
“Kalungnya bagus, Mas. Adek sangat suka…” Bu Lisa melihat dan menggengam gantelan kalung dilehernya yang ada huruf ‘R & K’, tersenyum bahagia.
“Kamu suka?”
Bu Lisa mengangguk, matanya sedikit berbinar.
“Mm… Huruf dari kalung ini maksudnya, Raka dan Kalisa, ya, Mas?”
“Iya, itu dibuatnya custom. Jadi hanya satu didunia ini. Limited edition.” Ucapku disertai cengiran lebar.
“Bisa aja kamu, Mas. Terimakasih…”
Bu Lisa mencium pipiku sebagai kata terimakasih nya, aku segera membalas ciuman itu dipipinya balik. Bu Lisa langsung tersipu malu.
Bu Lisa memeluk tubuhku, kali ini terasa lebih manja dan erat. Aku mengelus punggungnya dengan lembut. Aku senang jika ternyata hadiah yang aku beri membuat dia bahagia, besok-besok jika begini, sebaiknya aku harus sering memberi hadiah lagi padanya.
Kami berpelukan selama sepuluh menit, entah tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Bu Lisa melepaskan pelukannya tetapi wajah dia masih malu-malu untuk menatapku.
Aku mengangkat dagu Bu Lisa agar tatapan bola matanya mengarah padaku. Aku tersenyum. “Kenapa malu gituh?”
Alih-alih langsung menjawab, istriku malah tergugup salah tingkah. Tingkahnya yang malu-malu tersebut ingin sekali aku cubit pipinya.
“Mm… Mas, Adek boleh gak minta sesuatu sama kamu?” Bu Lisa memainkan jari-jarinya, menunduk dengan memasang wajah malu-malu.
“Boleh saja, kalau Mas masih bisa menyanggupinya.”
“Mm… begini Mas… jadi Adek itu, ingin kita makan-makan lagi diluar. Ya, ibaratnya seperti sejenis kencan begitu. ” Bu Lisa sekilas menatap mataku lalu langsung kembali melihat kebawah, kedua pipinya memerah merona.
Aku mengangguk sigap. “Boleh, kita besok kencannya, ya?”
“Benarkah?!” Mata dia membulat, aku mengangguk sebagai jawabannya. “Mas beneran? serius?”
“Iya, Kalisa. Besok juga kan Mas masih libur.”
Bu Lisa memelukku lagi, kali ini hingga membuat tubuhku hampir terjengkang kebelakang, bibirnya yang merah tersenyum begitu riang. “Terimakasih, Mas.”
***
“Serahkan saja Amelia pada Mama, Raka, kalian boleh jalan-jalan sepuasnya, bila perlu sampai sore juga gak apa-apa.” Ibuku tentu sangat senang ketika kami menyerahkan Amelia padanya. Mamah malah paling suka jika berduaan dengan cucunya itu.
“Tidak akan lama, kok, Ma, cuma jalan-jalan doang. Nanti siang juga balik.”
“Memang kalian mau kemana, hm? Tumben mau berpergian?”
“Itu, Ma, Kalisa ngajak aku kencan hari ini, dia~”
Bu Lisa yang ada disampingku menyikut lenganku, memotong ucapan.
“Aiyo, ternyata seperti itu…” Terlambat, Mamah sudah tahu maksudnya. “Yasudah, kalian jalan-jalan saja sepuasnya, habiskan waktu kalian untuk pacaran.”
Wajah Bu Lisa tambah memerah dengan perkataan Mamah, wajahnya makin menunduk malu. Aku yang ada disampingnya menggaruk kepala, heran dengan salah tingkah istriku.
Saat aku naik tangga bersamanya barulah aku mengerti dari tingkah Bu Lisa tadi.
“Mas, kenapa tadi bilang begitu sama ibu?” tanya istriku menjejali anak tangga. Kami tengah menuju kamar untuk berganti pakaian sebelum pergi.
Aku mengerutkan alis tidak mengerti. “Memangnya bilang apa?”
__ADS_1
“Kencan. Adek malu tahu…”
“Bukankah kita memang mau kencan, Dek, kan kamu yang ngajak kemarin.”
“Ih, Mas Raka memang gak peka~” Bu Lisa segera melangkah lebih cepat didepanku dengan wajah cemberut, meninggalkanku yang memandangnya dengan heran. Apa yang salah dari perkataanku tadi?
Saat sudah dikamar, tidak perlu menunggu waktu lama untukku memilah baju yang akan dipakaikan saat jalan-jalan nanti. Masalahnya terlatak pada Bu Lisa, istriku itu lama sekali berdandan dan ber’make-up.
