
Hari-hari berlalu akhirnya aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit tersebut, begitupun dengan istriku, kami dipulangkan secara bersamaan. Aku sudah memberitahu pada orangtua kami bahwa nama bayiku adalah Amelia. Tidak ada yang protes, bahkan mereka sangat senang dengan nama tersebut.
“Nama yang bagus, Raka, cocok dengan cucu Mamah yang imut dan cantik ini.” begitulah pendapat Mamah saat sedang asik menggendong Amelia.
Ayah hanya mengangguk setuju dan tidak berkomentar banyak, karena beliau tau apapun namanya adalah hakku sebagai orang tuanya untuk memberi nama.
Bu Ayu dan Pak Harun juga tidak keberatan, malah mereka langsung setuju dengan nama tersebut, memujiku karena telah memberi nama cucunya dengan baik.
Tentu saja aku senang dengan pujian mereka, merasa bangga pada diri sendiri. Istriku yang kala itu ada disampingku tertawa kecil melihatnya, ia kemudian berbisik pelan.
“Senang ya, Mas? Di puji sama orang tua Adek?”
Aku membalasnya dengan cengiran, merasa ketahuan, lalu mengecup pipi istriku. “Tau aja kamu...”
Ketika kami pulang kerumah Mamah, pelayan-pelayan yang sudah mengetahui bahwa Kalisa telah melahirkan, menyambut hangat, berjejer rapih, mengucapkan selamat kepadaku dan Bu Lisa atas lahirnya Amelia.
Ah, kalau dipikir-pikir lagi. Hari itu adalah hari dimana aku tersenyum terus sepanjang hari, tak pernah luntur sedikitpun. Keluarga kami benar-benar sangat bahagia.
Amelia, lebih sering digendong oleh Mamah sama Bu Ayu. Bahkan istriku yang statusnya ibu dari Amelia lebih sedikit waktu dengannya, hanya bersama saat Amelia menginginkan disusui.
Kala itu, Bu Ayu tengah menggendong Amelia disusul Mamah disampingnya. Mereka tengah berceloteh dengan Amelia, berbicara dengan intonasi seperti anak kecil.
“Aduhh, Cucuku sudah mandi, hm? Sudah cantik sekarang, wangi lagi.” Bu Ayu tertawa kecil, menggendong Amelia sambil berceloteh.
“Iya dong, Amelia harus tampil cantik kapanpun dan dimanapun. Biar disayang Mamah Ratna ya?” Mamah yang ada didekat Bu Ayu ikut bergurau, merasa gemas.
Amelia menatap kedua ibu itu secara bergantian dengan tatapan polos, lantas kemudian menggoyangkan kedua kaki dan tangannya, tertawa.
“Eh-eh, kok Amelia tertawa sih? Seneng ya kalau bersama Ibu?” Bu Ayu mengukir senyum. Begitu juga dengan Mamah. Rasanya Amelia adalah pusat kebahagian dari keduanya.
Aku disisi lain baru saja duduk disopa, tepat disamping Bu Lisa yang tengah tersenyum memperhatikan kedua Mamahnya mengobrol dengan Amelia. Berbicara riang.
“Maap ya, Dek. Kamu jadi jarang bareng sama Amelia?”
Mendengar suara itu, Bu Lisa menoleh kearahku, baru sadar aku ada disampingnya. Dia kemudian menyandar pada bahuku.
__ADS_1
“Adek justru merasa senang kalau Amelia bersama Mamah dan Ibu kamu, Mas. Lihatlah, keduanya tertawa-tawa, bergurau dengan bahagia. Bukankah salah satu cita-cita dari seorang anak adalah membahagiakan orang tuanya. Amelia adalah jalan membuat orang tua kita bisa bahagia.”
Aku mengelus kepalanya, tidak menyangka istriku akan berpikir kesana. Memang aku juga selalu berpikir bagaimana cara membuat orang tua kita bahagia? Ternyata caranya sederhana, yaitu dengan membuat diri kita sendiri bahagia, barulah setelahnya orang tua kita juga bakal bahagia.
Seminggu kemudian berlalu, Ayah berbicara padaku akan menyelanggarakan syukuran atas lahirnya, Amelia. Beliau akan mengundang anak-anak yatim sebagai tamu, dan orang-orang miskin.
Aku tentu saja langsung setuju, begitu juga dengan anggota keluarga kami. Bahkan, ide Ayah adalah ide birilian. Memang seharusnya kita harus syukuran. Kita tidak boleh bahagia sendiri. Kebahagiaan bisa di bagi-bagi.
Maka keesokan harinya, rumahku menjadi sibuk dan ramai dengan persiapan acara syukuran tersebut. Walau dirumahku terdapat banyak pelayan yang membantu, rasanya tidak cukup. Maka Mamah meminta bantuan pada ibu-ibu tetangga, untuk membantunya dalam persiapan syukuran.
Para ibu-ibu tetangga menerimanya dengan senang. Jika ada yang hajatan seperti ini, ibu-ibu itu bisa mengobrol bareng, menjalin silaturahmi bersama. Bercanda sambil bekerja.
