
Kata para pelayan yang sudah kembali dari lantai atas semuanya serempak menggeleng, mengatakan bahwa Nona Lisa tidak menyahut, atau yang dalam artian lain istriku sudah tertidur.
Aku mengangguk mengerti, lalu menyuruh mereka untuk kembali pada perkejaannya masing-masing. Di sopa tengah rumahpun sebenarnya ketika menonton televisi tidak ada acara yang seru, aku hanya diam di sana setengah jam sebelum mematikan TV dan pergi ke kamar.
Istriku Kalisa, dia masih tertidur lelap, matanya terpejam sunyi, nafasnya teratur, dan wajahnya sangat damai. Kucium kening dan bibirnya singkat, menarik selimut agar menghangatkannya, sebelum akhirnya aku tidur disampingnya.
***
“Wahh, ini Raka ya? sudah lama tidak ketemu, Kamu udah besar, Nak.” Salah satu ibu-ibu berucap antusias, melirikku dari atas ke bawah.
“Iya Bu betul, gak kerasa sudah remaja sekarang. Waduh makin tampan aja. Aduhh... pengen gak jadi menantu ibu?” Ibu lainya menimpali, entah perkataanya serius atau cuma guraun.
“Hush, lebih baik jadi menantu ibu aja, anak saya udah lama lajangnya… kesihan.” Ibu ketiga tersenyum penuh arti, matanya memandangku dengan dalam.
Tiga ibu-ibu itu sangat bersemangat mengerumuniku, entah itu memuji-memuji atau bertanya-tanya kenapa diriku tidak kelihatan selama 9 bulan ini.
Sebelum itu, aku dan istriku di pagi tadi sudah berencana untuk berjalan-jalan di sekitar area rumahku. Kata istriku ia ingin melihat-lihat pemandangan.
Namun baru saja kami berjalan beberapa meter, sekumpulan ibu-ibu sudah mengerumuni kami, membuat langkahku dan Bu Lisa terhenti, mau tak mau kami harus meladeni semuanya walau dalam hati enggan.
“Wahh, gadis ini siapa Nak Raka, saudara kamu ya? cantik banget.” Salah satu ibu-ibu menoleh ke arah Bu Lisa.
Penampilan Bu Lisa yang tidak memakai baju dinas guru, ia akan seperti gadis remaja seusiaku, di tambah lagi pakaiannya yang sekarang berupa kaos simpel dan rok selutut, membuat kesan remajanya bertambah.
Sebelum aku menyergah perkataan ibu-ibu itu Bu Lisa berkata lebih dulu dengan tajam. “Saya istrinya…”
Ibu-ibu seketika terdiam, mulut mereka seperti tersumpal. Apa yang tadi di katakan Bu Lisa, “Istrinya…”, itu sesuatu yang cukup yang membuat mereka terdiam seribu Bahasa.
Ibu-ibu itu serempak seperti teringat sesuatu.
“Aduhh, aku lupa disuruh suamiku untuk belanja tadi...” Lalu ibu lainya lagi berkata. “Aiyo, aku juga sama, aku tadi tengah masak, aku harus cepat-cepat nanti bisa gosong lagi.” Lalu ibu-ibu ketiga berseru. “Jemuranku… jemuranku…” Padahal saat itu langit tengah cerah.
Dengan waktu yang singkat mereka hilang dan membubarkan diri. Sebenarnya ketiga ibu-ibu itu tahu aku sudah menikah, tapi mereka tidak tahu bahwa yang disampingku sekarang adalah istriku sendiri.
Jika kondisinya memungkinkan mungkin aku sudah ketawa melihat ibu-ibu itu, tetapi alihan perhatianku tidak kesana melainkan pada Bu Lisa yang wajahnya terlihat sebal.
“Ayo, Mas, kita pulang!” Bu Lisa berkata cepat, wajahnya seperti sedang menahan kekesalan.
__ADS_1
“Loh, bukannya kamu mau berkeliling. Inikan baru beberapa langkah kita pergi masa sudah pulang lagi.” Aku menyejali langkah Bu Lisa, mencoba melangkah di sampingnya.
“Adek sudah gak mod lagi, Adek cape!” katanya sedikit ketus.
Sampainya di rumah, Ibuku merasa bingung atas kepulangan kami yang singkat, pasalnya kami tadi sudah minta izin padanya akan pulang telat. “Loh, kenapa kalian sudah balik, katanya mau jalan-jalan?”
“Enggak jadi, Mah, Lisa sakit kaki.” Jawabnya singkat sambil mencium tangan ibuku. Setelah itu Bu Lisa pergi ke lantai atas, meninggalkanku dan Ibuku di lantai bawah.
