
Cahayanya membuatku hangat, kurasa itu pelukannya bukan dari sang mentari.
Aku beberapa kali menggaruk kepala, bingung harus menjawab apa. Bu Lisa tengah mengomeliku sekarang, dia berdiri di hadapanku dengan kedua tangan yang diletakan di pinggang.
Selain sekolah, Bu Lisa paling tegas soal namanya kebersihan, dia adalah orang yang rapih dan apik, tidak mengherankan kalau sekarang dia menceramahi panjang tentang hal tadi.
Aku sebenarnya mau membalas omelan dia, namun saat mau melakukannya aku teringat kata ayah dulu. ‘Kalau istri sedang cerewet-cerewetnya, diamkan saja! Nanti juga dia bakal berhenti sendiri’.
Aku menghela nafas panjang, melihat arloji ditangan, sekarang lima menit berlalu Bu Lisa masih saja berbicara. Aku sedikit menggerutu dalam hati, tidak bisakah istriku ini merangkum ucapannya terlebih dulu, biar lebih singkat.
“Dek udah ya, aku ngantuk nih, aku mau tidur.” Aku terpaksa harus berbicara setelah sekian waktu terdiam. Ucapanku jujur, perkataan Bu Lisa mengandung sihir yang membuatku ngantuk.
Bu Lisa menghela nafas sejenak, lalu cengkraman pada pinggangnya mengendor begitu juga dengan bibirnya yang kini tersenyum.
“Lain kali jangan di lakuin lagi ya, Mas?” jelasnya sekali lagi.
Aku mengangguk, kemudian merubah posisi tubuh menjadi tiduran di sopa.
“Sini! Kamu tiduran di samping Mas!” aku bergeser sedikit, memberikan ruang pada Bu Lisa agar ikutan tidur di sopa.
“Adek, gak ngantuk,” Jawabnya.
“Iya, tapi sekarang Mas butuh kamu sayang... Mas pengen peluk kamu.” Aku merentangkan kedua tangan, “Nanti kalau aku sudah tidur, kamu boleh pergi.”
Bu Lisa menghela napas lagi, dia kemudian tidur di sampingku yang segera aku peluk tubuhnya. Walau tiduran di sopa tidak seluas di kasur, namun itu tetap mempunyai kelebihan sendiri, setidaknya tubuh kami saling berdekatan.
Istriku menghadapkan posisi ke arahku sehingga bisa dengan jelas wajah kami berdekatan. Entah aku dan dia sama-sama terdiam, hanya kontak mata yang saat ini saling memandang.
Wajahku dibuai tergoda oleh kecantikannya, dengan perlahan aku mengenggam dagu dia dan mendekatkan wajah di antara kami.
Bu Lisa juga langsung mengerti maksudku, dia kemudian memejamkam mata sedangkan aku mendekatkan wajah ke arahnya. Pada akhirnya tidak berselang lama bibir kami saling bersentuhan.
Aku tidak banyak bicara setelah melespaskan ciuman, nafas kami saling memburu dengan tatapan yang masih saling terhubung.
“Mas, gak keselkan kalau Adek ngomel gitu?” Dia menundukan kepalanya, bercicit pelan.
“Kenapa harus kesel, kamu kan istri aku sayang,” kataku mengelus punggungnya lembut. “Kalau aku memang salah, kamu memang harus negur, jangan diam saja.”
Bu Lisa terdiam sebentar, dia kembali menengadahkan kepala dan menatapku. “Benarkah? Apakah Mas memang sedewasa itu?”
“Tentu saja, sayang. Emang kamu nganggap aku masih remaja gitu, nganggap aku masih anak-anak gitu. Raka sudah dewasa sayang. Buktinya aku sudah menikah.”
__ADS_1
Bukankah perkataanku benar, aku ini sudah dewasa! Apa buktinya, ya, menikah itu. bukankah yang dewasa itu yang sudah menikah. Benarkan?
“Iya, Adek percaya kok kalau Mas sudah dewasa.” Bu Lisa tersenyum. “Kita ke kamar yuk, Mas?”
“Oh, kamu mau ngajak aku gituan, hm?”
“Bukan gitu,” Bu Lisa memukul dadaku pelan, “kalau di kamar, kasurnya gede gak kaya di sopa sempit.”
“Yah… kirain kamu mau ngajak berhubungan, tadi aku sudah mikir kesana.” Aku berpura-pura wajah kecewa.
“Bukankah semalam sudah? Kamu emang mau lagi?” balas Bu Lisa mengernyitkan kedua alis.
“Enggak sayang, becanda… aku sekarang ngantuk, mau tidur dulu. Gara-gara olahraga kemarin malam jam tidurku jadi terganggu.”
