Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 13– Tidak Tersampaikan


__ADS_3

“Aiyo, Kau sudah sembuh kawan?" Reza menepuk pundakku setelah kami berpapasan di parkiran.


Aku mengangguk. Adalah tiga hari aku tidak sekolah karena sakit, dan baru benar-benar sembuh saat bangun pagi tadi.


“Itu bagus, setidaknya aku tidak harus berduaan lagi dengan si Zildan” Reza membungkuk sebentar, memperbaiki tali sepatunya. “Kau tau Raka, selama kau sakit maka selama itu juga kami selalu berduaan ke mana-mana, entah apa yang di pikiran mereka sampai-sampai mereka menyebut kami pacaran. Hei, akalku masih sehat...” Reza bersungut-sungut menceritakannya, tidak terima.


Aku tertawa. Reza, Zildan, dan aku memang selalu bertiga ketika di sekolah, sahabat sepermainan sejak kecil, jadi tidak aneh jika kami selalu bertiga kemana-mana.


Pagi hari sebelum lonceng berdering, satu persatu semua murid berdatangan ke sekolah, berlarian ke sana kemari, bergegas menaiki anak tangga menuju kelasnya masing-masing.


Seperti biasa, karena musim hujan baru tiba, maka pagi ini langit terlihat mendung tertutupi kepulan awan besar. Cahaya mentari pagi tidak dapat menerobos masuk menyinari dataran bumi, ia sudah terhalang oleh awan-awan yang menghitam.


Kami berlarian menaiki anak tangga diikuti ratusan murid lainya, jam tujuh kurang seperempat, itu sudah cukup untuk semua murid bergegas ke kelas.


Tiba di ruangan kelas, terdapat dari sebagian murid telah masuk di sana. Zildan yang bangkunya tepat di sampingku ia tengah duduk menidurkan kepalanya di meja.


“Zil, lihat siapa yang datang ke sekolah?” Reza menyikut pundak Zildan yang membuat ia terbangun dan mendongak.


Senyuman langsung terukir di wajahnya saat melihatku “Kau sudah sembuh?”


Aku mengangguk “Sudah agak mendingan.”


“Nah... Itu adalah berita bagus, setidaknya aku tidak harus berduaan lagi dengan si Reza” Zildan mendengus, dia mungkin merasakan hal yang sama dengan Reza.


Aku tertawa. “Ada kejadian apa saja selama tiga hari ketika tidak sekolah?”


Zildan menggelengkan kepalanya “Tidak ada, cuma hari-hari seperti biasa, mendengarkan pelajaran yang membosankan”.


Reza menyikut hendak protes “Itu menurutmu tuan jenius, di telinga kami mendengarkan pelajaran sangatlah penting”.


Yang mendengarnya hanya mengangkat bahu, tidak peduli.


“Sepertinya Bu Lisa sekarang masuk?" Itu seruan murid kelas kami, ia tengah asik membicarakan Bu Lisa.


Setelah menyimpan tas dan duduk dikursi, aku mendongak ketika mendengar nama istriku terpanggil.


“Rifki teman kita katanya mau mengungkapkan perasaan pada Bu Lisa." Reza yang seakan tahu mimik wajah heranku langsung menjelaskan.


“Cinta?” tanyaku.


“Iya, emang apa lagi. Sebenarnya dia berencana mengungkapkan perasaan dua hari lalu, tapi apalah daya, Bu Lisa malah tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut, persis tepat kau tidak masuk Raka."


Aku menggaruk kepala, tentu saja dia tidak masuk, bagaimana dia datang ke sekolah ketika suaminya sakit, tapi sayangnya mereka tidak tahu hal itu, bahwa sebenarnya Bu Lisa sudah menikah.

__ADS_1


Baru kami berbincang, suara bel terdengar menyelusuri semua lorong, semua murid bergegas cepat masuk ke dalam kelas, duduk rapih, bersiap untuk pelajaran di mulai.


Gerimis rintik-rintik berjatuhan di langit membasuhi genting sekolah, dedaunan, dan hewan. Kabut-kabut tipis perlahan menghilang di kawasan kota, sehingga terlihatlah kesibukan kota yang ramai.


Empat jam kemudian, jam istirahat berdering kencang. Semua guru mau tidak mau menyudahi pelajaran mereka, ia menutup buku lantas pergi ke luar kelas.


Para murid bersorak senang, lantas mereka memasuki peralatan tulisannya ke tas dan berlarian keluar, tepat menuju kantin.


“Ayo cepat kawan, sebelum kantinnya penuh” Zildan berseru buru-buru mengemasi alat tulisnya.


Aku mengeluarkan kotak bekal dan menunjukannya pada Zildan “Untuk hari ini, aku membawa bekal Zil”


Reza yang baru menghampiri langsung mengernyitkan dahinya ketika melihat kotak bekal yang aku bawa “Sejak kapan kau bawa bekal, heh? Sudah ada orang yang membuatmu sarapan kah?” Reza tertawa sendiri, entah bagian mana yang lucu dari perkataanya.


“Buat hari ini, besok aku tidak bawa bekal lagi."


Reza dan Zildan saling bertatapan, mereka tidak punya banyak waktu lagi. Segera keduanya meninggalkanku dikelas dan pergi ke kantin.


Aku menatap kedua kawanku hilang dari balik pintu, lantas membuka kotak bekal, ini adalah masakan buatan dari Bu Lisa. Tadi pagi pas mau berangkat, istriku ternyata sudah membuatkan bekal untukku.


