Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 94 — Murid Baru II


__ADS_3

“Apa yang dia bisikan?” Reza bertanya saat kami berdua menuju kelas kembali, Zildan tidak ada, dia pamit sebentar ke toilet.


“Tidak penting. Cuma memperkenalkan namanya padaku.” Jawabku berbohong.


“Begitukah? Tapi wajahmu tidak menunjukkan seperti itu. Kau jadi banyak diam sejak bisikan Rena. Oh, atau jangan-jangan dia menyatakan cintanya padamu langsung, cinta pandangan pertama?”


“Cinta kepalamu! Mana ada orang yang baru pertama bertemu langsung menyatakan perasaanya langsung.” Aku mendengus, mulai sebal berbicara dengan Reza.


“Ya kann aku tidak tahu, lagian aku cukup terkejut kenapa dia bisa mengenali kau. Secara jelas Rena maupun kau baru pertemu.”


Aku menghela napas panjang, perkataan Reza memang benar. Tetapi dibanding itu semua yang lebih aneh bagiku adalah bagaimana mungkin dia bisa tahu rahasia besarku, sedangkan teman-temanku yang dekat saja tidak mengetahuinya.


Aku mulai bertanya kepada Reza tentang Rena lebih jauh, karena biasanya dialah yang tahu hal-hal tidak berguna seperti ini.


Menurut sepengetahuan Reza, Rena adalah murid pindahan dari sekolah luar kota, ia pindah kesini semenjak seminggu yang lalu. Rena diposisikan berada disamping kelas sebelahku, yaitu kelas A~seperti kebanyakan murid yang berprestasi pasti ditempatkan disana.


Pindahnya Rena kesekolah ini membawa kabar baik bagi nama sekolah mengingat status dan prestasinya yang sudah terkenal. Sekolah mana yang tidak bangga dengan adanya murid seperti Rena. Jika muridnya berprestasi seperti itu maka otomatis nama sekolahnya juga akan ikut harum.


Dan ngomong-ngomong, alasan itulah kenapa kepala sekolah tadi mendampingi Rena, supaya tidak lain agar Rena betah disini.


Katanya Reza, sudah banyak sekolah yang menawarkan pada Rena agar masuk ke sekolahnya ketika terbesit kabar kalau dia akan pindah. Rena menolak tawaran mereka yang bahkan ada sekolah elit disana, ia memilih kesekolah ini yang terkesan biasa-biasa saja.


“Namun yang paling aku kagumi dari dia adalah kemampuan bela dirinya, Raka. Aku sempat melihat ia bertanding diacara televisi, kau tahu apa yang terjadi? Aku bahkan tidak bisa melihat serangan kakinya yang begitu cepat. Rena bisa mengalahkan lawannya dalam sekali serangan, terlebih lawan itu langsung pingsan.” Reza dengan semangat bercerita, walaupun aku tidak bertanya pada bagian itu.


“Kau terlalu berlebihan mengaguminya, bagaimanapun keadannya tetap saja dia seorang gadis remaja.” Aku menolak apa yang diberitahukan Reza.


“Kau keliru, kawan. Justru saat itu lawannya adalah lelaki, bahkan usianya jauh di atas Rena.”


Mulutku terbuka, sehebat itukah dia?


Suara lonceng berdentang nyaring ditengah keramaian aktivitas murid, menandakan waktu istirahat telah habis. Murid-murid yang ada disepanjang koridor berlarian memasuki kelas masing-masing, pelajaran selanjutnya akan dimulai 10 menit lagi.


Reza yang berhenti sebentar bercerita karena suara lonceng, melanjutkan kembali. “Tapi kau tahu, Raka, Rena itu belum punya kekasih loh… Atau dalam artian lain dia masih sendiri. Meski Rena adalah wanita cantik tetapi tidak ada laki-laki yang berani mendekatinya. Kau tahu alasanya kenapa?”


Aku secara reflek menggeleng.


“Karena belum ada laki-laki yang bisa mengalahkannya.” Tambah Reza bercerita puas.


“Maksudmu kalau ada seseorang yang mengalahkan dia, itu berarti Rena akan jatuh cinta padanya, begitu?”


