
Di pagi-pagi sekali, seperti biasa pandangan pertamaku akan selalu tertuju pada Bu Lisa yang tengah tidur disamping tubuhku. Mata dia terpejam damai, napasnya teratur halus, dia teramat lelap dalam tidurnya.
Kuelus bagian pipinya dan sesekali membenarkan anak rambut dia yang jatuh kewajah. Tindakan demikian membuat ia terusik hingga akhirnya matanya terbuka.
“Mmhh... Mas sudah bangun?” Bu Lisa berkata dengan nada serak sambil mengucek mata.
“Sudah dari 10 menit yang lalu.” Aku memperbaiki anak rambutnya dan mengaitkan ke telinganya. “Malam ini kamu nyenyak banget, Dek, tidurnya?”
Bu Lisa mengangguk, senyuman manis langsung tercipta dari bibirnya. Bu Lisa segera menempelkan wajah pada dadaku, meringkuk. Tangannya melingkar memelukku.
“Pagi-pagi sudah pengen dimanja sama suami, hm?” Aku terkekeh pelan.
“Adek cuma sedikit kedinginan.” Bohongnya.
“Bilang aja ingin dielus. Iyakan?” Kucolek hidungnya dengan gemas.
Bu Lisa tersenyum sebagai jawabannya, mengartikan bahwa hal itu benar.
Akhirnya aku mulai mengelus pucuk kepalanya dengan lembut penuh kasih sayang. Walau kami sudah bangun semenjak beberapa menit yang lalu, tetapi kami belum beranjak dari kasur hingga setengah jam lamanya.
Setelah merasa puas dielus, Bu Lisa mengubah posisinya menjadi duduk diranjang. Aku sedikit membantunya karena dia terlihat kesusahan mengingat perutnya yang besar.
“Bunda, ininya belum?” Aku menunjuk pipi. Seperti pagi yang biasanya, aku selalu menagih kecupan pada istriku.
Bu Lisa mencium pipiku sekilas yang segera aku balas kecupan dikening. Pipinya merona akibat ciuman itu. Aku tersenyum lembut. Sesering apapun aku mengulangnya, wajah Bu Lisa selalu saja merona malu.
“Kenapa sih, merona mulu kalau dicium?” Aku mencubit pipinya pelan. Gemas sekali melihat wajahnya yang imut.
Alih-alih menjawab, ia malah kembali mendekapkan wajahnya, sengaja agar pipinya yang memerah tidak terlihat olehku.
“Manja banget sih, istriku ini. Mau aku manjain dulu sebelum mandi, hm?”
Bu Lisa melirikku sesaat sebelum kembali menunduk, ia mengangguk malu-malu.
“Tidak usah malu, Dek. Kalau kamu mau dimanjain, bilang aja. Mas lebih seneng liat kamu seperti ini.” Aku merengkuh tubuhnya, memeluk kembali.
“Adek sayang sama Mas Raka.” cicitnya dalam pelukan.
Aku terkekeh, mulai mengelus kepalanya. Jika boleh jujur, aku sangat senang kalau Bu Lisa bersikap seperti ini, ketika sifatnya manjanya muncul. Asal kalian tahu saja, Bu Lisa tidak akan bersikap hal tersebut kepada yang lain, tidak ada orang yang tau kecuali aku dan orang tuanya.
Setengah jam berlalu lagi, akhirnya aku terpaksa melepaskan pelukan pada Bu Lisa. Bukan karena aku tidak menginginkannya tetapi waktu semakin siang sedangkan aku harus bergegas pergi ke sekolah.
__ADS_1
“Maap Bunda, Mas harus mandi dulu...” Dengan berat hati aku berhenti mengelus pucuk kepalanya, melepas pelukan.
Bu Lisa mengangguk mengerti. “Adek siapin tehnya ya Mas, buat kamu?”
“Iya, terimakasih.”
Aku mencium pipinya singkat sebelum beranjak dari ranjang. Saat aku selesai mandi dan berseragam, itu bertepatan dengan Bu Lisa yang baru saja masuk ke kamar dengan di tangannya ada segelas teh hangat.
Pandanganku dan Bu Lisa bertemu, dan entah kenapa kami saling bertatap mata cukup lama, tatapan yang persis ketika awal seseorang jatuh cinta. Aku berinisiatif menghampirinya dan langsung mencium bibirnya.
“Aku selalu menyayangimu, Kalisa.”
“Begitu juga denganku, Mas. Adek sayang kamu.”
Kami saling berpelukan kesekian kalinya. Rasanya dunia ini seperti milik kami berdua, penuh dengan kebahagian dan senyuman.
***
Disekolah, suara bel istirahat akhirnya berbunyi setelah sekian jam kami menunggu. Aku dan murid lainya langsung bergegas keluar kelas, kemana lagi kalau bukan ke kantin.
Aku, Reza, dan Zildan kebetulan mendapatkan meja kantin hanya saja meja itu telah diisi oleh Della dan si kembar. Mau tak mau kami harus semeja, karena meja yang lain sudah terisi penuh.
“Hoho.. kebetulan bertemu ternyata, untuk Della dan Reza.” Arin tertawa menyapa, melirik Reza dan Della secara bergantian.
