Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 66 — Identitas Kalisa II


__ADS_3

Air yang membakar Api atau Api yang memadamkan Air.



Bu Lisa yang masih dalam keadaan malu mencoba berdalih ke yang lain, dia beranjak dari sopa dan duduk di kursi mejanya bak seorang bos. Ia terlihat sedang mencari sesuatu, memilah berkas-berkas yang menumpuk lantas pindah ke arah laci.



Tidak berangsur lama, istriku menemukannya, saat dia berjalan ke arahku kembali, Bu Lisa membawa berkas berwarna biru tipis di tangannya.



“Mas, kamu bisa tanda tangan di sini?” Ia duduk di sampingku, membuka berkas tipisnya lalu menunjukannya padaku.



“Ini apa, Dek?” aku mengambil berkas itu, sedikit membacanya lantas langsung bertanya.



“Ini adalah surat kepemilikan restoran.”



“Kepemilikan restoran? Terus kenapa kamu ngasih ke aku?”



“Intinya, kalau Mas tanda tangan di sini.” Dia menunjuk sudut dalam kertas tersebut, “Kepemilikan restoran ini menjadi kepemilikan Mas juga.”



“Kamu mau ngasih restoran ini, inikan harta kamu dari keluargamu, aku tidak bisa menerimanya.” Aku menyodorkan kembali berkas itu pada Bu Lisa.



Bukannya aku tidak mau dengan tawaran istriku, aku berpikir bahwa, aku adalah suaminya yang harus memberi bukan orang yang di beri. Di dalam hatiku ada secuil perasaan jika aku menerimanya, aku telah salah menjadi seorang suami.



Tapi bukan istriku kalau dia tidak pandai, dengan otak cerdasnya dia berkata.



“Adek, tidak bermaksud seperti itu. Adek berharap dengan berpindah kepemilikan menjadi kita berdua, Mas bisa membantu dalam memajukan restoran ini, jadi Adek meminta bantuan, Mas.”



Aku menggaruk kepala, sulit menolak saat ia tengah memohon seperti ini, wajahnya memelas kesihan. Mau tak mau aku akhirnya menuruti kemauannya.



“Tapi Dek, aku tidak mengerti tentang bisnis seperti ini, lihat, bahkan berkas di tanganku saja, aku tidak paham.”



“Kita bisa belajar bersama.” Dia tersenyum manis, seolah mengatakan ‘akukan ada’.



Aku mengambil pulpen yang telah Bu Lisa sodorkan, lalu mentandatangani yang dia suruh.



“Dengan tanda tangan ini, restoran sekarang adalah milik Mas juga.” Bu Lisa mengambil berkas biru yang telah aku tulis, “Jadi, Mas sekarang bisa tinggal makan gratis di sini setiap saat.” Ucapnya bergurau.



Aku tertawa. “Terima kasih, telah mempercayakan semuanya padaku.”



Aku memegang dagunya dengan lembut agar wajahnya menghadapku. Bu Lisa nyatanya tidak keberatan, setelah cukup dekat, matanya tertutup dan aku langsung mencium bibirnya.



Sebenarnya suasananya sedang romantis saat ini, namun semua itu terganggu ketika ada yang mengetuk pintu, membuat ciuman kami berakhir dan segera mengambil posisi senormal mungkin.


__ADS_1


“Masuk,” Seru Bu Lisa pada orang di balik pintu itu.



Seorang perempuan datang membawa napan berisi makanan yang di pesan Bu Lisa tadi. Dia dengan begitu telatennya menatap kami sebentar lantas melangkah masuk.



“Ini Bu, masakan ibu tadi.” Ucap perempuan itu dengan hormat.



Aku bisa menyaksikan betapa ia penasaran dengan adanya aku disini. Mungkin di pikirannya seperti mengatakan, siapa laki-laki ini, atau apa hubungan laki-laki ini sama Bu Lisa. Kira-kira seperi itulah kemungkinan yang dia pikirkan.



Pelayan yang membawakan makanan itu segera pergi setelah menyelesaikan tugasnya, ia tentu tidak akan berani bertanya sedikitpun pada bosnya.



Dua porsi makanan itu tergeletak di meja, sejenak aku mempunyai ide cemerlang melihat makanan sejenis mie itu.



“Adek, aku suapi ya, sayang,” Aku mengambil salah piring makanan, mengambil sendok dan bersiap untuk menyuapi Bu Lisa.



“Enggak, aku bisa sendiri, Mas.” Dia dengen reflek menggeleng.



“Tapi aku maunya kamu harus di suapi.”



“Gak mau, Mas… Adek bukan anak kecil. Mending kamu aja yang Adek suapi ya?” dia balik bertanya.



Aku menggelengkan kepala tegas, “Kali ini biarkan aku yang menyuapi kamu, Kalisa.”




“Tenang di sinikan hanya kita berdua, tidak ada orang lain. Ayo buka mulutnya, aa…”



Aku ikut membuka mulut sehingga mau tak mau istriku menirunya. Lahapan pertama akhirnya masuk melewati bibirnya.



