Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 6– Agak Lebih Dekat


__ADS_3

Saat kamu benar bukan berarti aku salah, ini cuma karena kita berbeda sudut pandang saja. kita tidak harus menyalahi satu sama lain, kita harus saling menghargai.




Jam tiga dini hari, aku terbangun dari tempat tidur saat alarm tubuh berbunyi, tidak biasanya perutku lapar seperti ini bisa membangunkan tidurku.



Aku menoleh seseorang yang berada di samping tempat tidur, matanya masih tertutup lelap dengan damai. Perlahan dengan usapan halus aku menyentuh pipinya yang putih, wajah cantiknya begitu tenang.



"Tidak seperti biasanya perutku bisa lapar jam segini." gumamku pelan pada diri sendiri.



Ada niatan sekilas untuk membangunkan tidurnya, namun dengan cepat aku menepis hal itu karena merasa tidak tega.



Aku bergerak perlahan beranjak dari tempat tidur berharap agar tidak membangunkannya, namun ternyata matanya sudah tersadar dan kini tengah memandangku dengan heran.



“Kemana?” Lirihnya pelan khas orang yang bangun tidur.



Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, seperti seolah tertangkap basah “Lapar.” kataku singkat sambil memegang perut.



Dia bangun dari posisi tidurnya sambil mengucek mata, “Bentar, aku masakin mie instan”.



Awalnya aku berniat menolak dan mengatakan tidak perlu, namun aku urungkan niat itu saat dia sudah terlanjur berdiri dan meninggalkan kamar.



Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat sosok dia sudah tidak terlihat, sebelumnya aku berpikir bahwa dia akan marah terhadapku atas kejadian magrib tadi, namun saat melihat wajahnya, dia tidak marah atau membenciku.



Bercerita sedikit tentang kejadian semalam, ketika aku mengucapkan kata-kata yang salah padanya. saat itu aku dengan cepat menyusul ia ke kamar untuk meminta maaf.



Tetapi setelah beberapa waktu Bu Lisa tidak menggubrisnya, ia tetap diam dibalik gulungan selimut yang menyelimuti seluruh tubuhnya.



Aku menghembuskan napas pelan, seberapapun kata yang aku jelaskan ia tidak membalas dengan ucapan apapun, dengan seperti ini aku menyimpulkan bahwa dia tengah marah, jadi lebih baik aku diamkan terlebih dahulu agar ia tenang.



Berpikir tentang itu, aku tidak mengerti bahwa wanita akan sesensitif ini dengan perasaanya, jika waktu bisa kembali, mungkin aku akan tarik kata-kata yang sebelumnya diucapkan.



Malam semakin larut, aku memutuskan untuk meminta maaf kepadanya besok, dengan menguap aku langsung tidur di sampingnya, sampai kini aku masih belum tahu apakah dia masih tertidur atau belum.



"Maap." kataku pelan tepat di atas telinganya yang kini terhalang selimut, entah ia mendengarnya atau tidak namun setelah mengucapkan hal tersebut, setidaknya itu membuat perasaanku sedikit lebih lega.



\*\*\*

__ADS_1



“Kalau kau sibuk terus memandangku, mienya nanti akan dingin.” Ujar Bu Lisa, mencoba menghindari tatapanku yang terus memandang wajahnya begitu lama .



Aku tersadar dari lamunan, sedikit heran. Entah kenapa suasana saat ini agak berbeda dengan pikiran. Dia terlihat biasa saja dalam bersikap seperti kemarin-kemarin.



Tapi biarlah! aku tidak harus repot memikirkannya, lebih baik fokus menyantap mie yang sudah ada di depan mata, perutku sudah berisik sekali protes.



“Mau mienya dek?" tawar ku padanya.



Bu Lisa dengan malas menggelengkan kepala, ia menguap dan menyenderkan dagunya di atas meja makan.



“Kamu mengantuk?"



Kali ini ia mengangguk tersenyum, membenamkan matanya di salah satu tangan. membiarkan helaian rambutnya jatuh ke depan wajah.



Aku tersenyum senang melihat ia masih tersenyum padaku, itu tanda bahwa dia sudah tidak marah. setidaknya seperti itulah dugaanku.