Aku berulang kali melihat jam ditangan, menunggu Bu Lisa diluar kamar. Kakiku berketuk-ketuk dilantai tidak sabaran. Astaga! Menunggu wanita berdandan itu ternyata lama sekali.
Akhinya pintu yang sedari tadi tertutup rapat terbuka, istriku muncul dari balik pintu.
Sekejap waktu terasa berhenti sesaat, aku menatap Bu Lisa tanpa berkedip sedikitpun. Aku masih tidak percaya, apakah ini benar-benar istriku yang ada didepanku.
Bu Lisa benar-benar berbeda dari biasanya, kali ini tampilannya sangat manis sekali. Lihatlah, rambut dia yang selalu terurai panjang sampai pinggang, kini diikat menjadi dua, bergaya rambut Twin tail.
Pakaian istriku juga seperti gadis remaja seusiaku, memakai kaos yang simple berwana kuning dengan bawahannya rok putih yang selutut. Dia kelihatan sekali seperti gadis SMA.
Aku meneguk ludah, tidak tahan lagi, tanpa aba-aba sedikitpun aku langsung memeluk tubuh kecilnya. Aku tidak bisa menahan melihat istriku yang imut ini.
“Mm… Mas lepasin dulu.” Istriku berujar protes.
Aku melepaskan pelukan. Mengecup pipi putihnya. “Manis sekali sih kamu, Ma? Seperti anak SMA saja.”
Bu Lisa tersipu. “B-biasa aja, Mas, Adek cuma coba-coba berpenampilan yang lain.”
Aku mencolek hidungnya, gemas sekali dengan tingkahnya itu. Pake malu-malu segala lagi.
Aku menggengam tangan Bu Lisa lalu menariknya menuruni anak tangga. Tidak lupa sebelum pergi kami berpamitan sebentar pada Mamaku yang tengah menggendong Amelia. Aku dan Bu Lisa pergi menaiki mobil, memulai acara jalan-jalannya.
***
Kami berjalan bergandengan tangan layaknya orang berpacaran. Tempat yang kami datangi sungguh benar-benar unik, terdapat banyak sekali bangunan-bangunan yang terlampau tua, cat-catnya sudah terkelupas kusam. Aku menatap jeri memandangnya, bangunan ini sudah ada sejak nenekku masih belum lahir.
“Bangunan ini ketika abad ke-16 dulu adalah pusat perdagangan dari benua kita, Mas, itu karena lokasi tempat ini sangat strategis, apalagi banyak sekali sumber daya yang melimpah waktu itu.” Jelas Bu Lisa menceritakan tentang sejarahnya.
Aku mendengus sebal, menyentil keningnya. “Kita disini bukan belajar, Dek, kita ini kencan..”
“Tapi, itung-itung belajar juga, Mas. Tentang sejarah negara kita.”
Aku menyentil keningnya sekali lagi. “Belajar ada waktunya, kencan juga ada waktunya.”
Bu Lisa tertawa kecil melihat tampangku yang sebal, ia tidak lagi melanjutkan penjelasannya.
Selama satu jam berlalu kami berkeliling kota sejarah itu, kami akhirnya pergi ke restoran yang dituju dari awal. Restoran megah yang ada dipusat kota.
Bu Lisa mengambil meja disalah satu tempat duduk yang kosong, menyusul aku yang setelahnya. Tidak berangsur lama salah satu pelayan membawakan daftar menunya, saat aku membaca salah satu menu alisku segera berkerut.
Nama-nama daftar dimenu ini jelas sekali mempunyai harga yang mahal-mahal. Aku meneguk ludah melihat setiap angka yang tertera, salah satu hidangan bahkan mempunyai harga jutaan.
“Dek, kita yakin makan disini?” Aku bertanya pada Bu Lisa yang kini masih membaca buku menunya.
Bu Lisa mengangguk, seolah tahu apa yang tengah aku pirkirkan, Bu Lisa menenangkanku. “Tidak usah khawatir Mas dengan harganya, ini adalah restoran milik ayah Adek. Tadi sebelum berangkat, Adek meminta izin akan makan disini.”
“Jadi, kita makan disini gratis?” Aku bertanya, tidak menutupi antara wajah cemas dan bahagia.
Bu Lisa mengangguk.
__ADS_1
Aku menatap sekeliling restoran itu yang memang sangat besar dan megah, astaga, walaupun aku tahu Bu Lisa dari keluarga yang kaya, yaitu 12 keluarga terpandang. Aku masih sulit percaya dengan semua ini.
Jika aku menilainya dengan sekali lihat pada restoran ini, aku bisa memastikan bahwa restoran mertuaku itu adalah restoran bintang lima.