“Kenapa istri kamu, kok wajahnya seperti kesal begitu?” Ibu bertanya, memandang tubuh Kalisa yang telah hilang di balik belokan tangga.
“Eh, Mamah sadar juga ya, kupikir Raka aja yang merasa seperti itu.”
“Bukannya pas tadi pagi biasa aja kalian, romantis-romantis. Emang ada apa tadi, ada masalah?”
Aku mengaruk kepala, sebenarnya aku juga bingung. Semenjak kami mengobrol dengan ibu-ibu, istriku jadi seperti itu, wajahnya berlipat kesal.
“Itu namanya cemburu Raka, Astaga! Kenapa kamu tidak sadar dengan hal itu.” Ibuku tertawa saat aku sudah menjelaskan tentang tadi.
“Cemburu? Kenapa Lisa cemburu, Mah?” Aku bertanya polos.
Ibuku langsung tertawa, “Kau ini seperti tidak pernah jatuh cinta saja, Raka… itu berarti Kalisa cinta sama kamu.”
Aku menggaruk pipi, tetap saja itu aneh. Setelah lama bersamanya justru aku menemukan bahwa Bu Lisa itu orangnya tidak cemburuan, dia tipe orang yang berpikir, tidak mudah menyimpulkan sesuatu yang tidak jelas.
Ibu-ibu tadi jelas hanya bergurau, tidak serius ingin menikahkan anaknya padaku. Mana bisa istriku cemburu dengan hal itu.
Setelahnya aku langsung pergi ke kamar untuk menemui istriku, tetapi saat aku membuka pintu dan berjalan masuk, Kalisa tidak ada disana.
“Sayang… Kamu dimana?!” Aku berteriak sendiri di kamar, siapa tahu istriku tengah tiduran di lemari.
Tidak ada jawaban, hanya keheningan di sana. Baru ketika aku mau keluar, tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka, terlihatlah istriku melangkah dengan wajah pucat.
“Kamu kenapa, Dek?!” aku berlari mendekat dan merangkul bahunya yang terlihat lemah.
“Adek tadi muntah-muntah, Mas….” Istriku berkata lirih. “Sepertinya adek sa...”
Belum selesai dia berucap, tiba-tiba Bu Lisa berlari ke kamar mandi. Aku yang melihatnya menjadi cemas dan langsung mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
“Mas, kamu jangan kesini dulu, ini jijik...” Bu Lisa menyeka sudut bibirnya setelah ia memuntahkan cairan bening.
Aku menggeleng tegas, saat ini yang aku khawatirkan adalah konidisinya. Lihatlah, istriku beberapa kali muntah, wajahnya pucat, dan tubuhnya lemas. Aku hanya bisa mengusap punggungnya pelan, berharap rasa mual itu segera hilang. Sungguh, aku tidak tega melihat Kalisa seperti ini.
“Tunggu dulu ya, sayang, aku akan panggilkan Mamah kesini.”
Menyaksikan bagaimana istriku tidak henti-hentinya muntah akhirnya aku memilih pergi keluar kamar untuk memanggil ibuku.
Tidak sulit mencarinya karena ibuku tengah menonton televisi di tengah rumah. Setelah aku memanggilnya, ibuku langsung bergegas ke atas diikuti oleh para pelayan di belakang.
Ibuku menyuruh agar aku menunggu di luar, ia akan memeriksa kondisi Kalisa terlebih dahulu bersama para pelayan wanitanya. Satu hal yang aku belum beritahun pada kalian, Ibuku dulu adalah seorang dokter.
Perasaanku benar-benar tidak enak, rasa cemas dan khawatir bercampur aduk.
Tidak berangsur sampai setengah jam, Ibuku akhirnya membuka pintu kamar, wajahnya tidak cemas atau sebagainya, malah terlihat kebalikan, ia tersenyum.
“Kalisa, kenapa Mah?” aku segera menyerbu bertanya.
Dengan senyuman yang masih melekat ibuku menghampiriku kemudian membisikan kata-kata yang membuatku terkejut sekaligus bahagia.
“Mamah serius?” aku bertanya tidak percaya.
“Kenapa Mamah harus berbohong, itu bukan lelucon yang bagus untuk di katakan.”
Aku langsung berlari masuk kedalam kamar, para pelayan yang melihatku langsung tersenyum, sama bahagianya seperti ibu tadi.
Bu Lisa sedang duduk menyandar di ranjangnya,
wajahnya memancarkan kebahagiaan tatkala aku masuk. Tanpa basa-basi lagi aku langsung memeluknya erat, sangat erat, sampai-sampai aku tidak mau pisah darinya. Bahkan kalau bisa, aku ingin menangis saat ini.
Seperti yang kalian pikirkan. Istriku Kalisa, dia tengah hamil anakku.
......***Like dan Vote***......
__ADS_1