
Cahaya yang terang kini lebih bersinar lagi dengan hangat.
“Apa kau yakin, Dek?” Aku bertanya kesekian kalinya takut salah dengar dan lihat.
Kami berdua saat ini sedang tiduran di kasur dengan posisi saling berhadapan.
Bu Lisa menjawab dengan anggukan pelan. Rona merahnya semakin nampak jelas ketika aku bertanya tentang hal itu secara berulang.
Aku menghembuskan nafas panjang, kenapa Bu Lisa terlihat berbeda sekarang, dia tidak bertingkah seperti biasanya.
“Kamu gak mau ya, Mas?” Bu Lisa menatapku berkaca-kaca.
“Bukan begitu, aku sebagai suami kamu mana menolak di tawari seperti itu.” Aku menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal. “Tapi kamu sekarang tidak bersikap seperti biasanya, bukan Kalisa yang aku kenal, kamu ada masalah?”
Bu Lisa menggeleng, dia tidak berkata apapun.
Aku berpikir sesaat. Apakah jangan-jangan dia memang menginginkan hal suami istri sekarang? Tapi bukankah seharusnya laki-laki yang minta? Eh, apa wanita juga bisa menginginkannya?
“Mas, kalau kamu keberatan juga gak apa-apa.” Bu Lisa berkata dengan nada lemah.
Aku bisa melihat wajah kecewanya saat berkata demikian. Sebenarnya kenapa aku berpikir lama dan tidak langsung beraksi itu karena Bu Lisa pernah menangis ketika dulu aku menyinggung hal ini tanpa sengaja.
Dan ketika melihat tangisan itu aku tidak berani lagi berkata tentang hak suami padanya. Aku takut dia terulang menangis di hadapanku.
Namun sekarang justru kebalikannya, dia menjadi sedih gara-gara mengira bahwa aku menolak hak tersebut.
Aku menghela nafas dalam-dalam, mengeluarkan semua pikiran negatif. Wajahku kini tersenyum lagi dan menatapnya dengan dalam.
“Terima kasih karena telah mempercayakan semuanya kepada Mas.” Aku berbisik pelan di dekat telinganya yang justru membuat dia kembali tersenyum dan merona.
Kejadian selanjutnya mudah saja di tebak. Kami berdua melakukan kegiatan suami istri semalaman, kami berdua benar-benar di mabuk cinta malam itu.
\*\*\*
Di pagi harinya saat aku perlahan membuka mata dari tempat tidur, aku menemukan seorang gadis yang sedang tertidur lelap menghadapku. Wajahnya terlihat damai dengan deru nafas teratur.
__ADS_1
Ingatan pertama ketika melihat Bu Lisa saat ini adalah tentang kejadian tadi malam. Dia memberikan hal yang terpenting bagi dirinya padaku, dia telah seluruhnya menjadi milikku.
Aku tidak menyangka bahwa di usiaku yang bahkan belum menginjak 18 tahun, aku sudah melakukan hubungan suami istri. Kalian tahu, tidak ada pemikiran ku yang mengarah ke sana saat memikirkan tentang SMA dulu.
Aku mengelus pipinya perlahan, memperbaiki rambut dia yang terjulur menghalangi wajah. Sekejap merasa ada sentuhan, mata Bu Lisa mengerut ia hendak membuka matanya tetapi aku yang terbangun berpura-pura tidur kembali.
Dari mata yang sepersepuluh tertutup, aku bisa menyaksikan bahwa Bu Lisa memandang wajahku begitu hangat dengan ukiran senyuman yang manis.
“Aku cinta kamu, Raka.” Bu Lisa berkata pelan, lalu sesaat dia baru menyadari sesuatu pada wajahku. “Sebentar, Mas… kamu sudah bangun!”
Aku membuka mata dan tersenyum menggoda, “Pagi sayang, kamu tadi bilang apa? Cinta Raka?”
Wajah Bu Lisa menjadi merona saat menyadari dia tertangkap basah. “Adek gak bilang se...sesuatu kok.”
“Udah ketangkep basah masih aja bohong.” Aku terkekeh sambil mencolek hidungnya.
“Adek memang gak bilang apa-apa kok, beneran.”
Aku tersenyum tidak menjawabnya, dan memilih mendekatkan wajah untuk mencium keningnya. “Terima kasih ya, telah mempercayakan dirimu pada Mas mu ini.”
