
Hebatnya dunia ini, kita tidak bisa melarang menyukai seseorang, bahkan jika dia sudah dimiliki.
Kalian masih ingat dengan Pak Farhan? Guruku di sekolah yang pernah mengajak Bu Lisa ke toko buku, yang saat itu gara-gara dia aku hampir bertengkar dengan Bu Lisa namun tidak jadi karena aku pingsan dan terjatuh sakit.
Dalam beberapa kejadian sebenarnya aku sering bertemu dia di sekolah, hanya saja aku tidak pernah menyebutkan atau menceritakannya. Simpelnya aku tidak menyukai Pak Farhan, Bagaimana tidak? Dia setiap hari selalu ingin berdekatan dengan istriku.
Sudah hal lumrah di sekolah ketika mendapati Pak Farhan bersama Bu Lisa berjalan beriringan di koridor sekolah, saling mengobrol dan kadang tertawa-tawa.
Bahkan ada desas-desus bahwa mereka berdua mempunyai hubungan istimewa. Ada yang bilang bahwa keduanya sudah berpacaran sejak dulu.
Oi, Bu Lisa itu sudah menikah, mana ada kata pacaran untuknya, begitu kira-kira yang ingin aku lontarkan pada mereka, yang dengan seenaknya berani mengambil kesimpulan tanpa bukti.
“Dek, kenapa sih kamu mau berdekatan sama Si Farhan itu?” Aku bertanya di waktu kami makan berdua di UKS.
“Hushh, bicara kamu itu loh Mas.” Bu Lisa sedang mengaduk-ngaduk makanannya bersiap menyuapiku, “Pak Farhan itu guru kamu, masa iya kamu berbicara seperti itu.”
Aku acuh tak acuh. Bodo amat, kenapa harus menghormati orang yang berdekatan dengan istriku.
“Lagian ya, Mas.” Bu Lisa melanjutkan ucapannya. ”Pak Farhan itu orangnya baik kok, dia tuh jujur, orangnya ramah, mudah senyum, jadi mana bisa adek menjauhinya tanpa alasan.”
Aku menelan makanan dengan perasaan kesal, kenapa pula istriku memujinya di depanku, membuat selera makanku menghilang begitu saja.
“Kamu suka gak sama, Pak Farhan?” tanyaku polos.
“Ya enggaklah Mas, masa iya aku suka sama orang lain, aku kan sudah punya suami.”
“Emang kamu sudah punya suami gitu?”
“Sudah.”
“Siapa?”
“Rahasia!”
Pembicaraan kami berhenti disana, karena aku terlanjur gemas melihat wajah manisnya yang tertawa menggombaliku. Tanganku secara cepat melingkar di pinggangnya dan menarik dia hingga tidak berkisar jarak lagi.
Dan tentu saja dekapan tanganku membuat kami berakhir berciuman, Bu Lisa yang enggan lama berposisi ini langsung mendorongku, dia mengomel bahwa ini masih di sekolah.
Di keesokan harinya, entah hanya perasaanku saja, aku melihat bahwa Pak Farhan semakin lebih dekat dengan istriku. Lihatlah, dia bahkan dengan beraninya meminum jus pesanan Bu Lisa.
‘Dasar tidak sopan’ gerutuku dalam hati.
Dari mimik wajah Bu Lisa, aku bisa melihat bahwa ia terkejut dengan perlakuan Pak Farhan yang tiba-tiba meminum jusnya. Asalkan kalian tahu, biasanya tindakan tersebut menandakan bahwa hubungan dua orang itu sangat dekat.
__ADS_1
Aku menahan tawa setelah beberapa saat, jus yang di sentuh oleh bibir Pak Farhan tidak diminum lagi oleh Bu Lisa. Malah Bu Lisa memesan lagi minumannya.
“Kenapa kau tertawa?” Reza menatapku heran.
Aku mengangkat bahu, ‘tidak ada yang salahkan kalau aku tertawa?’ begitu jawaban isyaratku.
Beberapa menit sebelumnya, kami makan di kantin sekolah saat jam istirahat berdering. Kebetulan sekali saat disana aku mendapati bahwa Bu Lisa dan Pak Farhan tengah berdua, jadi aku harus terpaksa mengawasinya.
Jarak duduk kami lumayan jauh, namun masih bisa melihat aksi keduanya. Bu Lisa berhasil menemukanku dan tatapan kami bertemu, dia langsung memasang senyum manisnya.
Menyadari Bu Lisa tersenyum ke arah yang lain, Pak Farhan mengikuti pandangannya. Saat tatapan itu menemukanku, aku langsung cepat-cepat menunduk, takut ketahuan.