“Eh? Tidak juga, aku hanya berpendapat saja. Kupikir cerita Rena akan sama dengan film yang aku tonton.”


Aku mendengus sebal dengan jawaban terakhir Reza, menyesal telah mendengarkan ceritanya. Aku segera melangkah kedalam kelas, meninggalkan Reza yang tertawa puas menjaili.


***

__ADS_1


Kalau diingat-ingat lagi, paras Rena se’level dengan cantiknya Arin dan Airin, tetapi jika dibandingkan dengan Bu Lisa mungkin akan beda tipis, istriku masih lebih unggul.


Aku baru saja pulang sekolah beberapa menit lalu, sedang berada diperjalanan menaiki motor. Pada akhirnya, gara-gara murid baru itu membuatku terus kepikiran kepadanya, kepalaku masih bertanya-tanya kenapa dia bisa tahu rahasiaku.


TIN!


TIN!


Suara klakson mobil yang ada tepat disamping motorku berjalan, bersuara beberapa kali. Awalnya kupikir mobil itu bermaksud untuk menyingkirkan kendaraan didepannya karena lambat, namun setelah mobil didepannya justru berbelok kearah lain, mobil hitam itu terus mememencet klakson. Aku menghentikan motorku disisi jalan karena risih didekatnya, tetapi mobil hitam itu malah ikut berhenti.


Pintu mobil itu secara perlahan terbuka, terlihatlah seorang wanita turun dengan memakai seragam SMA. Wanita itu adalah murid baru tadi, Rena.


“Halo Raka.” Rena menyapaku dengan senyuman manis. Berjalan kearahku.


Aku membuka helm, membalas sapaannya.


Sekarang aku bisa lebih jelas memandang gadis tersebut. Mata hitamnya yang besar, bulu matanya yang lentik, kulitnya yang halus. Juga yang paling menarik dari semuannya adalah bibir merahnya yang menggoda. Rena benar-benar gadis yang manis.


“Hei, jangan memandangku seperti itu, ingat kau sekarang sudah menjadi ayah.” Rena mengedipkan mata berulang kali, mengedip penuh godaan.


Aku terbatuk-batuk, dia salah sangka.


“Bagaimana kau bisa tahu semua tentangku?” akhirnya aku bertanya setelah sekian lama pikiran itu menggangguku.


Aku berdeham sebentar, bingung harus meresponnya seperti apa.


“Disekolah tidak ada yang mengetahui kalau aku sudah menikah, apalagi mempunyai anak. Bagaimana kau tahu semua hal itu?”


Alih-alih menjawab, Rena malah tersenyum, berbeda dengan sebelumnya yang begitu manis, entah kenapa sekarang senyumannya itu terasa dingin. Tatapannya menusuk tajam kepaku.


“Aku tahu alasan kau bertanya seperti itu karena khawatir aku akan menyebarkannya, bukan?” Nada suara Rena berubah datar, tidak ada lagi wajah imut seperti sebelumnya. “Kau cukup terkejut dengan kehadiranku, kau bertanya demikian ingin memastikan apakah aku ada dipihakmu ataupun tidak, bukankah begitu?”


Rena dengan tepat membaca isi pikiranku, memang seperti itulah alasanku bertanya padanya.


“Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan ini pada orang lain.” Rena tersenyum sinis.


“Sepertinya kau punya tujuan lain, kau mau mengancamku dengan rahasia yang aku pegang.”


Jujur saja, aku tidak terkejut dengan sikap Rena yang berubah drastis. Aku sudah menebak hal ini ketika Rena berbisik dikantin tadi. Aku tahu, karena saat disana aku merasakan hawa kebenciannya padaku.


Rena tertawa kecil, wajahnya berubah lagi, menjadi gadis yang imut kembali. “Tenang saja, Raka, aku bukan orang yang pengecut seperti itu. Aku tidak suka memamfaatkan kelemahan seseorang untuk kepentinganku.”


Setelah berkata demikian, Rena kembali kemobil. Dia sempat berbicara padaku dibalik kaca mobilnya yang terbuka setengah. Sambil tesenyum dingin, Rena berkata.