“Siapa suruh yang ngajak gituan,” cibir istriku.
Aku terkekeh, lalu bangkit dari tiduran dan membopong tubuh Bu Lisa. Istriku lagi-lagi kaget saat aku bertindak demikian, dia mungkin belum terbiasa denganku yang kini bisa membawa tubuhnya.
\*\*\*
Di sore hari, aku dan Bu Lisa pergi berjalan-jalan selepas tadi tidur siang. Tujuan kami tidak terlalu jauh, tidak memakai motor ataupun mobil, kami hanya berjalan kaki menuju taman dekat kompeks.
Sesampainya disana, kami melihat banyak sekali orang yang mengunjungi taman tersebut, kebanyakan dari para remaja dan anak kecil, lalu sebagian kecilnya dari para lansia yang terduduk di kursi taman.
Sambil kaki melangkah maju, kami berdua menikmati keindahan taman itu, rumput-rumput yang hijau, bunga berwara-warni, serta tidak lupa di tengah taman ada sebuah air mancur kecil.
Cahaya senja dari sore hari menambahkan kesan tersendiri pada taman ini, apalagi tadi siang turun hujan sehingga udara di taman menjadi lebih segar.
Aku dan Bu Lisa terus melanjutkan berjalan, tepat ketika di bagian taman anak-anak, kami berhenti disana, tepatnya di bagian ayunan tali. Aku dan Bu Lisa memilih duduk, memandang area taman sekitar.
“Indah ya, Mas.” Ujar Bu Lisa disela dia melihat kedepan.
Aku mengangguk, meng-iya kan. “Kamu suka, Dek?”
“Suka, Mas! Di sini pemandangannya bagus sekali, tapi sayang sekali Adek tidak membawa ponsel, kalau ada kita bisa foto-foto.”
“Kamu tidak bawa, tapi suamimu bawa Dek.” Aku merogoh saku lalu mengeluarkan ponsel.
Bu Lisa membulatkan matanya, ada kebahagian yang terpencar.
“Kita foto-foto yuk, Mas?” dia berkata semangat. “Adek pengen foto-foto di sini!”
__ADS_1
Aku tersenyum, “Boleh… asal aku yang foto kamunya?”
Istriku mengangguk tanpa pikir panjang, ia kemudian berdiri di hadapanku dan langsung mengambil pose fotonya.
“Wajah manisnya, sayang. Ayo tunjukkin...”
*Cekrek*!
“Sekarang, wajah malu-malunya...”
*Cekrek*!
“Wajah imut, sayang…”
*Cekrek*!
Aku menggigit bibir bawah ketika melihat hasil fotonya. Ya ampun! Lihatlah, istriku terlalu cantik dan sempurna, dia benar-benar bak seorang bidadari.
“Gimana, Mas bagus enggak?” istriku menghampiri untuk melihat foto dirinya. Aku meneguk saliva, melihat wajah dia yang begitu dekat denganku.
Saat Bu Lisa masih asik melihat ponsel, tanpa basa-basi aku memegang dagunya lalu mencium dia.
“Astaga, Mas!” Bu Lisa terkejut atas serangan yang tiba-tiba. Dia berusaha melihat sekeliling kemudian kembali menatapku. “Untung gak ada yang lihat, Mas.”
“Maap sayang, aku gak bisa nahan. Wajah kamu cantik banget hari ini.” Itu benar, karena sekarang wajah Bu Lisa tengah bermake-up. “Ayo ikut Mas sebentar…”
Aku menarik pergelangan tangan dia kearah bagian belakang pohon yang terletak di dekat ayunan. Di sana tidak ada orang yang akan melihat kami berdua.
“Mas, mau ngapain?” Bu Lisa terperangah kaget ketika aku langsung mendekatkan wajah ke arahnya.
“Bibir kamu, sayang. Suami mu ini pengen bibir kamu…”
“Tapi jangan di sini, nanti ada yang lihat,” ngelesnya.
“Sebentar, satu menit aja… aku lagi pengen bibir kamu.”
Istriku menghela napas sejenak, ia mengangguk pendek dan kemudian menutup matanya.
“Aku cinta kamu, sayang.” Aku berbisik pelan sebelum mencium bibirnya dengan lembut.
Jangan Lupa Like dan votenya!!
__ADS_1
Kenapa harus di Like? Karena itu adalah dukungan kalian bagi kami sebagai penulis.
Kenapa meminta di Vote? jujur saja, author sangat senang setiap kali ada Nge'vote cerita ini. Lalu apa? author jadi lebih semangat.