
Kesunyiannya terdengar oleh telingaku.
“Mas, tentang ucapan ibu tadi, bagaimana menurutmu?”
Bu Lisa yang sudah memakai
piyama cantik menyisir rambutnya di meja rias,
ia melihatku di cermin yang saat ini
aku sedang menyandar di kepala ranjang.
“Maksud Adek tentang anak?” Tanyaku memastikan.
“Iya.”
“Mm… aku tidak tahu, selama aku nikah gak pernah mikir ke sana.”
“Yah, menurut Mas, gimana? Mas kira-kira
pengen punya anak atau enggak?” tanya Bu Lisa,
ia membalikan posisi tubuhnya
dan kini menghadapku.
“Bukannya Mas ini gak mau punya anak,
tapi jika boleh memilih aku ingin bersama
kamu dulu Dek, berduaan dan berpacaran.
Tapi andai kata kamu nanti hamil aku juga gak
keberatan, tetap bersyukur apapun terjadi.”
Aku harus berkata sedimikian lembutnya,
takut dia tersinggung. Dari banyak film
yang aku tonton, wanita selalu memusingkan
dirinya jika tidak hamil-hamil saat menikah.
Bu Lisa berjalan ke arahku, lalu
dengan tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya
di dadaku, juga menenggelamkan kepalanya.
Aku sedikit terkejut dan belum siap dengan
tindakannya. Kenapa istriku tiba-tiba
berindak demikian?
“Adek ngikutin keputusan suami aja,
terserah Mas kalau nanti mau gimana.” Istriku
langsung memeluk pinggangku dengan erat.
“Terima kasih.” Kataku berbisik pelan,
aku langsung mengelus pucuk rambut hitamnya.
Masih di rumah mertuaku, usai tadi makan
kami berbicara sebentar di tengah rumah.
Tidak serius, malah banyak becandanya.
Setelah waktu mendekati jam 9 malam
kami memutuskan untuk ke kamar,
kekasihku, Lisa, dia terlihat sudah mengantuk.
“Udah ngantuk, hm?” Tanyaku, melihat dia dari tadi
terdiam di dalam pelukan.
“Enggak, Mas. Hanya pengen diem aja.
Adek nyaman di pelukan suamiku ini.”
Ah, kenapa dia menggombaliku, jantungku
jadi deg-degan ginikan. Apakah ini tanda aku
jatuh cinta? Eh, tapi kan aku sudah
jatuh cinta padanya.
Aku mengangkat dagunya agar ia menghadap
wajahku, setelah pandangan kami bertemu aku
mengikis jarak dengannya, hingga tidak terasa
bibir kami berciuman.
__ADS_1
Bu Lisa menutup matanya saat ciuman sedang
terjadi, sedangkan aku sebaliknya, menatap wajahnya.
Lihat, rona wajahnya semakin
memerah.
Ciuman itu berakhir setengah menit kemudian,
entah aku dan Bu Lisa saling memandang lama,
membiarkan hanya hati yang bicara.
“Tidur yuk?” tawarku, mencium bibirnya sekilas.
Dia mengangguk. Kami berdua memposisikan
tidur dengan saling menghadap. “Sini, Mas, peluk?”
dia kembali mengangguk, segera ia membenamkan
tubuhnya di pelukanku.
“Selamat tidur, sayang.” Aku mengecup pucuk kepalanya.
“Selamat tidur, Mas.” Dia membenamkan wajahnya lebih dalam didadaku.
Aku mempererat pelukan dengannya, agar ia merasakan kehangatan dari
dinginya malam.
Malam kian semakin larut, membisikan
nada-nada kesunyian di sekitarnya. Langit bertambah
gelap, membius para mahluk untuk terdiam membisu.
\*\*\*
Ah, aku benci keadaan ini, dimana aku
harus terbangun dari tempatku tidur karena lapar.
Perutku tidak bisa berkompromi, padahal tadi aku
sudah nyenyak dalam mimpi.
Waktu di jam dinding menunjukan jam 2.30 pagi,
Meski aku sudah berusaha untuk tidur kembali,
tapi itu percuma, aku lapar.
Tadi saat makan malam sedang berlangsung, aku hanya makan sedikit di sana. Bagaimana bisa makan banyak, kalau mertuaku terus menanyakan hal sensitive tentang pernikahan.
Aku memegang perut yang amat lapar, bersuara auman di dalamnya, seperti ada harimau yang mengamuk. Kulirik istriku yang tengah nyenyak, aku menghela nafas sejenak, meski tidak tega aku harus membangunkannya.
“Dek…” jawabku pelan, mengguncang bahunya dengan lembut.
“Dek…”
Masih tidak ada jawaban.
“Kalisa sayang, bangun.” Aku mencubit pipinya pelan, berharap dengan ini dia terbangun. Syukurlah, perlahan tapi pasti matanya terbuka.
“Mm… Mas, kamu udah bangun?” Bu Lisa berkata dengan suara serak khas bangun tidur.
“Iya, aku bangun karena lapar. Kamu bisa gak masakin aku sesuatu.”
“Lapar? Kamu lapar, Mas?” Aku mengangguk sebagai jawabannya. “Bentar Adek cuci muka dulu.”