Hubungan mereka tentu saja bakal dipertanyakan dilingkungan kelas kami. Bukankah awalan masuk mereka selalu bertengkar? Bukankah keduanya saling benci? Lantas kenapa sekarang mereka berbaikan, saling membantu, bahkan rasanya seperti ada benih cinta dari keduanya.
Aku, Zildan dan Si kembar mungkin bisa memaklumi hubungan mereka berdua yang berubah drastis, namun bagaimana dengan seisi kelas? Murid lainya? Hubungan mereka akan disadari cepat atau lambat oleh murid lain, membuat keduanya selalu di goda, menjadi candaan, bahkan hubungan keduanya punya sebutan khusus dari murid-murid, yaitu ‘Benih Benci Yang Tumbuh Jadi Cinta’.
Reza melotot, “Diam Arin, kau jangan sampai seperti murid yang lainya! ”
Yang di pelototi justru tertawa kecil, mengangkat bahu. “Kenapa kau marah? Akukan cuma menyapa saja, betulkan Dek?” Arin melirik adiknya, yang segera di angguki Airin.
Aku hanya bisa mengulum senyum, mengamati keduanya.
Reza malas berdebat dengan Arin, dia tahu, karena ujung-ujungnya dia akan digoda mengenai hubungannya dengan Della, sehingga ia langsung berdiri, beranjak memesan bakso.
Beberapa menit berlalu, si mamang bakso datang dengan ditangannya ada empat mangkuk bakso yang mengepul panas. Aku berdiri, menerima mangkuk itu, begitu juga dengan Reza, Zildan, dan Della.
“Eh? Kau tidak pesan bakso, Rin?” Aku bertanya pada Arin, tetapi kedua kembar itu malah menoleh bersamaan.
“Aku bawa bekal.” Arin menggeleng, memperlihatkan bekal dari tasnya, begitu juga dengan Airin.
__ADS_1
“Jika kau bawa bekal, kenapa harus ke kantin. Bukankah lebih baik di kelas?”
“Seharusnya begitu. Tapi Della tidak membawa bekal hari ini, dia juga nyuruh kami menemaninya di kantin. Karena itulah aku disini.”
Aku mengangguk mengerti. Melirik Della sebentar, mulai menyantap bakso.
“Ahh~ Pedas.” Dari samping, samar-samar Della mendesah kepedesan. Dugaanku, sepertinya dia terlalu banyak menyendokan sambal pada mangkuknya.
“Kau mau mimun?” Reza segera menawari dengan memberikan botol air minum.
“Terima kasih.”
Tangan Della begitu cepat mengambil air minumnya, tidak mempermasalahkan air tersebut adalah bekas dari Reza. (Maksudku ciuman tidak langsung).
“Jika terlalu pedas, kau bisa tukar dengan baksoku. Aku belum mencicipinya sama sekali?” Melihat Della yang enggan memakan baksonya lebih lanjut, Reza mencoba menawarkan.
“Sungguh? Tapi maap, maksudku... tidak terimakasih.” Sebenarnya Della ingin menukar mangkuk bakso tersebut, namun dirinya terlalu sungkan dan malu sehingga ia menggelengkan kepala.
“Tidak apa, aku malah ingin bakso itu, aku suka yang pedas-pedas.”
Della yang sebenarnya mau tapi malu, akhirnya menurut setelah Reza sedikit merujuknya, mereka menukarkan mangkuknya seperti pasangan kekasih.
“Ini air minumku, jika kamu mau, tinggal ambil saja.” Karena air minum Reza habis gara-gara dirinya, Della mengambil air minum lagi yang sebelumnya baru ketemu ditasnya.
Pandangan Reza bertemu dan saling mengunci dengan tatapan Della, hingga membuat pipi Della memerah lalu menunduk malu-malu.
Aku, Zildan dan Si Kembar saling tatap menyaksikan adegan tersebut. Bukankah dengan ini sudah jelas bahwa hubungan keduanya memang saling mencintai.
“Mereka berdua sepertinya lupa keberadaan kita disini.” Arin mendengus sebal. Berbisik pelan padaku dan Zildan. “Hei! Bukankah kita tidak beda jauh dengan obat nyamuk.”
Aku tertawa kecil melihat wajah Arin yang berlipat sebal. Zildan mengulum senyum. Sedangkan adiknya menggelengkan kepala, merasa heran dengan sikap kakaknya.
Tapi, biarkan kedua temanku itu seperti itu, setidaknya mereka tidak berisik ketika bertemu, tidak seperti dulu yang selalu bertengkar. Hei, bukankah lebih bagus mereka berdua rukun.
Dari hubungan Della dan Reza, yang paling jelas dari keduanya adalah bahwa mereka sekarang tidak berpacaran. Aku yakin dengan hal ini, cukup yakin malah.
Kedua temanku itu hanyalah saling mengetahui hati masing-masing, saling jatuh hati. Sehingga dengan begitu jelaslah hubungan keduanya, tidak perlu harus memakai status apapun, cukup saling mengerti saja, maka lengkaplah hakikat cinta seutuhnya.
__ADS_1
**Malam semua**...