Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 42 — Sepotong Kebaikan


__ADS_3

Matahari itu kian menghangat dan membuat tubuh ini menjadi tersinar.



Suatu hari di hari minggu, aku berjalan keluar rumah untuk membeli cemilan. Kebetulan sekali di dekat rumah komplek kami ada toko swalayan, jaraknya lumayan agak jauh namun masih bisa di tempuh berjalan kaki.



Aku mencondongkan kepala keatas, melihat hamparan langit yang cerah. Bersih, tidak ada awan sedikitpun. Waktu mendekati jam 2 siang, matahari sudah mulai mencondongkan posisinya ke sebelah barat.



Setibanya di sana, toko swalayan tersebut sedang di penuhi banyak pelanggan yang tengah membeli. ’Mungkin karena hari ini hari minggu pelanggan menjadi lebih banyak’ gumamku dalam hati.



Yah, setidaknya meski ramai, toko itu tidak berdesak-desakan. Aku menghembuskan nafas sejenak lalu kembali bergerak memasuki toko, ketika di dalam sana ternyata tidak sulit untuk menemukan rak yang berisi cemilan, karena justru pandangan pertama saat masuk adalah rentetan cemilan yang berjajar.



Kupikir belanjaku di toko akan lebih cepat setelah mendapati cemilan namun nyatanya jauh dari demikian. Setelah mengambilnya aku harus di buat mengantri untuk membayar uang ke kasir.



Kasir yang seharusnya berjaga dua orang kini hanya ada satu disana, sehingga antrian lebih panjang dan lama.



Aku menghela nafas pendek melihat ke depan, entah akan berapa lama aku akan mengantri seperti ini.



Beberapa menit terus berganti, perlahan demi perlahan kikisan jarak antara aku dengan kasir itu semakin dekat, dan pada akhirnya tibalah aku berhadapan dengannya.



Kasir perempuan tersebut terlihat kelelahan dan tertekan, mungkin karena dia telah bekerja keras meladeni semua pelanggan sendirian. Saat ketika pandangan kami bertemu wajah dia terpaksa tersenyum ramah, aku tahu itu adalah prosedur kerja mereka yang harus tetap tersenyum meski bagaimanapun kondisi hatinya.



“Mbak, tidak istirahat dulu?” Aku bertanya padanya saat dia sedang menghitung satu persatu belanjaan ku.



Mbak kasir itu menghentikan pergerakan tangannya, dia sesaat menoleh kepadaku. Dari semua pelanggannya hari ini hanya aku saja yang berbicara pada dia.



“Sudah tadi, Mas. Aku cuma belum terbiasa kerja di sini.” Ujarnya sopan.



“Oh, Mbak masih baru?”



Mbak kasir itu mengangguk. “Sekitar satu minggu saya kerja di sini,”



Aku memangut-mangutkan kepala, “Ngomong-ngomong kok Mbak sendirian disini, mana pekerja lainnya?”



“Mereka ada keperluan lain, sepertinya...”



Alisku terangkat heran namun cepat-cepat segera mengangguk takut dia akan tersinggung. Jika perkiraan ku benar, Mbak ini terlihat di sengaja sendirian, atau bisa di bilang dia ditugasi oleh seniornya agar tetap berjaga di toko sendiri.


__ADS_1


Aku tidak terlalu mengerti tentang dunia para pekerja, tetapi jika pekerja baru dilakukan seperti itu maka tidak jauh berbeda dengan seorang murid baru di sekolah.



Setelah beberapa waktu dia telah menghitung semuanya dan menentukan harga belanja, aku tersenyum ramah sebelum memberikan uang pas.



Awalnya aku memang hendak langsung pulang, namun ketika dilihat-lihat pemandangan disini sangat di sayangkan kalau aku langsung pergi.



Pemandangan yang aku maksud bukan taman atau keindahan alam, bukan! Melainkan hanya sebuah lalu-lalang manusia. Mungkin ini terlihat aneh tetapi aku suka melihat pemandangan seperti ini.



Segera aku memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di salah satu kursi depan toko tersebut, mereka telah menyediakan nya untuk para pelanggan yang hanya ingin sekedar nongkrong.



Cemilan keripik yang aku beli tadi aku buka untuk mengisi kekosongan kegiatan, ‘sepertinya duduk-dudukan sendiri tidaklah terlalu buruk’ gumamku pelan. Baru sekitar beberapa suap keripik aku telan tiba-tiba ada suara notifikasi ponsel yang berbunyi.



Wajahku tersenyum hangat saat siapa yang mengirimnya, orang itu yang tak lain adalah istriku, dia menanyakan keberadaan ku dimana.



