
Peluang adalah ilmu yang bagus untuk mempersiapkan masa depan
“Sudah ya? ini hampir jam setengah tujuh nanti kamu datang terlambat lagi.” Bu Lisa berusaha melepaskan ikatan tanganku yang berada di pinggangnya.
“Tapi aku masih mau bersama kamu, sayang. Bagaimana kalau kita bolos aja?” usulku dengan mengangkat kedua alis.
“Mas, jangan mikir tentang bolos-bolos yah, Adek tidak suka mendengarnya.” Bu Lisa mencubit perutku yang membuatku meringis dan melepaskan pelukannya.
“Becanda kali Dek, kenapa kamu serius amat sih.” Aku menggerutu, kali ini Bu Lisa benar-benar mencubitku keras.
“Hehe… Maaf Mas, lagian kenapa kamu tadi kepikiran kesana, sudah tahu Adek benci yang namanya bolos-bolosan.” Dia berbicara dengan aura gurunya. Aku yang sudah menyadari langsung berpaling dan berjalan keluar, kalau masalah sekolah Bu Lisa tidak akan segan menceramahiku siang malam.
“Mas, cium tangannya belum!”
Baru saja aku hendak menaiki motor, seruan istriku terdengar dari teras rumah membuatku berhenti lalu berjalan ke arahnya kembali. “Eh iya, aku lupa.”
Seketika ia mencium punggung tanganku sedangkan aku membalasnya dengan kecupan di kening. “Hati-hati Mas, jangan kencang-kencang laju motornya.”
Aku mengangkat tangan sampai pelipis mata, berhormat. “Siap Bos.” Ucapku tegas bagai tentara.
Dia hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala, ‘ada-ada saja’ mungkin seperti itu kata dalam hatinya.
“Mas!” dia membelalakkan mata dengan terkejut saat tiba-tiba bibirku menyentuh bibirnya, “Untuk terakhir kali, sayang.” Aku melambaikan tangan, segera melajukan motor, berangkat.
\*\*\*
Suasana di kota saat pagi seperti ini sebenarnya sangat indah, apalagi jika melewati sebuah jalan yang di apit oleh kedua pohon yang berjajar, dimana ketika matahari telah muncul cahayanya akan terlihat jelas menerobos melalui celah daun-daun pohon.
Motorku bergerak dengan kecepatan standarnya melaju melewati aspal jalanan yang sudah mulai memadat oleh kendaraan lain. Pagi ini langit cerah, hanya ada beberapa awan yang muncul dari atas sana.
__ADS_1
Beberapa meter berlalu tibalah aku melewati hamparan sawah. Di kota ini tidaklah seperti kota yang kalian bayangkan yang hanya terdapat bangunan tinggi-tinggi, mall-mall mewah, atau ciri kota umum lainya.
Di kota tempatku tinggal, masih ada terdapat sawah yang terhampar beberapa puluh meter dengan tanah yang subur juga berair jernih. Tentu saja, sawah ini di buat terpaksa, karena dulu hanya bangunan yang terbengkalai yang sekarang di rubah menjadi area persawahan.
Sayangnya saat aku sedang asik melihat pemandangan itu, tiba-tiba motor yang kukendarai meleong tidak terkendali, aku hampir terjatuh namun untungnya masih bisa diseimbangkan.
Aku berhenti terlebih dahulu di pinggir jalan, melihat kenapa motorku bisa seperti itu, “Ayolah, Jangan lagi!” kataku mendesis kecewa.
Sebab kenapa motorku demikian karena salah satu ban belakang bocor, aku menghela nafas panjang, ini adalah kejadian kedua kalinya aku seperti ini, yang sebelumnya gara-gara ban bocor tersebut dulu aku dihukum oleh Pak satpam.
Mau tak mau aku harus mendorongnya perlahan di pinggir jalan, untungnya saat ini aku tahu dimana bengkel itu berada, walau mungkin agak deket tetapi itu akan membuatku terlambat lagi.
Beberapa langkah berlalu akhirnya aku sampai di salah satu tukang bengkel 24 jam, aku memberikan penjelasan pada pemilik bengkel terlebih dahulu dan bilang bahwa aku akan mengambilnya nanti saat pulang sekolah.
Masalahnya adalah ketika aku mau melanjutkan ke sekolah dengan naik angkutan umum, tidak ada yang terlihat kendaraan lewat sedikitpun.