“Mas, mau pesen apa?” pertanyaan istriku memulihkan lamunanku, aku balik memandangnya, sepertinya Bu Lisa telah memilih apa yang akan ia pesan.
“Sama seperti kamu sajalah, Dek, aku tidak mengerti sama nama-namanya. Pake bahasa luar negeri lagi.” Aku menggaruk kepala.
Bu Lisa terkekeh. Menertawai wajahku yang kebingungan sambil menatap buku daftar menu.
“SMA zaman sekarang, masih dibiayai orang tua saja sok-sok’an ke restoran mahal, enak-enak berpacaran, sok kaya pamerin uang pada pacarnya.” Salah satu pelayan berbisik-bisik, sengaja benar bisikan itu terdengar.
“Tau dah aneh… Orang tua susah-susah kerja. Eh, anaknya tidak tahu diri malah ngehambur-hamburin uangnya. Gak sadar diri.” jawab pelayan lainnya. Tertawa sinis.
“Kalau usia belasan mah mending belajar aja kali… Jangan jadi nyusahin orang tua, apa lagi nanti? Bisa-bisa habis dah uang sama pacarnya…”
“Ceweknya tidak jauh berbeda, nanti kalau dibiasakan, keenakan lagi ditraktir mulu.”
BRAK!
Aku memukul meja dengan keras, mataku dengan tajam memandang kedua pelayan laki-laki itu. Tanganku mengepal dengan keras menahan emosi. Pelayan-pelayan itu secara jelas menyindirku dengan Bu Lisa.
Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekitar yang kini terarah padaku. Saat ini aku marah! Ingin sekali menghajar pelayan itu yang berbicara rendah pada istriku.
Para pelayan itu terkejut dengan aksiku, dia langsung menunduk takut ketika tatapan dinginku memandang mereka.
“Mas… Kita pulang, ya…” Tiba-tiba Bu Lisa menggengam tanganku, yang kini wajahnya sangat cemas.
Aku mendengus, demi melihat wajah Bu Lisa yang seperti memohon, emosiku perlahan reda. Aku menatap sekilas pelayan tadi, berdecak kesal, aku menarik tangan Bu Lisa keluar restoran.
Saat didalam mobil aku banyak terdiam, tidak berani memandang wajah Bu Lisa, aku tidak ingin dia melihatku yang marah seperti ini. Bu Lisa pasti takut kepadaku.
“Mas…” Bu Lisa berkata lembut dari samping, menggengam tanganku perlahan. Jari-jarinya yang kecil begitu halus kurasakan. “Terimakasih Mas, telah membela Adek.”
Aku tidak menatapnya, mengalihkan ke yang lain. Aku malu melihat wajah Bu Lisa.
“Adek sangat seneng tadi Mas Raka marah saat Adek dibicarakan seperti itu. Adek ngerasa dilindungi...” istriku masih lembut untuk mencairkan suasana. “Mas Raka sangat keren dan gagah, ternyata suami Adek ini bisa sepemberani itu.”
Aku sedikit menahan senyum dengan kalimat terakhirnya.
“Untungnya, Mas Raka ini sudah Adek miliki. Adek merasa wanita paling beruntung didunia.”
Aku menatap Bu Lisa ragu-ragu. “Kamu pasti takut dengan aku yang marah seperti itu Dek, kekanak-kanakan, emosian. Pema~”
“Enggak kok, Mas, Adek gak takut. “Bu Lisa menggeleng, memotong kalimatku. “Adek justru senang kalau Mas marah seperti itu, itu artinya Mas ingin melindungi Adek.”
Bu Lisa mengecup bibirku pelan, “Sudah Mas, gak usah malu seperti itu. Adek ngerti, kok, kalau Mas ingin menjaga perasaan Lisa. Adek sangat senang malah, rasanya Adek ini benar-benar dicintai oleh Mas Raka.”
Aku akhirnya melengkungkan senyuman. Bu Lisa memang paling bisa ngerti perasaanku.
“Kita ke restoran yang lain aja, ya, Mas?” istriku bertanya siap mengemudi kembali.
“Iya, tapi sebentar dulu…”
Aku mencium keningnya sangat lama, merasa bersyukur mempunyai istri yang dewasa. Aku pindah mencium kedua pipinya, lalu terakhir mengarah pada bibirnya.
Ciuman yang beruntun itu membuat wajah Bu Lisa tak kuasa merona, bahkan lebih merah dari biasanya. Jika bisa, mungkin dia ingin menenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Bu Lisa benar-benar tersipu malu.
__ADS_1