“Gadis pintar…” aku tersenyum menggoda, membiarkan Bu Lisa menelan makanan dengan rasa malu.



“Tuh kan, Mas ngejek. Udah ah, Adek bukan anak kecil,” dia menyilangkan tangannya di dada, pipinya menggelembung, seolah ia sedang ngambek.



“Kamukan emang gadis kecil, Mas.”Aku tak kuasa tertawa menyaksikan begitu gemasnya istriku ini. “Sini, ayo buka mulut lagi, aa…”



Walaupun dia enggan di suapi, pada akhirnya ia tetap menurut. Aku terus menyuapinya hingga isi piring itu habis, baru setelahnya posisi kami dibalik, dengan piring satunya lagi dia balik menyuapiku.



\*\*\*



Aku baru menyadari di ruangan ini ada pintu lagi, tepatnya pintu berada di belakang meja Bu Lisa. Aku tidak langsung membukanya melainkan menunggu istriku datang kembali, ia saat ini tengah mengantarkan piring tadi ke dapur restoran.



Akhirnya, tidak berangsur sampai lima menit dia sudah kembali, aku langsung bertanya padanya tentang pintu ini, dia menjawab bahwa itu adalah pintu kamar.

__ADS_1



“Boleh buka, sayang?” tanyaku yang langsung di izinkan oleh Bu lisa.



Saat aku masuk ke dalamnya, ternyata ucapan istriku benar, ini memang ruangan kamar, yang lengkap dengan ranjang dan lemari, juga ada kamar mandi di sudut ruangan.



Walaupun kamarnya tidak terlalu besar seperti kamarku, itu masih cukup untuk kami berdua.



Aku langsung merabahkan tubuh di ranjang setelah makan tadi, mungkin karena kenyang juga, mataku jadi terasa berat dan ngantuk.



Di sisi lain, istriku meminta izin untuk bekerja di sini sebentar, katanya ada banyak laporan yang harus ia tangani. Akupun memperbolehkannya, asal jangan terlalu berlebihan bekerja.



Aku tertidur hampir dua jam, setelah terbangun lantas bergegas cuci muka dan keluar dari kamar. Bu Lisa ternyata masih duduk di mejanya, ia masih sibuk bekerja melihat laporan-laporan itu.



Ketika aku mau melangkahkan kaki, aku bisa mendengar ada orang lain di ruangan ini selain Bu Lisa. Dari suaranya, dia adalah seorang laki-laki. Aku batal maju, lebih memilih mengintip di balik pintu dulu, menyaksikan keduanya bercakap-cakap.



“Terima kasih ya, Mas Zinjin, telah membantu restoran ini selama 6 bulan.” Bu Lisa tersenyum ramah padanya.



“Ah, Ibu bisa aja. Kalau Ibu Kalisa yang ngurus restoran ini pasti laporannya lebih baik dari saya.” Orang yang di panggil ‘Mas Zinjin’ itu tertawa, melambaikan tangan, sedangkan Bu Lisa ikut tertawa juga.



Aku bisa menyaksikan pria itu dari balik pintu, dari postur tubuh dan wajahnya, kira-kira umurnya sekitar 30 tahunan, intinya dia lebih tua dari Bu Lisa. Wajahnya bisa di kategorikan tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung, perawakan tubuhnya gagah.



Aku mengerutkan Alis saat menyadari bagaimana tatapan pria itu pada Bu Lisa, tatapan yang tidak asing, tatapan bagaimana seseorang sedang tertarik.



Untungnya, setelah mereka tertawa bersama. Pria yang di panggil Zinjin itu pergi, meninggalkan ruangan Bu Lisa.



“Siapa laki-laki itu, Dek?” Aku berdiri di samping Bu Lisa, tatapanku mengarah pada pintu yang telah tertutup sempurna.



“Astaga, Mas bikin kaget aja.” Bu Lisa mengelus dadanya, ia mungkin kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba. “Pria itu namanya Pak Zinjin, tangan kanan Adek di restoran ini.”



Nama macam apa itu, Zinjin. Oi! Di negaraku mana ada nama yang seaneh itu.



“Dia sudah menikah?” tanyaku jutek.



“Belum, Mas, katanya lagi nyari.”



Pantesan lirik-lirik istriku seperti itu. “Besok pecat dia, Dek.” Ucapku ketus.



Awas saja kalau dia berani macam-macam lagi, aku akan pecat dia langsung. Aku tidak pandang peforma kerja seseorang, yang aku lihat adalah penilaianku, jika dia jelek pada Bu Lisa, maka aku langsung pecat tanpa alasan apapun.



Jangan Lupa Like dan Votenya ya? biar author senang lihatnya, juga tambah semangat menulis. Tolong jangan remehkan hal itu.

__ADS_1


Oh iya, Noveltoon udah update belum? kalau belum update segera.


__ADS_2