
Dialah sang waktu, mengugurkan raja-raja, menggerus gunung-gunung, melahirkan kehidupan.
Hari-hari kemudian apa yang di katakan kakak kelas dua dulu adalah kebenaran, tentang kesibukan remedial di sekolah.
Aku sudah beberapa hari kemarin ini punya kabar buruk tentang nilai ujian akhir semester, dimana ketika hasil ulangan itu dibagikan, aku mempunyai dua nilai jelek diantaranya.
Pada akhirnya mau tak mau aku harus mengerjakan tugas remedial, aku tidak mau nilai raport ku jelek nanti, apalagi jika terlihat istriku dan orang tua.
Dari sejauh ini, dari kelima temanku, hanya ada 4 orang yang telah ke remedial. Aku mempunyai 2 pelajaran yang mempunyai nilai jelek, Reza 3 pelajaran, sikembar dan Della hanya satu pelajaran, dan hanya Zildan saja yang tidak sama sekali.
Katanya lagi, tugas remedial sangatlah bervariasi bukan hanya mengerjakan soal dalam kertas saja, masih banyak lagi diantaranya. Tergantung dari keinginan guru-guru yang mereka perintahkan.
Bukan main apa yang kata orang bilang, salah satu tugas dari remedial itu adalah aku harus merangkum semua pelajaran 6 bulan lalu, dalam kurun waktu 3 hari.
Aku tentu saja kaget mendengarnya, apakah sesibuk inikah SMA itu?
Walau aku merencanakan agar tugas tersebut terlihat sederhana, misal dengan mengerjakannya 2 bab dalam satu hari, namun saat di kerjakan urusannya beda sekali.
Rasa malas dan pegal-pegal saat menulis adalah rintangan tersendiri, kalau aku tahu bakal sesibuk ini, mending aku lebih banyak belajar saat ulangan dulu.
Di malam harinya, aku masih menulis di meja belajar kamar, sebelah tanganku bergerak gesit menulis ratusan huruf, mataku jenuh, sudah terkantuk-kantuk berat.
“Ini, Mas. Kopinya?” Bu Lisa dengan hati-hati meletakan gelas di tepi meja belajar, takut tertumpah dan berceceran.
Sebelumnya, aku sengaja menyuruh Bu Lisa untuk membuatkan kopi agar aku tidak mengantuk, aku berencana akan bergadang semalaman. Tetapi rencana tetaplah rencana, sebaik apapun rencanaku jika kenyataannya tidak mendukung pasti akan percuma.
Baru setengah jam sudah menghabiskan kopi, aku tetap mengantuk berat, percuma. Aku menutup buku tulis, beranjak dari kursi lantas melemparkan tubuh pada ranjang.
“Sudah selesai, Mas?” Bu Lisa baru saja dari kamar mandi, wajahnya terlihat basah, dia habis cuci muka sebelumnya.
“Belum ah, males sayang, masa iya aku nyatat hampir semua buku. Kalau gitu mah mending aku belajar saat ulangan dulu...”
Bu Lisa terkekeh, “Nah, kan Mas sekarang tahu gimana pentingnya belajar, makanya kalau ulangan sudah dekat, Mas harus lebih giat lagi bukan malah main game.”
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang lalu menenggelamkan wajah di bantal, kenapa pula istriku jadi ngomel, bikin mood hariku semakin jelek saja. “Oh iya, bagaimana pekerjaanmu, sudah selesai?”
Selain aku yang sibuk, sebenarnya istriku jauh lebih sibuk. Sudah beberapa hari ini dia juga sering bergadang, memandang laptop tanpa henti. Kata dia kalau di akhir semester, guru memang sudah terbiasa bakal sibuk seperti ini.
Bu Lisa menggelengkan kepalanya, ia melangkah dan duduk di tepi kasur, membuka laptop lantas mulai mengetik-ngetik keyboardnya kembali.
“Mau Mas temenin, Dek?” aku bangkit dari posisi tiduran langsung mendekat ke arahnya.
“Tidak usah, Mas.” Katanya tanpa menoleh. “Kamu lebih baik tidur aja.”
Aku tidak mengindahkan perkataanya, aku duduk di samping Bu Lisa dan meletakan kepala di bahunya, “Aku akan tidur gini aja, menemani sekaligus istirahat.”
Bu Lisa mengukir senyuman meski dia tidak menoleh ke arahku. Matanya seperti biasa, tidak teralihkan dari layar laptop.
\*\*\*
Hari berikutnya, istriku semakin sibuk dengan pekerjaan. Setiap aku melihatnya selalu saja dia sedang memainkan laptopnya, entah itu pagi-pagi, waktu sore, maupun saat malam.