Sebelumnya aku memang tidak mengajak dia karena Bu Lisa sedang tidur siang, makannya aku kesini sendirian. Lalu aku membalas chatnya mengatakan bahwa aku sedang duduk-dudukan di meja depan toko dan ia menjawab bahwa ia akan ke sini.



Ternyata tongkrongan ku sekarang tidak sendiri seperti yang aku pikirkan sebelumnya, karena setelah beberapa menit berlalu Bu Lisa tiba di toko dan menemui ku.



“Sudah lama di sini, Mas?” Bu Lisa bertanya sambil duduk di depan meja.




Bu Lisa yang hendak berdiri berhenti sesaat, “Mau beli minuman dulu Mas, Adek jalan kesini jadi haus.”



“Oh, kalau gitu beli 2 sayang, Mas juga pengen.”



Bu Lisa mengangguk dan pergi kedalam toko, setelah beberapa saat dia kembali dengan membawa dua botol minuman.



“Terima kasih, istriku.”



Bu Lisa menyunggingkan senyum, kata ‘istriku’ hampir membuatnya bersemu merah tetepi untungnya ia bisa mengontrol sebaik mungkin.



Aku dengan Kalisa hanya mengobrol ringan saja, hanya mungkin dari beberapa percakapan aku sengaja merayunya yang membuat pipi dia kadang menjadi merah.



Percakapan kami sebenarnya sangat seru jika tidak ada suara tangisan bayi yang tiba-tiba mengganggu.



Tepat di depan pintu toko, ada seorang ibu-ibu tengah menggendong bayinya. Pakaian ibu itu terlihat lusuh dan kotor, rambutnya kusut berantakan, wajah dia terlihat sangat lelah.

__ADS_1



Beberapa kali ibu itu mengayunkan bayi didalam gendongannya agar tidak menangis, dia berucap ‘sabar’ berulang-ulang.



Ibu paruh baya tersebut yang hendak memasuki toko terlihat ragu ketika mau ke dalam, ia beberapa kali menengok ke bawah melihat uang yang ada di genggamannya.



Dari yang aku lihat ibu-ibu itu seperti kekurangan uang. Saat aku hendak mau menghampirinya entah sejak kapan Bu Lisa yang duduk didekatku telah ada di sana.



Bu Lisa berbicara dengan ibu itu dengan senyuman ramah, entah apa yang mereka ucapkan aku tidak bisa mendengarnnya, namun yang pasti setelah beberapa menit berlalu Bu Lisa memberikan uang seratus ribuan sekitar 5 lembar.



“Dek kenapa ibu-ibu tadi?” Tanyaku setelah Bu Lisa duduk kembali di kursi.



Wajah Bu Lisa berubah sedih. “Kasihan Mas, tadi bayinya nangis karena kelaparan sedangkan ibu itu tidak punya uang yang cukup membeli makanannya.”



Aku yang mendengarnya merasa iba, “Kamu gak keberatan kan, memberi uang segitu banyaknya? Atau Mas ganti aja uangmu?”



Bu Lisa langsung menggeleng cepat, “Enggak usah Mas, Adek ikhlas kok memberinya, lagian mereka lebih membutuhkan dari pada kita.”



Aku tidak bisa berkata-kata lagi selain mengelus pucuk kepalanya, aku tahu dia adalah istriku yang baik makanya aku tidak dapat berkomentar apapun.



Suara dentingan gitar lamat-lamat terdengar dari salah satu meja dekat kami, di sana ada dua orang anak kecil laki-laki yang tengah mengamen sambil memainkan gitar, mereka bernyanyi-nyanyi dengan ceria dan gembira.



Kisaran umur keduanya sekitar 10 dan 11 tahun, masih di bawah umur untuk menjadi pengamen. Setelah ada orang yang memberikannya uang kini dia berpindah ke meja selanjutnya, dan terus seperti itu sampai giliran mejaku.



“Di mana kedua orang tua kalian?” Bu Lisa yang sudah siap bahwa anak kecil ini akan datang melontarkan pertanyaan dengan nada ramah.



“Sakit, tante.” Jawab kedua anak kecil itu.



“Sakit kenapa?” Tanya Bu Lisa yang membuat kedua anak kecil itu saling pandang, bingung. “Sakit jantung, Tante.”



Untuk aku dan Bu Lisa sebenarnya sadar bahwa kedua bocah itu berbohong, tetapi Bu Lisa tetap tersenyum seolah bahwa yang mereka ucapkan benar.



“Ini ada uang jajan dari tante buat kalian,” Bu Lisa mengambil uang di tasnya, “Belikan apapun yang kalian suka, tidak apa jika ingin membeli mainan.”



Kedua anak kecil saling tatap sebelum mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Bu Lisa. “Tante harap kedua orang tua kalian cepat sembuh.” Lalu setelah itu kedua anak kecil itu mengangguk dan pergi.



Jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2