
“Adek sudah mandi, ya? Kok harumnya enak gini.” Aku mengendus punggung tangannya. Tercium wangi bunga lavender.
“He’em, barusan, Adek gerah pas diperjalanan kesini, Mas. AC mobil sudah gak dingin lagi, kayaknya harus diganti.” Bu Lisa mengayunkan kakinya kedepan belakang. Ia masih duduk dipahaku dengan manja.
Aku mengangguk setuju, tadi saja Amelia menangis didalam mobil karena kegerahan, kulitnya yang putih langsung berubah kemerahan.
“Kamu jangan banyak gerak dong, Dek. Kalau seperti itu terus aku gak kuat nih bisa nahan...” Aku menunjuk kaki Bu Lisa, gerakan-gerakannya membuat tubuhnya berguncang di atas pahaku.
“Siapa suruh ngejatuhin Adek dipaha kamu. Inikan semua salah Mas sendiri.”
Aku tersenyum, sepertinya istriku ini memang ingin manja-manja denganku. Ia dari tadi begitu riang, terlihat kekanak-kanakan sipatnya.
Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya, lalu menggeser tubuh Bu Lisa agar lebih dekat dengan tubuhku. Satu tangangku lagi memegang dagunya, bertujuan agar wajah kami saling berhadapan.
Tidak menunggu lama, aku mendekatkan bibirku. Bu Lisa langsung menutup mata saat tau aku akan menciumnya. Akhirnya bibir kami saling bersentuhan.
“Kok berhenti?” Aku memandang matanya dengan tanda tanya, ciuman kami hanya berakhir sekilas. Bu Lisa langsung melepaskan dari ciumanku.
“Ada Rena Mas disini, nanti dia lihat lagi... Adik adek itu masih remaja, sebagai kakaknya Lisa harus mencontohkan yang baik.” Jelas Bu Lisa.
“Terus apa bedanya dengan suamimu ini. Aku berumur 17 tahun, Rena juga sama?” Aku tersenyum lebar.
“Seharusnya seperti itu, tapikan Mas Raka beda, udah nikah sama Adek. Terus sikap Mas juga sudah dewasa dari anak SMA kebanyakan, tidak lebih dari umur dewasa pada umumnya.”
“Oh, ya?” Aku sedikit penasaran.
Benarkah Bu Lisa berpikir demikian. Padahal aku sendiri selalu merasa sifatku ini kekanakan, tidak mau mengalah, dan lihatlah, tadi saja aku bertengkar dengan Rena seperti anak kecil.
“Iyah… Mas Raka memang dewasa menurut pandangan Adek. Mas Raka itu bersifat kekanakan secara disengaja, bukan karena bawa’an.”
Aku nyengir lebar, senang dipuji.
“Terus apa lagi, pandangan kamu tentang aku?”
“Mm…Mas Raka itu orangnya pandai menahan emosi, tidak cepat bereaksi, lebih dulu berpikir sebelum bertindak.”
Aku menggaruk pipi. “Tapikan, aku pernah marah saat di restoran kamu sebelumnya, saat kencan itu?”
“Marah itu tanda bahwa seseorang mempunyai rasa suka pada sesuatu. Walau emosi marah cenderung negatif tetapi emosi marah itu penting bagi hidup seseorang. Tentu saja jika pada porsi dan tempatnya yang tepat.”
“Maksud Adek, aku itu boleh marah jika pada hal yang benar?”
Bu Lisa mengangguk mantap. “Itulah kenapa pas saat itu, Mas sebenarnya tidak harus malu pada Adek. Marah itu cenderung kesisi ingin melindungi, entah itu melindungi harga dirinya sendiri atau melindungi orang yang disukai. Mas Raka bisa marah karena melindungi nama Adek yang dijelek-jelekkan oleh orang lain.”
Aku termenung sesaat, mencerna kalimatnya. Ini sedikit sulit memikirkannya karena aku tak dapat memahami perkataannya.
