Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 49 — Mau


__ADS_3

Perintah suami adalah kewajiban bagi istrinya



“Mas, bangun!” Bu Lisa mengguncangkan tubuhku pelan.



“Mm… ini sudah enak Dek, sebentar lagi ya.”



Bu Lisa menghela nafas panjang, dia membiarkanku tiduran di pahanya lebih lama. Aku tahu saat ini permintaanku sedikit egois mengingat bahwa istriku dari tadi hanya terduduk, namun bagaimana lagi? Aku sudah benar-benar nyaman di posisi ini.



“Lima menit lagi ya?” Kali ini mataku terbuka lalu mengubah posisi terlentang.



Istriku menganggukkan kepalannya sambil memasang senyuman yang manis membuat aku yang melihatnya mengikuti senyuman itu.



“Adek itu cantik ya? Pantes aja Mas bisa jatuh hati,” ujarku pelan.



“Biasa aja, Mas. Paras Adek tidak secantik itu.” Bu Lisa menjawabnya dengan rendah hati.



Aku bangkit dari pangkuannya dan tanpa basa-basi apapun menggenggam dagu dia sekaligus menciumnya. Bu Lisa tidak protes sedikitpun saat aku menciumnya mendadak, namun dia juga tidak membalas ciumanku.



“Lagi, sayang.” Baru Bu Lisa mau menjaga jarak kepalanya aku langsung menyerobot menyentuh bibirnya sekali lagi.



“Sudah dulu, Mas!” nafas Bu Lisa memburu begitu juga denganku. Kami sama-sama saling tatap dengan bahu yang naik turun.



Aku sebenarnya tidak mau berhenti di sana, saat kepalaku mau mendekat kesekian kalinya, Bu Lisa mendorong bahuku. “Mas, sampai disini dulu. Ini sekolah!”



Aku mendesis kecewa tapi tidak membantahnya, sebenarnya aku bahkan menginginkan yang lebih saat ini.



Lima menit berlalu kami berdua saling terdiam, penolakan yang di ucapkan Bu Lisa membuatku bingung harus berbicara seperti apa. Begitu juga dengan Bu Lisa yang merasa demikian, pada akhirnya suasana di ruang UKS menjadi canggung.



“Maaf ya, Mas.” Dia akhirnya terlebih dulu bersuara.



Aku menoleh ke arah Bu Lisa yang sedang tertunduk. “Maaf kenapa?” tanyaku.



“Itu… karena Adek menolak perintah, Mas.”



“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum. Yeah, walau aku jujur masih menginginkannya, “Mm… bagaimana kalau kita makan, sepertinya ini sudah jam istirahat.”

__ADS_1



Bu Lisa melihat ke arah arloji di tangannya, “kamu sudah lapar?”



Aku mengangguk cepat sebagai jawabannya, aku tidak mau suasana canggung ini terus berlanjut.



“Bentar ya, Adek harus ke kantor dulu. Soalnya bekal makanan ada di sana.” jelasnya yang langsung pergi keluar ruangan.



Hening, tiada siapapun disini kecuali aku sendiri. Aku berjalan ke arah jendela melihat keluar sana, karena UKS berada di lantai tiga aku bisa leluasa melihat area sekolah.



Di lapangan sana, sepertinya ada pertandingan basket yang sedang berlangsung dari kakak kelas 3 sekolah. Mereka sedang mengadu tanding basket antar kelas, aku bisa memastikan hal itu karena kedua tim menggunakan seragam yang berbeda.



Permainan kakak kelas itu sebenarnya cukup seru, banyak dari murid-murid di sekitarnya terdiam menonton, bahkan ada juga yang sama sepertiku melihat dari atas.



Suara pintu terbuka terdengar dari belakang sehingga aku harus mengalihkan pandangan dari lapangan basket. Bu Lisa ternyata sudah kembali, dia membawakan kotak bekal makanan.



“Lama ya, Mas?” dia duduk di kasur UKS sambil membuka kotak makanannya.



Aku menggelengkan kepala, ikut duduk di sampingnya. “Kamu suka sayuran ya, Dek?” wajahku berubah cemberut saat Bu Lisa memperlihatkan menu makanannya.




Aku menggelengkan kepala. Bukan karena itu, hanya saja sayuran yang Bu Lisa masak selalu mengandung tomat dan brokoli, kedua makanan itu adalah yang paling tidak aku suka.



“Kalau begitu Adek beli makanan dulu ke kantin,” Ucap Bu Lisa menutup bekal makanannya lagi, wajahnya terlihat kecewa.



