
Sesudah kami ujian dan perbaikan nilai, di kelas 2 SMA kami mendapat sesuatu selain libur 2 minggu yaitu tour wisata sekolah.
Ini adalah hal yang kutunggu selama di sekolah ini, begitu juga kawan-kawanku. Reza, Zildan sudah tentu ikut Tour wisata ini apalagi si kembar yang lebih kaya di antara kami sedangkan untuk Della, dia sedikit bimbang walau pada akhirnya ia tetap ikut tour.
Di sekolah kami, sudah hal umum wisata seperti ini bagai sebuah tradisi di setiap tahunnya, murid-murid sudah mempersiapkan uang dari jauh-jauh hari untuk menabung dan mendapatkan tiket.
Tujuan wisata kami juga sama dengan wisata tahun-tahun sebelumnya yaitu ke tempat banyaknya menomunen candi di suatu wilayah, belum lagi ada pantai terindah disana yang mendunia.
Seharusnya aku memang bahagia mendengar wisata ini tetapi ketika Bu Lisa mengatakan tidak akan ikut wisata tersebut membuat kebahagiaanku memudar.
“Mas kenapa?”
Bu Lisa tengah membawakan teh untukku di kamar, sedikit heran melihat tampangku yang kusut.
“Sini duduk,” Aku menepuk pahaku, Bu Lisa meletakan tehnya di atas laci lalu duduk di pangkuanku.
“Mas punya masalah?” Tanyanya lagi.
Aku mengangguk. “Sepertinya Mas tidak akan ikut wisata tahun ini, Dek.”
“Kenapa? Bukannya Mas sudah tidak sabar ingin kesana?”
“Tanpa kamu? Aku tidak akan senang disana…” Aku memanyunkan bibirnya cemberut.
Bu Lisa terdiam, tidak dulu untuk menjawab. Dirinya memang tak akan ikut ke wisata tersebut karena ada tugas di restoran dan juga harus merawat Amelia.
“Mas pergi saja, tidak usah memikirkan Adek.”
“Aku tidak bisa melakukan itu…” Aku menggeleng pelan. Memeluk tubuhnya erat.
Bu Lisa terdiam lagi, ia berpikir beberapa saat untuk mencari jalan keluar tetapi pada akhirnya berakhir dengan menghela nafas.
“Adek ngerti perasaan Mas tapi Adek juga gak bisa ninggalin restoran begitu saja, Pak Zinjin sedang ambil cuti beberapa hari ini jadi pekerjaan restoran harus Adek yang urus…”
“Iya aku mengerti, aku juga gak maksa kamu ikut kok…” aku membenamkan wajah ke ceruk lehernya.
“Adek jadi ngerasa bersalah kalau Mas sedih begini.” Bu Lisa mengelus pucuk rambutku dengan lembut. “Andai saja Pak Zinjin membatalkan atau mempercepat cutinya mungkin kita bisa berangkat.”
Aku tidak terlalu berharap dengan perkataan Bu Lisa, lagian aku juga gak mau dia ikut wisata karena terpaksa.
***
__ADS_1
Ketika aku di sekolah, aku mengatakan hal tersebut pada Reza dan Zildan, keduanya sama-sama terkejut mendengarnya.
“Kau serius, apa yang membuatmu tidak pergi?” Reza duduk di depan bangkuku, menatapku tidak percaya.
“Ada urusan keluarga.” jawabku singkat, kesal karena dari tadi Reza bertanya hal sama berulang kali.
“Kau ini… Masa SMA itu sekali seumur hidup, setelah SMA nanti kau tidak bisa lagi seperti ini, tour bersama teman-temanmu, menginap di hotel bersama, bersenang-senang bersama.” Reza menoleh ke Zildan, memberi dukungan ucapannya.
“Yeah, mau gimana lagi, Za, jika itu berhubungan dengan keluarga, kita tak bisa ikut campur.” Zildan mengangkat bahu, dia tidak bisa berpendapat apapun soal ini.
“Kau sama saja,” Reza mendengus lalu menoleh padaku lagi. “Kau beneran tidak akan ikut, Ka?”
Aku menepuk jidat, sedikit kesal karena Reza bertanya hal sama keempat kalinya. “terserah kau sajalah…”
Semakin dekat hari menjelang wisata maka suasana kelas semakin banyak membahas tour tersebut setiap harinya, dimulai membincangkan rencana nanti mereka disananya lah, mau beli apa lah, foto-foto di candi lah, dan masih banyak lagi pembahasan.
Aku sering kali keluar kelas ketika membahas hal seperti itu, tidak menyenangkan bukan jika orang lain ikut wisata sedangkan aku sendiri tidak.
“Mas gak di kelas?” tanya Bu Lisa ketika kami di UKS saat sedang makan siang.
“Gak ah, males…”
Aku mendekatkan wajah pada Bu Lisa, tanpa peresetujuannya aku mencium bibirnya membuat Bu Lisa terkejut, aku menciumnya agak lama hingga kami berdua berhenti saat hampir kehabisan nafas.
