
Benih yang ada di dalam tangannya kini mulai di tanam dengan sebongkah kebaikan.
“Kenapa kamu memberikan uang, maksudku memberikan uang sebanyak itu? Bukankah kedua anak kecil itu berbohong, sayang?” mataku masih terfokus menatap dimana kedua bocah itu lari dan menghilang.
“Mereka anak yatim, Mas.” Jawab Bu Lisa ringan seolah kejadian pengamen tadi adalah hal biasa.
“Anak yatim? Bagaimana kamu tahu?” kali ini aku menatapnya heran.
“Kedua anak kecil itu berbohong dan mengatakan bahwa orang tuanya sakit karena ingin mendapatkan keprihatinan kepada yang mendengarnya, mereka berdua berpikir jika menyebut orangtuanya telah tiada hanya akan mendapatkan ucapan duka saja.”
Aku menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal, masih tidak mengerti.
“Jika Mas melihat ada dua orang yang lagi dalam keadaan duka, salah satu mengatakan bahwa dirinya duka karena orang tuanya telah meninggal, dan satunya lagi duka karena orang tuanya sakit, maka apa yang diberikan Mas kepada keduanya?”
Aku menggelengkan kepala, separuh tidak tahu separuh tidak mengerti.
Bu Lisa tersenyum melihatku yang masih kebingungan, “Umumnya, orang-orang akan memberikan ucapan duka dan doa pada orang yang pertama, sedangkan untuk orang yang kedua biasanya selalu di beri sebuah materi baik uang dan barang.”
Ah, jadi seperti itu, aku mengerti sekarang, intinya, kedua bocah itu berbohong supaya mereka mendapatkan uang.
Aku memangut-mangutkan kepala dan tidak bertanya lagi, selepas itu kami berdua hanya bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya memutuskan pulang.
“Mau di bawain, Mas?” Bu Lisa menunjuk salah satu tanganku yang membawa kresek besar berisi cemilan.
“Tidak usah. Dari pada bawa kresek besar ini lebih baik bawa tanganku.” Aku menjulurkan tangan dan menggengam tangannya.
Bu Lisa tersenyum, ada sedikit rona merah di wajahnya.
“Kamu tahu, sayang.” Aku membuka suara setelah beberapa langkah berjalan. “Mungkin ini adalah ucapanku yang sama kesekian kalinya.”
Aku berhenti melangkah sejenak, membuat langkah Bu Lisa jadi terhambat.
“Kamu tahu, Dek. Aku benar-benar bersyukur mempunyai istri sebaik dirimu, aku benar-benar senang telah menikahi denganmu, apakah kita bisa seperti ini selamanya?” Tatapanku mengarah kedua matanya dengan dalam dan penuh arti.
Bu Lisa terlihat senang, namun dia bingung harus menjawabnya seperti apa. “Aku juga cinta kamu, Mas.”
Mulutku tak kuasa menyunggingkan senyuman, walau jawaban dia terkesan tidak nyambung tetapi itu sudah cukup mewakili perasaanya.
__ADS_1
Jika saja sekarang aku tidak dalam keadaan di luar, mungkin sudah dari tadi aku cium dan memeluk tubuh kecilnya. Namun tentu saja walau sekarang tidak bisa, bukan berarti aku tidak melakukan hal itu di lain tempat.
Ketika kami tiba di dirumah dan memasukinya, aku langsung menarik tangan Bu Lisa agar masuk dalam pelukanku. Tanganku menggenggam dagunya lembut dan menciumnya begitu lama.
“Aku… aku… aku ke dapur dulu, Mas.” dia menundukkan wajah merahnya selepas berciuman dan pergi melarikan diri.
Aku menggelengkan kepala pelan, walau dia sudah menikah denganku 5 bulan, Bu Lisa masih saja malu-malu terhadap suaminya.
Di keesokan harinya, ternyata saat kemarin Bu Lisa memberikan uang kepada ibu-ibu itu ia juga memberikan alamat kami padanya.
Tepat aku pulang dari sekolah, ibu-ibu itu datang ke rumahku dan dia sedang bercakap-cakap sesuatu dengan Bu Lisa di ruang tamu.
Bu Lisa yang menyadari bahwa suaminya sudah pulang, langsung berdiri mencium punggung tanganku. Wajah sang ibu itu terheran-heran karena pasalnya jelas-jelas wanita didepannya memakai seragam guru namun kenapa dia mencium tangan anak yang masih berseragam SMA.