Dia bangun lalu berjalan ke arah kamar mandi, setelah beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah yang segar dan tidak lupa cantik.
Bu Lisa hanya memanaskan makanan yang semalam di masak. Aku yang menunggu Bu Lisa untuk berbalik badan akhirnya bisa bergerak lalu memeluknya dari belakang.
“Mas, jangan gitu dulu ah, ini di rumah mamah nanti ketahuan loh.” Bu Lisa berujar protes, ia merasa terganggu saat sedang memasak.
Namun aku tidak menggubrisnya malah terus mempererat pelukannya. Entah kenapa hari ini aku ingin lebih dekat dengan istriku.
Bu Lisa menghela nafas panjang, ia tidak berkata-kata apa lagi, lebih memilih fokus pada masakannya.
Tidak terlalu lama hingga masakan itu sudah hangat dan dihidangkan. Pada akhirnya bukan aku saja yang makan melainkan istriku ikut meniru, sepertinya dia sama sepertiku, hanya makan sedikit tadi.
Setelah itu kami kembali ke kamar. Aku dan Bu Lisa langsung merebahkan tubuh dengan posisi seperti sebelumnya, yaitu saling berhadapan di kasur.
__ADS_1
“Mas, kamu kenapa sih?” Bu Lisa berseru protes saat tanpa aba-aba aku mencium bibirnya.
“Aku heran tau Dek, sama kamu. Kok bisa ya kamu cantik saat bangun tidur gini.” Aku mencolek ujung hidungnya.
“Mas, udah ah, Adek mau tidur.” Bu Lisa langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
Aku terkekeh pelan, aku tidak cukup bodoh untuk menyadari bahwa dia sedang tersipu.
“Adek, jangan tidur, Mas pengen kamu dulu, sayang.”
Bu Lisa segera mengangkat selimut yang menutupi wajahnya. “Gimana, Mas?”
“Aku pengen kamu, sayang.” Aku memperjelas kalimat sebelumnya. “Boleh, kan?”
“Eh, t-tapi, tapikan ini masih pagi?”
“Yak gapapa, emang kenapa kalau pagi.”
“Nanti mamah sama papah denger, Mas.”
“Mereka cukup dewasa tentang hal ini, sayang. Lagian kamar kamu di lantai atas, jadi gak akan kedengaran sama mereka.”
Bu Lisa terdiam sebentar, dia terlihat ragu dengan keputusan yang akan di ambil.
“Bolehkan, Dek?” aku menangkap tangannya, menatap mata dia lebih dalam.
Bu Lisa mengangguk patah-patah, wajahnya sudah memerah karena malu. Sebelum aku melakukan hal itu, aku mengecup keningnya begitu lama, kemudian pindah ke telinganya dan berbisik. “Terima kasih, Kalisa.”
\*\*\*
Usai kami melakukan hubungan suami istri, kami kelelahan dan akhirnya terjatuh capek. Bu Lisa meringkuk dalam dipelukanku, yang langsung aku balas dengan mempereratnya.
“Bagaimana tanggapan murid yang lain kalau selama ini, Bu Guru galaknya bisa meringkuk seperti ini, bercicit malu.” Aku menyunggingkan senyum penuh godaan.
“Adek gak galak, Mas.” Bu Lisa memukul dadaku pelan, tidak terima.
Aku terkekeh, lupa kalau dia tidak suka dikatakan demikian. “Iya Bu, maap.”
“Aku bukan gurumu, Mas, aku istrimu sekarang.”
“Iya deh, Kak Lisa.”
“Gak lucu, ah.” Dia menggelumbangkan pipinya ngambek.
“Lucu kok, Mbak Lisa. Nih aku tertawa sekarang.” Aku tertawa kecil.
“Kamu nyebelin banget sih, Mas. Awas aja kalau nanti di sekolah, aku kasih hukuman berat.”
“Yah… kok, kamu bawa-bawa sekolah sih. Gak lucu tau.” Kali ini aku yang pura-pura ngambek.
“Biarin, biar nanti Adek hukum kamu di depan sambil megang kedua telinga.”
Melihat wajahnya membuatku jadi gemas sendiri. “Kamu berani ngancam yah sekarang, hm? Sebelum kamu hukum Mas, biar aku dulu hukum kamu.” Aku segera menggelitik pinggangnya, membuat ia tertawa lepas.
Bonus part…
Kami berdua duduk di teras rumah saat sore hari, memandang suasana senja.
Aku: “Dek, kamu tahu gak?”
Kalisa: “Tahu apa, Mas.”
Aku: “Kamu tuh, wanita tercantik kedua yang aku temui.”
Wajah Bu Lisa tidak terlalu senang mendengarnya.
Kalisa: “Kok, yang kedua sih. Emang yang pertama siapa? Ibu kamu?”
Aku: “Bukan… yang pertama tetap kamu. Tapi saat kamu tersenyum.”
(Blush…!!)
Bu Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia berlari kedalam rumah.
Aku: “Dasar guru pemalu” (aku menggelengkan kepala, sambil terkekeh.”
\[***Likenya udah belum? Votenya udah belum? Ayo segera! Biar nanti author yang merasa terhibur dengan itu dan juga jadi semangat***.\]
__ADS_1