“Ya gapapa, toh ini lagi bebas juga…” aku mengambil inisiatif menciumnya lagi, Bu Lisa sedikit kerepotan karena aku terlihat agresif kali ini.
“Mas kok jutek gitu, Mas sedang marah, ya?” tanyanya di sela kami berciuman.
“Tidak, siapa yang marah.”
Aku menciumnya lagi, berpautan, entah berapa lama kami melakukan ini secara berulang. Bu Lisa terengah-engah karena cape menyikapiku, wajahnya terlihat memerah.
“Berhenti dulu Mas...” Bu Lisa menghentikanku ketika aku hendak menciumnya lagi (dan lagi). Bu Lisa tertawa kecil ketika melihat wajahku lalu kemudian ia memberikan sebuah tisu padaku. “Ini Mas, buat wajah kamu.”
“Hm? Memang kenapa?”
“Lihat aja ke cermin.”
Aku mengerutkan dahi lalu menoleh ke cermin yang ada di sana, aku terkejut setelah menemukan daerah bibirku memerah di penuhi lipstik Bu Lisa.
“Sayang, kenapa kamu gak bilang bibir kamu ada lipstik…” gerutuku kesal.
__ADS_1
“Ya Mas sendiri yang salah, siapa suruh nyium Adek secara tiba-tiba.” ucapnya tertawa kecil.
Aku mendengus, memang aku yang salah tetapi kenapa dia gak ucapin itu setelahnya. Lihatlah kini wajahku seperti seorang joker dengan lipstik merahnya yang lebar.
“Sini biar Adek bantu.”
Bu Lisa tersenyum, ia mengambil tisu lagi lalu ikut membersihkan bekas lipstik di wajahku. Melihat itu rasa kesalku menurun diikuti dengan senyuman, senang dengan perhatian Bu Lisa.
Sebenarnya ucapan Bu Lisa memang benar bahwa aku sedang marah walaupun itu secara tidak jelas, ini disebabkan karena wisata tersebut.
Rasa-rasanya aku di tinggalkan sendiri di kelas saat libur nanti sedangkan teman-temanku malah bersenang-senang di pantai.
Bayangkan saja, hanya aku sendiri di kelas yang tidak ikut serta tour sekolah ini, meski Bu Lisa
memperbolehkanku tapi tour tanpanya bagai nasi tanpa lauk. Lebih baik bersama Bu Lisa dari pada tidak sama sekali.
“Adek ngerti kok kalau Mas kesal karena wisata itu.” Ucap Bu Lisa di sela ia masih menyeka jejak lipstik di wajahku.
“Ya mau gimana lagi, Dek, masa hanya aku sendiri yang gak ikut…” aku tidak menutupi suasana hatiku.
Bu Lisa tersenyum. “Sebenarnya alasan Adek minta ketemuan kesini karena urusan wisata itu.” Bu Lisa berhenti membersihkan wajahku sebelum mengambil sesuatu di saku pakaiannya. Dua lembar kertas di sodorkan padaku.
“Dek, bukankah ini tiket wisata?” aku memegang dua lembaran tersebut.
Bu Lisa mengangguk. “Iya, ternyata Pak Zinjin mempersingkat cutinya secara mendadak kemarin.”
“Jadi, apakah ini artinya kamu bisa ikut tour?”
“Iya, itu ada dua tiket, satu untukmu dan satu untuk Adek. Jadi Mas Raka gak harus beli tiket lagi…”
Aku tidak percaya dengan perkatannya, menatap dua lembar tiket tersebut lalu memandang istriku yang tersenyum. “Kamu sungguhan kan, Dek, gak sedang becanda?”
“Iya, Mas, Adek serius. Itu tiket buktinya, hadiah dari Lisa.”
Aku tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh kecil Bu Lisa dengan erat. “Terimakasih, Mah, aku senang atas hadiah ini.”
“Sama-sama Pah, Mama senang kalau Papah juga senang.” Bu Lisa membalasnya dengan senyuman lembut.
Aku melepaskan pelukan lalu menatap wajahnya lamat-lamat, lihatlah, begitu cantiknya istriku ini, bukan hanya cantik parasnya tetapi juga cantik dari hatinya. Aku kemudian mencium bibirnya lagi tanpa peduli lipstik merahnya.
Bu Lisa menerima ciuman itu dan bahkan membalasnya. Ciuman kali ini lebih lama dari sebelumnya, malah seiring berjalannya waktu ciumanku jadi berubah ke arah tengkuk leher Bu Lisa membuat istriku mengerang dan sedikit mendesah.
__ADS_1
“Mas, cukup, jangan lebih dari ini!” Bu Lisa buru-buru mendorong tubuhku.
Aku sedikit kecewa tapi mau gimana lagi, aku mengerti kondisinya kalau ini sedang di sekolah. Jika saja sekarang di rumah, mungkin sudah aku terkam istri cantikku itu.