Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 56 — Hari Minggu


__ADS_3

Beberapa embun itu kian menghilang saat menjelang siang



Musim hujan yang sudah beberapa minggu terlewati tidak menentukan bahwa hujan tidak akan turun lagi. Ada di mana di saat-saat yang tidak terduga langit yang selalu cerah menjadi mendung.



Di malam minggu, meski langit tidak menampakkan sedang mendung atau akan turun hujan, itu masih bisa terlihat oleh sebuah pemahaman. Buktinya ketika aku keluar malam, tidak ada bintik bintang maupun cahaya bulan yang terlihat.



Aku menghela nafas sejenak, kupikir semua rencana akan berjalan baik hari ini. Aku berniat untuk bermalam mingguan bersama Bu Lisa sekaligus berkencan, namun semua itu batal karena ada tetesan hujan yang mulai turun.



“Maapin Mas ya sayang, sepertinya kita tidak jadi hari ini.” Aku menundukkan kepala, merasa bersalah telah berjanji padanya.



“Tidak apa, Mas. Minggu depan juga bisa kan?” jawab Bu Lisa tersenyum.



Aku mengangguk patah-patah, padahal tadi aku sudah merencanakan semuanya. Lihatlah sekarang istriku, dia sudah berdandan cantik, bermake-up, memakai pakaian yang feminim.



“Jangan sedih gitu…” Bu Lisa berulang kali mengukirkan senyum yang manis, membuat lipstik di bibirnya seperti menggodaku untuk di cium. “Yuk, balik ke rumah.”



Aku hanya pasrah Bu Lisa menarik baju lenganku ke dalam rumah, tidak ada semangat lagi di wajahku yang sebelumnya terpencar.



“Tidak apa-apa, Mas. Jangan sedih gitu.” Bu Lisa berkata kesekian kalinya, mencoba menghiburku. “Adek gak nyalahin kok. Adek malahan udah seneng pas tadi kamu mau ngajak kencan.”



Bibirku sedikit melengkung mendengar dia berucap demikian, setidaknya Bu Lisa sudah berusaha menghibur suaminya. Ketika aku hendak membuka mulut, suara perut terdengar, aku mengernyitkan alis, lupa kalau tadi sore belum makan.



“Mas, lapar?” Aku mengangguk, tersenyum lebar. “Yasudah, Adek masak dulu ya.”



Istriku pergi ke dapur diikuti olehku di belakangnya, setelah di sana aku duduk di salah satu meja makan menyaksikan Bu Lisa yang tengah mengikat rambutnya begitu juga dengan tali celemeknya.



“Lihat… koki istri Mas Raka siap menjalankan tugas!” Ucap Bu Lisa tegas, seperti tentara yang hendak menjalankan misinya.



Aku tertawa kecil, sungguh baru pertama kali melihat Bu Lisa bertindak seperti ini. Kemudian Bu Lisa membalikan badannya, memulai kegiatan memasak.



“Mas! Jangan ganggu Adek dulu… ini masih belum matang.” Bu Lisa mengomel saat tiba-tiba aku memeluknya dari belakang.



“Aku cinta kamu, Kalisa.” Kataku dengan manja.



“Iya, Mas. Adek juga…”

__ADS_1



“Sungguh? Tapi pokoknya aku lebih cinta dari kamu.”



“Iya Mas, tapi lepasin dulu ini… aku jadi susah geraknya.” Bu Lisa menepuk tanganku yang melingkar di perutnya. “Nanti masakannya gak bakalan jadi loh, Mas.”



Aku tidak menangapi apa dikatakannya, “Mm… Dek, kita ke kamar yuk? Aku lagi pengen.”



“Eh, tapi itu masakannya belum matang.” Jelas Bu Lisa gelagapan.



Aku segera mematikan gas kompor dan membopong tubuh Bu Lisa ke kamar. Bu Lisa menjerit kaget namun dia tidak protes sedikitpun, lalu setelah di sana kami melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri.



\*\*\*



Di tengah malam mataku terbangun saat merasakan lapar yang amat hebat, setelah aku dan Bu Lisa bergulat, kami kelelahan tertidur dan aku tak sempat makan malam.



Aku melirik Bu Lisa yang saat ini tertidur lelap, tubuhnya tertutupi selimut sampai bagian leher, aku tahu dia masih tidak memakai pakaian apapun di dalamnya.



Karena perutku yang lapar tidak bisa menunggu lagi, aku mengguncang tubuh Bu Lisa pelan, mencoba membangunkannya. Setelah butuh usaha sedikit akhirnya Bu Lisa perlahan membuka mata.




