Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 67 — Identitas Kalisa III


__ADS_3

Tentu saja ucapan barusan tidak serius, aku tidak sejahat itu menggunakan kekayaan sebagai kekuasaan. Pada intinya aku dan dia tetaplah manusia.


“Kamu cemburu ya, Mas?” Bu Lisa tertawa kecil melirik wajahku yang mungkin sudah masam.


Aku mendengus, tentu saja aku cemburu. Mana suami yang tidak cemburu melihat istrinya akrab bersama laki-laki lain, terus belum menikah lagi laki-laki itu.


“Pak Zinjin telah bekerja selama tujuh tahunan lebih di sini, selain itu beliau adalah orang kepercayaan ayahku. Adek tidak akan memecatnya apalagi tidak ada alasan apapun untuk itu.”


Bu Lisa mulai memperkenalkan siapa itu Pak Zinjin dalam restoran ini, ia menjelaskan, bahwa peforma kerja Pak Zinjin sangatlah bagus, dapat diandalkan, juga yang lebih penting dia adalah orang yang dapat di percaya.


Dan selama Bu Lisa berumah tangga denganku juga, dialah yang mengurus restoran ini.


Di sisi lain aku mengerutkan alis, tidak terlalu senang mendengarnya. Kenapa istriku jadi memuji dia, ah, membuatku bad mood saja.


***


Jam 5 sore, itulah yang di tunjukan jarum jam pada arlojiku.


“Mas, kapan kita pulang?” Bu Lisa menatap mataku dari tempat meja kerjanya, mengalihkan pandangan dari layar kaptop yang sedari tadi ia ketik.


Aku yang saat ini sedang tiduran di sopa panjang, bersantai dan bermain game, membalas sahutan pandangan itu. Benar juga, aku tidak ingat pulang saking senangnya di sini.


Aku menggaruk kepala, berpikir telebih dahulu, “Kita nginap di sini aja yuk, Dek?”


“Nginap di restoran ini?” aku mengangguk, bukankah ada kamar di sini, jadi tidak masalah bukan. “Mm… bisa sih, yaudah deh, Adek ikut aja, Adek juga sudah lama gak nginap di sini.”


Aku tersenyum puas, itu bagus.


Restoran ini tutup pada jam 9 malam, diikuti para pekerjanya yang pulang setelah tiga puluh menit kemudian. Di menit jam akhir, Bu Lisa pergi dari ruangannya, katanya, dia ingin menyapa para pegawai dulu, sedangkan aku tiduran di ranjang, menahan ngantuk menunggu Bu Lisa.


“Sudah, Dek? Kok lama banget?” aku langsung cepat bertanya saat dia membuka pintu kamar.


“Iya, Mas. Tadi ngobrol sebentar sama mereka.”


Bu Lisa tidak langsung bergegas tidur, ia pertama-tama mandi terlebih dahulu lalu berganti pakaian dengan piyama, tentang pakaian ini kami tinggal ngambil di mobil dalam koper, di sana ada pakaianku dan pakaiannya yang sebelumnya di gunakan untuk menginap di rumah mertuaku.

__ADS_1


“Kamu wangi banget, sayang, pake shampo apa sih?”


Aku mencium aroma rambut dia dari belakang, karena di sini tidak ada kaca untuk berdandan, Bu Lisa menggunakan ponselnya sebagai gantinya, dia duduk di ranjang, sehingga aku yang tengah tiduran langsung ingin menggodanya.


“Shampo biasa, Mas, kamu juga biasa pake shampo aku kan?” Ucapnya tanpa menoleh, terfokus untuk menyisir rambut.


Aku hanya nyengir lebar, shampo kepunyaan Bu Lisa memang harum, walaupun untuk wanita aku memang sering memakainya.


“Boleh minta hak suami gak, sayang?”


Mendengar ucapanku membuat Bu Lisa memberhentikan gerakan menyisir rambutnya. Wajahnya yang semula putih bersih kini berubah menjadi merah merona, aku bisa menyaksikan itu dari layar ponselnya.


“Di sini, Mas?” tanya dia memastikan, sedikit gugup dalam nadanya.


Aku mengangguk takzim. “Boleh, sayang?”


Kalian tahu, apa yang di katakan ibunya, Bu Ayu tadi. Kalisa mendengarkan baik-baik amanat yang di sampaikanya. Dia adalah anak yang baik sekaligus istri yang patuh pada suaminya. Pada Akhirnya, seperti biasa, ia dengan malu-malu mengangguk.


Di malam itu, kami melakukannya lagi. Kalian jangan berharap ada hal vulgar di sini. Aku tidak akan menceritakanya, itu memalukan untuk aku bicarakan.