“Aiyo, cantiknya bayi ini, Bu? Wajahnya begitu imut.” Ucap salah satu ibu-ibu ketika melihat anakku digendong Mamah.
“Ah, tentu saja. Istri Mas Raka kann orangnya cantik. Wajar saja anaknya tidak kalah cantik.” balas ibu-ibu lainnya memuji.
“Iya benar, tidak heran sebenarnya. Mas Raka orangnya tampan, terus istrinya cantik. Tidak mengherankan kalau keturunannya bakal semanis ini. Aduhh, bayinya malah tertawa lagi. Jadi gemess.” Ibu itu sudah gatal ingin mencubit pipi Amelia yang bulat.
Pujian-pujian tersebut terdengar oleh Bu Lisa dari jauh, wajahnya seketika mengulum senyum, senang di puji.
“Ih, siapa yang bahagia coba? Mas jangan bicara yang aneh-aneh deh…” Bu Lisa cepat-cepat mengelak.
Aku terkekeh pelan. “Tapi bener loh Dek, kata mereka. Kamu itu memang wanita cantik, pantas saja Amelia cantik, mungkin itu gen dari ibunya.”
Wajah Bu Lisa merona, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain, sengaja agar aku tidak melihatnya, yang justru membuatku semakin ingin menggoda istriku
“Aduhh tadi senyum-senyum dipuji, kok sekarang memerah ya pipinya. Malu-malu lagi?”
Bu Lisa menggelembungkan pipinya yang masih merah, terlihat kesal kearahku.“Mas Raka nyebelin, ih~ jangan menggoda Adek terus.”
Aku tertawa kecil. Mencium pipinya. “Jadi tambah sayang deh, sama kamu, Kalisa.”
Maka, sempurnalah wajahnya yang merona, ia langsung tertunduk malu, tidak berani menatapku lagi. Aku yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, dasar istriku yang pemalu!
Acara syukuran pun berlangsung dengan khidmat dengan tamu anak yatim dan orang-orang miskin. Setelah acara tersebut, tidak lupa kami sekeluarga memberikan hadiah pada tamu-tamu tersebut berupa uang, beras, buah-buahan, bahan masakan, dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Kami juga memberikan hal serupa pada pelayan dan ibu-ibu yang telah membantu. Mamah menyelipkan amplop berisi uang pada plastik mereka, mengatakan terimakasih telah membantunya.
Setelah acara syukuran itu benar-benar selesai. Aku pergi keatas tepatnya kelantai dua kamarku. Saat aku membuka pintu, itu bertepatan dengan Bu Lisa yang baru meletakan Amelia dalam keranjang bayi. Wajahku seketika menekuk.
Aku berjalan mendekati Bu Lisa yang kini tengah menatap Amelia dengan pandangan keibuan.
“Yahhh, Amelianya sudah tertidur ya, Dek?” Kupeluk istriku dari belakang.
“Eh, Mas?!” Di terkejut sesaat karena ada tangan yang melingkar di perutnya. “Amelia baru saja tertidur. Ia kekenyangan habis Adek susui.”
“Padahal tadi Mas mau gendong dulu sebentar.” Aku berseru kecewa.
Bu Lisa tersenyum, mulai mengerti kemana keinginananku. “Besok aja ya, Mas. Kesihan kalau sekarang. Amelianya sudah tertidur pulas.”
Aku mengerti. Tentu aku tidak akan mengganggu Amelia apalagi sudah terlelap damai seperti itu. Lagian aku takut, jika aku gendong Amelia akan terbangun dan menangis.
Setelahnya, kami malah berpelukan lama disana, hampir 3 menit. Mungkin karena istriku merasa mulai pegal berdiri, ia mengajakku untuk tidur.
“Ke kasur yuk, Mas. Kamu pasti kelelahan hari ini. Harus bantu-bantu syukuran dirumah.” Bu Lisa membelai wajahku dengan halus, tersenyum begitu manis.
Aku menurut, lalu menggendong tubuhnya dan membawanya ke atas kasur. Bu Lisa tentu saja terkejut, tidak menyangka aku akan bertindak demikian, dia malah mulai mengomel. Aku tertawa kecil, membalasnya dengan meyeringai, tidak merasa berdosa.
“Mas cape Dek, kamu jangan ngomel terus…” akhirnya aku bersuara, yang sukses membuat omelannya terhenti. Bu Lisa mengerti, kemudian tersenyum kembali.
“Mas, mau Adek manjain?” Tawarnya.
Aku segera cepat-cepat mengangguk, tidak mungkin menolak. Wajahku segera aku benamkan diceruk lehernya, dan tanganku memeluknya erat. Sedangkan Bu Lisa, ia mengelus kepalaku lembut, membiarkan aku tertidur dalam buaiannya.
"***Bahagiakan orang tuamu dengan membuat dirimu bahagia. Percayalah, orang tuamu akan senang melihatnya***."
__ADS_1
**Bener gak tuh, yang telah menjadi ibu**?