
Cinta itu bisa di pupuk, dan kebersamaan lah yang bisa menumbuhkan nya.
4 bulan yang lalu…
Acara pernikahan kami selesai sampai sore hari, itu benar-benar hari yang melelahkan. Entah kenapa walau keluarga kami mengundang orang terdekat saja, itu seperti tidak ada habisnya.
Aku mengumpat kesal melihat tamu yang tidak kunjung berakhir, tidak bisakah mereka langsung pulang ke rumah tanpa bersalaman, itu lebih cepat dari pada mengantri menunggu hingga kami mengabsen semuanya.
Dari beberapa jeda waktu, aku sesekali melirik wajahnya yang tersenyum manis menghadapi semua tamu, ia tampak berbeda di saat awal kami bertemu, dia lebih anggun, lebih cantik, lebih dewasa dengan hiasan dan baju gaun pengantinnya.
“Ada apa?” dia menoleh padaku dengan sopan.
Aku tersenyum kikuk, dan dengan cepat langsung menggelengkan kepala. Sial! Aku tertangkap basah memandangnya.
Lalu sekitar sampai jam 5 sore hari akhirnya acara pernikahan kami benar-benar sepenuhnya selesai, aku menghempaskan tubuhku di kursi pengantin, meluruskan kedua kaki yang pegal.
Tidak lama ibu mertuaku datang dengan senyum ramahnya, dia berjalan mengarah padaku, aku langsung bangkit dan cepat-cepat mencium tangannya
“Ha.. halo tante?” Ucapku menyapanya terlebih dahulu.
“Tante? Jangan panggil tante dong sayang, panggil aja bunda.” Katanya tersenyum anggun.
“Eh, iya tant.. Bunda.”
Sialnya aku benar-benar terlalu gugup di hadapannya. Asalkan tahu aja, aura Bu Lisa mungkin bisa membuatku canggung, namun aura ibunya lebih dari pada itu, aku seperti harus berhati-hati dalam bernafas ketika berhadapan dengannya.
Ibu mertuaku tersenyum melihat kegugupanku, tapi dia tidak membahasnya atau tepatnya memaklumi apa yang terjadi.
“Sayang, kalau kamu mau istirahat atau mandi, kamu tinggal ke kamar Kalisa aja.” kata Ibu mertuaku membisikkannya pelan.
Aku dengan cepat mengangguk, kebetulan! Seharian ini badanku terasa lengket dan gerah, jadi tanpa menunggu lama aku berjalan menuju kamarnya meninggalkan Bu Lisa yang tengah asik mengobrol dengan orang tuaku.
Tidak sulit menemukan kamarnya, karena tepat di depan pintu ada gantungan nama tertulis “Kalisa” yang menunjukan kamar istriku. Aku pun perlahan membuka pintu, dan tampaklah jelas ruangan kamar seukuran 4 kali 4 meter.
Ruangannya cukup bagus untuk di pakai seorang gadis, seperti kata mertuaku tadi, pakaian dan semua barang-barangku sudah ada di sana, terkemas dalam koper. Jadi tanpa banyak menoleh aku mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi yang tepat berada di sudut ruangan.
Aku memejamkan mata saat tiba-tiba air shower mengguyur semua tubuhku, rasanya terlihat tenang dan rileks. Tapi untuk pikiranku jelas-jelas tidak, ada banyak hal yang harus ku pikir, seperti tentang pernikahan ini.
__ADS_1
Aku merenungkan beberapa hal, apakah pernikahan ini akan berjalan lama? apakah aku siap memimpin keluarga? Atau yang jelasnya, apakah dia mau bersamaku?
Jelas aku wajar mengkhawatirkan hal tersebut, di usiaku seperti ini seharusnya aku masih bebas bergaul dan bersenang-senang, menikmati masa remaja.
Namun meski begitu bukan berarti aku menolak atau menyesal menikah, malah aku sangat senang menerima takdir ini, aku hanya sedikit berada dalam kebimbangan.
15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berpakaian, rasanya tubuhku sudah segar kembali, wajahku juga tidak terlihat lelah seperti sebelumnya.
Ku lihat di sebelah ranjang kasur terdapat sebuah pigura foto, aku sesaat tersenyum, itu adalah foto Bu Lisa yang sedang bermain boneka dengan anak kecil. Lalu di sampingnya, ada juga foto dia bersama kedua orang tuanya. Mereka terlihat sedang asik berlibur di taman, berfoto bertiga bersama.
“Raka!”
Aku tersentak kaget saat tiba-tiba ada orang lain memanggilku di belakang, salah satu tanganku yang sedang memegang bingkai fotonya terjatuh ke lantai.
PRANKK!!
