Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 38 — Hadiah


__ADS_3

Sesudah sang mentari tenggelam kini terlihat jelas keindahan rembulan.




Seminggu berlalu semenjak kejadian pernyataan cinta tersebut. Hubungan antara Pak Farhan dan Bu Kalisa menjadi lebih rumit dan tidak jelas. Dari keduanya tidak ada lagi tegur sapa, bercakap-cakap atau keramahan lainnya, sifat keduanya sudah hilang begitu saja.



Istriku walau saat di sekolah mengajar seperti biasa dan tersenyum ramah pada guru lainya, namun sebenarnya hati dia tidak demikian. Ada rasa sedih di dalam hatinya saat ia kehilangan sahabat yang telah lama menemaninya.



Aku tahu hal tersebut karena di malam hari Bu Lisa selalu menangis di dekapanku dan menceritakan kesedihannya. Bu Kalisa yang aku lihat sekarang benar-benar Bu Kalisa yang tidak mau aku lihat, ketika ia bersedih hatiku selalu sesak dan sakit.



Beberapa hari berlalu dengan sangat cepat, ternyata cerita mereka berdua tidak berakhir buruk. Kalian tahu, Pak Farhan menghampiri Bu Lisa di suatu tempat, dia mengatakan minta maaf atas kejadian di taman lalu.



Pak Farhan mengatakan maksudnya secara langsung, setelah ungkapan tersebut dia tidak ingin persahabatan dengan Bu Kalisa putus begitu saja. Dia ingin agar persahabatannya berlanjut walaupun dirinya harus menikam perasaannya sendiri.



Untuk kejadian ini kebencian ku terhadap Pak Farhan sedikit berkurang. Bu Lisa keesokan harinya berbaikan lagi, meski tetap saja dia harus menjaga jarak dengan Pak Farhan karena ada keberadaan ku yang sebagai suaminya.



Di saat malam hari, kami terduduk di sopa berdua, saling berhadapan satu sama lain.



“Aku suka lihat kamu tersenyum lagi.” Ujarku memegang dagunya. “Kamu jadi cantik lagi?”



“Emang kalau adek gak senyum gak cantik gitu?” Bu Lisa memanyunkan bibir kecilnya.



“Iya.” Aku mengangguk, “Kamu berubah jadi jelek.”



Bu Lisa langsung bergerak mencubit pinggangku tetapi sayangnya aku lebih dulu menghindar.



“Loh, Adek mau ngapain tadi. Kok tangannya udah gitu.” Aku tertawa menunjuk tangan dia yang berposisi siap mencubit.



“Mas!” Bu Lisa berseru jengkel karena serangannya telah gagal.



“Kenapa? Emang kamu jelek kok.” Aku menjulurkan lidah, “Kalisa jelek… kalisa jelek… hahaha.”



“Awas aja kamu, Mas.” Bu Lisa dengan geram bergerak mendekat, tetapi aku langsung buru-buru berlari ke belakang sopa, “Mas sini. Berani bilang Adek jelek lagi.”



“Adek jelek… Adek jelek…” Aku tambah terus mengejek dan menjulurkan lidah.



“Kalau Mas ketangkap, awas aja nanti!”



Setelahnya kami berdua saling kejar di dalam rumah. Aku yang tak kalah cerdik mengelilingi sopa secara berulang-ulang agar ia tidak sampai menyentuhku. Bu Lisa bertambah geram dia mengubah arus putaran tetapi aku juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1



Tentu saja, Bu Lisa tidak benar-benar marah. Aku bisa melihat dengan jelas ketika dia tengah mengejar , wajahnya sangat cerah bahagia.



“Mas… Sakit.” Tiba-tiba di sela kami berkejaran Bu Lisa mengaduh kesakitan memegang bagian perutnya.



Aku terkejut dan langsung menghentikan langkah. “Kamu kenap dek?” Aku buru-buru menghampirinya takut ia kenapa-napa.



Namun setelah aku cukup dekat dengan tubuhnya, Bu Lisa mengubah bibir kecilnya menjadi senyuman jahat. Sial! Aku terlambat menyadari kalau itu semua bohongan. Dia dengan telak mencubit bagian perutku.



“Aw, ampun Dek… Ampun… Mas nyerah.” Aku mengaduh kesakitan sambil mengusap bagian yang tercubit.



“Rasain! Siapa suruh bilang Adek jelek.” Bu Lisa tersenyum puas.



Cubitan itu tidak terlalu sakit sebenarnya, Bu Lisa sengaja agar dia tidak benar-benar menyakiti suaminya. “Kamu jahat banget sih, Dek. Aku bales nanti kamu tahu rasa.”



“Adek gak takut tuh. Ayo sini kalau berani?” Dia dengan pintar menjauhiku, seperti yang aku lakukan tadi dia menggunakan sopa sebagai penghalang dia berlari.



