
Kelopak bunga yang indah itu terjatuh digantikan dengan tunas yang baru.
Dewi kecil, adalah sebutan buatan untuk seseorang yang pernah menyelamatkanku waktu kecil dulu. Kenapa disebut demikian, karena tepat di detik-detik aku melihat sosoknya, dia seperti bak seorang dewi cantik yang turun dari langit.
Nama itu terkesan berlebihan dan lebay, tapi itu adalah caraku agar bisa mengingatnya. Bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah melupakan jasa dia, jasa melindungi hidup kecilku.
Karena sepuluh tahun berlalu dan aku tidak pernah menemukannya, akhirnya aku tidak mengharapkan akan bertemu lagi, aku memutuskan menyerah mencarinya.
Tetapi tiba-tiba sekarang berita itu datang tanpa di duga. Siapa sangka, orang yang aku cari dulu itu adalah orang terdekatku saat ini, dia adalah Bu Lisa, guru sekaligus istriku sendiri.
Menurut Bu Lisa, yang menyelamatkanku memang benar adalah dirinya. Dia berkata, saat itu dia memang sudah mengenalku jauh-jauh dulu, tepatnya ketika masih berusia 4 tahun. Dia juga selalu mengasuhku untuk bermain bersama di depan halaman rumah.
Keluarga Bu Kalisa memang sering kerumahku karena memang orang tua kami saling kenal dan bersahabat. Dan ngomong-ngomong gara-gara persahabatan itulah aku di jodohkan olehnya nanti.
Ada satu bagian cerita yang membuatku menjadi malu dan menyesal telah mendengarnya. Istriku mengatakan bahwa dulu pas biasa berkunjung dan dirinya akan hendak pulang ke rumah, aku sebagai Raka kecil selalu saja merengek menangis meminta agar Bu Lisa menginap di rumah, meminta agar Bu Lisa lebih lama disini.
Tetapi yang lebih memalukannya lagi, aku bahkan pernah berceloteh dan merengek ingin menjadi suami Bu Lisa dengan terang-terangan di depan orang tuanya.
Sontak saja kedua orang tua Bu Lisa tertawa melihat aksi polos ku, lalu Pak Harun atau ayah Bu Lisa mendekatiku dan berjongkok, “Kalau kamu udah besar nanti, kamu harus mendapatkan hatinya agar bisa menikahi anakku.”
Bu Lisa yang mendengar perkataan ayahnya membuka mata lebar, dia terkejut atas apa yang di dengarnya barusan. Bagaimanapun saat itu dia baru berumur 9 tahun, mana sampai berpikir kesana.
Raka kecil juga selalu menempel di mana Bu Lisa pergi, dia memegang tangan Bu Lisa dengan erat, dan jika Bu Lisa melepaskannya maka Raka kecil akan merajuk dan menangis.
Perasaanku mendengar cerita Bu Lisa setiap kata demi kata membuatku menjadi muak, ternyata banyak sekali tingkahku yang memalukan dan kekanak-kanakan—Yah,walau memang masih anak-anak sih—entah itu meminta di suapi, meminta gendong punggung, dan masih banyak lagi permintaan yang aneh.
__ADS_1
Di akhir cerita aku bertanya bagaimana dia bisa menyelamatkan ku ketika hampir tertabrak oleh mobil, dia tersenyum dan kembali melanjutkan.
“Waktu itu setelah dua tahun berlalu, ketika Papa libur dari bekerja, ia akhirnya memutuskan untuk mengunjungi keluarga Mas kembali. Kalau adek gak salah, usia mas masih berusia 6 tahun dan baru duduk di sekolah 1 dasar.”
Kepalaku memangut-mangut dan mulai teringat gadis yang selalu menemaniku sejak kecil, dia pernah menghilang begitu lama sampai-sampai aku menjadi lupa keberadaan sosok itu.
“Jadi… gadis yang menemaniku saat kecil adalah kamu dek?”
Bu Lisa tersenyum, “Iya mas. Jadi dari dulu kita memang sudah saling kenal.”
Dari sini aku mulai sedikit mengerti, Bu Lisa adalah orang yang sama dengan orang yang menyelamatkanku dari tabrakan maut itu.
“Tapi kenapa waktu kamu di saat-saat mendorongku memliki rambut yang berbeda? Bahkan aku pun tidak mengenalmu saat itu?”