“Enggak perlu sayang, aku suka kok makanan kamu.” Aku menggenggam tangannya untuk menandakan ucapanku serius. Bu Lisa terdiam sebelum kembali membuka kotak bekalnya tersebut.



Setelah itu kami berdua makan bersama dengan Bu Lisa yang menyuapiku, sepertinya Bu Lisa sudah terbiasa dengan gelagat suaminya yang sering di suapi, membuat ia tidak perlu bertanya apakah aku harus di suapi atau tidak.



Waktu berjalan cepat ketika kita dalam keadaan bahagia, tau-tau kami di dalam UKS sudah 2 jam. Bu Lisa menutup bekal makanan yang sekarang tidak ada lagi isinya, dia berdiri dan hendak berpamitan.



“Adek balik dulu ke kantor, Mas. Sepertinya istirahat rapat guru sudah selesai.”



Aku mencium keningnya, “Jadi istri yang baik ya di sekolah!”



Bu Lisa mengangguk tersenyum. Di hadapanku sekarang dia seperti seorang anak kecil yang patuh pada perintah orang tuanya.

__ADS_1



Hari-hari berlalu cepat kini ujian sekolah tinggal satu hari lagi besok, selama itu juga aku sering belajar di malam hari, tidak pernah absen kecuali Bu Lisa tidak mengingatkannya.



Aku juga tidak bertemu Nina selama dalam proses belajar, entah apakah dia akan kesepian mengingat bahwa temannya jarang ke sana lagi.



Di malam hari, aku menyandarkan tubuhku di kursi belajar. Jika saja bisa, mungkin otakku kini sudah mengepul asap karena terlalu lamanya berpikir, sejak dari sejam lalu aku tak berhenti-henti menatap barisan huruf dalam buku.



“Loh, kok berhenti Mas?” Suara Bu Lisa terdengar dari arah pintu, dia tadi mengambilkan segelas susu untukku.



Bu Lisa saat ini memakai baju rumahan yang serba terbuka, celananya saja sangat pendek dan jauh dari kisaran lutut, sedangkan baju yang dia pakai hampir tidak sampai menutup bagian perutnya, jika saja ia bergerak sedikit maka bagian daerah perutnya akan terlihat.



Seperti yang aku katakan sebelum-sebelumnya, penampilan istriku itu sangat berbeda jauh dibanding dia di sekolah.



Kalau di sekolah Bu Lisa mempunyai aura ketegasan yang mencekam, membuat murid-murid di sekitarnya menjadi segan dan bahkan terkesan takut. Dulu saat awal-awal aku bertemu dengan Bu Lisa juga merasakan demikian, seolah diriku ini sedang berhadapan dengan seorang yang berternama tinggi.



Tetapi itu dulu sebelum aku mengenal lebih dekat dengannya. Sekarang di mataku, Bu Lisa tidak terlihat demikian apalagi jika dia berada di rumah, karena ketika di sini, ia terkesan menjadi wanita yang imut dan cantik.



Selama aku menikah dengan Bu Lisa, aku seperti menikah dengan seorang gadis yang sepantaran. Kalian tahu, wajah istriku itu selain cantik ia memiliki paras gadis SMA, jika bukan karena baju dinas gurunya di sekolah mungkin ia akan di anggap murid di sana.



“Kamu malam ini cantik banget, Dek. Kamu sengaja ya biar Mas mu ini tergoda.” Aku tersenyum jahat ketika Bu Lisa perlahan mendekati meja belajarku.



“Ini kan permintaan kamu dulu, yang katanya aku harus tampil cantik di rumah.” Jawabnya meletakan gelas susu di meja.



Aku berdiri lalu melingkarkan tangan di pinggang nya, membuat posisi kami sangat dekat juga saling berhadapan.



“Mas, kamu mau ngapain!?” Bu Lisa berseru kaget saat tiba-tiba aku mencium bagian lehernya.



“Untuk hari ini aku libur belajar dulu ya? Aku pengen kamu soalnya,” ucapku merengek manja.



“Tapi lusa ulangan, Mas.”



“Aku tahu, makanya aku pengen kamu sekarang.”



Bu Lisa tidak berkata-kata lagi, dia tidak akan membantah apapun jika ini sudah mencakup keinginan suaminya.


__ADS_1


Jika kalian masih bingung dengan Aura Bu Lisa, kalian bisa bayangkan ketika hendak berbicara dengan guru galak, bagaimana rasa canggungnya... seperti itulah aura Bu Lisa pada muridnya di sekolah.


__ADS_2