
Kekuranganku adalah kelebihannya, kelebihanku adalah kehebatannya.
Di usia remaja, keingintahuan tentang hal baru sangatlah besar. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, yang di rasakan, di alami dan apa yang di dengarkan, dan itu termasuk perkataan orang-orang di sekeliling.
Untukku sendiri, ada beberapa hal yang membuatku penasaran dan menunggu agar di dengarkan, entah itu ilmu pengetahuan, info menarik, berita dan lain sebagainya. Namun tentu saja ada sisi kebalikannya, yang justru ketika mendengarnya selalu aku hindari.
Di sebagian kejadian aku bisa menghindari apa yang mungkin menurutku tidak suka, tapi di sebagian lainnya, aku tidak bisa menghindar dan harus mendengarkan semuanya.
Contohnya apa yang ku alami sekarang, ketika aku mendengarkan obrolan orang dewasa, yang jelas tidak aku mengerti dan sangat membosankan, jika bukan karena harus bersopan-santun kepada kedua mertuaku, mungkin sudah dari tadi aku balik ke kamar.
Waktu hampir mendekati jam 9 malam, percakapan keluarga baruku ini tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. Mereka bersemangat membicarakan tentang pernikahan kami.
“Sayang, kamu bawa gih suamimu, kasihan dari tadi mengantuk,” itu adalah ucapan ibu Ayu kepada istriku.
“Enggak kok tante, eh maksudnya bunda, mataku masih melek.”Kata ku berbohong, tentu saja itu hanya mengelak karena aku tidak mau percakapan mereka terganggu hanya karena aku mengantuk.
Tapi Ibu Ayu adalah orang pengertian, wajahnya yang ramah memandangku dan berkata.
“Tidak apa-apa Raka, istirahat aja terlebih dahulu. Obrolan ini masih bisa di lanjutkan esok hari, lagian hari ini kamu sudah lelah, jadi sebaiknya kamu cepat istirahat.”
“Jangan merasa tidak enak, ini hanya obrolan ringan saja Raka” Pak Harun tersenyum ikut menambahkan.
Pak harun dan Bu ayu adalah nama dari kedua orang tua Bu Lisa, yang sekarang menjadi mertuaku.
“Yaudah mah, pak, Lisa juga sudah ngantuk. Kami berdua pamit terlebih dahulu ya..” Bu Lisa menarik tanganku cepat, ia buru-buru melangkah meninggalkan kedua orang tuanya di tengah rumah.
“Nanti olahraganya jangan sampai malam-malam, ingat! Istirahat lebih penting.” Pak Harun berseru dari belakang, meneriaki kami yang sudah mulai menaiki anak tangga.
Aku tersenyum mendengar kalimat ‘olahraga malam’ dari ayah mertuaku, tentu saja aku tidak terlalu bodoh mengartikan kalimat tadi, di usiaku yang sudah remaja, tentu aku paham maksudnya.
Dan ngomong-ngomong, alasan itulah yang membuat Bu Lisa cepat-cepat meninggalkan kedua orang tuanya di tengah rumah sekaligus menarik ku bersama. Karena ia ingin melarikan diri dari topik yang di bicarakan orang tuannya.
Walaupun mungkin aku tidak tertarik dengan obrolan tadi, tapi setidaknya aku bisa mendengarkan. Percakapan Bu Lisa dan orang tuanya sudah pada titik akhirnya, yaitu tentang ‘malam pertama’.
Dan sangat jelas bagi wanita yang baru menikah, kata-kata tersebut sangat memalukan dan bersifat tabu.
Tiba di kamar tidak menjadikan kami akrab walau tangan dia memegang tanganku, kami hanya diam duduk di tepi ranjang, membiarkan kesunyian menyelimuti ruangan.
“Jadi bagaimana kalau kita berkenalan dulu dari awal,”
__ADS_1
Untuk memerangi kesunyian seperti ini, aku memutuskan memulai pembicaraan, seperti perkataan tadi, aku berkata sesuatu yang tidak jelas. Tapi semoga dia paham.
“Perkenalan apa?”
Lihat seperti itulah maksudku, jadi seharusnya aku memang harus berbasa-basi, mengatakan ‘halo’ atau ‘boleh aku bicara?’ itu sangat bagus di banding langsung ke intinya. Mereka tidak bisa membaca pikiranmu agar langsung tahu arti maksudmu.
“Maksudku kita memperkenalkan diri masing-masing. Saling menceritakan profil hidup, kesukaan, hobi, yang tidak di suka atau apapun yang kamu mau ceritakan padaku.”
Dia mengangguk mengerti “jadi, siapa yang duluan?”
“Kamu, selepas itu aku.”
“Baik” dia memutar matanya ke atas, berpikir sesaat “Mm.. nama Kalisa, biasanya di panggil Lisa, umur baru menginjak usia 21 tahun. Saat ini aku mengajar di sekolah menengah atas sebagai guru matematika, hobi membaca dan memasak, itu saja.”
