
Ini masih fov Raka ya...
~~
“Ih~ jangan malu gitu, ah. Dirayu sedikit aja langsung menunduk.” Aku mencolek hidungnya, menggodanya lebih jauh. Saat ini aku masih memeluk tubuh istriku.
“Salah siapa coba? Inikan gara-gara kamu, Mas.” Bu Lisa memanyunkan bibirnya cemberut.
Aku tertawa kecil. “Jadi gimana, mau gak?”
“Mau apa?”
“Kan tadi Mas nanya, aku mau mandi bareng sama kamu, kamu belum jawab.”
“Adek kan sudah mandi, Mas.”
Aku menggaruk kepala. “Iya juga, ya, pantesan wajah kamu sudah bermake-up. Cantik lagi. Tapi Dek, sudah lama lohh kita gak mandi bersama, terakhir kali saat kamu masih hamil, kamu ingat?”
Bu Lisa mengangguk, seketika wajahnya memerah.
“Ayok, Dek, selagi gak ada orang tua kita. Kamu mau, ya?” aku berbisik pelan ditelingannya. Walaupun aku bertanya, tetapi tanganku sudah menarik dia dengan lembut kearah kamar mandi. Bu Lisa mengangguk kecil, jangan tanya lagi bagaimana dengan wajahnya, menatapku saja tidak sanggup saking malunya.
Masa nifas istriku memang sudah berakhir empat hari yang lalu, itu berarti sah-sah saja kami bersetubuh. Hampir satu jam lebih disana, akhirnya kami menyudahi kegiatan mandi plus-plus tersebut.
Aku mengelap tubuhku dengan handuk. “Seneng deh, Sayang, bisa ngelakuin itu lagi sama kamu?”
Bu Lisa tersenyum, membenarkan handuk yang melilit tubuhnya, biasanya istriku tidak malu lagi kalau habis berhubungan intim. Bu Lisa berlalu mengambil baju di lemari, menyiapkan pakaian untukku juga.
Waktu menunjukkan jam 7 malam, setelah aku mandi, Bu Lisa menghangatkan makanan yang tadi ia masak. Kami makan bersama dengan aku yang disuapi olehnya.
“Udah jadi papah aja masih disuapi, kalau begini Adek punya dua bayi, deh.” Bu Lisa menyindir, menyuapkan sendok pada mulutku.
Aku mengunyah makanan itu dengan sedikit menahan tawa. Pada dasarnya aku ingin disuapi oleh istriku karena ingin dimanjakan olehnya, itu saja.
“Mamah kok lama ya, Dek? Ini sudah malam tapi mereka gak pulang?” tanyaku mencoba mengubah topik pembicaraan.
“Mungkin bentar lagi, Mas. Biasanya juga gak sampai jam 8.”
Aku mengangguk-ngangguk kepala, setelahnya tidak ada lagi percakapan hingga makanan dipiring telah habis. Para pelayan membereskan kembali makanan-makanan dimeja, sedangkan aku dan Bu Lisa harus ke kamar karena terdengar Amelia menangis.
Yang paling membuat bibirku terus menyunggingkan senyum ketika di rumah adalah, saat melihat Bu Lisa sedang menggendong Amelia.
Suasana ini adalah hal yang membuat hatiku selalu bersyukur. Bayangkan saja, aku mempunyai istri yang baik, keluarga yang damai, kebutuhan ekonomi mencukupi, serta kehadiran seorang buah hati. Siapapun akan menginginkan kehidupanku yang seperti ini.
Bu Lisa menyusui Amelia saat itu juga, aku ikut berdiri disampingnya untuk melihat. Amelia begitu bersemangat meminum ASI istriku, sepertinya ia sedang kehausan.
Aku tertawa kecil melihat tingkah lucu bayi kami, kucolek pipi Amelia dengan gemas. “Yang banyak, ya, Amel, biar nanti tumbuhnya cepat.”
Bu Lisa tersenyum menanggapi, “Dia benar-benar semangat Mas hari ini, mungkin ia senang lihat kamu ada didekat Adek.”
“Begitukah? Atau mungkin cuma bualan ibunya yang mau deket-deket sama ayah.” Aku mulai merayunya kembali.
“Ih… GR, siapa pula yang mau deket kamu.”
Aku mencubit pipi istriku dengan gemas. “Amel, lihat, ibumu itu selalu jual mahal sama papah.”
__ADS_1
“Siapa yang jual mahal!?” istriku memalingkan muka, berpura-pura marah.
“Nah lihat kan, Amel, dia jual mahal lagi... Tolong nanti jangan kasih tahu ibu kamu, ya? Dia bisa marah, ini hanya rahasia kita berdua. Oke?” Aku pura-pura berbisik.
