Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 14 –Kami Ber'enam


__ADS_3

Sinar senja menyinari dedaunan basah akibat hujan selama siang tadi. Awan-awan di langit perlahan beringsut pergi menyisakan bola cahaya yang perlahan terbenam di upuk barat.


Suara kicauan burung terdengar lamat-lamat dari luar, mereka akhirnya bisa keluar dari sarangnya setelah berteduh dari hujan, terbang ke langit dengan leluasa kebebasan.


“Huaahh`” Reza menguap untuk kesekian kalinya, meletakan buku yang ia baca ke meja, berdiri membuka jendela di sampingnya.


“Kau ngantuk Za?” Arin melirik Reza, dia tengah sibuk bermain Hp, berbeda dengan lainya yang sedang membaca buku.


“Bosan Rin, kita disini hanya duduk berenam di ruangan kecil, tanpa percakapan, tanpa bersuara, tanpa komunikasi. Terus lagi kita harus membaca selama dua jam, bukankah itu terasa membosankan?” Reza mengomel.


Arin mengerutkan dahinya, lalu dia menghela nafas pendek “Mau gimana lagi? Ini kan klub membaca, pasti kegiatannya tidak jauh dari membaca. Hei, ini lebih baik dari pada klub basket yang harus bermain basket, atau klub futsal yang harus bermain futsal. Bukankah kau tidak suka sesuatu yang berhubungan dengan tenaga?”.


Reza menggaruk kepala, tidak menanggapi. Dia lebih asik melihat-lihat burung yang bartender di kabel listrik tepat di depan jendelanya.


Sebelumnya, aku dan lima lainnya sekarang sedang mengikuti kegiatan klub, entahlah apakah ini benar di sebut demikian. Kami hanya duduk di kursi, lantas membaca buku selama dua jam, selepas itu pulang. Benar-benar seperti kegiatan klub bukan?.


“Sayang sekali tadi si Rifki gak jadi nembak, padahal suasananya tadi sudah pas. Apa susahnya sih ngungkapin perasaan, bilang bahwa dia punya perasaan sama ibu, bilang bahwa dia suka sama ibu. Dasar cowok memang susah di mengerti” Arin menggerutu, dia masih sebal dengan kejadian di kelas.


Aku hanya diam mendengarnya, itu benar. Tadi nyaris saja Rifki mengungkapkan rasa suka nya pada Bu Lisa, sayang sekali di detik akhir katanya nyalinya tiba-tiba ciut, takut di marahin, takut di tolak, atau apalah dia membuat alasan pada kami sekelas.


“Tapi coba kalau tadi di ungkapkan, kira-kira apa yaa jawaban Bu Lisa, di tolakkah atau di terima? Emang dasar si Rifki, membuat kami penasaran saja” Arin mengomel, dia masih tidak terima dengan akhir seperti itu.


Della yang berada di sampingnya menyikut beberapa kali, menyuruh Arin diam. Tidak baik membicarakan orang lain.


“Tidak sesederhana itu Arin” Si jenius akhirnya berbicara, buku yang ia pegang talah menunjukan halaman terakhir, yang berarti dia telah membaca seluruhnya.


Karena Zildan yang menjawab sontak mata Arin berbinar, dia tahu bahwa Zildan akan menjelaskannya dengan penuh wawasan luas “Maksudmu Zil?” tanyanya tidak mengerti.


Zildan memperbaiki posisi duduk terlebih dahulu, dengan tenang dia berkata “Laki-laki, mereka selalu penuh keraguan tentang perasaan yang dia alami. Apakah itu benar cinta? Apakah itu hanya sekedar suka? Atau cuma mengagumi saja. Nah.. boleh jadi kasus tadi Rifki bukan karena ketakutan dimarahi atau di tolak, melainkan ia menyadari bahwa dia masih ragu tentang perasaanya” jelas Zildan dengan santai menyender pada kursi.


Reza, Della, Arin serentak menepuk tangan. Hei, apakah temannya ini jenius di bidang apapun, lihatlah! Bahkan ia menjelaskan sekarang seperti seorang pujangga cinta.


“Kau hebat kawan” Reza sudah sumringah kembali, ia menatap sahabatnya dengan takjub “Aiya, kau bahkan mengerti tentang perasaan semua laki-laki, itu hebat kawan” Reza terus memuji, menepuk-nepuk punggung Zildan.


Yang di di sanjung justru malah mendengus “Itu karena memang aku laki-laki”.

__ADS_1


Aku yang cuma menonoton mereka, kini langsung tertawa, begitu juga dengan empat lainnya terkecuali Airin dan Zildan yang tidak peduli.


“Sudah jam 4, ayo pulang. Perutku sudah lapar ingin sekali makan di rumah” Reza beringsut menarik tas, kalau urusan pulang dia adalah nomor 1.


“Lima menit lagi” Della menyegah, ia merapatkan dirinya ke pintu agar Reza tidak dulu pulang.


“Aiya, itu hanya lima menit lagi Del, Bu Lisa tidak akan tahu kalau kita pulang cepat” Ucap Reza beralasan.


“Tidak boleh” Della melotot tegas.


“Ayolah Del, Bu Lisa juga tidak seketat itu”


“Tetap tidak boleh Reza” Della menatap jengkel, setiap kali mereka berbicara selalu saja membuat pertengkaran.