“Sudah aku bilang, mereka itu sudah berpacaran, buktinya mereka bisa seakrab gitu.”
“Masa sih, tapi kulihat Bu Lisa biasa saja. Tidak ada tanda-tanda rasa sukanya.”
“Kalaupun mereka benar berpacaran, ya mau gimana lagi? Mereka berdua memang cocok, sama-sama guru sama-sama muda.”
Ternyata bukan aku saja yang memperhatikan, para murid yang berada di sana juga melakukan hal yang sama. Bahkan murid yang berada di sebelah mejaku berbisik-bisik pelan membicarakan mereka.
Dimalam harinya aku menggerutu di kamar dengan wajah yang terlipat kesal. “Apa-apaan tadi Pak Farhan ngambil minuman kamu seenaknya, emang dia gak punya duit sampai-sampai ngambil yang punya orang.”
Bu Lisa yang memperhatikan tingkahku menahan tawanya. “Tidak apa-apa Mas, kan itu cuma minuman.”
Bu Lisa menaikan alisnya, “Kamu cemburu ya, Mas?”
“Enggak! Aku hanya tidak mau ada bibir orang lain yang mencium istriku selain aku, bahkan jika itu ciuman tidak langsung.”
Mendengar penjelasan tadi, tiba-tiba Bu Lisa mencubit pinggangku dengan keras.
“Kenapa sih, Dek. Sakit tahu.” Aku menggerutu, masih mengusap bagian pinggang yang terkena cubitan.
“Tau ah, Adek mau tidur capek.”
“Loh kok gitu, kan tadi katanya mau dengerin semuanya.”
Terlambat, Bu Lisa sudah membalikan badannya ke arah yang lain.
“Kalau tidur jangan membelakangi suami, nanti dosa.”
Mendengar tutur kata yang aku ucapkan, Bu Lisa langsung membalikan badannya, “Nah kan gini enak tidurnya.” Ucapku tersenyum.
“Kamu gak ada cerita gitu hari ini?” aku menyingkap rambut dia yang hampir mengenai wajahnya.
__ADS_1
“Enggak,” dia menggeleng. “Cuma murid-murid yang nakal aja paling-paling.”
“Menggoda kamu ya?” Bu Lisa mengangguk singkat. “Yah, mau gimana lagi? Jangankan mereka, aku aja yang setiap hari, tidak bisa tahan untuk menggoda wanita secantik kamu.”
Blush
Wajah Bu Lisa memerah.
“Istriku ini memang lemah kalau di rayu, padahal di sekolah tidak ada yang bisa membuatmu seperti ini.” Aku mengacak rambutnya pelan.
“Aku mau tidur.” Cicitnya menyembunyikan wajah.
“Yasudah, tidur aja.” Aku memeluk tubuh dan mencium keningnya. “Selamat malam sayang.”
“Selamat malam, Mas.”
\*\*\*
“Ini apa, Dek?” Entah kenapa tiba-tiba Bu Lisa memberikan bungkusan coklat kepadaku saat kami ketemuan di UKS.
“Cokelat.”
“Iya, aku tahu ini coklat. Maksudnya kamu kenapa tiba-tiba memberikan cokelat pada, Mas?”
“Cokelat itu pemberian dari Pak Farhan tadi.” Jelasnya.
“Pak Farhan?! Dia memberikan cokelat ini!?” Aku memandang bungkusan cokelat dengan tatapan tak percaya. “Kenapa kamu memberikannya padaku?”
“Kupikir kalau tidak diberitahu, nanti ada kesalah pahaman di antara kita. Lagian aku tidak terlalu suka dengan cokelat.”
Aku menyunggingkan senyum dan duduk di salah satu kasur, “Sini sayang kamu duduk di pangkuan, Mas!”
“Enggak mau, ini masih disekolah”
“Ini perintah suamimu sayang. Kali ini… aja.” Ucapku dengan nada halus dan lembut.
“Nanti ada orang yang lihat.” Bu Lisa tetap menggelengkan kepala.
Apa boleh buat, aku bangkit dan langsung memeluk tubuhnya. “Terima kasih sayang kamu memang istriku yang pengertian. Untuk kali ini aku ucapkan kesekian kalinya. Aku cinta kamu, Kalisa.”
Walaupun aku tidak melihat wajahnya, tetapi aku yakin kalau pipinya saat ini memerah.
\[\*\***Jangan Lupa Like dan Votenya... serta kalau boleh komen kekurangan cerita ini, biar author bisa memperbaiki**\]
**Terima kasih**\*\*
__ADS_1