Suara riuh dari luar rumah terdengar lamat-lamat hingga akhirnya terdengar lebih jelas. Tidak lama ada ketukan-ketukan di atas genting secara membabi buta. Hujan turun dari luar begitu deras.
__ADS_1
“Mas tidak mengerti sayang, kamu sih pinter banget…”
Bu Lisa tidak menjawab, tersenyum. Kakinya mengayunkan kedepan-belakang seperti anak kecil.
“Sepertinya hujan angin, ya, Dek. Deras banget.” Aku menengok kearah hordeng jendela yang bergoyang tertiup angin.
Bu Lisa ikut menoleh ke arah jendela, mengangguk setuju. Namun tak lama raut wajahnya berubah, seolah teringat sesuatu yang amat penting tetapi lupa disadari.
“Astaga, Mas…” Istriku tiba-tiba menjengit kaget, membuatku ikut terkejut mendengarnya. “Jemuran..!”
Bu Lisa tanpa sedikitpun berpamitan langsung berlari keluar menyelamatkan pakaian yang sebelumnya dijemur.
Tidak berselang lama istriku pergi Rena keluar kamar, melihat apa yang terjadi.
“Ada apa?” Rena celingukan, sepertinya ia salah sangka dan langsung menatapku tajam.
“Jemuran. Kalisa lupa mengangkatnya.”
Rena kemudian menoleh keluar jendela, melihat Kakaknya yang sibuk menyelamatkan pakaian dinasnya. Rena menghela napas pendek sambil menggelengkan kepala.
“Kau tidak membantunya?” Tanya Rena mengerutkan alis.
“Maunya sih seperti itu, tapi Kakakmu tidak suka kalau aku membantu pekerjaan rumahnya.”
Bu Lisa selalu tidak ingin aku ikut campur tangan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci atau sejenisnya. Walaupun aku sedikit keberatan dengan hal itu karena ingin membantu, tetapi aku sadar bahwa Bu Lisa ingin melakukannya karena keinginannya.
Sebenarnya tidak ada dasar bahwa pekerjaan seperti menyapu, mengepel, mencuci adalah pekerjaan seorang perempuan. Itu salah besar.
Bu Lisa tak lama kembali kedalam rumah, wajah dan bajunya basah hingga menetes ke lantai. Aku bangkit dan mengambil handuk kecil, memberikan pada istriku.
“Gimana, masih diselamatkan kan bajunya?” aku tersenyum.
“Hampir, Mas. Untung masih keburu.” jawabnya sambil mengelap handuk pada tangannya.
“Kamu ganti baju dulu, gak baik pake pakaian basah begitu. Nanti masuk angin dan demam lagi.” aku mengelus pipinya lembut.
Bu Lisa mengangguk, senang dengan perhatianku, ia pergi langsung ke kamar.
“Apakah kau selalu bermesraan seperti itu pada Kakakku?” Rena bertanya, dia dari tadi memperhatikan kebersamaanku dengan Bu Lisa.
“Mm... Ya.”
“Aku belum pernah melihat sisi Kakakku sepenurut itu selain dengan orang tuanya. Kau benar-benar membuatku Kakakku berubah.”
“Mungkin karena cinta.” Aku menjawab asal. “Biasanya tidak ada wanita yang berpaling dari wajahku, jika tidak pada cinta pandangan pertama, biasanya mereka akan mendekatiku secara diam-diam.”
“Cih~ Kepedean…” Rena mendengus. Dia berbalik badan dan kembali ke kamar. Menemani Amelia. Aku tertawa kecil, itukan hanya candaan!
__ADS_1
***
Malam kesejuta kalinya, awan-awan yang semenjak tadi mengendap tebal dilangit telah hilang tak tersisa, memunculkan manik-manik kecil bintang berkelap-kelip menghiasi cakrawala angkasa.
Dari samping atas, bulan menggantung melayang dengan terang, memperlihatkan keagungan dan kebesaran yang telah menciptakannya.
