Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Buka hadiah


__ADS_3

setelah acara selesai dan para tamu undangan sudah pulang semua, sekarang giliran keluarga Miller yang kembali ke mansion. ayah Nesa juga sudah pulang saat acara sudah selesai.


sesampainya di mansion, Xavier dan Nesa langsung menuju ke kamar begitu juga dengan kedua orang tua Xavier, sampai di kamar pun Nesa dan Xavier bergantian mengganti pakaian. Nesa belum berani berganti pakaian di hadapan Xavier meski Xavier sudah biasa saja.


setelah selesai berganti pakaian dan tinggal menunggu Xavier untuk selesai ganti, Nesa menuju ke hadiah yang sudah di taruh di kamar luas milik Xavier. ia mengambil kotak paling kecil pemberian dari Shafira.


"apa isinya? kenapa kecil sekali? " Nesa bertanya-tanya.


lalu ia membuka kotak itu pelan-pelan karena kotaknya yang kecil jadi gampang rusak, Xavier keluar dari ruang ganti pakaian dengan hanya menggunakan celana tidur sepaha dan tidak memakai atasan, itu salah stau kebiasaan Xavier jika tidur ia tidak bisa memakai pakaian.


setelah membuka Kotak itu terdapat 1 botol obat yang memang Nesa tidak ketahui apa isi obat itu karena tidak ada stiker pemberi tahuan, sedangkan Xavier yang sudah tahu hanya bisa menghela nafas saat Nesa bertanya.


"ini... obat apa ya? " tanya Nesa sambil menunjukkan obat itu kepada Xavier.


"anu itu... obat perangsang, biar aku saja yang simpan, " jawab Xavier sambil merebut obat yang di pegang oleh Nesa.


"perangsang? astaga, " ucap Nesa terkejut.


"sudah buka saja yang lainnya, " ucap Xavier mengalihkan perhatian.


lalu dengan menurut Nesa mengambil kembali kotak hadiah yang kecil namun tidak sekecil dari Shafira, kotak kedua berisi perlengkapan bayi dan kotak ke 2 serta sampai ke 4 isinya juga perlengkapan bayi sedangkan sisanya ada yang berisi untuk perlengkapan dapur.


"huh, banyak sekali perlengkapan bayinya, " ucap Nesa saat menyusun cukup banyak perlengkapan bayi.


"tidak apa-apa, ini awal yang baik... cepat atau lambat kita akan memiliki momongan juga, " ujar Xavier sambil memeluk Nesa dari belakang.

__ADS_1


"ya aku tahu, tapi... perlengkapan nya mau taruh di mana? " tanya Nesa yang kebingungan untuk menaruh perlengkapan itu.


"em taruh saja di pojokan dulu, besok aku suruh pelayan untuk menatanya, " jawab Xavier.


"baiklah, kita buka hadiah yang terakhir, " ucap Nesa sambil mengambil hadiah yang terakhir.


Nesa membuka nya secara perlahan saat setelah terbuka, sungguh Nesa merasa malu dengan apa yang ia Lihat sekarang sedangkan Xavier tersenyum miring dan membatin.


"selera mu bagus juga Daniel, "


"astaga, " ucap Nesa sambil menutup wajahnya dengan tangan.


"di pakai yah, saat malam pertama nanti, " ucap Xavier sambil menarik turunkan alisnya.


ya Xavier bilang nanti karena tidak mungkin jika ia memintanya sekarang, terlebih Nesa sedang kelelahan yang ada nanti sebelum selesai Nesa sudah jatuh pingsan karena kelelahan.


Nesa mengangguk namun tanpa aba-aba Xavier langsung menggendong Nesa dan melemparnya ke atas kasur, Xavier langsung menindih tubuh Nesa dari atas dan menatap wajah terkejut Nesa.


"aku belum siap Xavier, " ucap Nesa lirih.


"aku tahu sayang, tapi apakah kita tidak bisa menyicil? " tanya Xavier dengan suara beratnya.


"kumohon sayang, aku sangat lelah, " ucap Nesa dengan memohon.


namun bukan Xavier jika tidak memaksa sekarang saja ia sudah mulai mencumbui leher jenjang dan mulus milik Nesa, sedangkan Nesa hanya bisa pasrah di bawah kungkungan Xavier.

__ADS_1


tanpa mereka sadari kedua orang tua Xavier tengah mendengarkan mereka berdua dan langsung masuk dengan membawa guling serta bantal di tangan mereka membuat Xavier menghentikan aksinya.


"bunda ayah, apa yang kalian lakukan di kamar ku? " tanya Xavier dengan muka kesalnya.


sedangkan Nesa yang berhasil lolos menghembuskan nafas lega dan hampir tertawa saat melihat wajah kesal milik suaminya itu, tanpa memperdulikan pertanyaan Xavier bunda langsung naik ke atas ranjang dan mendorong Xavier hingga turun dari atas ranjang.


"bunda mau tidur di sini bareng Nesa, " ucap bunda tiba-tiba.


Xavier yang mendengar itu jelas tidak menyetujuinya, dan akhirnya terjadilah adu argumen antara anak dan ibu. sedangkan Nesa dan ayah hanya menjadi penonton dan mereka bertaruh siapa yang akan menang nantinya.


"bunda jangan mengganggu malam ku dengan Nesa sebaiknya ayah dan bunda keluar dari kamar ku, " ucap Xavier terang-terangan mengusir kedua orang tuanya.


"ck, kamu ini bunda tidak mau. toh kita bisa tidur ber empat di sini tidak apa kan sayang, " tanya bunda sambil mengedipkan matanya ke arah Nesa.


sedangkan Nesa yang melihat itu hanya menggeleng dan menahan tawa kala melihat wajah Xavier yang semakin memerah namun tidak ada di antara Nesa atau ayah yang ingin melerai debat anak dan ibu itu.


...PROMOSI BAB...



“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.


“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”


“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.

__ADS_1


Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.


__ADS_2