Ketahuilah, sebenarnya hari ini bukanlah hari burukku, karena tepat di belakang jalan sana ada sebuah mobil yang lewat. Mobil itu memang bukan mobil angkutan umum melainkan mobil pribadi seseorang, mobil yang berwarna merah itu adalah mobil yang aku kenal dimana pemiliknya adalah orang terdekatku.
Aku melambaikan kedua tangan saat perlahan mobil merah mendekat, mobil itu tanpa aku harus berteriak-teriak sudah berhenti di depanku, seolah memang itu tujuannya.
“Mas kok di sini?” mobil merah itu adalah mobil istriku yang tengah berangkat ke sekolah.
“Bannya bocor.” jawabku sambil memasuki mobil.
“Lagi?”
Aku mengangguk, membenarkan duduk di jok dan melilitkan sabuk pengaman, merasa sudah siap Bu Lisa kembali menginjak gas mobil.
“Aku turun sebelum gerbang aja sayang, takut ada yang lihat kalau kita berangkat bareng.”
__ADS_1
“Iya Mas, ini sudah setengah tujuh, murid lain pasti sudah banyak di sana.”
Bagaimanpun kondisinya, pernikahan kami memang harus lebih diutamakan kerahasiaannya, karena sampai saat ini tidak ada yang mengetahui bahwa kami di sekolah sudah menjadi menikah.
Pagi itu, intinya aku diselamatkan oleh istriku sehingga aku tidak terlambat, Pak satpam yang menjaga gerbang melototiku tajam karena aku datang tepat gerbang akan di tutup.
Aku memalingkan wajah seolah-olah tidak bersalah, 'kan yang penting tidak terlambat' begitulah kata-kata yang mau aku lontarkan yang jelas tidak akan berani di lakukan.
Pelajaran sekolah berlanjut sukses seperti semestinya, tidak ada kesialan atau keberuntungan yang harus di ceritakan. Lima jam berlalu setelah istirahat pertama, tibalah kelas kami di pelajaran istriku.
Tidak seperti hari-hari biasanya yang menjelaskan dengan hitungan dan angka-angka, kali ini Bu Lisa menjelaskan sisi lain dari matematika.
“Materi selanjutnya adalah peluang.” Itu adalah kata pertama Bu Lisa sebelum ia menjelaskan panjang lebar tentang hal tersebut.
Aku yang memang tidak terlalu suka dengan matematika justru kali ini membuka mata lebar tertarik, begitu juga dengan murid kelas lainnya.
Kalian tahu, bab peluang sebenarnya adalah bab yang berguna bagi kehidupan kita sehari-hari di luar. Seperti yang sedang di jelaskan Bu Lisa sekarang, peluang adalah perkiraan dan prediksi terhadap peristiwa yang akan terjadi.
Contoh paling simpelnya adalah ketika kita melihat awan yang mendung, maka peluang yang di peroleh oleh kita adalah dua, yaitu apakah akan hujan atau tidak.
Nah, dari sini kita seperti bisa memprediksi masa depan, dengan mengetahui dua kejadian yang kemungkinan akan terjadi, maka kita bisa mempersiapkan solusi dengan membawa sebuah payung. Karena hujan atau tidak, kita sudah membawa solusi terhadap kedua kemungkinan itu.
Contoh kesehariannya lagi seperti berangkat ke sekolah. Jika saja aku berjalan kaki tadi maka ada kemungkinan aku akan terlambat, namun jika aku menaiki mobil ada kemungkinan juga bahwa aku tepat waktu.
Singkatnya ilmu peluang membuat kita bisa memperkirakan peristiwa akan terjadi di sekeliling kita, sehingga membuat kita bisa mempersiapkan solusi sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi.
Contoh lainya lagi seperti kalian mau melamar si doi! Jika kalian di tolak maka kemungkinan dia menjauh darimu, namun jika kalian berhasil, hubungan kalian akan menjadi lebih dekat.
Begitu juga dengan kehidupan ini, jika kalian beramal baik ada kemungkinan kalian akan masuk surga, tetapi jika buruk sungguh kalian akan tahu jawabannya…
Itulah kehebatan ilmu peluang yang jarang di sadari oleh orang-orang di sekitar, semoga dengan membaca ini kalian bisa mempergunakannya dengan baik.
__ADS_1
Terima kasih.