
2 minggu kemudian.....
pagi ini Nesa sudah bersiap untuk ke cafe menemui Shafira bersama Xavier. entah angin apa tiba-tiba saja ia memilih cuti dan menemani Nesa satu hari penuh.
"kamu beneran mau ikut? nanti memang mau ke rumah sakit tapi nanti aku bisa pulang dulu, " ucap Nesa memastikan kembali.
"aku ikut sayang, kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? kalau tidak ada yang menolong gimana? aku ikut untuk berjaga-jaga dan setelah bertemu dengan Shafira kita langsung ke rumah sakit, " jelas Xavier memberikan pengertian kepada Nesa.
"baiklah, mungkin agak sedikit lama tidak apa? aku merindukan Shafira soalnya, sudah lama tidak bertemu, "
"tidak masalah sayang, puas-puasin nanti pas ketemu Shafira, "
"hehe makasih, "
setelah mengatakan itu Nesa langsung memeluk Xavier dengan erat, Xavier pun membalas pelukan Nesa tidak kalah erat namun tetap berhati-hati dengan perut Nesa karena sudah mulai membuncit.
ya kehamilan Nesa sudah memasuki usia tiga bulan, masih rawan keguguran meski pun nanti Nesa sudah hamil besar bukan tidak rawan keguguran hanya saja harus tetap berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang membuat menyesal seumur hidup.
Nesa mengurai pelukan mereka dan mengajak Xavier untuk segera berangkat karena sudah pukul delapan pagi, mungkin saja Shafira sudah datang dan membuatnya menunggu itu sungguh tidak enak bagi Nesa.
Xavier hanya menurut saat Nesa menarik tangannya, di parkiran rumah setelah mereka masuk ke dalam mobil, Xavier langsung menjalankan mobil menuju tempat yang sudah di janjikan oleh Nesa dan Shafira.
selama. perjalanan hanya ada keheningan yang terjadi, Nesa yang fokus dengan handphonenya sedangkan Xavier yang fokus dengan jalanan yang ada di depannya. tidak membutuhkan waktu yang lama mereka pun sampai di cafe yang sudah di janjikan.
__ADS_1
jarak antara komplek perumahan dan cafe tidak begitu jauh jadi membuat mereka cepat sampai. dan seperti dugaan Nesa, Shafira sudah sampai dan menunggu sambil meminum kafein kesukaan wanita itu.
Nesa turun dari mobil di bantu Xavier dan memasuki cafe bersama-sama. mereka berdua langsung menghampiri Shafira, sesampainya di depan Shafira Nesa berpelukan sedangkan Xavier langsung duduk dan mulai fokus dengan handphone nya.
"maaf yah lama, kamu sudah lama di sini? " ucap Nesa setelah mereka duduk.
"tidak apa-apa, itu kan kebiasaan mu juga, lagi pula aku baru sampai juga, " ujar Shafira.
"bagaimana kabarmu? "
"aku baik, kamu? dan kandungan mu? "
"aku baik, kandungan ku juga baik, "
mereka berdua asik mengobrol sambil makan menu yang terpopuler di sana, Nesa mengobrol dengan Shafira tanpa memperdulikan Xavier yang sudah terlihat bosan. saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, Xavier langsung mengajak Nesa untuk bergegas ke rumah sakit.
"benarkah? oh iya, Shafira maaf aku harus pergi karena mau periksa, " ucap Nesa setelah melihat ke handphone memastikan jam.
Shafira yang paham akan rutinitas ibu hamil hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mereka bertiga bangkit dari duduk dan saling berpelukan, setelah itu mereka membayar makanan mereka masing-masing.
mereka berpisah di parkiran, Nesa dan Xavier langsung menuju rumah sakit karena hari semakin siang membuat cuaca semakin panas. tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Xavier mengemudi ke rumah sakit, sekarang. mereka sudah sampai di rumah sakit.
Xavier turun terlebih dahulu baru membukakan pintu untuk Nesa dan membantu Nesa turun, setelah itu mereka menuju resepsionis dan meminta kartu antri untuk pemeriksaan kandungan.
__ADS_1
setelah mendapatkan nya, mereka berdua langsung menuju ruang pemeriksaan dan beruntung hanya tinggal satu orang saja yang di periksa membuat mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu.
selama menunggu mereka, mengobrol ringan entah tentang kandungan Nesa, jenis kelamin, bahkan hingga membahas susu formula yang akan di berikan kepada si kecil nanti padahal masih sekitar 2 tahun lagi baru di berikan.
sekarang giliran Nesa yang masuk, mereka berdua masuk dan Nesa langsung merebahkan diri di atas tempat tidur lalu sang dokter menyiapkan alat monitor dan gel yang di oles ke perut Nesa.
setelah itu dokter menyodorkan alat di perut Nesa dan mulai terlihat janin yang ada di perut Nesa yang mulai bertumbuh kembang dengan sempurna tanpa cacat.
"dokter, apa kami sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya? " tanya Xavier yang penasaran.
"belum tuan, belum bisa jenis kelamin bisa di lihat saat usia kandungan sudah menginjak 4 bulan, eh tunggu ada yang salah! " ujar dokter membuat Xavier dan Nesa panik.
Dokter itu melihat ke arah monitor berkali-kali, sedangkan Nesa dan Xavier sangat takut jika terjadi apa-apa kepara calon anak mereka.
"ada apa dok? apa yang terjadi dengan janinku? dia baik-baik saja kan? dokter, " pertanyaan beruntun dari Nesa yang tengah panik.
sedangkan sang dokter tiba-tiba tersenyum dan kembali memperhatikan monitor dengan jelas dan sedikit memindahkan alat yang ada di atas tubuh Nesa sedikit ke kanan.
"tidak apa-apa, ternyata bayinya kembar, " ujar sang dokter santai.
"ouh ku kira apa, tunggu apa? KEMBAR? " teriak Nesa dan Xavier barengan karena terkejut.
*************
__ADS_1
halo author bawa rekomendasi lagi nih, jangan lupa mampir ya di jamin seru loh.