Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 84 — Keisengan


__ADS_3

Itu benar-benar hari yang sulit bagi Bu Lisa, semenjak pemberitaan itu juga Pak Farhan segera mengambil cuti dan izin selama dua minggu. Tentu saja Bu Lisa maupun aku tau masalahnya, tidak lain karena Pak Farhan ingin menjauh dari Bu Lisa sejauh mungkin.


Istriku semakin merasa bersalah ketika mengetahui hal itu tetapi bagaimanapun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lagian tindakan yang terbaik untuk persahabatannya adalah memang saling menjauh, membiarkan hati agar mengikis perasaan cinta tersebut.


Benar saja, saat Pak Farhan sudah balik dari liburnya ia menjaga jarak dengan Bu Lisa, tidak ada percakapan lagi, tidak ada tegur sapa lagi, tidak ada lagi kebersamaan dari mereka. Semuanya telah hilang, keduanya seperti orang asing.


Bu Lisa juga mengerti, dia pun melakukan hal yang sama, menjauh dari Pak Farhan.


Bermingu-berminggu kemudian setelah berita menghebohkan bahwa Bu Lisa hamil, kini ada pertanyaan di benak murid maupun guru-guru. Pertanyaannya satu: “Siapa laki-laki yang beruntung menikahi istri secantik Bu Lisa?”


Suatu hari aku pernah di tanya oleh salah satu temanku yang mungkin cuma sekedar iseng bertanya. “Hei, Ka. Menurut kau siapa laki-laki yang menjadi suami Bu Lisa?” tanya temanku itu.


Aku menyeringai lebar. “Memang siapa lagi? Tentu saja aku suaminya lahh! Bu Lisa itu sebenarnya istri rahasiaku.”


Murid itu meninju bahuku lantas tertawa. Tentu saja meski aku menjawabnya dengan jujur tetapi temanku itu menganggap sebagai candaan, karena memang banyak dari para murid yang sering berkata seperi itu, mengaku suami Bu Lisa persis seperti perkataanku tadi.


Dua bulan berlalu, tidak ada yang mengetahui siapa suami Bu Lisa. Pernah ada yang mengatakan bahwa suami Bu Lisa adalah seorang kaya raya, ada yang bilang kalau suami Bu Lisa adalah seorang bos, atau bahkan seorang tentara dan polisi. Namun itu hanya pemberitaan saja, tidak ada bukti dengan desas-desus tersebut.


Bu Lisa juga sekarang selalu menggunakan cincin pernikahan ke sekolah, tidak di sembunyikan lagi seperti dulu-dulu. Murid-murid yang melihat cincin itu semakin kusut wajahnya, rasanya seperti Bu Lisa telah diambil dari hati mereka.


Tapi yahh, meski begitupun tidak sedikit dari para murid yang masih menyukai Bu Lisa, mengagumi atau sekedar perasaan suka saja. Jika lebih dari itu maka mereka tidak akan berani mencintai seseorang yang sudah bersuami.


***


Kembali sekarang.


Sepulang dari sekolah kami tidak langsung menuju rumah melainkan ke arah tempat restoran berada. Istriku meminta katanya ada pekerjaan di restorannya sebentar.


Aku menutupi seragam sekolahku dengan jaket setelah tiba di restoran tersebut. Para pekerja yang menyaksikan Bu Lisa datang langsung berhenti bekerja sesaat untuk menghormati Bosnya.


Satu hal, berbeda dengan sekolah. Di restoran ini semua pegawai mengetahui identitasku sebagai suami Bu Lisa. Hanya saja mereka tidak mengatahui seluruhnya bahwa suami Bu Lisa itu masih sekolah SMA.


Aku teringat saat pertama Bu Lisa memperkenalkanku di depan mereka. Dimana istriku mengatakan bahwa aku adalah suaminya dan kini dia tengah mengandung.


Sontak wajah-wajah penuh keterkejutan terpampang dari pegawai itu namun mereka tidak berani bertanya lebih jauh pada bosnya. Bu Lisa mengumumkan hal tersebut dengan intonasi datar, jadii hanya orang bodoh yang mau menyinggung perasaan Bu Lisa saat itu.