“Baik, Adek yang memaksa Mas berbuat seperti ini.” Aku merentangkan kedua tangan sambil memasang wajah jahat. “Siap-siap Dek, jangan harap kali ini Mas akan mengampuni.”



“Oh ya, kalau begitu aku ingin lihat seberapa cepat suamiku berlari,” dia memasang senyum mengejek.




“Mas, berhenti dulu! Adek capek.” Bu Lisa menghempaskan tubuhnya di atas sopa, nafasnya tersenggal akibat terlalu lama berlari.



Akupun yang tidak berniat lagi menjailinya ikut duduk di samping dan beristirahat. “Ambilin minum yang. Mas haus!”



Bu Lisa mengangguk menurut dan pergi ke dapur, setelah kembali ia membawa gelas air jeruk yang dingin. “Ini Mas.” Bu Lisa menjulurkan tangannya.



“Terima kasih sayang.” Aku langsung meneguk air jeruk tersebut namun tidak di habiskan seluruhnya, “Kamu mau?”



“Enggak usah Mas, ini Adek mau ke dapur dulu buat minum.”



“Yang ini aja, nanti kalau kurang tinggal Mas yang ke dapur.”



Bu Lisa terlihat ragu namun karena takut menyinggung perasaanku dia menerima gelas bekas yang sebelumnya aku minum. “Terima kasih, Mas.”



Aku tersenyum memandang Bu Lisa yang menghabiskan jus jeruk tersebut, “Mau minum lagi?” tawarku, “Enggak usah Mas ini sudah cukup.” Jawabnya pelan.


__ADS_1


Aku berpindah posisi dan kini menyandarkan kepala di bahunya, tidak ada yang lebih baik selain beristirahat di dekat kekasih sendiri. Mataku terpejam sesaat sebelum Bu Lisa bergerak ke arah sisi lain, dia tiba-tiba menjaga jarak dariku.



“Kenapa?” Aku menatap bingung.



“Mm… itu Mas, Adek bau keringat.” Wajahnya memerah malu.



“Tidak apa, kamu tetap harum kok,”



“Enggak boleh Mas,” Bu Lisa beranjak berdiri takut aku akan menyandar padanya lagi. “Adek mau mandi dulu, sebentar.” Dia langsung berlalu ke kamar meninggalkanku sendiri.



“Aih, sesensitif itukah wanita dengan penampilannya.” Aku menggaruk kepala, merasa tidak mengerti dengan perasaan wanita.



Setengah jam berlalu dia kembali ke ruang tengah. penampilan Bu Lisa sangat berbeda dengan sebelumnya, jika tadi dia memakai pakaian rumahan yang terbilang simpel dan tertutup namun kini semuanya berubah kebalikan.



Aku tidak tahu jenis pakaian apa yang Bu Lisa kenakan, tetapi jika menggambarkannya mungkin masih bisa diceritakan.



Tepat di depan sana istriku berpenampilan khalayak dia dulu berkencan, pakaiannya sedikit terbuka di bagian bahu sehingga terlihat jelas kulit putihnya yang halus. Untuk bawahannya dia memakai rok pendek berwarna biru langit, saking pendeknya ukuran rok itu jauh di atas lutut.



Wajahnya ber-make up rapih dan cantik apalagi di bagian bibir kecilnya yang menjadi merah, jujur saja dari semua penampilannya yang menarik hanya bibir kecil itulah yang aku lirik.



“Mas, jangan lihat Adek seperti itu.” Bu Lisa berkata malu-malu saat pandanganku menatapnya dari bawah ke atas.



Aku menaruh ponsel yang sebelumnya di jadikan game dan bergerak berjalan menghampirinya. Sekarang, tidak ada jarak lagi diantara aku dan Bu Lisa, mata kami saling bertemu dan menatap begitu lama.



Seakan semua itu dalam rencana Bu Lisa, dia dengan perlahan menutup matanya untuk membiarkanku menciumnya. Aku meneguk ludah, tanpa di berikan kode pun aku pasti akan melakukan hal tersebut.



Aku tidak tahu berapa lama saat kami berciuman, yang pasti itu sangat lama karena nafas kami menjadi tersenggal kehabisan nafas.



“Kamu kenapa berpenampilan seperti ini, Hm?”



Bu Lisa menenggelamkan wajahnya di dadaku saat kami berdua sedang berdiri, “Ini hadiah buat Mas, karena telah menemani dan menghibur Adek selama ini.” Lantas setelah itu di mencium bibirku sekilas dan berlari ke kamar dengan wajah yang sudah memerah.



Wajahku mematung dengan salah satu tangan yang memegang dada, “Aku tidak menyangka pacuan jantung ini akan bisa berdetak begitu cepat.”



\[***Maaf kemarin gak update, hehehe... kemarin author lupa buat ngepostingnya***.\]



**Ok jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa**.


__ADS_1


**Terima kasih**


__ADS_2