Tentu aku menolak awalnya, tapi karena melihat ia sudah bersusah payah membuatkannya, aku hanya bisa mengalah dan menerima bekal tersebut.


“Sedikit sekali bekalmu Del? Terus sayur semua lagi, kamu tidak salah membawa bekal, kan?” Airin bertanya disaat mereka makan bersama di kelas.


Walau kebanyakan murid pergi keluar, ada beberapa dari mereka yang tetap tinggal dikelas saat waktu istirahat sedang berlangsung, dan itu termasuk si kembar dan Della.


“Suka-suka aku lahh, mau aku diet atau enggak. Bukan urusan kalian!?" Della melotot pada kedua temannya yang kembar.


“Emang kenapa Della diet, Kak?”


Arin menahan tawa, ia melihat Della sekilas lalu berbisik kembali pada Airin. “Kemarin kata Reza saat bertengkar, dia ngatain bahwa Della itu gendut dan buncit, itulah alasan kenapa dia harus diet sekarang”.


“Enak saja!” Della memotong, tidak terima. Walau sebenarnya wajahnya sudah bersemu merah. “Aku hanya mencoba diet bukan karena ucapan orang itu!"


Sontak Arin dan Airin tertawa, mereka sudah menduga kalau Della akan marah. Sedangkan yang di tertawakan hanya mendengus sebal dengan rona merah di wajahnya.


“Hei Raka, kau sudah sehat?” Arin yang telah meredakan tawanya berteriak saat melihatku di sudut ruangan.


Aku mengangguk, melahap suapan bekal.


“Kau masih ingatkan jadwal ekskul kita lepas sekolah?” Tanyanya lagi.


“Iya” ucapku pendek.

__ADS_1


“Kau nanti jangan lupa bawa temanmu itu, Si Reza. Aku mau bilang kalau ada orang yang mogok makan gara-gara dia” Arin tertawa, sengaja dia berkata seperti itu agar bisa menggoda temannya.


Aku hanya mengangguk, tidak menjawab. Kenapa aku harus di bawa-bawa dengan obrolan mereka.


***


Semua murid di kelas diam, hanya menyisakan suara pulpen yang bersentuhan dengan buku. Memang biasanya saat pelajaran Bu Lisa, murid-murid tak akan berani membuka suara, takut di marahi, namun kali ini suasananya beda.


Semua orang di kelas telah mengetahui rencana Rifki bahwa dia akan menyampaikan perasaanya ketika jam pelajaran Bu Lisa sedang di mulai, namun sudah satu jam berlalu Rifki tidak ada tanda-tanda membuka suara.


Teman sekelas saling menyikut dengan wajah bertanya-bertanya. ‘Hei, jadi kagak nembaknya?' Lalu yang lainya menatap Rifki memberikan kode ‘kapan mulainya, Hei?’


Ini seperti keberisikan tanpa suara, murid-murid celingukan ke sana-sini, ingin mengetahui kapan rencana Rifki akan di mulai.


“Ada apa ini, kenapa kalian bisik-bisik ke belakang?” Ucap Bu Lisa menatap kami semua.


Aku menepuk jidat, Bu Lisa sudah menyadari ke anehan para murid, dia langsung bertanya dengan aura intimidasinya.


“Mm... anu Bu, Itu... Katanya Rifki mau berbicara sama ibu” ucap salah satu murid yang memberanikan diri.


Bu Lisa menaikan alisnya, lantas ia berdiri dari kursi “Rifki? Apakah itu benar?"


Semua murid hening, jantung mereka berdetak kencang, menunggu Rifki berbicara.


Aku disisi lain juga tegang. Entah kenapa Rifki begitu sangat berani menyampaikan perasaanya di depan semua orang, selain itu yang menjadi target adalah gurunya sendiri.


Aku tidak keberatan saat Rifki akan menembak Bu Lisa, itu tidak membuatku sebal atau marah padanya. Toh, yang suka juga cuma rifki sendiri bukan Bu Lisa, lagian mana mungkin Bu Lisa akan menerimanya, diakan sudah punya suami dan itu adalah aku.


Semua orang sekelas hening, menelan ludah masing-masing, tegang sekali kondisinya tapi tetap seru untuk di tonton.


Rifki berdiri, wajahnya terlihat ragu-ragu mau berbicara “Anu bu.. saya mau..”


“Iya Rifki mau apa?”


“Itu Bu anu...” Dia bahkan tidak berani menatap ke depan.


“Anu apa Rifki yang jelas, kita tidak bisa menunggumu berbicara sampai jam pelajaran habis” Bu Lisa berkata dengan nada sedikit kesal, sudah lima menit lamanya Rifki diam dan hanya bekata “anu.. itu.. anu.. itu..” terus saja seperti itu.


“Eh, enggak jadi deh, Bu.” Rifki menyeringai, duduk kembali di bangkunya.


Bu Lisa menghela nafas panjang “Lain kali kalau gak mau di katakan, jangan di paksakan” tegurnya.


Setelah itu semua murid menatap tajam pada Rifki, tidak terima dengan hasil yang mudah di belokan, mereka sudah jauh-jauh hari ingin melihat kejadian ini. Rifki memang sudah membulatkan tekadnya waktu itu untuk menembak, namun melihatnya gagal begitu saja, membuat murid seisi kelas jadi sebal, awas saja kau kalau selepas pulang!

__ADS_1


***Jangan lupa like dan vote.. Hei, coba coment kekurangannya, kalau bisa..


Terimkasih***...


__ADS_2