“Ih~ Adek denger tahu…”
Aku terkekeh, mengecup pipi Bu Lisa.
Setelah dirasa kenyang, Bu Lisa hendak meletakan Amelia kembali ke keranjang bayi, namun sebelum itu terjadi, aku mencegahnya. “Aku mau gendong, Ma, kangen sama Amelia.” Bu Lisa tersenyum, menyerahkan Amelia pada gendonganku.
Aku memang masih kaku saat menggendong bayi, tidak seperti Bu Lisa, namun setidaknya dengan gendonganku Amelia tidak menangis, dia malah tertidur dengan ayunanku yang pelan.
Bu Lisa yang baru saja ditoilet, memperhatikan sesaat Amelia yang sudah tertidur lelap, “Ciee yang sudah berhasil jadi seorang papah.”
Aku tersenyum lebar. “Iya dong, Papahnya…”
***
Disekolah…
Jam olahraga sudah dimulai, aku sudah berganti pakaian dari seragam putih abu menjadi seragam olahraga. Tidak lama, Pak guru olahraga memasuki kelas sebentar, mengabsensi dan memberitahukan materi yang akan diajarkan sekarang. Kebetulan materi hari ini adalah olahraga basket.
Disaat kami disuruh mau kelapangan, Pak Guru menyuruhku untuk mengambil bola basket diatap sekolah. Aku sedikit heran, bukankah peralatan olahraga biasanya ada di gudang tapi kenapa diatas? Tetapi aku tidak bertanya lebih lanjut, aku langsung bergegas kelantai teratas.
Atap sekolah biasanya terkunci bagi murid-murid, para guru melarang kami untuk pergi kesana beralaskan karena bahaya. Walaupun terdapat pagar besi yang mengeliling tinggi, sepertinya para guru tidak cukup memperbolehkan kami kesana.
Sambil membawa kunci aku berlari kelantai lima, namun ketika hendak didepan pintu atap sekolah, langkahku terhenti sebentar.
Samar-samar ada suara seseorang di atap sana, suaranya sedikit gaduh seperti ada sebuah benda yang jatuh berulang-ulang. ‘Mungkinkah, ada seseorang diatap?’ gumamku pelan.
Tanpa berpikir lagi, aku membuka pintu untuk melihatnya, sampai lupa kalau seharusnya pintu itu terkunci. Dan benar saja, ada wanita yang bermain basket, bajunya berseragam olahraga.
“Oh, itu kau Raka, kupikir ada guru yang kesini?” Rena tanpa peduli aku yang datang, masih mendribble bola basket, hanya sekali menatap wajahku.
“Aku kesini mau mengambil bola yang kau pakai, bola basket di lapang masih kurang.”
Perkataanku tidak dihiraukan olehnya, membuatku menatapnya dengan sebal. Ia malah asik mendribble bola basket sendirian, seolah kedatanganku hanya angin lalu.
“Hei, aku bicara padamu, Rena?”
Rena menghentikan bolanya di tangan, menatapku kembali. “Kau boleh ambil bola ini, dengan syarat kau bisa merebutnya dariku.”
“Tidak ada waktu! Pak guru bisa lama menungguku, dan sebaiknya kau cepat memberikan bola itu?”
Perkataanku memang sedikit dingin padanya, entahlah, kenapa aku sedikit emosi ketika berhadapan dengan dia.
“Kalau begitu sebaiknya kau cepat rebut dariku, karena aku tidak akan memberikan bola ini secara gratis padamu.”
Mendengar perkataanya membuatku kesal, dia benar-benar mempermainkanku! Aku menghela napas pendek, sepertinya tidak ada cara lain selain mengikuti permainannya.
Aku berdiri berhadapan dengan Rena, bersiap-siap.
Deru angin berhembus meniup rambutku, juga rambut Rena dengan indah, wajah dia yang manis tersenyum padaku. Jika itu orang lain, mungkin mereka akan jatuh hati padanya, tetapi bagiku, itu tidak lebih dari senyuman yang meremehkan.
Rena mulai memantulkan bolanya, aku bersiap merebut bola ketika ada celah kesempatan. Aku tidak terlalu terkejut kalau dia bisa basket mengingat dia juga jago bela diri. Rena bergerak gesit melewatiku.
__ADS_1
Satu kali, dua kali, lagi-lagi Rena terus melabuhiku dengan teknik basketnya, aku meneguk ludah, tidak menyangka tanganku yang hampir bersentuhan dengan bola tidak bisa mengenainya.
