
Nesa tengah bersiap-siap untuk pergi ke kostan sang sahabat, tidak lupa ia menggunakan skincare-nya sebelum keluar dari rumah meski hari sudah malam skincare tetap nomor satu.
ia mengabari Shafira jika ia sudah menuju kostan-nya, Nesa berangkat naik taksi online yang sudah ia pesan, Xavier tadi sempat menawarkan untuk mengantarkan diri-nya namun Nesa menolak karena tidak enak.
selama perjalanan menuju kostan Shafira di dalam mobil hanya hening, Nesa memperhatikan jalanan yang masih dipadati oleh kendaraan roda dua maupun roda satu.
Nesa terus memperhatikan keluar jendela mobil, entah ia akhir-akhir ini sering melamun memikirkan tentang perjanjian-nya dengan sang atasan, Nesa mencoba untuk tidak jatuh hati namun apa lah daya ia hanya manusia biasa yang di beri perhatian sedikit langsung baper.
terlebih yang memperhatikan-nya sangat tampan, saking fokusnya melamun Nesa di kejutkan dengan nada dering handphone-nya yang berbunyi tanda panggilan masuk, Nesa dengan cepat mengambil handphone-nya dan melihat siapa yang menelepon-nya.
saat melihat siapa yang menelepon-nya tanpa ba-bi-bu lagi Nesa segera mengangkat panggilan itu sebelum orang yang menelepon-nya marah-marah karena lama di angkat oleh-nya.
"halo? " sapa Nesa.
"halo... kamu di mana? kenapa lama sekali sih? ;" ucap orang di sebrang telpon.
Nesa cengengesan, mungkin Shafira tidak akan melihat tapi masih mendengar cengengesan dari Nesa itu.
"maafkan aku... sebentar lagi aku sampai kok tenang saja hehe, " ucap Nesa merasa bersalah karena datang telat.
"ck... baiklah aku tunggu, " decak Shafira.
"ya sudah aku matikan bay, " ucap Nesa dan langsung mematikan sambungan telpon.
dan di pastikan jika sekarang Shafira tengah mengomel dan mengumpat untuk diri-nya. tidak lama kemudian mobil yang di tumpangi Nesa berhenti di depan gerbang kost yang di yakini kostan Shafira.
setelah membayar ongkos taksi Nesa turun dan menghampiri sahabat-nya yang sudah menunggu kedatangan-nya di depan gerbang kostan. tanpa aba-aba Nesa langsung memeluk Shafira sebelum Shafira mengomeli diri-nya.
"le-lepaskan aku... aku tidak bisa bernafas Bangsa!" ucap Shafira sedikit terbata.
Nesa yang mendengar itu segera melepaskan pelukan-nya dan menatap Shafira cengengesan sedang kan Shafira sudah menatap kesal kepada Nesa sambil mengatur nafas-nya yang belum teratur.
"hehe maafkan aku, " ucap Nesa cengengesan.
"ck... sudahlah sebaiknya kita masuk, hari mulai dingin, " ajak Shafira.
Nesa mengangguk lalu ia mengikuti Shafira masuk kedalam kost dan jangan lupakan Nesa ke kostan Shafira menggunakan hoodie dan juga celana panjang makanya ia tidak begitu merasakan kedinginan.
setelah sampai di dalam kostan Shafira yang tidak begitu besar sama seperti kostan-nya yang lama Nesa duduk lesehan di bawah dekat kasur busa milik Shafira sedang kan Shafira membuat kan teh hangat untuk mereka berdua.
setelah selesai membuat dua cangkir teh hangat Shafira bergabung duduk di hadapan Nesa yang tengah bermain handphone-nya. Nesa yang menyadari kedatangan Shafira segera ia menaruh handphone-nya dan meminum teh hangat buatan sangat sahabat.
__ADS_1
"jadi... apa kamu bisa jelaskan? " tanya Shafira yang sudah teramat penasaran.
"baiklah akan aku cerita kan... tapi ku mohon ini hanya rahasia kita saja, " ucap Nesa memohon.
"baiklah percaya kan saja sahabat mu ini, " ucap Shafira.
"dan ketika aku sedang cerita jangan kamu selalu oke? " ucap Nesa lagi yang langsung mendapatkan anggukan dari Shafira.
"jadi...
flashback on
"mari kita buat kesepakatan, " ujar Xavier tiba-tiba.
hal itu membuat Nesa benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran atasan. tidak mendapat jawaban dari Nesa. Xavier menghela nafas dan menatap Nesa tepat di manik mata Nesa.