Aku hanya bisa menghela nafas, tidak bisa berbuat apapun. Dulu, aku pernah ingin membantu pekerjaannya agar ia bisa beristirahat sebentar, namun itu percuma, aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang ia ketik di laptop.
Di waktu sore, ketika cahaya matahari berubah menjadi jingga, saat burung-burung terbang melintasi luasnya cakrawala, kami terduduk di sopa tengah rumah berdua.
Perhatianku dan dia berbeda meski duduk kami saling berdekatan, aku melihat layar televisi sedangkan dia tengah melihat layar di laptop. Aku menyandarkan kepala di bahunya, membuat Bu Lisa menoleh sebentar mengukirkan senyum.
“Ada apa, Mas? Mau buatin Adek sesuatu?”.
“Aku pengen kamu Dek, aku menginginkan hal itu sekarang.” Kataku merengek manja.
“Eh,” Bu Lisa gelagapan, dia tidak menyangka bahwa aku akan meminta haknya di jam sore seperti ini. “Tapi Mas, aku sekarang belum mandi?”
“Yasudah, sambil sekalian mandi aja.”
“Eh, aku… aku… aku lagi sibuk sekarang, lagi banyak tugas.”
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas kasar, sedikit kecewa. Lihat, bahkan saking sibuknya, ia jadi berani menolak permintaanku. Awalnya aku berencana untuk memisahkan dia dengan laptopnya dan membiarkan ia istirahat, namun jika dia sudah menolak seperti ini aku tidak bisa memaksanya.
Aku beranjak berdiri memasuki kamar, tidak berkata-kata apapun lagi pada Bu Lisa. Di sisi lain Bu Lisa terlihat merasa bersalah saat aku terdiam tiba-tiba, dia berkata ‘maaf’ padaku, namun aku tidak menggubrisnya, melanjutkan melangkah ke kamar.
Di dalam kamar aku merebahkan tubuh, ada perasaan jengkel sekaligus marah pada Bu Lisa tadi, ini bukan karena dia menolak aku meminta haknya, tetapi karena sikap dia sekarang.
Bu Lisa terlalu keras kepala pada dirinya untuk bekerja, hingga sampai melupakan waktu istirahat itu sendiri. Aku tidak masalah kalau dia tidak memperhatikanku, tapi jika dia memaksakan seperti itu aku tidak bisa tinggal diam.
Ah, entah berapa lama aku rebahan seperti ini, sampai tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Aku perlahan menutup mata lalu akhirnya tertidur pulas.
Beberapa jam berlalu, aku tidak tahu jam berapa persisnya, mataku terbuka dari tempatku tidur. Pandangan pertama kali yang terlihat saat itu adalah sesosok wanita yang tengah memelukku erat dengan kedua mata yang tertutup.
Bu Lisa tertidur di sampingku dengan wajah yang damai, di kedua kelopak matanya tersirat bahwa dia kurang tidur, wajahnya juga teramat kelelahan.
Aku mengelus pipinya secara lembut, merasa bersalah karena tadi meninggalkannya begitu saja. Seharusnya aku tidak bertindak demikian, seharusnya aku mendukung dia bukan alih-alih marah seperti anak kecil.
Merasa ada sentuhan pada wajahnya, perlahan mata Bu Lisa terbuka. “Mas…” ucapnya serak.
“Iya sayang, kamu tidur lagi ya.” Aku tersenyum, membenarkan rambut dia yang terjatuh ke wajah.
“Maapin Adek… Adek tidak bermaksud membantah Mas, tadi.” lirihnya pelan.
“Tidak apa-apa kamu gak salah, Dek. Kamu tidur lagi ya, sayang.” Kataku lembut.
“Kalau Mas mau minta itu sekarang Adek gak keberatan kok, asal Mas harus maapin Adek...”
Aku yang melihat wajah memelasnya merasa gemas sendiri, jika suasananya mendukung sudah dari tadi aku cium bibir kecilnya.
“Kamu tidur lagi aja, ini masih malam, Kalisa.” Aku mengelusnya penuh kasih sayang.
Bu Lisa mengangguk, ia merubah posisinya meringkuk di dadaku, menenggelamkan wajah dengan kedua tangan yang memeluk.
JANGAN LUPA YA LIKE DULU SEBAGAI APRESIASI DAN DUKUNGAN DARI KALIAN, DAN SANGAT BERTERIMA KASIH JIKA ANDA MEMBERIKAN VOTE PADA KARYA INI...
__ADS_1
Terimakasih kasih