“Sayang, aku lapar.” Kataku sambil mengelus bagian perut. “Kamu masakin aku makanan, ya?”



“Mm… oke, nanti aku cuci muka dulu.” Bu Lisa beranjak berdiri membawa selimut ke kamar mandi, tidak lupa juga pakaian gantinya. Setelah beberapa menit ia nongol di kamar mandi, “Ayo Mas, kita ke dapur.”



Aku mengangguk berdiri lalu mengenggam tangannya ke dapur.



Di pagi hari, tidak seperti biasa kami kesiangan. Baru sekitar jam 8, aku akhirnya terbangun dari tidur di ikuti oleh Bu Lisa setelahnya.



Langit di luar sana masih dalam keadaan mendung sampai pagi ini, juga ada gerimis kecilnya yang masih berjatuhan. Aku merebahkan tubuh di sopa selepas makan dan mandi, berniat bermain game sepanjang hari.



Karena hari ini hari minggu, Bu Liya tidak akan kesini sehingga otomatis yang bersih-bersih rumah adalah istriku.



Aku yang awalnya tengah asik bermain game menjadi tidak berselera saat Bu Lisa lewat sambil menyapu, pasalnya sekarang aku tahu bahwa dia masih banyak pekerjaan sedangkan ia harus terlebih dahulu membersihkan rumah.



Setelah menimang-nimang akhirnya aku memutuskan untuk memilih keputusan berat. “Dek, sini sapunya. Biar aku aja hari ini yang bersih-bersih, bukankah kamu lagi banyak pekerjaan?”

__ADS_1



Bu Lisa dengan tersenyum menggeleng. “Tidak usah, Mas. Adek bisa sendiri kok.”



“Untuk sekarang enggak,” Kataku menggelengkan kepala, “Ini adalah perintah bukan keinginan, Mas. Jadi kamu harus menuruti, sayang.”



“Tapi, Mas. Inikan kewajiban ku sebagai istri.”



“Tidak ada tapi-tapi. Aku tidak mau lagi ada penolakan.” kataku membusungkan dada, berpura-pura galak.



“Kalau begitu terima kasih, ya Mas.” Dia mengecup pipiku sekilas. “Adek mau ngambil laptop dulu.”



Aku mengelus pipi yang sebelumnya di sentuh bibir Bu Lisa, wajahku tak kuasa menahan senyum melihat dia yang menghilang dari balik pintu kamar.



Dua jam berlalu, aku masih sibuk bersih-bersih rumah. Aku mengutuk keras dalam hati, tidak menyangka bakal secapek ini mengurusi rumah. Bagaimana mungkin selama ini Bu Lisa bisa tahan.



Di siang harinya, terpaksa aku harus mandi kembali ketika menyadari baju sudah basah oleh keringat, tetapi ada juga kebanggaan ketika melihat hasil dari kerjaku. Lihatlah, sekarang rumahku bersih seperti hotel bintang 5.



Bu Lisa keluar dari kamarnya setelah beberapa waktu di dalam, dia menoleh sekeliling ruangan rumah, “Bersih… kamu hebat, Mas.” Ucapnya tersenyum semangat.



Aku meletakan tangan di atas tongkat pel, lalu menghentakkannya ke lantai seperti menancapkan sebuah pedang. “Jelaslah… emang Adek pikir suamimu ini bisanya cuma main game apa?”



Aku berucap dengan nada sombong, seolah perkerjaan ini adalah hal yang kecil. “Eh, ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu, Dek. Sudah selesai?”



Bu Lisa mengangguk, “Untung ada kamu. Pekerjaan Adek bisa cepet selesai. Terima kasih ya Mas…” Bu Lisa berlari memelukku, dan sebagai balasannya dia mengecup bibirku.



“Yasudah, aku mau mandi dulu. Kamu tolong letakan ini, sayang,” aku menyerahkan tongkat pel pada Bu Lisa, mencium keningnya sebentar sebelum pergi ke kamar mandi.



Ketika aku sedang di guyur air shower, terpejam menikmati tetesan buliran air. Tiba-tiba ada suara yang berteriak dari luar.



“Maaasss… kamu nyembunyiin kotoran debu di bawah karpet yaa!?”



Aku tersentak kaget, hampir terpeleset, kenapa Bu Lisa bisa tahu bahwa aku menunda kotoran debu di sana. Dari pada nanti mendengar Bu Lisa mengomel, aku segera merapatkan pintu kamar mandi, menguncinya.



"Gapapa kali Dek, yang pentingkan terlihat bersih... "


__ADS_1


#Like dan Votenya


__ADS_2