“Mas! Kamu jangan lihat ke dalam selimut dulu!” Bu Lisa tiba-tiba histeris karena menemukan bahwa dirinya sekarang telanjang bulat.
“Kenapa? Tidak apa-apa kali Dek, kan tadi malam aku melihat semuanya.” Aku terkekeh jail.
Bu Lisa berubah wajahnya menjadi cemberut, lalu memerah, dan terakhir menjadi tersipu malu. Dia mungkin mengingat-ngingat kejadian semalam antara dia dan aku.
“Adek mau mandi dulu.” Cicitnya memukul dadaku pelan.
“Yaudah, aku juga mau mandi. Bagaimana kalau kita mandi bareng?” Dia dengan cepat menggelengkan kepala bahkan sebelum kalimat itu belum selesai. “Boleh ya?” Bujukku lagi.
Bu Lisa masih menggelengkan kepalanya namun kali ini tidak secepat tadi, seterusnya aku membujuk dia hampir kelima kali, baru tepat saat keenam kalinya ia mengangguk kecil.
Aku tersenyum puas, kamipun berdua akhirnya mandi bersama di pagi hari. Dan seharusnya kalian tahu? Gara-gara mandi bersama tersebut kami melakukan hal suami istri lagi yang membuat jam mandi kami menjadi lebih lama.
“Mas! Kita terlambat!” Bu Lisa terkejut bukan main ketika dia melangkahkan keluar dari kamar mandi dan mendapati bahwa jam sudah menunjukan setengah tujuh.
__ADS_1
“Kita hari ini bolos ya sayang, Mas pengen berdua dengan kamu.” Aku memeluk perut Bu Lisa yang masih berlilitkan handuk dengan intonasi manja.
“Enggak boleh, Mas... Kamu harus ke sekolah, sekolah itu penting buat masa depan.” Dia berkata lembut mengusap pipiku yang berada di bahunya.
Aku menghembuskan nafas kasar. Masalahnya selain karena memang aku malas ke sekolah, aku juga kurang tidur dan kelelahan akibat kejadian malam tadi.
Niatnya aku akan membujuk Bu Lisa agar ia libur hari ini dan bersamaku berdua di rumah, namun karena hal ini mengaitkan dengan sekolah Bu Lisa dengan cepat menolak tegas, aku pun hanya bisa pasrah dan ikut bersamanya pergi ke sekolah.
\*\*\*
“Hei! Hei! Hei!” Della berseru dari depan memukul papan tulis dengan keras. “Pelajaran Bahasa Indonesia tidak ada, pak guru memerintahkan kita harus membuat karangan.”
Semua murid riuh mendadak dengan bahagia, pelajaran kosong! Itu adalah kabar bagus.
“Hei! Hei! Hei!” Seruan Della membuat keriuhan itu berhenti . Mereka kini menatap Della melihat apa yang hendak dikatakan lagi, “Untuk pelajaran Fisika juga tidak ada, Gurunya izin ada rapat .”
Selain riuh kali ini disambut dengan sorakan keras, tentu saja, itu karena kadar kebahagiannya menjadi dua kali lipat.
“Hei! Hei! Hei!” lagi-lagi Della memukul papan tulis tersebut yang justru semua mata menatapnya dengan heran. “Pelajaran Ekonomi juga tidak ada. Pak guru lagi sakit.”
“Hei, kau berbicara betul atau tidak? Masa iya tiga pelajaran kosong?” salah satu murid berseru, ia menatap Della curiga.
Della mengangguk, “Ini benar. Kelas sebelah tadi juga tidak belajar.”
Tiga pelajaran kosong! Semua murid hening sebentar lalu mereka saling tatap dengan temannya sebelum kembali kegirangan.
“Hei! Hei! Hei!” seruan ke empat kalinya membuat murid menatap Della dengan kesal. Mereka tengah asik berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan selama jam kosong kedepan.
“Apa lagi, Della? Kau mau mengatakan bahwa jam pulang tidak ada.” Reno menimpali, dia saat ini tengah memainkan gamenya lalu terganggu oleh suara ketukan Della di depan.
“Eh, itu saja.” Della nyengir, dia hanya iseng mempermainkan suara murid yang menjadi hening ketika mendengar ketukannya.
Seisi kelas menatap Della jengkel, peristiwa ini sudah kedua kalinya terjadi, dan lagi-lagi mereka tertipu.
J****angan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.
__ADS_1
Terima kasih