
Saat aku ke kelas kembali, sebagian dari isi murid sudah hilang separuhnya. Mereka memang terkesan pulang lebih cepat karena menyadari awan di atas sana akan turun hujan deras.
Zildan yang duduk disebelah bangkuku malah sudah menggendong tasnya dipunggung, ia bersiap akan pergi. “Seperti biasa, aku pulang duluan, Kawan.”
Aku mengangguk, Zildan terlebih dulu ke bangku Reza kemudian keduanya pindah ke bangku Della. Mengajak pulang bersama.
“Bro, gak bisa pulang, ya?” Reza tertawa, menggodaku yang tak bisa pulang bersama.
Aku mendegus sebagai jawabannya, dasar licik.
“Aku duluan…” Della lebih ramah padaku saat berpamitan, melambaikan tangan.
Aku mengangguk kembali sebagai jawabannya. Setelah mereka hilang di belokan bingkai pintu kelas, aku lebih memilih membereskan buku-buku kedalam tas. Suara hujan tak lama terdengar disertai angin kencang, membuat rambutku beriap-riap.
Dari jendela kelas, aku bisa merasakan hujan kali ini sangat deras. Pohon mangga di lapangan bergoyang seperti hendak rubuh.
Sepertinya teman-temanku beruntung, aku sedikit iri pada mereka yang menaiki mobil atau angkot. Berbeda denganku memakai motor, yang harus menunggu hujan reda terlebih dahulu.
Seiring berjalannya waktu, teman-teman sekelasku mulai pergi dari kelas dan yang terakhir Si kembar berpamitan padaku.
“Kami duluan, Ka, jemputanku sudah sampai…” Arin melambaikan tangan, rambutnya yang panjang sedikit bergoyang tertiup angin.
Airin yang ada disampingnya hanya mengangguk pelan padaku sebelum tangannya ditarik oleh Arin. Si Kembar ini, entah sejak kapan seperti menjauh dariku.
Sekarang dikelas tinggal aku sendiri. Pulang sekolah sekitar jam 3 sore namun setelah waktu mendekati angka 4, hujan masih belum menandakan akan reda.
Langit terasa lebih gelap dari pada biasanya seperti waktu magrib. Cahaya-cahaya lampu dari luar mulai dinyalakan.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, dari tadi hanya memandang hujan dari jendela, entah kenapa seperti aku sedang dilanda asmara saja.
Ketika mengingat asmara, Ah, entah kenapa Bu Lisa muncul di kepalaku yang seketika membuatku tersenyum. ‘Kira-kira istriku sedang apa di kantor guru?’
Aku meraih ponsel, membuka aplikasi Whatsaap. Nomor istriku berada diurutan pertama yang terlihat.
Aku : [Sedang apa, Sayang?]
Agak lama untuk membalas chatku hingga akhirnya centang biru terlihat.
Adek : [Mas, kamu sudah di rumah?]
Aku ; [Belum…]
Adek : [Kok belum, kirain Adek Mas sudah pulang dan bersama Amelia?]
Aku : [Hujan deras, kamu gak lihat hujan angin gitu.]
Adek :[Memang Mas gak bawa jas hujan?]
Aku : [Lupa, lagian Mas juga gak tahu kalau sore bakal hujan.]
Adek : [Terus Mas sekarang dimana?]
Aku :[Di kelas! Sendirian tahu Dek, gak ada siapa-siapa. Temanku semua sudah pulang. Mas kesepian…]
__ADS_1
Walaupun agak geli mengirim pesan yang lebay, tetapi aku suka seperti ini. Toh ini juga istriku kenapa harus malu.
Adek : [Sabar ya, Mas. Mungkin bentar lagi hujan reda]
Aku : [Mas disini gak ada yang bisa dipeluk tahu, Yang. Mas kedinginan…]
Bu Lisa mungkin sekarang sedang senyum-senyum sendiri melihat pesanku. Gak apa-apalah bucin sedikit.
Adek : [Mas Raka kalau mau, ke ruang guru aja, duduk disamping Adek.]
Aku : [Memang disana tidak ada siapa-siapa?]
Adek : [Ada sih, tapi guru-guru yang lain gak bakalan curigak kok sama hubungan kita. Mungkin mereka berpikir bahwa Mas sedang konsultasi nilai matematika sama Adek.]
Aku menggaruk pipi, walaupun terpikir masuk akal alasan Bu Lisa tetap saja aku tidak setuju. Kalau di rungan guru justru aku akan akan canggung.
Aku : [Enggak ah, disana gak bisa mesra-mesraan sama kamu. Bagaimana kalau kita ke UKS?]
Bu Lisa tidak terlebih dahulu menjawab, aku bisa melihat centang birunya tetapi tidak ada tanda mengetik diatasnya, sepertinya dia sedang bimbang.
Aku : [Mau ya, Sayang. Please…]
Adek : [Lisa disini banyak pekerjaan Mas.]
Aku : [Ayolah Mah, Kalisa sayangku, please…]
Adek : [Mm… Yaudah, tapi jangan di UKS kalau bisa.]
Di atap? Tentu tidak bisa karena hujan. Kalau di kantin, mungkin ada beberapa murid yang masih disana, memilih memakan mi instan untuk menghangatkan tubuh.