Kalian masih ingat dengan Pak Zinjin, tangan kanan Bu Lisa di restoran ini? Nahh, kali ini dia juga yang paling terkejut.


Seperti yang telah aku duga, Pak Zinjin memang mempunyai perasaan pada Bu Lisa, tetapi berbeda dengan Pak Farhan, Pak Zinjin hanya merahasiakan perasaan itu.


Pak Zinjin seolah terasa hilang harapan ketika Bu Lisa mengatakan pernikahannya. Dia merasakan patah hati, padahal dia bertahun-tahun ini memang sedang melancarkan PDKT nya dengan Bu Lisa.


Pak Zinjin tidak bertindak apapun atau menjauh seperti Pak Farhan, dia hanya bersikap senormal mungkin, berusaha tersenyum walau dalam hati agak sesak.


Aku dan Bu Lisa melangkah keruangan kerjanya. Aku duduk di sopa panjang, sedangkan Bu Lisa duduk di meja khususnya seperti seorang bos.


“Kamu jangan terlalu cape, Mah!” aku memperingatinya.


“Cuma sebentar, Mas, setengah jam doang. Ini cuma meriksa-meriksa data restoran…” Jawabnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun, matanya fokus menatap laptop.


Aku menggaruk pipi, semoga saja perkataan istriku benar, biasanya walaupun dia berkata setengah jam kenyataanya malah berjam-jam.


Aku merebahkan tubuh di sopa, mengambil ponsel di tas lantas bermain game untuk menunggu Bu Lisa selesai bekerja.

__ADS_1


***


Bu Lisa menggeliat dengan merentangkan tangannya ke atas. Satu jam berlalu ia duduk di kursinya akhirnya pekerjaan itu telah selesai.


“Sudah selesai, Mah?” Aku bertanya sambil menguap lebar. Apa tadi aku bilang, walaupun istriku berkata hanya setengah jam, kerjanya malah satu jam, bahkan sedikit lebih.


“Sudah, Mas, maap ya jadi lama nunggunya.” Bu Lisa bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arahku.


“Tidak apa-apa. Sini duduk! Mas manjain kamu dulu. Kesihan istri Mas kelelahan bekerja, pasti capek.”


Aku merubah posisi menjadi duduk kembali, Bu Lisa segera duduk di pahaku.


“Kenapa Mas? Adek berat ya?” Bu Lisa melirik wajahku yang sedikit berkerut ketika dirinya duduk.


Aku berusaha tersenyum. “Tidak Dek, kamu masih ringan kok.”


“Kalau memang berat, Adek turun aja?”


“Tidak, usah Kalisa.” Aku menahan gerakan Bu Lisa yang hendak bangkit. “Kamu duduk aja di sini, di pangkuan, Mas.”


Bu Lisa membatalkan niatnya lalu duduk kembali. Ia tiba-tiba mengalungkan tangan di leherku.


“Kita pindah ke kamar yuk, Mas. Adek ngantuk. Semalam Adek hanya tidur 3 jam, susah payah ingin terlelap tapi mata masih terjaga terus.”


Aku tersenyum lembut mengangguk. Memang semenjak perutnya membesar tidur Bu Lisa menjadi terganggu. Dia sering merubah-rubah posisi tidurnya setiap menit, mencari kenyamanan, tetapi ujung-ujungnya dia tidur pas mendekati shubuh.


Kadang dia terbangun tengah malam, lalu tidak bisa tidur lagi sampai pagi. Aku sebagai suaminya ikut terbangun untuk menemaninya, walau kadang saat menemani tersebut aku selalu tiba-tiba ketiduran.


Bu Lisa ikut tidur di sampingku dengan hati-hati karena takut janinnya kenapa-napa. “Semakin berat aja Ralisa kita, Mas.”


“Sabar yahh.” Aku mengecup keningnya lalu pindah ke arah bibirnya. “Ih, kok pipi kamu jadi merah, Dek?”


