisa kembali menatapku.”Kamu kenapa di sini, mas?”
Aku menghela napas pendek, teringat bahwa sekarang tengah mencari buku paket yang sulit ku temukan. Ini sudah hampir sepuluh menit aku mencarinya, namun belum ada tanda-tanda bisa menemukannya.
“Paket Bahasa Indonesia ya? Sepertinya aku pernah melihatnya.”
Wajahku mencerah mendengar gumaman Bu Lisa, lantas setelahnya ia memandu ku ke tempat di mana Buku paket itu berada. Dan benar saja, Bu Lisa menemukannya.
“Terima kasih sayang, kamu memang istri tercinta mas.” Saking semangatnya karena telah menemukan buku itu, aku mencium pipinya sekilas dan berbalik pergi, tanpa menyadari bahwa wajah Bu Lisa melengkungkan senyuman padaku.
\[\*\***Yang belum like episode sebelum-sebelumnya like dulu ya.. itu adalah apresiasi bagi kami para author untuk lebih bersemangat menulis**.\]
**Like dan Votenya, Terimakasih**..
__ADS_1