Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 79 — Ralisa (Raka & Kalisa)


__ADS_3

“Mas, sampai kapan Adek kayak gini?” Bu Lisa mengeluh, dia sudah hampir berbaring selama 1 jam lebih tanpa bergerak. Mengelus-ngelus punggungku seperti anak kecil.


“Memang kamu mau ngapain?” aku balik bertanya, menengadahkan kepala dari pelukan hangatnya.


“Yaah banyak, Adek harus mandi, ganti baju, masak sarapan sore, bersih-bersih.”


Aku berpikir sebentar. “Kalau mandi kita mandi bareng yaa? Kalau baju biar aku yang siapin nanti, kalau sarapan kita masak sama-sama, nahh kalau bersih-bersih itu bisa besok.” Aku menyeringai lebar, tidak merasa ada kalimat keliru yang keluar.


“Itu sih maunya Mas mandi sama Adek.” Bu Lisa merubah posisi duduk, melepaskan dari pelukanku. Aku tidak protes, karena kesihan jika memaksa berbaring terus, nanti dia pegal-pegal, apalagi saat ini istriku hamil.


“Dan juga…” Wajah Bu Lisa samar-samar seperti merona. “Mas gak boleh milah-milah pakaian Adek. Itu di larang keras!”


Aku menaikan satu alis. Berpikir sebentar, lantas tertawa geli! Soal ini pikiranku langsung nyangkut. Aku tahu, Bu Lisa tidak ingin aku melihat sesuatu yang di pakai oleh seorang wanita. Aku jadi teringat, kemarin-kemarin ia sangat malu ketika membeli pakaian dalamnya.


“Gapapa kali Dek, kan sudah melihat tubuhmu semuuuaaaaa.” Aku menyeringai lebar, memandang tubuh Bu Lisa dari kakinya sampai wajahnnya.


Wajah Bu Lisa memerah, ia segera mencubit perutku. Tidak sakit, tetapi aku tetap berpura-pura kesakitan. “Dasar suami mesum!”


“Mesumnya hanya untuk Mama saja. Istri tercinta Mas Raka, sekaligus guru matematika Raka.”


Dia cemberut. “Udah ah, Adek mau mandi, mau ganti pakaian!”


Bu Lisa hendak beringsut pergi tetapi aku segera mencekal pergelangan tangannya. “Sebentar sayang…”


Kucium pipi dia sekilas lalu pindah ke arah bibirnya. Tiga menit, tidak, 5 menit kami saling berciuman di atas ranjang.


“Sudah ya, Mas…” Bu Lisa hendak berkata sesuatu tetapi terputus, karena aku mencium bibirnya kembali. Setelah selesai, napas kami tersenggal, ngos-ngosan. Mata kami seperti terkunci, saling pandang dengan tatapan penuh arti.


“Aku cinta kamu, Kalisa sayang.” Aku memegang dagunya, dan berciuman (lagi).


“Sudah dulu, Mas. Adek gak bisa napas!” Bu Lisa akhirnya mendorong bahuku agar menjauh.


Aku tersenyum, wajah istriku memerah karena malu. Lalu aku menarik tangannya lembut agar dia ada di pelukanku.


“Mas, Adek mau mandi, ih, jangan peluk dulu!”


“Bentar Ma, dua menit.”


Bu Lisa menghela napas pendek. Ia membiarkan aku memeluk tubuhnya lebih erat.


Jam 6 malam , cahaya matahari samar-samar menghilang. Angin menghembus kencang dari laut, membawa awan hitam pekat ke arah barat. Tidak lama, perlahan tapi pasti rintikan hujan berjatuhan di atas genting, suaranya semakin mengeras, pertanda hujan di luar sangat lebat.


Di tengah rumah.


“Tidak jadi ya…” tulisan itu tertera di layar ponselku, pesan dari Della.


Entah alasannya apa, ia memundurkan waktu untuk menjenguk si kembar. Aku tersenyum, tidak terlalu keberatan. Dengan ini akhirnya besok bisa berduaan dengan istriku di rumah.


“Kok senyum-senyum sendiri, Mas?” Bu Lisa menaruh gelas tehnya di depan mejaku. Wajahnya tersenyum cantik.


“Sini duduk!” Aku menepuk area samping sopa.

__ADS_1


Bu Lisa dengan suka rela menurut, ia duduk di sampingku.


“Mau Mas manjain, hm?” aku bertanya, menaikan kedua alis secara bersamaan.


“Enggak perlu.” Bu Lisa menggeleng cepat.


“Mau tiduran disini?” Aku menepuk pahaku.


Bu Lisa mengangguk malu-malu. Aku tersenyum, kupikir dia tidak akan pernah mau dengan tawaranku yang aneh. Segara aku memposisikan duduk agar ia nyaman di pangkuanku. Bu Lisa ragu-ragu meletakan kepalanya, ia menyampingkan posisinya ke arah lain. Mungkin merasa malu menatap suaminya.


Aku tersenyum lembut dan mulai mengelus pucuk rambutnya. “Adek gak ngidam sesuatu sama, Mas, misalnya mau Mas beliin sate, rujak, atau kelapa muda buat Ralisa kecil kita?”


“Ralisa kecil?”


“Eh, maksudku anak kita. Ralisa kecil adalah nama sementara anak kita, sayang. RALISA, Raka dan Kalisa.”


“Nama aneh, tapi adek suka. Jadii, nama bayi kita ini sekarang di namakan Ralisa kecil?” Bu Lisa tersenyum hangat.


“Iya, sayang…” aku mengecupnya keningnya lembut. “bagaimana? Kamu belum mau apapun, hm?”


“Sampai sekarang sih belum, Mas. Gak tahu kalau nanti sudah besar kandungannya.”