“Kenapa kau selalu menyebalkan seperti ini sihh” Reza melotot tak mau mengalah, urusan dengan wanita seperti Della, Reza pasti akan melawannya.


“Kau yang menyebalkan”.


“Kau lah, selalu saja ingin membuatku bertengkar”


Pertengkaran di antara mereka pun pecah, seperti biasa. Selalu karena hal-hal sepele yang tidak penting, berdebat yang akhir-akhirnya saling menghardik. Ujung-ujungnya kami berempat juga yang menengahi.


“Sama dia! kau becanda Rin” Ucap mereka serempak.


Arin menyeringai bahagia “Aihh, Aku tidak tahu bahwa kalian sudah sedekat ini”.


Mereka berdua mendengus bersamaan, langsung berjalan cepat mendahului kami, sampai tidak menyadari bahwa keduanya sudah jalan beriringan.


“Jujur saja, di banding hubungan tadi si Rifki dengan Bu Lisa aku lebih tertarik dengan hubungan mereka berdua” Ucap Zildan memandang Della dan Reza yang sudah jauh di depannya.


Aku mengangguk “Untuk hal ini aku sependapat denganmu Zil”.


Serempak kami berdua tertawa mengabaikan Arin Dan Airin yang berada di sana dengan wajah heran, apa yang lucu dari itu, begitu kira-kira pikir mereka.


“Ngomong-ngomong ya Zil” setelah beberapa langkah menuruni anak tangga, Arin membuka suara kembali “Apakah kau sedang jatuh cinta melihat bahwa kau bisa sebijak itu dalam hal perasaan”.

__ADS_1


Aku mendongak penasaran, benar juga. Apakah Zildan saat ini sedang jatuh cinta, sedangkan seumur-umur dia tidak tertarik membahas hal-hal tersebut.


Zildan terdiam sebentar menghentikan langkahnya menuruni tangga, dia terlihat berpikir sebelum berkata “Tidak”.


“Ini sudah SMA loh Zil, apakah kau tidak tertarik dengan hal-hal perasaan” Arin menghela nafas pendek, dia mengetahui Zildan karena telah mengenalnya pas SMP.


Zildan tersenyum aneh yang membuatku tidak mengerti “Mungkin masih belum Rin” katanya dengan ringan.


Saat itu, aku yakin Arin dan Airin tidak mengerti dari perkataanya. Namun berbeda bagiku, aku bisa melihatnya dengan jelas, yaitu perasaan tentang hatinya.


Ternyata hubungan kami berenam tidak sesederhana itu, hubungan ini jelas akan melampaui apa yang di lihat dan dirasakan. Besok atau lusa, semuanya akan terungkap, di jelaskan, dan di pahami.


***


Malam harinya.


Besok cerah, itu adalah hal pertama yang aku pahami ketika melihat bintang-bintang bersinar. Untungnya di tengah padatnya kota.di tengah banyaknya polusi, bintang-bintang itu masih tidak bosan menampakan pada mereka yang ingin melihatnya.


Aku berbaring dengan kepala yang bersandar pada paha Bu Lisa, nyaman sekali berposisi seperti ini, bisa di bilang ini adalah posisi favoritku.


Tanganku tidak berhenti-hentinya memainkan ujung rambutnya yang panjang, layaknya seperti anak kecil yang di beri mainan, terlihat betah dan tak mau di ganggu. Sesekali dia mengaduh kesakitan saat aku tidak sengaja menarik rambutnya, aku hanya menyeringai, meminta maaf.


“Dek?” ucapku memecah keheningan di antara kami berdua.


“Iya”.


“Adek tau kan tadi Rifki mau bilang apa di kelas?” jujur aku masih terngiang perkataan Arin tadi di sekolah, kira-kira respon apa yang dia lakukan kalau tau-tau muridnya bakal nembak.


“Iya, Ibu tau” Bu Lisa menurunkan kaca mata yang menempel di kedua telinganya, pandangannya lurus ke depan menatap pot-pot bunga “Dari ekspresi kalian sekelas, dari suasana yang sunyi seperti itu, ibu langsung tahu bakal apa yang terjadi selanjutnya.


“Jujur saja, aku sudah berpengalaman dengan hal ini, tidak satu kali atau dua kali. Bahkan bila dipikir-pikir hampir setiap kelas pernah melakukan hal yang sama, mengungkapkan perasaannya padaku” Bu Lisa menghembuskan nafas dengan berat “Dari semua kondisi sebagai guru, aku paling benci hal itu”.


Teras rumah lengang sejenak hanya menyisakan suara jangkrik dari balik rerumputan. Aku tidak menduga bahwa dia akan berbicara seperti itu, ternyata alasan kenapa ia menjadi guru tegas dan dingin, karena supaya tidak ada orang yang bisa dengan enak mendekatinya.


Aku menggenggam tangannya dengan lembut seraya duduk berhadapan. Mencium tangannya begitu lama lantas berkata “Terimakasih, karena telah menjaga hatimu untukku selama ini”.

__ADS_1


**LIKE DAN VOTENYA.. HEI, TOLONG TULIS KEKURANGAN NOVEL INI!!


TERIMAKASIH**..


__ADS_2