"maksud bapak apa sih? " ucap Nesa yang hampir menangis.
"maafkan saya jika kamu harus andil dalam masalah saya... tapi saya benar-benar membutuhkan bantuanmu. kenapa saya milih kamu? saya rasa kamu cocok dengan selera orang tua saya makan dari itu saya memilih kamu,
saya minta tolong, hanya sampai 3 bulan saja dan saya janji setelah ini semua selesai saya tidak akan mengganggu kamu lagi dan ya selama tiga bulan saya yang akan membayar kebutuhan mu. jadi tolong bantu saya, " mohon Xavier, sungguh ini benar-benar bukan Xavier.
Nesa menghela nafas, ia mencoba untuk tidak menangis, apakah ia barang seenaknya di klaim seperti itu dan akan di buang setelah di pakai.
tapi tawaran yang di berikan Xavier juga lumayan, setidaknya ia tidak kekurangan apapun selama bersama Xavier tapi... hati-nya benar-benar bimbang.
ia melamun memikirkan menerima atau menolak tawaran dari sang bos, Xavier menatap Nesa harap-harap semoga saja ia tidak di tolak. karna di tolak itu sakit.
"hanya tiga bulan setelah itu kamu bebas, " ucap Xavier lagi membuat lamunan Nesa buyar.
Nesa menatap Xavier ragu, tapi ada untungnya juga jika ia menerima lalu bagaimana dengan mantan kekasih-nya? ah tidak masih kekasihnya namun sebentar lagi akan menjadi mantan.
"hanya tiga bulan... baiklah saya menerima tapi dengan dua syarat, " ujar Nesa setelah lama diam.
"apa? " tanpa pikir panjang Xavier bertanya.
Nesa menghela nafas kembali semoga saja ia tidak salah pilih.
"bapak mau bantu saya buat jauhin saya dari kekasih saya yang hanya bisa memoroti saya, " ucap Nesa.
Nesa menatap Xavier yang mengangguk seperti anak kecil ketika di nasehati... sungguh saat ini bos-nya sangat menggemaskan.
__ADS_1
"yang kedua jangan ada yang tahu tentang hubungan ini selain kedua orang tua anda dan sahabat saya, " lanjut Nesa.
"hanya itu? " tanya Xavier sambil mengangkat sebelah alisnya.
Nesa mengangguk meyakinkan namun masih ada keraguan di hati-nya,
"semoga saja pilihanku benar kali ini, " batin Nesa sendu.
"baiklah kalau hanya itu, tapi aku tidak janji jika nanti ada yang tahu selain kita, " ucap Xavier.
Nesa melotot horor menatap sang bos, tanpa ia sadari iaemukul lengan atasannya itu dengan cukup keras membuat Xavier mengaduh kesakitan.
"aw.. kamu apa-apan sih?! " kesal Xavier sambil mengelus bekas pukulan dari Nesa.
"ya abisnya bapak, kan syarat kedua saya jangan sampai ada yang tahu kecuali yang saya sebutin tadi, " ucap Nesa sewot.
"hey... baiklah aku tidak menyetujui syarat mu yang kedua oke? " ujar Xavier membuat Nesa semakin kesal.
dari pada semakin lama berdebat dengan Xavier dan akhirnya ia yang akan kalah. Nesa memilih diam dengan wajah yang di telur serta bibir yang mengerucut.
Xavier yang melihat tingkah Nesa seperti itu terkekeh gemas, sungguh meski menyebalkan ternyata gadis yang ada di samping-nya sungguh menggemaskan.
flashback off
"jadi seperti itu cerita-nya, " cerita Nesa panjang lebar.
Shafira yang mendengar itu benar-benar tidak percaya sungguh, ini kesialan atau keberuntungan untuk Nesa? Shafira yang mendengar kan cerita dari Nesa hanya bisa menganga tidak percaya.
"WHT... KAMU SERIUS? " teriak Shafira.
"pelan kan suara mu, nanti yang lain dengar!, " ucap Nesa kesal.
sedang kan Shafira hanya cengengesan. Nesa menghela nafas sejujurnya ia juga ragu saat menerima kesepakatan dan juga perjanjian bodoh itu namun apa daya? Xavier benar-benar memenuhi kebutuhan Nesa.
"lalu setelah perjanjian itu selesai... apa yang akan kamu lakukan? " tanya Shafira yang sudah selesai dengan terkejut-nya.
"aku...
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
halo guys... jadi visualisasi di Mr. AROGANT aku hapus karena takut gk sesuai ekspetasi kalian, jadi kalian berkhayal sendiri aja yah hehe
__ADS_1