***


Sesudah kami mandi dan berpakaian, seperti biasa, istriku membuatkan sarapan untukku. Berbeda dengan di rumah yang dapurnya cukup sederhana, kali ini tempat masak Bu Lisa sedikit besar dan luas, Bu Lisa memasak di tempat dapur restoran.


Aku baru mengetahui bahwa Bu Lisa ternyata mempunyai kemampuan memasak tanpa batas, maksudku, dia bisa memasak apa saja jika ada bahan dan alatnya.


Dengan menggunakan bahan-bahan di sana yang pasti lengkap, istriku memasak salah satu menu di restoran tersebut. Aku menatap curiga, jangan-jangan dia adalah seorang chef.


Kami makan bersama. Tidak diragukan lagi, masakan apapun yang Bu Lisa masak akan selalu enak. Alasan itulah kenapa aku jarang makan-makanan di luar.


Setelah aku bertanya istriku mengingat kenapa para pegawai di restoran belum datang, dia mengatakan bahwa restoran buka jam 8.30, dengan 30 menit awal digunakan untuk bersih-bersih.


Benar saja, satu persatu karyawan kerja itu berdatangan memasuki retoran, mereka tidak terlebih dulu bekerja melainkan menunggu semuanya datang dan berkumpul.


Setelah merasa semuanya sudah datang, Bu Lisa terlebih dahulu memimpin dan berbicara di depan semuanya. Aku berdiri di samping kirinya sedangkan di samping kanan Bu Lisa ada Pak Zinjin yang berdiri gagah.

__ADS_1


Aku tentu saja tidak suka ketika tiba-tiba Pak Zinjin langsung berdiri di samping istriku, seolah dia orang yang paling dekat. Tapi mau gimana lagi? Aku tidak bisa mengatakan ketidaksukaan ke seseorang yang mungkin dia tidak mengenalku.


Bu Lisa, dia memberikan arahan para pegawainya, memandu dan memimpin. Misalnya, himbauan harus hati-hati ketika bekerja, atau bersikaplah santai asal harus cekatan. Sedangkan untuk si itu, si Zinjin atau apalah namanya, dia hanya menambahkan kalimat Bu Lisa saja, membuatku muak, sok cerdas.


Kalian tahu, perhatian para pegawai sebenarnya tidak pada ucapan Bu Lisa, melainkan padaku. Aku bisa menyaksikan mereka yang sesekali melirikku, penasaran.


Mungkin dalam pikiran mereka, ‘siapa laki-laki yang ada di dekat bos kami?’.


Aku tidak peduli pada tatapan penasaran mereka, malah dengan santainya aku duduk di salah satu kursi, dan memakan cemilan kepunyaanku saat Bu Lisa tengah menjelaskan.


Sontak gara-gara itu membuat tatapan para pegawai melotot padaku, seolah berkata ‘Hei, dasar tidak sopan!’.


Mungkin, karena merasakan bahwa para pegawainya tidak melihat ke yang lain, nada Bu Lisa berubah tegas sekaligus dingin, tidak lupa dengan auranya yang mencekam, membuat orang-orang kembali berpaling menatapnya.


Aku terkekeh kecil, rasain tuh! Lihat, istriku jadi galak-kan. Makanya kalau yang di depan ngomong dengerin.


Setelah hampir setengah jam akhirnya Bu Lisa menutupi bimbingan kerja itu, aku menghela nafas panjang, sedikit bosan menunggu.


“Dek, kita pulang langsung ya?”


Pertanyaanku barusan sontak membuat para pegawai langsung melirikku, termasuk Pak Zinjin. Aku tersenyum lebar dalam hati, pasti mereka penasaran dengan hubungan kami.


Aku tidak mengindahkan tatapan mereka, “Pulang, yuk, Dek?” tanyaku sekali lagi.


“Iya Mas, tapi tunggu dulu sebentar.” Bu Lisa meliriku sesaat sebelum akhirnya kembali menatap para pegawai. “Saya akan pamit terlebih dahulu. Pak Zinjin, seperti biasa, maaf merepotkan Bapak.”


Aku dan Bu Lisa kemudian meninggalkan restoran itu, menyisakan badai keheranan pada para pegawai dan termasuk Pak Zinjin.


Keheranan tentang hubungan kami.


Aku memang sedikit jutek hari ini, terutama pegawai laki-laki, tatapan itu semuanya tertarik pada kecantikan Bu Lisa, sama persis ketika aku di kelas.



__ADS_1


**Like & Vote**


__ADS_2