Tidak banyak yang aku lakukan selain menghabiskan mie sesegera mungkin, melihat ia menunggu dan menahan kantuk membuatku tidak tega.




Bu Lisa memang benar-benar ngantuk, bahkan ketika ia berjalan ke kamar aku harus menggenggamnya, takut ia akan menabrak atau terjatuh.



Entah harus tertawa atau menangis, ketika Bu Lisa mendaratkan tubuhnya di kasur dia dengan cepat tertidur pulas. Seakan kebersamaan tadi kami di meja makan hanyalah sebuah mimpi.



\*\*\*



Cahaya matahari sudah muncul di langit sana sejak dua jam yang lalu, Aku mengerjapkan mata ketika merasa ada sinar cahaya menyilaukan yang menembus hordeng kamar.



Aku lihat Dia sudah tidak ada dari kasur “Mungkin sudah bangun dari tadi." Gumamku pelan.



Masih dalam keadaan pusing karena bangun kesiangan, aku beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar mandi yang terletak di pojok kamar, karena hari ini hari minggu jadi aku bisa lebih santai, tidak harus buru-buru seperti hari sekolah.



Bau harum memasak sudah tercium dari sini, itu sudah menandakan bahwa ada seseorang di dapur yang berarti keberadaan dia ada disana.



Mungkin karena hasrat lelaki, tanpa basa-basi aku memeluknya dari belakang, ia awalnya terkejut dan hendak protes. Namun seakan ada sesuatu yang menahan ucapan itu keluar, akhirnya ia tidak mengucapkan kata apapun dan menerima pelukanku.


__ADS_1


“Sudah bangun?” tanya Dia yang langsung aku angguki sebagai jawabannya.



"Kamu cantik, Yang."



“Terima kasih, Mas. Mm... Kamu jangan meluk aku dulu, Aku lagi masak..."



"Lima menit lag,i ya?"



Dia menghela nafasnya pelan lalu mengangguk, pada akhirnya setelah sampai akhir memasak pun aku masih menempel padanya.



Aku sedikit membantu Bu Lisa saat menghidangkan pada meja makan, dia terlihat repot menggunakan kedua tangannya yang serba meraih apapun.



“Dek?” Panggilku di sela kami tengah makan di meja.



“Iya?”



“Kamu hari ini mau ngapain, ada kegiatan gak?”



Dia berpikir sebentar lalu menggeleng. “Tidak ada sih, kemungkinan di rumah aja, bersih-bersih atau mengerjakan pekerjaan. Kalau kamu?"



Aku memegang dagu seraya mengingat-ngingat “Kayaknya sama deh, temen-temenku juga enggak ngajak apa-apa hari ini. Jadi aku akan dirumah seharian, bermain game sepanjang hari.”



Tentu saja bermain game adalah salah satu kebiasaan buruk dari pandangan guru, ketika mengucapkan pada seorang guru bukanlah sesuatu hal yang dapat di banggakan. Bahkan ini terkesan aneh, siapa yang tahu dia akan berkata apa bukan?



“Belajar dong mas, meski kamu masih kelas satu SMA bukan berarti harus berleha-leha dan menyia-nyiakan waktu.” Ucapnya menegur, aura gurunya benar-benar keluar saat ini.



Aku menggaruk kepala, menyeringai. Sudah aku bilang mengucapkan di depannya bukanlah hal yang baik.



Untungnya, kegiatan makan pun selesai dan dia tidak membahas game lagi. Namun tetap aku melakukan apa yang di katakanku tadi, langsung menuju sofa, menyalakan televisi dan bermain game.



Ngomong-ngomong ketika dikelas, aku bisa dibilang bukan orang kategori bodoh sebagai murid, atau tepatnya seperti itulah yang aku tunjukan kepada semua orang. Hanya karena aku sudah di hukum oleh Dia dua kali, bukan berarti aku bodoh dalam pelajaran.



\[**Sudah direvisi**\]



\*\*\****Silahkan like dan vote, jika ada kekurangan tolong di sampaikan supaya author bisa menambahkan dan belajar lagi***..!!


__ADS_1


***Terima kasih***\*\*\*


__ADS_2