“Aku beberapa kali berseru agar kamu tidak melangkah ke jalan, namun jelas-jelas itu sudah terlambat. Tepat mas berada di tengah jalan ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang dari sebelah barat. Mobil itu jelas sekali tidak bisa melihat ada sosok anak kecil di depannya.
“Adek tanpa pikir panjang berlari sekuat tenaga agar bisa lebih dulu sampai, dan untungnya di detik terakhir Mas tertabrak, adek bisa lebih dulu tiba dan menyelamatkan.”
Bu Lisa menghirup nafas pelan setelah beberapa menit bercerita panjang lebar. Matanya yang hitam indah tak kuasa menatapku begitu lama.
Sebelah tanganku memegang dagu, masih ada beberapa hal yang tidak aku mengerti, “Lantas kenapa pas aku siuman kamu tidak ada? Dan ketika aku menanyakan siapa yang menyelamatkanku mereka tidak mengetahuinya?”
Bu Lisa terdiam, dia mengingat-ngingat kejadian 8 tahun lalu, “Kalau gak salah setalah Mas pingsan. Banyak orang-orang bergerombol membantu ke rumah sakit ketika melihat kepala Mas yang sudah berlumuran darah.
“Dan juga mereka yang membantu tidak tahu apa-apa apalagi mengetahui bahwa Mas di selamatkan oleh adek. Jadi mana sempat orang-orang itu melirik gadis berusia 9 tahun yang di sampingnya, mereka terfokus untuk membawa mas ke rumah sakit secepatnya.”
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti, semua penjelasan Bu Lisa telah menjawab semua pertanyaan di kepalaku.
Di malam yang sudah tertutupi gelapnya langit, ketika kami berdua duduk di atas ranjang saling berhadapan dan bercakap-cakap. Aku menerjang Bu Lisa dan memeluknya erat hingga posisi kami berbaring dengan tubuhku yang berada di atasnya.
“Kamu kenapa, Mas?” Bu Lisa berseru terkejut ketika tiba-tiba aku menenggelamkan wajah pada perutnya.
Aku tersenyum lalu mengucapkan berpuluh-puluh kata terima kasih padanya. Itu benar, aku harus berterima kasih padanya karena telah menolongku.
“Iya Mas, sudah cukup terima kasihnya… adek geli …,” Bu Lisa tertawa lepas ketika aku menenggelamkan dan menggesekkan kepala pada perutnya.
“Mas sudah … adek geli … adek nyerah …” Bu Lisa terus tertawa sampai di kedua matanya berair.
Melihat dan mendengar Bu Lisa yang bisa tertawa lepas seperti itu adalah pemandangan pertama kalinya ketika aku dan dia menikah. Aku segera menghentikan aksiku tatkala dia sudah kelelahan.
“Terima kasih saja tidak cukup sayang … kamu lupa kamu telah menyelamatkan hidupku. Sekarang, aku benar-benar ingin membalasnya, aku ingin kamu meminta sesuatu padaku, apa aja, bahkan jika itu adalah hal yang paling sulit sekalipun.”
Yang aku katakan sekarang adalah hal yang aku ingin lakukan, karena bagaimanapun Bu Lisa pernah menolongku. Setelah aku mengucapkan kata-kata panjangnya, salah satu tanganku membelai rambutnya dengan halus, mengecup keningnya dengan kasih sayang.
Bu Lisa yang nafasnya belum stabil akibat tertawa begitu lama, mendelik menatapku dengan dalam, “Aku ikhlas menolong mu saat itu Mas, adek tidak pernah mengharapkan imbalan apapun. Bahkan tidak sedikitpun.”
“Tetapi,” Bu Lisa melanjutkan ucapannya,” Jika Mas ingin memaksa adek agar meminta sesuatu yang adek inginkan, mungkin ada beberapa hal, tapi jika mas tidak mau adek tidak akan memaksa.”
Aku tersenyum takzim, “aku tidak akan keberatan, katakan saja sayang, apa yang hendak kamu ingin Mas lakukan.”
Dia mengangguk dan mulai mengucapkan keinginannya yang justru membuatku mengerutkan kedua alis.
\[**Jangan lupa like dan Votenya sebagai apresiasi bagi penulis, terimakasih**.. \]
__ADS_1