Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 20– Arin Yang Ceria


__ADS_3

Di sore yang cerah seperti ini alangkah bagusnya untuk bersantai, beristirahat, tidak memikirkan apapun apalagi berpikir masalah, dan alangkah bagusnya lagi jika ada secangkir kopi hangat yang tersedia.


Di ruangan klub membaca, tidak seperti biasanya kelima teman ini saling diam, apalagi Arin, bukankah dia selalu punya banyak topik pembicaraan di setiap harinya. Kalau Airin mungkin aku bisa memakluminya.


Jangan tanya Zildan, dia tidak akan berbicara sedikitpun ketika membaca. Wajahnya sangat fokus ke huruf yang tertera di buku, jika seseorang mengajak bicara padanya saat ini, itu akan sama dengan berbicara pada tembok, percuma.


Reza dan Della mungkin aku masih bisa menebaknya, kejadian tadi pagi pas olahraga membuat keduanya menjadi pendiam. Percayalah, itu adalah hal yang tak bisa mereka lupakan begitu saja.


Tapi disisi lain aku juga tidak mau berbicara sekarang, ada ingatan indah yang masih terbayang di kepala, ciuman tadi pagi di UKS adalah ciuman paling spesial.


Kenapa spesial, itu karena pertama kalinya dia membalas ciuman yang telah aku berikan, jika sebelum-sebelumnya dia hanya diam, membiarkan diriku yang bergerak, maka jelas tadi sangat berbeda.


“Raka kau mau pesan minuman?”


Aku membuyarkan lamunan seketika saat ada yang memanggil namaku, ini adalah suara pertama yang terdengar dari ruangan.


Arin yang berada di sudut meja besar kami sudah menatapku, itu benar, Arin lah yang bertanya tadi.


“Kau mau pesan minuman Raka?” dia bertanya lagi.


Aku menatapnya beberapa saat sebelum dengan cepat mengangguk, kebetulan sekali Arin menawariku, entah kenapa lidahku menginginkan minuman yang agak keruh-keruh.


“Bagus, kalau begitu ikut aku ke mesin minuman.”


Aku mengernyitkan kening “Bukankah kau tadi menawariku memesan minuman?”


“Iya.”


“Lantas kenapa kau mengajakku pergi kesana?”


“Karena kau memesan minuman.”


“Tapikan kau tadi menawariku minuman, seharusnya kamu yang kesana.”


“Aku tidak bilang aku akan ke sana, aku hanya bilang ‘kau mau pesan minuman’ itu saja.”

__ADS_1


Aku menepuk jidat “Kenapa kau tidak bersama Airin, bukankah kalian selalu bersama?”


Seharusnya aku memang tidak berkata demikian. Lihatlah, tiba-tiba wajah Arin berlipat suram ketika mendengar ucapanku, mungkin hubungan kakak-adik itu sekarang tidak terlalu baik.


Aku menghela nafas panjang, baiklah, tidak terlalu buruk jika pergi keluar, setidaknya tubuhku sedikit bergerak hari ini.


“Sebentar Raka, apakah ada yang mau pesan minuman?” Arin berkata pada Reza, Zildan, Della, dan Airin.


Mereka tidak ada yang bersuara, hanya menggeleng kepala untuk menjawabnya.


Aku menghembuskan nafas pendek, sepertinya memang benar semua anggota klub membaca sedang memiliki masalah, dan pengecualian untuk aku dan Zildan. Mereka tidak bertingkah seperti biasanya.


Karena tidak ada yang harus dilakukan lagi, aku bergegas membuka pintu dan keluar dari ruangan, membiarkan Arin berlari kecil menyusul gerakan langkahku.


Di sepanjang koridor kelas, lantainya terlihat indah dan berseni ketika matahari menerobos masuk dari jendela. Ini memang indah tapi sayangnya kami sudah terbiasa melihatnya, jadi kami menghiraukan hasil seni dari cahaya senja ini.


Untuk pergi ke mesin minuman, ia terdapat di kantin yang berada di lantai bawah. Ini sangat keren sebenarnya ketika sekolah mempunyai mesin minuman, asal tahu saja, di negaraku tempat tinggal mesin minuman sangatlah agak langka.


Langkah per langkah kami menyusuri anak tangga, lamat-lamat terdengar suara musik yang berirama dan teratur. Aku tahu, itu berasal dari ruangan kelas yang di jadikan latihan klub, Klub musik.


Jangan salah paham, aku tidak peduli dengan masalah mereka, aku hanya bertanya karena memang tidak ada topik selain itu.


