Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 95 — Rena


__ADS_3

Setelah tiga hari berlalu disekolah, tidak ada tanda-tanda kalau Rena akan memberitahukan rahasiaku pada publik. Aku selalu memantaunya dari jauh, melihat setiap gerak-geriknya dimanapun.


Ini bukan seperti aku seorang paparazi atau stelker! Ini cuma pemantauan saja, takut-takut kalau Rena nanti mengancamku dengan rahasia yang aku pegang, aku sudah terlebih dahulu mengetahuinya.


Meskipun Bu Lisa mengatakan tidak mengapa jika tersebar hubungan kami, namun aku tidak mau hal tersebut terjadi. Alasanya jelas, jika semua orang sudah tahu hubunganku dengan Bu Lisa telah menikah, suasana keluargaku tidak akan sama lagi dengan yang sekarang, aku tidak mau itu terjadi!


Aku maupun Rena tidak bertegur sapa sejak kejadian dijalan raya itu, kami memang sempat berpapasan dikantin namun dia hanya menatapku sekilas, tersenyum sinis, lalu berlalu pergi.


Itu benar. Secara jelas Rena mengibarkan bendera permusuhanan padaku.


Sisi baiknya mungkin Rena hanya membenciku saja, tidak lebih dari itu. Dan untuk sisi buruknya, aku jadi penasaran, alasan apa hingga dia sangat membenciku.


Membicarakan tentang sisi lain dari Rena, kedatangannya kesini sangat berdampak besar pada suasana sekolah. Dia menjadi gadis populer, bisik-bisik tentangnya ada dimana-mana, kehebatannya, kecantikannya, prestasinya, dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan tentang diri Rena.


Reza juga berbohong soal Rena, katanya tidak ada laki-laki yang bisa berdekatan dengan dia, namun faktanya, lihatlah, sudah 3 hari berlalu, desas-desus kalau Rena ditembak laki-laki sering terdengar, banyak yang mengungkapkan cinta padanya.


Ini sebenarnya cukup diwajari, jika menyampingkan Rena adalah seorang ahli bela diri, mungkin ia tidak beda jauh dari gadis ramaja yang manis dan imut. Rena orangnya ramah pada murid yang lain, jadi tidak heran kalau digemari banyak lelaki.


Tentu saja sikapnya yang baik itu tidak berlaku padaku, bisa dibilang hanya akulah yang disikapi dingin olehnya.


“Sepertinya murid baru itu cukup populer, ya?”


Arin menyandarkan dagu pada kedua tangannya, menghela napas pendek. Dia iseng-iseng duduk didepan mejaku saat jam kosong, mengayunkan kakinya kedepan dan belakang.


Gadis ini, apakah dia mengeluh padaku?


Karena dikelas dalam keadaan bebas, otomatis murid-muridnya kebanyakan digunakan untuk bermain atau mengobrol, atau yang paling biasa, mereka menggunakannya untuk tidur.


Zildan yang ada disamping bangkuku contohnya, dia sudah tertidur dikursinya sejak tadi, kepalanya ditaruh dimeja beralaskan tas, wajahnya ditutupi buku, entah apakah ia bisa tertidur atau tidak saat kondisi berisik seperti ini.


Aku tidak dulu menanggapi perkataan Arin, aku sedang memasukan buku-buku jam pelajaran sebelumnya kedalam tas. Setelahnya aku menatap dia sesaat “Rena maksudmu, Rin?”


Arin mengangguk, “Memangnya siapa lagi.”


Aku menarik resleting tas, menutupnya. Lalu memandang Arin lagi. “Kau sedang cemburu?”


“Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?”


“Yaa… Soalnya dia lebih populer dari kamu, kupikir kau sedang cemburu karena banyak orang yang memiliriknya sekarang. Kau kesal karena penggemar-penggemarmu sudah beralih ke Rena misalnya?”


Arin megangkat badannya tegak, mata hitamnya yang indah memandangku penuh tanda tanya. “Aku tidak punya penggemar, dan sejak kapan aku jadi populer?”


“Kau sudah populer dari dulu Arin.” jelasku.

__ADS_1


“Hah? Tidak mungkin…” Dia menolak.


“Lahh itu memang benar.”


“Enggak-enggak, kalau yang kamu maksud populer dikelas, mungkin aku baru percaya.”


“Kau memang populer Arin, begitu juga dengan adikmu. Kau tidak akan menyadari karena kaulah yang jadi populernya, para penggemarmu akan berbisik-bisik dibelakangmu.” Bukan aku yang berkata demikian tetapi Zildan, dia sudah bangun dan kini tengah menatap kami berdua.


“Begitukah? Sejak kapan?” Arin menoleh.


“Yah sejak kau masuk ke sekolah ini, sejak setahun yang lalu.”


Sebentar! Jangan bilang kalau si kembar ini tidak tahu kalau dirinya itu terkenal disekolah, dan sekarang dia baru menyadarinya!


“Kau beneran tidak tahu?” tanyaku memastikan.


“Iya, ini baru aku tahu.” Arin menatapku lagi.


Aku menepuk jidat.


“Lalu apa yang mereka kagumkan dariku dan adikku, apakah karena kami kembar?” tanyanya dengan wajah polos.


