Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 28– Ngambek


__ADS_3

Becanda tidak seharusnya menyakiti.




“Apa yang kau katakan tadi, melamun kan dia, haha..” Reza tertawa keras, kedua tangannya memegang perut, ia tidak kuasa mengontrol suara tawanya sendiri.



Aku disisi lain mendengus sebal, selain kesal karena Reza mengolok-ngolokku, suara dari tawanya tidak terlalu sedap di dengar, dia tertawa seperti orang terkena asma yang sesak nafas, suaranya tidak jauh dengan ringkikan keledai.



Setelah beberapa saat, ketika tawanya mulai perlahan pelan dan berhenti, salah satu tangannya memegang dagu dengan matanya melihat ke sudut atas.



Dari yang aku tahu selama berteman dengannya, wajah itu menandakan ia tengah berpikir serius, meski aku memang tidak peduli apa yang dia pikirkan, bukan berarti aku mengabaikannya.



“Kau seharusnya di marahi tadi.” Ucapnya tiba-tiba yang justru membuatku mengerutkan alis, tidak mengerti.



“Kenapa di marahi?” kataku membuka suara, memotong ucapan Reza yang belum selesai.



“Kenapa? Tentu saja Itu tidak sopan Raka. Bagaimanapun Bu Lisa adalah guru kita, seharusnya kita beretika yang baik bukan membecandainya seperti itu.” Reza berseru tajam, matanya melotot padaku, aku tahu aku telah bertanya bodoh padanya.



“Aku pernah dengar dari murid kelas lain, bahwa ada yang menggoda Bu Lisa seperti yang kau tadi lakukan. Meski niatnya hanya sekedar becanda, namun itu justru membuat dia di marahi habis-habisan. Dia berlaku tidak sopan berbicara gombalan padanya,” ucap Reza menambahkan.



Aku tanpa sadar mengangguk-ngangguk, mengerti arah pembicaraan yang di maksud Reza. Seharusnya aku atau murid yang lain tidak bisa seenaknya berbicara pada dia, apalagi jika itu seperti kata-kata rayuan dan gombalan.



Bagaimanapun becanda harus pada tempatnya juga, apalagi ketika sedang mengajar seperti itu. Aku tidak bermaksud becanda kepada guru di larang, maksudku sesuatu itu harus dalam standarnya masing-masing. Lagian jika guru terlalu serius dalam belajar para murid bisa bosan, dan itu akan melambatkan kinerja otak mereka.



Aku, Reza, dan Zildan berjalan menyelusuri lorong sekolah menuju tempat parkiran, walau hari ini tidak ada kegiatan klub tidak otomatis kami pulang lebih awal. Untuk anak SMA yang seperti itu mereka tidak menikmati apa yang di maksud masa abu-abu kehidupan remaja.



Kata Reza yang serba tahu hal-hal sepele, atau data-data yang tidak berguna dia mengatakan sesuatu saat kami membahas SMA dulu. Dia berkata, “Seorang murid yang hanya datang dan pergi ke sekolah adalah murid yang tidak tahu apa-apa tentang sekolah.”



Ketika dia mengucapkan hal tersebut, alih-alih terlihat bijak dia malah seperti orang konyol sok tahu, tidak ada sedikitpun keren-kerennya.



Aku menyipitkan mata ketika tiba-tiba cahaya matahari menusuk pandangan mataku, tidak seperti hari-hari sebelumnya, sore ini langit sangat cerah, tidak ada awan yang mengganggu laju cahayanya.



Tidak jauh setelah beberapa langkah bergerak, di atas lapangan sekolah terdapat banyak murid yang berdiri dan berbaris di sana, dari yang terlihat, baju seragam itu adalah anggota-anggota dari klub basket.



Mereka baru melakukan permanasan, saling berteriak menyebutkan angka satu sampai delapan berulang-ulang, sebelum akhirnya bergerak dengan posisi yang berbeda.



Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di parkiran, Pak Satpam yang berjaga di sana menatap kami dengan tajam ketika hendak melewati portal, wajahnya yang seram dengan kumis tebal membuat kami tidak betah di pandang olehnya.



Aku tahu itu adalah sifat sisi luarnya, karena pada dasarnya sikap Pak Satpam tidak demikian, walaupun dia tegas sebenarnya dia adalah orang yang ramah pada orang sekitar. Tentu saja itu bukan hasil kesimpulan ku, aku mendapatkan informasinya dari salah satu teman kelasku yang bertetangga dengan Pak Satpam itu.

__ADS_1



Jam menunjukan 4 sore saat aku melihat arloji di tangan, tidak banyak yang kami lakukan setelahnya sehingga kami berpamitan melambaikan tangan, menuju rumah masing-masing.



Motor yang seharusnya bisa melaju dengan kecepatan standar kini bergerak dengan lambat layaknya seperti kura-kura, jam 4 adalah jam-jamnya sibuk di perjalanan, karena di saat jam tersebut adalah waktu orang-orang pulang.