“Eh, maaf,” aku refleks langsung berjongkok saat melihat pecahan kaca berhamburan di lantai.
Siapa yang memanggilku? Tentu saja Bu Lisa, dia masuk ke dalam kamarnya tanpa aku sadari, dan sialnya ketika dia memanggilku justru itu membuatku kaget.
“Aww..”
Tiba-tiba jari telunjukku terkena pecahan kaca yang tajam hingga membuatnya berdarah, tidak dalam cuma luka kecil.
“Kamu enggak apa-apa?”
Aku menggeleng, untuk luka kecil seperti ini di usiaku jelas tidak masalah dan tidak akan mungkin membuatku menangis.
“Sini lihat,” dia menarik tanganku dan melihat bagian yang berdarah “Sebentar..”
Aku hanya diam melihat ia berjalan ke arah laci, mengambil sesuatu di dalamnya, lantas berbalik membawakan peralatan P3K. Ternyata dia berencana untuk mengobati ku.
“Maaf soal piguranya, nanti aku akan ganti.” Kataku di saat dia sudah menempelkan plester luka di jari telunjuk, kami saat ini duduk di tepi kasur dengan posisi bersampingan.
Dia hanya tersenyum menatapku, yang justru membuatku meneguk ludah, oh ya ampun! Aku tidak percaya istriku bakal secantik ini.
“Tidak apa-apa Raka, itu hanya sebuah pigura,” katanya sopan.
__ADS_1
“Tapi itu gara-gara aku.”
Dia tersenyum sekali lagi, “Aku sudah ada pigura cadangan, jadi kamu gak harus jauh-jauh membeli. Lagian foto itu sudah lama, aku berniat akan menggantinya minggu depan.”
Mendengar tutur katanya, membuatku sedikit tenang, jujur saja perasaanku tidak enak, bagaimana tidak? Aku Sudah menjatuhkan barang miliknya dan sekarang malah membuatnya jadi repot.
“Terimakasih Bu.” Kataku sopan
“Lisa.. Panggil aku Lisa Raka, kamu memanggil seperti itu membuatku terlihat lebih tua.” ucapnya tertawa kecil.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, rasanya aneh memanggil guru sendiri dengan nama langsung, itu kedengarannya tidak sopan.
Bayangkan saja kalau ada guru yang lewat, misal namanya Pak Anton, lalu saat kita mau menyapanya “Oi anton!” nahh itu jelas bukan hal yang bagus untuk di lakukan bukan?.
“Bu, eh maksudku Lisa, kamu benar-benar menerima pernikahan ini?” ucapku memecah keheningan setelah beberapa menit suasana jadi sunyi.
Itu adalah pertanyaan ku yang terpendam dari dalam, aku membutuhkan beberapa waktu untuk akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Maksudnya?” dia menatapku dengan tatapan tak percaya, seolah yang aku maksud adalah aku terpaksa menikahinya.
Merasa Bu Lisa salah tanggap, dengan sigap aku langsung melanjutkan “Maksudku, kamu mau menikah dengan seorang remaja sepertiku, bukankah kamu bisa lebih memilih yang lebih dewasa, atau yang seumuran?” tanyaku.
Dia langsung tersenyum lembut “Aku mengerti Raka apa yang kamu bimbangkan, pertama-tama aku menerima pernikahan ini tulus di hatiku, tidak ada paksaan dari orang lain dan itu termasuk orang tuaku.
“Dan yang kedua, aku percaya orang tuaku akan memilih suami yang paling baik untukku, jadi ketika mereka menunjuk mu sebagai pilihannya, maka aku pun sama akan menunjuk mu sebagai suamiku.”
Pipiku memanas mendengar kata”suami yang paling baik”, apakah saat ini dia memujiku agar aku lebih percaya diri?. Kuharap pipiku saat ini tidak memerah, kalau ya, itu benar-benar memalukan.
Lalu dia melanjutkan ucapannya “Aku sebenarnya akan membicarakan hal ini nanti pas malam pertama kita nanti.”
Aku tersentak mendengar kata “malam pertama” dari bibirnya, entah harus berekspresi apa aku membalasnya.
Tiba-tiba wajahnya memerah, merasa ada kata yang salah dalam ucapannya dia kembali berkata “Maksudku kita akan berbicara hal ini pas nanti malam.”
Dia berbalik pergi dari kamar. Aku yang melihat siluetnya yang hilang di belokan tertawa kecil, aku tahu dia salah tingkah.
\*\*MAAF KETERLAMBATAN NYA, KEMARIN-KEMARIN AKU SAKIT JADI GAK BISA UP.. SILAHKAN "L I K E" DAN "V O T E" NYA!!
TERIMAKASIH\*\*...
__ADS_1