Rena mengambil jarak denganku sebentar, bolanya dipantul-pantul di tangan. “Hanya segini kemampuan, heh?”
Aku menghembuskan napas sesaat, mencoba agar lebih tenang kembali. Tubuhku sudah mulai memanas, sepertinya aku sudah terbawa suasana dengan duel ini.
Aku berjalan agar lebih dekat dengannya lagi, baru saja beberapa melangkah, kaki kananku terpeleset menginjak genangan air yang mengendap.
Akibatnya aku jatuh menubruk Rena, dia yang ada didepanku tidak menyangka aku akan terpeleset seperti ini, alhasil tubuhnya ikut terjatuh dibawahku.
Aku mengaduh kesakitan, namun tidak beberapa lama menyadari keadaan posisi kami. Masalahnya selain aku menubruk tubuh Rena, tanganku entah kenapa nyasar menyentuh yang terlarang.
Tanpa sengaja, aku menyentuh dada Rena.
Secepat mungkin aku bangkit dan mendur. Sepertinya aku berbuat kesalahan yang amat besar. Lihatlah, wajah Rena sudah seperti kepiting rebus, ia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Aku meneguk ludah. “Maap Ren, a-aku...”
Rena bangkit dengan wajahnya sudah merah padam, aku bisa merasakan dia sangat marah. “Dasar laki-laki biadab!”
Saat aku membuka mulut untuk meminta maap lagi, Rena sudah memberikan serangan padaku dengan tendangannya.
Walaupun hanya beberapa saat aku bisa menghindari serangannya itu. Reza benar, tendangan kaki Rena sangatlah cepat, jika saja aku tidak reflek menghindar, mungkin serangannya bakal telak mengenai tubuhku.
Aku menahan nafas sambil mundur beberapa langkah. Aku bisa merasakan semua kebencian dia padaku, amarahnya sudah berada diubun-ubun.
“Ren, aku benar-benar tidak senga~”
“Diam! Aku patahkan tanganmu, maka semua ini selesai.”
“Hei, aku tadi hanya kepeleset! Serius, aku benar-benar tidak berniat seperti itu. Tadi cuma kecelakan...” Aku menangkup kedua tangan, meminta maap dengan sungguh-sungguh.
“Aku percaya hal itu.” Kata Rena, membuat bibirku mengembang senyum sesaat. “Tetapi... Tanganmu sudah menyentuhku, semua persoalan ini selesai jikalau tanganmu sudah patah.”
Aku meneguk ludah, tertegun! Ini benar-benar gawat! Jika saja kecelakaan ini pada wanita lain, mungkin paling menyakitkan ia hanya menamparku saja. Namun dihadapanku kini adalah seorang wanita yang jago bela diri, mematahkan tangan tidak sulit baginya.
Tidak menunggu aku berpikir walau hanya sebentar, Rena kembali menyerangku dengan teknik tendanganya.
Aku menghindarinya dengan cepat sambil bergerak mundur. Seiring berjalannya waktu, wajah dia berubah menjadi keterkejutan. Aku tahu, reaksi tersebut yang tak lain karena serangannya yang beberapa kali aku hindari.
Rena mendengus, dia yang awalnya mengarahkan serangannya pada wajahku mengubah kearah perut. Aku terkejut, segara bereaksi menangkap kakinya.
Saat kupikir dia sudah terkunci ternyata aku keliru menilainya. Rena tanpa aku duga berputar dia udara, mengayunkan kakinya yang satu lagi pada kepalaku.
Untungnya aku masih sempat merespon, tanganku yang menangkap kaki dia segera dilepas, fokus menghindari serangan kakinya yang sudah kearah kepalaku dengan mematikan.
Wajah Rena terkejut ketika aku menghindarinya dengan telak, ia langsung berbaling kebelakang menjaga jarak sebentar, menatapku penuh ketakjuban.
“Kau… bagaimana bisa…”
Aku tidak lansung menjawab, mengatur napasku sebentar. Aku harus kembali tenang.
“Kau bisa bela diri?” Rena membuka mulutnya tidak percaya.
Alasan Rena langsung bertanya seperti itu karena serangan tadi adalah hal yang sulit dihindari. Jika itu orang awam atau orang yang tidak mengerti bela diri, mungkin ia sudah kena serangannya dan terjatuh pingsan.
__ADS_1
Aku bisa menghindarinya dengan teknik bela diriku, jadi alasan itulah kenapa Rena langsung bertanya demikian.
Aku tersenyum lebar, jantungku berdebar cepat merasakan aura pertarungan. “Kau, bukan satu-satunya yang bisa bela diri disini.”