Malam ini, aku tengah duduk dimeja belajar kamar, melihat rentetan soal yang harus segera diselesaikan. Ini bukan PR, cuma latihan soal saja, karena tidak lama lagi ujian akhir semester akan tiba, aku harus banyak belajar lebih giat.
Pulpen yang seharusnya aku gunakan menulis sedari tadi aku gigit, kadang memainkan tombol atasnya, cetrak-cetrek, kadang aku putar disela jari-jari. Aku menghela napas pendek. Menyerah. Aku tidak bisa mengerjakan soal ini.
Bu Lisa adalah guru lesku sekarang, dan dialah yang memberikan latihan soal ini untukku belajar. Tetapi mungkin karena aku cape habis pindahan, aku terlalu malas untuk berpikir.
Akhirnya aku termenung tidak bisa mengisi apapun dibuku.
Disela aku tengah berpikir, Bu Lisa baru balik ke kamar setelah mengobrol bersama Rena. Itu benar, Rena memang menginap disini karena tidak bisa balik akibat hujan deras sebelumnya.
Digendongannya ada Amelia yang tengah menyusui, Bu Lisa duduk di tepi kasur menatap anaknya dengan teduh. Ah, begitulah mungkin sifat keibuan, kasih sayangnya terlihat begitu tulus.
Aku meletakan pulpen dimeja, bangkit dari kursi, kemudian mendekati istriku. Aku duduk disampingnya, mengecup pipi Bu Lisa sekilas.
“Anak kita cantik, ya, Ma? Seperti kamu.” Dari pada mengerjakan soal yang bikin kepala sakit, lebih baik menggoda istri. Iya, kan?
Bu Lisa menjawabnya dengan senyuman, lagi-lagi(Dan lagi-lagi) pipinya memerah hanya dengan kecupan singkat seperti itu.
“M-Mas sudah mengerjakan soal tadi?” katanya mengalihkan topik.
“Nanti aja, pengen sama keluarga dulu.” Aku tersenyum, lalu kemudian beralih pada Amelia. Tertawa kecil melihat aksi kecilnya. “Lahap banget sih kamu, Amel. Haus banget ya anak Papah ini, hm? Rakus sampe pipi bulat gini...”
“Tidak apa-apa, Pah… biar nanti anak kita cepat besar.”
“Tapi, Ma, Amelia sampai belepotan seperti itu, seperti kehausan saja.” Aku mencolek pipi Amelia dengan gemas.
“Justru Mama senang kalau anak kita seperti itu. Dari beberapa kejadian, ada anak yang sulit meminum ASI. Bahkan bayinya sampai kurus.”
Aku mengangguk setuju, mendengar itu hatiku bersyukur kalau anak kita begitu sehat.
Melihat ranum bibir merahnya, aku tak bisa menahan dan langsung mencium bibirnya. Kali ini tidak sebentar, bahkan hampir 3 menit bibir kami tidak berpisah.
“Aku mencintaimu, Kalisa…” Napasku beratur pelan, menatapnya dengan kehangatan.
“Adek, juga, mencintaimu, Mas.”
Kami terus melanjutkan ciuman, jika karena Amelia tidak tiba-tiba menangis mungkin kami tidak tahu berhenti sampai kapan.
Aku mencubit pelan pipi Amelia setelah bibir kami berpisah. “Dasar puteri Papah ini, Papah sama Mamah lagi bermesraan juga malah diganggu…”
Bu Lisa tersenyum, “Mungkin Amelia merasa diabaikan sama orang tuanya, Mas.”
__ADS_1
Lantas setelah itu Bu Lisa mencium kening Amelia dan seketika tangisannya berhenti. Amelia menatapku dan Bu Lisa bergantian lalu kemudian tertawa riang.
Aku dan Bu Lisa saling pandang melihatnya sebelum akhirnya tertawa kecil. Amelia ini, sejak kapan dia bisa meminta sebuah perhatian pada orang tuanya?