Meski dia memiliki banyak pertanyaan dari kepalanya dia tidak berkomentar apapun, pandangan mata dia bertemu denganku dan langsung memberikan hormat, akupun membalas dengan senyuman dan sapaan sopan.
Dari awal aku memang tidak meladeni ibu-ibu itu dulu karena mau terlebih dahulu mandi, bajuku sudah dari tadi berbau keringat sekaligus lengket.
Aku dan Bu Lisa saling pandang, meski memang wajah Bu Lisa seperti wanita remaja, tetapi dia kini memakai baju dinas guru, sehingga ibu itu tahu bahwa Bu Lisa lebih tua dariku.
Bu Lisa terbatuk pelan, “Ini adalah suami saya.”
Wajah sang Ibu itu terkejut namun ia tidak berkata apa-apa. Setelah beberapa detik mengontrol keterkejutannya dia terlihat menyesali pertanyaan tadi yang jelas membuat tuan rumah menjadi tersinggung.
“Tidak ada-apa, Bu. Semua orang juga akan sama terkejutnya ketika mendengar hal yang sama.” Aku berusaha mencairkan suasana melihat ibu itu terdiam.
Sang Ibu itu mencoba membalasnya dengan anggukan dan tersenyum kaku, dia masih merasa tidak enak.
Selepas itu kami bertiga mengobrol di tengah rumah. Nama Ibu itu adalah Ibu Liya yang masih berumur 40 tahunan, dia saat ini di tinggal sendirian dirumah bersama anaknya, sedangkan sang suami meninggalkannya begitu saja.
“Sekarang bayinya Ibu dimana ya?” aku bertanya di sela kami mengobrol.
“Ada Pak, dirumah. Tadi bayiku tertidur sebelum aku kesini.”
Tanganku menggaruk bagian kepala, masih tidak nyaman di panggil dengan sebutan ‘Pak’ oleh orang yang jelas lebih tua dariku.
__ADS_1
Ibu Liya sengaja berkata demikian karena katanya ini adalah penghormatan atas kebaikan istrinya, walaupun aku beberapa kali tidak usah bilang berkata demikian, tetapi ibu itu tetap kekeuh memanggilku seperti itu.
Pembicaraan kami terhenti setelah Ibu Liya berpamitan untuk pulang, dia harus merawat bayinya takut dia sudah terbangun dan menangis-nangis.
Di malam harinya, saat aku bersandar di ranjang sambil memainkan game di ponsel, entah kenapa Bu Lisa memakai pakaian yang tipis dan pendek. Aku sebagai laki-laki teralihkan pandangan dan langsung menatapnya.
Bu Lisa berjalan ke arahku dan dia langsung menyandarkannya kepalanya di dada bidangku. Jika Bu Lisa bertindak seperti ini pasti dia bermaksud sesuatu.
“Kamu kenapa sayang?” aku meletakan ponsel di atas laci lalu mengelus pucuk kepalanya dengan lembut.
“Enggak apa-apa, kok.” Cicitnya seperti anak kecil.
Aku tersenyum lalu kembali mengelus kepalanya.
“Mas?” Bu Lisa berkata lagi setelah beberapa menit terdiam.
“Iya sayang.”
“Kamu bisa gak izinin Ibu Liya bekerja di sini, dia kasihan gak ada pekerjaan dan uang. Bolehkan, Mas?”
“Boleh.” Jawabku singkat
Bu Lisa langsung mengangkat tubuhnya, ia mungkin tidak percaya bahwa aku akan mengizinkannya secepat itu tanpa berpikir terlebih dahulu. “Kamu serius kan?”
Aku mengangguk, “Asal kamu harus menuruti dua keinginan, Mas.”
“Keinginan apa?”
Aku tidak menjawabnya melainkan melirik tubuh dia dari bawah ke atas sambil mengelus-ngeluskan dagu. Bu Lisa yang menyadari tatapanku kembali menundukkan kepalanya dengan kedua pipi yang sudah memerah.
Aku bepindah tempat mendekati Bu Lisa sekaligus mengangkat dagunya secara lembut. “Mas boleh minta kan, sayang?”
Bu Lisa sudah mengerti maksud perkataanku, dengan perlahan ia menganggukkan kepalanya malu-malu.
Jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.
Terima kasih
__ADS_1