Entah dari kalangan para murid, pekerja, atau orang yang hanya sekedar berpergian, mereka berbondong-bondong memenuhi jalanan kota, di tambah lagi dengan angkot yang seenaknya menurunkan penumpang, membuat jalanan padat dan tambah macet.



Walau aku memang sudah terbiasa dengan penampilan jalan seperti ini, itu tetap bukanlah sesuatu yang di maklumi. Bagaimanapun, tidak ada yang benar-benar suka ketika berada di kemacetan seperti ini.



Tepat aku tiba di rumah, waktu hampir menunjuk angka lima yang berarti aku hampir satu jam di perjalanan. Itu rekor baruku yang kesekian kalinya, yang bahkan lebih lama dari sebelum-sebelumnya.



Mobil merah yang terparkir di bagasi menandakan bahwa Bu Lisa telah pulang, wajahku tersenyum riang melupakan rasa kesal akibat macet tadi.



Bu Lisa tengah duduk di sopa ketika aku membuka pintu, dari yang aku lihat, dia sudah berpenampilan cantik dan rapih dengan memakai baju rumahannya yang panjang.



Rambut lurusnya di ikat kebelakang yang hanya menyisakan poni di depan, ketika aku menatap wajahnya yang cantik dia tidak menoleh kepadaku, tatapan matanya tertuju pada buku yang ada di depannya.



“Halo dek.” Ucapku pelan, mengalungkan kedua tangan dari belakang dan mencium pipinya sekilas.



Dia tidak menjawab, mata hitamnya masih terfokus lurus memandang buku.




Bu Lisa tetap diam, dia tidak menanggapi pertanyaanku, bahkan untuk melirikku pun tidak.



Sebagai orang yang telah mengenal kepribadian Bu Lisa, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, maksudku dalam artian sikapnya padaku. Lantas aku berpindah posisi dan duduk di sebelahnya.



“Dek?” kataku lagi.



Dia tidak bergeming seolah aku tidak ada, baiklah sebaiknya aku harus menggunakan cara agar di lirik olehnya. Dengan bergerak cepat tanganku mengambil buku yang tengah ia baca, yang membuatnya terkejut dan langsung menoleh padaku.



“Kamu kenapa hm?” tanyaku lagi.



Alih-alih menjawab Bu Lisa menjulurkan tangan hampir merebut bukunya kembali, namun untungnya aku reflek dan mengangkatnya tinggi-tinggi.



“Kamu marah sayang?”



Bu Lisa terus berusaha mengambil buku tanpa menjawab, sehingga membuatku harus lebih tinggi mengangkat tangan ke atas.


__ADS_1


“Kalisa jawab dong, mas nanya nih.” Kali ini aku menggenggam tangannya yang terus meraih buku.



Bu Lisa menghela napas pelan, kini kedua mata indahnya mengarah menatapku.



“Mas lain kali jangan bertindak seperti tadi, itu benar-benar tidak lucu menggombal adek di kelas.” Bu Lisa berkata padaku pelan.



Meski nada dia sopan, tetapi aku bisa merasakan kalau dia memang marah. Segera pikiranku teringat dengan apa yang di katakan Reza sebelumnya, itu benar, aku terlalu fokus becanda sampai lupa bagaimana perasaanya saat itu.



Pada akhirnya aku meminta maaf pada istriku dan mengatakan tidak akan mengulangnya lagi.



Wajah Bu Lisa kini kembali menghangat seperti semula dan dia tersenyum manis padaku.



“Tidak apa-apa mas, asal nanti jangan di ulang lagi.” Katanya dengan lembut.



Aku tersenyum,” Yasudah, sebagai permintaan maaf adek mau minta apa dari mas? Anggap saja ini hukuman dari guru matematika ku.”



“Eh, gak usah deh mas, kan udah di maapin tadi.”



“Enggak! untuk sekarang kamu harus hukum mas, apa aja, terserah.”



“Eh, yaudah tapi hukum apa ya..” Bu Lisa memiringkan kepalanya mencoba berpikir. “Oh iya! kalau mas gak keberatan bisa gak mijatin adek, tubuh adek sepertinya masih pegel-pegel.”



“Tentu,” kataku mengangguk “Tapi nanti yaa, mas harus mandi dulu, sudah bau asap kenalpot nihh.” Ucapku sambil berusaha mengendus sudut-sudut baju.



Bu Lisa mengangguk dan tersenyum, astaga kenapa dia bisa semanis itu sihh.



Cup!



Aku menciumnya tiba-tiba.



“Maaf dek, mas sudah gak tahan.” Kataku menyeringai.



Wajah Bu Lisa seketika merona, dia langsung tertunduk malu.



\[\*\***Yang belum like episode sebelum-sebelumnya like dulu ya.. itu adalah apresiasi bagi kami para author untuk lebih bersemangat menulis**.\]



**Untuk beberapa hari ke depan sepertinya author akan fokus merevisi dulu**.


__ADS_1


**Terima kasih**\*\*


__ADS_2