Aku : [Kita di parkiran aja, Dek, parkiran guru tetapi kita ketemuannya didalam mobil kamu.]
Adek : [Yaudah, Mas… Adek duluan kesana.]
Aku mengepalkan tangan, yes!
Aku : [Bawa cemilan kamu, Dek, biar kita pacaran gak bete]
Setelah mengirim pesan ini aku yakin Bu Lisa tengah tersenyum.
Parkiran guru memang berpisah dengan parkiran untuk murid-murid. Berbeda dengan parkiran murid yang mempunyai atap agar terlindungi dari hujan, parkiran guru tidak.
Aku harus menyampirkan tas di atas kepalaku sambil berlari buru-buru agar tidak terlalu kehujanan. Bu Lisa untungnya sudah ada didalam mobil, sebelum masuk aku terlebih dahulu lihat sekeliling, takut ada yang lihat.
Aku menarik pintu mobil belakang dan segera masuk. Baju bagian lenganku sudah basah sampai celana.
“Ini handuknya Mas…” Bu Lisa memberikan handuk kecil, dia duduk di jok depan. Kulihat dia tidak basah. Sepertinya dia memakai payung saat berlari ke mobilnya.
“Terimakasih.” Aku tersenyum, mulai menyeka tubuh dan bajuku. “Kita disini amankan, gak ada yang lihat?”
“Seharusnya sih aman. Semua guru ada dikantor guru, sedangkan para murid tidak mungkin mampir ke sini.”
Aku mengangguk, penjelasan Bu Lisa masuk akal, setidaknya menghilangkan was-wasku yang takut hubungan kami ketahuan.
__ADS_1
Ketika aku sibuk menggosok rambutku yang basah dengan handuk, aku baru mengetahui kalau Bu Lisa memandang wajahku tanpa berkedip.
“Ada apa, Sayang?” Aku tersenyum, bertanya lembut.
“E-enggak ada apa-apa, Mas.” Wajahnya memerah, memandangku salah tingkah.
“Kok gugup sih, terkesima ya, suami kamu tampan ketika rambutnya basah.” Aku terkekeh.
Aku kemudian memintanya agar duduk dipahaku, walaupun awalnya menolak tetapi akhirnya Bu Lisa menurut juga. Bu Lisa bahkan membawa Pop Mie ditangannya yang sudah diseduh.
“Adek hanya punya satu, buat kamu aja Mas. Adek gak lapar.”
“Berdua aja,” Aku mencolek hidungnya. “ Seperti biasa, kamu suapi aku bergiliran sama kamu…”
Bu Lisa tersenyum. Sambil duduk dipahaku, ia mulai meniup-niup mie yang diangkat oleh garpunya dan menyuapkan ke mulutku.
“Murid Ibu yang satu ini manja ya? Seharusnya Ibu hukum karena telah bermesraan di lingkungan sekolah.”
Aku tertawa kecil. “Gak apa-apa, asal jangan Bu Lisa tahu…”
“Kenapa kalau Bu Lisa tahu?” Tanyanya.
“Kalau Bu Lisa tahu, dia mungkin akan menghukumku berdiri diluar kelas.”
Bu Lisa tersenyum, tidak menjawab. Ia menyuapkan lagi mienya kemulutku.
“Ibu harus hukum kamu deh, karena telah berani macam-macam.” Lanjutnya.
“Kenapa dihukum, Bu. Aku gak salah apa-apa.”
“Ini tanganmu, sembarangan nyentuh pinggang Ibu.”
Aku sebaik mungkin menahan tawa, ternyata Bu Lisa juga suka dengan status kami yang unik. Memang tanganku sekarang melingkar dipinggangnya.
Hujan deras terus mengguyur hingga Pop Mie ditangan Bu Lisa habis. Saat aku dan istriku mau mesra-mesraan suara telepon terdengar nyaring. Bu Lisa mengangkat sebentar sebelum akhirnya menutupnya kembali.
“Adek harus kembali ke kantor, Mas. Kepala Sekolah tadi nanyain sebentar.”
“Loh, kok gituh. Padahal aku mau manja-manja sama kamu tadi…”
“Maap ya, Mas. Adek kesana dulu sebentar, menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda.”
Aku memasang wajah cemberut.
“Adek cuma sebentar Mas, janji, lima menit langsung balik kesini lagi.” katanya menghiburku.
“Yaudah, jangan lama-lama.” Aku sadar, dia kesini juga sebenarnya menyempatkan waktu untukku jadi aku tak bisa memaksanya lebih dari ini.
“Ini Mas kunci mobilnya,” Bu Lisa memberikan kunci mobilnya padaku. “Adek sudah bawa keripik, donat, sama jus tadi di kresek. Mas tinggal makan saja…”
“Uh, makasih ya.” Aku mencium bibirnya sekilas, di kening dan juga dipipi.
Bu Lisa tersipu malu atas kelakuanku, tentu saja ia belum siap dengan seranganku yang tiba-tiba alhasil wajahnya memerah. Ia tak bisa menahan lagi, sambil menahan senyum dan wajah memerah ia pergi meninggalkanku yang tertawa kecil memandangnya.
__ADS_1