“Sedikit.”


Sedikit? Dalam artian memang ada. Baiklah aku tidak akan bertanya lebih lanjut, ini adalah masalah pribadi mereka berdua. Tapi sayangnya Arin terus berbicara, ia melanjutkan jawaban singkatnya.


“Adikku sekarang sepertinya menjauh dariku, entahlah aku tidak terlalu yakin dengan ini, tapi sikapnya cenderung menghindari. Dulu dia biasanya tidak berani kemana-mana sendiri dan selalu memintaku untuk ditemani, namun sekarang bahkan dia tidak harus repot-repot bilang padaku ingin kemana, dia langsung pergi begitu saja. Apakah kau tau penyebabnya?”


Kenapa kau bertanya padaku? Jelas aku tidak tahu. Bukankah seharusnya kau lebih tau di banding siapapun, secara kau adalah kakaknya.


Tapi cerita Arin tidak berhenti di sana, sepertinya dia memang berniat curhat padaku hari ini, jadi aku hanya diam dan tidak menyela ucapannya.


“Semenjak kau dan adikku terkunci di gudang, sifat dia menjadi berubah, maksudku berubah dalam artian berbeda, aku tidak tahu apa yang terjadi saat kalian di sana. Aku kira ketika mengajakmu kesini kau bakal tahu kenapa ia berubah.”


Sebentar, dia sebenarnya sudah merencanakan ini. Hei, itu berarti aku sudah masuk dalam rencana dia, tapi sepertinya aku tidak memikirkan hal tersebut terlebih dahulu, ada hal yang harus di pentingkan saat ini.

__ADS_1


Perkataan Arin memang sama dengan pengamatan ku, walaupun aku mengenal Airin beberapa bulan yang lalu itu sudah cukup untuk menilai dasar sikapnya, yaitu pendiam dan pemalu.


“Bukankah itu bagus, dia sudah bisa mandiri?” tanyaku berpendapat.


“Aku juga sudah berpikir seperti itu, jangan salah paham aku senang melihat dia lebih mandiri. Tapi sekarang aku berkesan bahwa dia sepertinya membenciku.”


“Kau pernah bertanya kenapa sikapnya menjadi berubah?”


“Belum dan tidak akan” jawabnya tegas.


“Kenapa?”


“Gimana yaa.. sebenarnya itu cukup tabu berkata pada saudara sendiri, kau tau kan kami ini kembar.”


Aku menggaruk kepala, sayangnya aku tidak bisa merasakan jika mempunyai kembaran yang seiras dan seumuran. Bagiku itu terlalu mengerikan, kau tahu, wajah kita adalah ciri khas kita sendiri. Coba bayangkan jika kita keluar rumah tiba-tiba wajah seisi kota menjadi sama, benar-benar mengerikan bukan?


Kami akhirnya tiba di kantin setelah beberapa menit berjalan kaki, Arin dan aku silih bergantian memasukan uang ke dalam mesin, ia memilih minuman bersoda sedangkan aku mengambil minuman berjenis kopi susu.


“Jadi itu alasan kamu dari tadi diam?” tanyaku tetap melanjutkan.


“Diam?” Arin mengerutkan dahinya,”Ah, mungkin kau benar Raka, aku pendiam dari tadi karena memikirkan masalah itu.”


Kami tidak langsung kembali setelah mendapatkan minuman, Arin berkata bahwa dia ingin menghabiskannya disini, jadi aku pun mengangguk dan memilih menurutinya.


“Ngomong-ngomong bagaimana masalah Della dan Reza?” aku teringat bahwa mereka menjadi pendiam tidak seperti biasanya.


Arin tiba-tiba langsung tertawa mendengarnya “Kau tidak akan percaya Raka kalau kami sekelas terus menggoda mereka berdua sampai jam olahraga berakhir.


“Mungkin Reza bisa berdalih kabur ke kantin, tapi Della jelas berbeda, dia menjadi bahan olok-olokan kami. Kau tahu yang membuatku tertawa kenapa, aku selalu teringat wajah Dia yang memerah seperti kepiting rebus.”


Kali ini aku ikut tertawa bersama Arin. Memang hubungan Reza dan Della sangatlah unik, mereka kadang selalu berkelahi tapi itu adalah cara mereka untuk berkomunikasi dan berdekatan.


**Like dan Votenya.. bila ada kekurangannya silahkan coment biar nanti author bisa memperbaiki..


Terimakasih**..!!

__ADS_1


__ADS_2