Aku dan Zildan saling tatap, sungguhkah si kembar ini tidak menyadarinya. Aku tidak mengatakan tebakannya salah namun tepatnya itu kurang lengkap. Salah satu faktor kuat Arin dan Airin terkenal adalah karena parasnya yang sama dan kecantikannya yang begitu alami. Siapapun yang melihat keduanya pasti akan penuh ketertarikan, tidak aneh kalau mereka diberi gelar bunga lotus kembar.


“Cepetan, Kak. Kita harus pergi…” Airin menarik lipatan baju kakaknya, membuat Arin yang duduk refleks berdiri.


“Iya-iya, Dek. Sebentar. Aduh, tidak sabaran banget sih.” Arin menyingkirkan tangan Adiknya dari lengan baju, megusap-mengusapnya agar rapih kembali. Ia menoleh kearahku dan Zildan bergantian. “Maap sepertinya aku harus pergi, adikku ini tidak sabaran ingin bertemu Re~”


“Cepetan, Kak!”


Airin dengan sengaja menarik tangan kakaknya lagi, sengaja memotong kalimatnya, mungkin ia tidak ingin kakaknya memberitahukan itu.


“Iya Airin, Astaga, iya-iya kita berangkat… Zildan, Raka, aku pergi duluan.” Arin melambaikan tangan.


Kedua gadis itu segera menghilang dibalik belokan pintu kelas, diikuti setelahnya oleh para murid lain dibelakang. Aku dan Zildan tidak menunggu lagi, langsung menggendong tas dan berjalan keluar.


Saat kami dilorong, terlihat didepan sana ada Reza dan Della sedang berdampingan berjalan pulang. Mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Aku tidak mendengar apa yang mereka obrolkan, namun yang pasti keduannya sedang tertawa, sepertinya kedua temanku itu semakin dekat saja.


Sinar senja membasuh wajahku dari balik jendela sekolah, angin berhembus menggoyangkan rambutku. Aku melirik jam ditangan, sekarang sudah jam tiga sore.


***


Seperti biasa dan akan selalu biasa, istriku sudah menunggu di teras rumah ketika aku baru saja turun dari motor. Bu Lisa dengan sigap menghampiri, meraih tanganku dan menciumnya.

__ADS_1


“Bagaimana kabar dirumah, Dek? Amelia mana?” Kucium keningnya.


“Amelia sedang tertidur, Mas, habis Adek susui. Di rumah paling-paling hari ini Mamah Ratna dan ibu Adek sedang tidak ada, mereka keluar sebentar.”


“Kemana?” Aku menyerahkan tas pada Bu Lisa.


“Gak tahu, Adek lupa tanya tadi.”


Aku menganguk-ngangguk sebagai jawabannya, kami langsung berjalan masuk ke rumah, disana hanya ada beberapa pelayan yang sedang bekerja. Kedatanganku kesini membuat para pelayan itu berhenti sebentar, memberi hormat padaku dan Bu Lisa.


Aku menganggukan kepala, tersenyum, memberikan isyarat pada mereka untuk kembali bekerja. Aku dan Bu Lisa naik kelantai dua, tepatnya ke kamar.


“Mas mau mandi dulu apa makan?” tanya Bu Lisa saat kami sudah sampai, ia menaruh tasku di meja belajar.


Aku tersenyum dengan pertanyaan itu, lalu mendekatinya dengan tatapan nakal, tanganku sudah melingkar erat dipinggang Bu Lisa.


“Kalau Mas pengen kamu, gimana Dek?”


Bu Lisa salah tingkah, wajahnya merona.


“Mas mau mandi dulu, nanti Adek siapin.” istriku dengan cepat mengubah topik pembicaraannya, tetapi aku tidak mau hal itu terjadi.


“Boleh, tapi mandinya bareng ya, Sayang?”


Bu Lisa menunduk malu, wajahnya tambah memerah.


Aku mengangkat dagu Bu Lisa dengan pelan agar wajahnya menghadapku. Bu Lisa menutup mata dengan bibirnya yang merah sudah menunggu terhadap sesuatu. Aku tersenyum, tidak bisa menahannya lagi, bibir kami langsung bersentuhan.


“Ih~ Mas apaan sih, datang-datang langsung nyium.” Sesudah kami berciuman dia langsung memukul dadaku pelan.


Aku tertawa kecil. “Kamu juga kenapa tadi mau?’


“Kan Mas yang ngajak duluan.”


“Dasar pembohong kecil... Lalu kenapa kamu menggunakan lipstik merah terang seperti ini, kamu sengajakan biar Mas tergoda?” Aku meyilidik.


“Eh, enggak kok. Mas fitnah!” Pipinya kian memerah, ia berusaha ingin lepas dari pelukan dengan mendorong tubuhku.


CUP!


Aku mencium bibirnya.


“Terima kasih ya? Kamu selalu berdandan cantik saat Mas pulang.”

__ADS_1


Bu Lisa menunduk tersipu, ia tidak lagi berusaha lepas dari pelukan, malahan menenggelamkan wajahnya didadaku dengan malu-malu.


__ADS_2