“Hah? Masa sih Mas?” Bu Lisa senyum-senyum sendiri akibat aku menciumnya, lalu segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Becanda, Dek. Hihi… Kamu gak harus segitu malunya sama aku. Kita sudah menikah satu tahun lebih lohh masa kamu masih pemalu.” Aku terkekeh kecil.


“Ihh, Mas nyebelin,” entah karena dia salah tingkah atau malu sendiri, Bu Lisa mencubit perutku pelan.


“Aww~” ringisku pura-pura kesakitan.


“Rasain, Biar tahu rasa ngebohongin Lisa.”


Bu Lisa menyilangkan kedua tangannya di dada. Pipinya menggelembung, dia mendengus kesal ke arahku.


“Kamu marah, Dek?”


“Hmph!”


“Masa mamah muda marah-marah sih…” aku tertawa kecil.


“Mas ihh, bukannya rujuk Adek ini malah nambah kesel. Pokoknya Lisa gak akan bicara sama Mas hari ini. Titik!”


“Oh, bagus deh kalau begitu... kebetulan aku juga mau tidur, jadi gak mau bicara dulu sama kamu.”

__ADS_1


“Loh-loh kok gitu sih! Mas harus rujuk Adek.”


“Iya nanti aja rujuknya, sekarang Mas mau tidur dulu. Kalau sudah tidur nanti bangunin, ya?” aku menahan tawa melihat wajah Bu Lisa yang semakin menggelembung.


“Adek benci Mas Raka!” Bu Lisa tiba-tiba memalingkan tubuhnya memunggungiku.


Aku tertawa lepas memegangi perut, ternyata asik juga juga jail sama istri sendiri. Setelah beberapa waktu tertawa akhirnya kudekati Bu Lisa dan memeluknya di belakang.


“Kamu marah, Mah?” aku bertanya lemah lembut.


“Tau ahh.”


“Maap ya, Mas kan cuma becanda tadi.”


“Kalau becanda tuh bahagia bersama, bukan salah satu diantaranya yang bahagia.” Bu lisa mendengus kesal.


Melihat dia yang masih membuang muka, aku mencium pipi putihnya.


CUP.


“Maap ya?”


“Enggak mau!” Bu Lisa berkata jutek namun kenyataannya dia senyum-senyum sendiri ketika aku menciumnya.


CUP.


“Masih marah?” Tanyaku lagi sembari mencium pipi kedua kalinya. Bu Lisa tidak menjawab, tetapi aku bisa melihat jelas sekarang wajahnya perlahan merona.


CUP.


“Masih marah, Kalisa sayang?”


“Ihh~ Mas nyebelin.” Bu Lisa memutar tubuhnya lalu tiba-tiba memelukku erat, wajahnya yang sudah merona di tenggelamkan di dada bidangku.


“Ralisa kamu lihat, sayang? Mamah kamu sekarang seperti anak kecil, tadi ngerajuk marah sekarang malah manja-manja.” Aku tertawa kecil, berpura-pura melaporkan hal itu.


Mendengar penuturanku Bu Lisa langsung mencubit perutku. “Biarin, manja juga sama suami sendiri.”


Aku terkekeh. “Yuk tidur Mah. Kamu katanya mau tidur.”


Bu Lisa menengadahkan kepalanya, tersenyum manis. “Iya, Pah, Lisa sudah ngantuk.”


Di sore itu kami akhirnya tertidur dengan posisi saling berpelukan. Sikap Bu Lisa memang berubah semenjak kandungannya terus membesar, dia lebih condong bersikap manja kepadaku, tidak seperti dulu aku yang di manjakan olehnya.


Tiga bulan berlalu amat cepat, usia kandungan Bu Lisa sudah berusia 9 bulan. Sebentar lagi hanya soal waktu anak kami akan lahir…


***


Besok-besok updatenya tidak menentu, kadang bisa cepat kadang bisa lambat. tergantung kondisi author nya ya...


....


...Like dan vote...

__ADS_1


__ADS_2