“Yasudahh, kalau kamu mau apa-apa bilang aja sama Mas, nanti biar aku yang belikan.” Aku mengelus pucuk kepalanya.


“Boleh nanya sesuatu gak, Mas?” Aku mengangguk. Tentu saja. “Usia Mas Raka sekarang berapa?”


Eh? Aku tidak salah dengar ia bertanya umur padaku? “Tujuh belas, memang kenapa, Ma?”


“Umur kamu berapa?”


“Masih Dua puluh satu.”


Aku menggaruk kepala. Beda 4 tahun berarti. Tapi yeahh, itu cukup benar, aku baru bulan-bulan kemarin umur 17, tidak lama lagi istriku juga akan berusia 22 tahun.


Suara riuh hujan di sertai angin kencang meniup hordeng jendela kaca. Suara guntur yang membahana membuatku meringis kaget. Bulu kudukku merinding kedinginan, segera kami berpindah tempat ke kamar, bergelung dengan selimut.


Malam ini, mungkin tidur lebih awal tidak terlalu buruk.


***


Aku mulai berpikir ulang, mungkin pekerjaan rumah tangga itu hampir sama dengan kuli bangunan, sama-sama cape! Oi, kau lihatlah, setelah membutuhkan waktu 2 jam lebih, akhirnya rumah ini sudah bersih seperti semula.


Semenjak di tinggal sebulan oleh kami, rumah ini tidak di urus. Meski tidak terlihat kotor tetapi jika di bersihkan kembali, debu-debu akan terlihat jelas dan menumpuk.


Aku dan istriku sedari pagi mulai bersih-bersih, mendorong sopa, meja, memindahkan televisi, buku-buku, parabotan dan lain sebagainya.


Bu Lisa kusuruh dengan pekerjaan yang ringan, seperti membersihkan debu di rak dan meja menggunakan kamoceng, serta merapihkan dan menyusun. Tentu saja, itu karena dia tengah hamil.


Sedangkan aku mengerjakan semuanya, dimulai menyapu, mengepel, mengangkat-ngangkat meja dan sopa ~ cukup berat tapi bisa dilakukan sendiri, memindahkan kardus-kardus, dan lain-lain.


“Mas kenapa di sini?”

__ADS_1


Istriku bertanya heran saat mendapati suaminya terduduk di lantai dengan di hadapanya ada kulkas yang terbuka.


“Aku gerah, Dek, cape!” aku membuka kaos bajuku yang sudah basah oleh berkeringat.


“Kann kipas angin ada.”


Aku menggeleng, kipas angin memang sejuk tapi tidak mempunyai rasa dingin. Karena itulah aku istirahat di depan kulkas terbuka. Seger…


Di saat kami bicara, tiba-tiba ada ketukan dari pintu. Bu Lisa membukanya dan terlihat sesosok ibu paruh baya sedang menggendong seorang bayi. Ibu itu yang tak lain adalah Bu Liya, pembantu kami di rumah ini.


Ketika aku dan Kalisa di rumah ibuku, Bu Liya tetap bekerja disini tetapi hanya bersih-bersih di halaman rumah saja, tidak masuk rumah. Istriku dengan kebaikannya ia memilih ide bagaimana Bu Liya ini agar mendapatkan uang walau kami tidak ada di rumah, sehingga cara itulah yang di dapat.


Sebelumnya kami memang memanggil Bu Liya untuk datang membantu kami bersih-bersih, tetapi sayangnya dia terlambat. Ia beberapa kali meminta maap pada Kalisa dan aku atas keterlambatannya. Istriku membalasnya dengan senyuman lembut, dan bilang tidak apa-apa.


“Siapa namanya, Bu?” Istriku melirik bayi yang ada di gendongan Bu Liya, wajahnya tersenyum hangat.


“Namanya Intan. Ibu mau gendong?”


“Eh, emang boleh?”


Bu Liya mengangguk, ia tahu bahwa saat ini majikannya tengah berantusias pada anaknya. Makanya itu menawarkan hal tersebut.


Kalisa sedikit kaku ketika menggendong Intan, untungnya Bu Liya berbaik hati memberi tahu cara menggendong bayi.


Setelah di dapati majikannya sangat asik dengan bayinya, Bu Liya pergi ke halaman rumah, ia mulai menyapu membersihkan daun-daun kering yang jatuh dari pohon.


“Dek, kamu sudah cocok jadi ibu.” Aku berdiri di sampingnya sambil menoleh ke arah Intan yang tertidur lelap.


“Ah, Mas bisa aja. Lisa masih gugup menggendong bayinya tahu.”


Aku terkekeh. “Nanti juga biasa. Bayi kita pasti akan lebih cantik sama sepertimu, mewarisi mata hitammu, mewarisi kecerdasanmu sayang.”


“Tapi kalau laki-laki, pasti dia akan setempan kamu, Mas.”


“Memang kamu mau anak laki-laki?”


“Kalau itu Adek tidak tahu, laki-laki atau wanita Adek pasti akan menyanginya.”


Aura Bu Lisa terasa berbeda ketika menggendong bayi, entah kenapa ada karisma yang cantik padanya. Aku mencium pipi putihnya, lalu membisikan sesuatu di telinganya. “Aku memang orang yang paling beruntung punya istri sebaik kamu, Kalisa.”


BLUSH!


Wajah Istriku memerah merona, ia munundukan kepalanya dengan malu-malu. Jika tidak ada intan di gendongannya, mungkin sedari tadi dia akan berlari dan bersembunyi dariku.




**Tamat ya? tamat ya? tamat ya? ya? ya…. Tamat ahh!! Hehehe**…


__ADS_1


~Like dan Vote... satu lagi Follow akun Ig; @naomisecred. Itu akun baru aku.


__ADS_2