“Tapi kau tahu, aku benci dengan statusmu yang sekarang. Seolah-olah kau adalah murid biasa padahal tidak lebih dari remaja bodoh yang telah berkeluarga.”

__ADS_1


Setelah berkata demikian Rena berlalu pergi, meninggalku yang masih mematung sendirian. Entah kenapa, saat ini aku merasakan kalau Rena sangat-sangat membenciku.


***


Saat dirumah, aku menceritakan semuanya pada Bu Lisa, tentang kejadianku dengan Rena, tentang siapa itu Rena, dan masalahku dengan Rena. Bu Lisa duduk ditepi ranjang mendengarkan curhatanku, ia sedang menyusui Amelia saat ini.


Aku memang selalu menceritakan apapun pada Bu Lisa, tidak ada yang aku sembunyikan kalau sedang ada masalah seperti ini, tidak dipendam sendirian. Hubungan suami istri yang baik adalah saling terbuka dengan pasangannya, agar bisa saling mengerti perasaan masing-masing. Begitu nasihat istriku disuatu waktu.


“Kalau Mas khawatir dengan Rena yang memberitahukan rahasia kita, tidak mengapa, biarkan saja seperti itu.” Bu Lisa menenangkan kekhawatiranku. “Lagian kalau itu terjadi. Adek tidak akan berdiam diri, Adek akan berbuat sesuatu, melindungi keluarga kecil kita.”


Walaupun Bu Lisa berkata dengan pelan saat ini, entah kenapa setiap kalimatnya seolah bertenaga, melambangkan kekuatan, keyakinan, dan kekuatan. Bu Lisa memandangku dengan lembut.


“Terima kasih. Kamu memang paling pintar membuat Mas jadi tenang.” kuelus pucuk rambutnya, mencium bibirnya sejenak. “Makin tambah sayang deh…”


Bu Lisa bersemu merah, tertunduk malu.


“Oh iya, Dek. Rena itu jago bela diri lohh…” Aku melanjutkan.


“Bela diri?”


“Iya, bahkan dia sudah memenangkan sampai kancah Asia. Hebatkan dia?”


Bu Lisa tidak terlebih dahulu menjawab, dia malah melirik tubuhku dari kaki sampai badan, salah satu tangannya memegang dagu, berpikir. Matanya menyipit menjejal setiap tubuhku dengan teliti.


“Ngomong-ngomong tentang bela diri… Mas Raka juga bisa bela diri, kan?” istriku bertanya tiba-tiba.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


Bu Lisa menunjuk badanku. “Walaupun tubuh Mas Raka terlihat biasa-biasa saja seperti laki-laki remaja kebanyakan, tetapi Adek merasa kalau tubuh Mas Raka itu spesial. Seperti tubuh orang yang terlatih bertahun-tahun, memiliki otot-otot kuat, mempunyai keseimbangan yang sempurna, juga kelenturan tubuh yang bagus. Hal-hal tersebut biasanya hanya diraih orang yang bisa bela diri. Adek curiga kalau sebenarnya Mas Raka bisa bela diri?”


Aku menggeleng. “Enggak bisa, Dek, mungkin hanya kebetulan struktur tubuhku seperti itu”


Walaupun aku sudah berkata demikian, sepertinya istriku masih tidak percaya dengan perkataanku. Aku berdeham sebentar. “Kamu tahu Dek, menurut Mas tubuh kamu juga ada yang spesial lohh...”


“Spesial? Tubuh Adek tidak punya hal yang diistimewakan, Mas.” Bu Lisa menggeleng.


“Ada kok, kamu aja yang tidak menyadarinya… Lihat, itu kamu malah semakin istimewa, tambah spesial.”


Sementara aku berkata demikian, aku menunjuk pada tubuh Bu Lisa, tepat ke arah bagian dadanya yang kini ada Amelia sedang menyusui.


“E’hem… Itu kamu semakin besar loh, Dek.” jawabku dengan cengiran tak berdosa.


Wajah Bu Lisa seketika memerah, ia segera membalikan tubuhnya supaya aku tak dapat melihatnya yang tengah menyusui Amelia.


“Mas Raka mesum banget, ih…”

__ADS_1


__ADS_2