“Bu Lisa mengajar matematika?” tanyaku ingin tahu.
“Iya, kita nanti akan sering bertemu.” Jawabnya tersenyum.
“Nanti Bu Lisa mengajar kelas satu?”
Aku menggaruk belakang kepala, tadinya mau berkata demikian tapi lidahku selalu kelu menyebutnya langsung. Karena memang itu bukan sesuatu yang dapat di rubah cepat.
“Boleh aku tanya sesuatu lagi?”
“iya?”
“Kata murid yang belajar di situ, kamu katanya guru yang galak ya?”
Kalau ada yang mengatakan ini perkataan bodoh, maka aku akan langsung setuju. Percayalah hal itu memang aku sadari, dan bodohnya lagi aku tetap mengatakannya.
Bu Lisa tertawa, mungkin dia saat ini melihatku seperti seorang anak lulus SMP yang polos “Apa yang mereka katakan adalah kebenaran, dan yang sekarang aku katakan juga kebenaran. Menurutku aku hanya tegas, dan mungkin bagi mereka aku ini galak.”
“Nahh.. kalau begitu nanti kamu gak boleh galak sama suami,” ucapku becanda.
“Tentu saja aku akan tetap galak, malah lebih-lebih dari pada murid yang lain. Karena kamu suamiku, jadi ada saat-saatnya aku menegur untuk membimbing ku,” katanya yang dilanjuti dengan tawa kecil.
Aku tidak mengerti dari sebelah mana bagian itu yang lucu, namun aku tetap ikut tertawa melihat wajah cantiknya yang juga tertawa.
__ADS_1
Lalu setelah beberapa detik berlalu dan tawa mulai hilang, aku teringat sesuatu “Bukankah kita mau membicarakan tentang pernikahan ini tadi?”
Tawa dia langsung terhenti di ganti dengan pandangan yang tidak aku pahami.
“Hei Raka,” dia menatap mataku sesaat sebelum akhirnya menundukkan pandangannya.
Aku terpaku, dia tiba-tiba berkata dengan intonasi yang berbeda jauh dengan candaan tadi, apa yang mau Bu Lisa katakan?.
Sambil berdeham sebentar dia melanjutkan perkataanya dan mendongak kembali menatap padaku “Ini adalah keputusanmu, dan apa yang kamu pilih adalah kewajiban ku.”
Aku mengernyitkan alis tidak mengerti, namun tidak menyela ucapannya.
“Tentang malam pertama itu, mm.. sepertinya aku masih belum siap.” Katanya ragu-ragu di ikuti dengan pandangan dalamnya “Tapi kalau kamu mau memintanya, itu juga tidak masalah. Aku akan menuruti apa keputusanmu.”
Walaupun di lubuk hatiku sudah menduganya langsung, namun ketika kejadiannya di depan mata sangatlah berbeda. Aku masih kaget dengan kata dan ucapannya meski aku tidak menampakan nya secara langsung.
Hal yang aku ingat adalah perkataan ayahku ketika ia menasehati tentang perjodohan ini, “Perjodohan tidak di landasi oleh cinta tapi di landasi dengan paksaan dan kewajiban, ada kalanya nanti istrimu akan menolak apa yang kamu inginkan, karena ada beberapa hal harus menggunakan perasaan. Jadi ketika dia menolak, sebaiknya kamu harus mengerti Raka, namun itu terserah padamu.”
Sekarang aku paham maksudnya, Bu Lisa mungkin belum jatuh hati padaku, itulah mengapa ia memberikanku penjelasan yang begitu sangat sopan.
Namun tentu saja aku tidak akan memaksakan hal tersebut, bagaimanapun aku bukanlah orang yang pemaksa. Walau hawa nafsuku memang berkata lain.
Dengan menggenggam tangannya begitu halus, aku berkata pelan, membisikan kata-kata yang membuatnya tersenyum manis dan memerah.
“Terimakasih.” Ucapnya sekali lagi.
Aku mengangguk, ikut tersenyum.
Karena waktu malam sudah semakin larut, kami berdua akhirnya memutuskan untuk tidur.
“Boleh aku memeluk?” ucapku pelan, dengan detakan jantung yang kian meningkat.
Saat ini kami saling berhadapan di ranjang dengan posisi tiduran, entah aku atau dia sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Bagaimana tidak, kami berdua masih belum terbiasa berbagi ranjang, apalagi bersama lawan jenis.
Dia memandangku dengan gugup sebelum akhirnya mengangguk ragu-ragu.
Dengan ijinnya aku langsung menggeser tubuh agar lebih didekatnya hingga tidak ada jarak sedikitpun. Akupun melingkarkan tanganku, memeluknya, sedangkan dia walaupun rona wajahnya samar-samar memerah ikut menenggelamkan kepalanya di dada bidangku.
***Like Dan Votenya***!!
__ADS_1
***Terimakasih***