
Xavier terus memperhatikan wajah Nesa yang masih fokus dengan macaroon-nya. wajah Nesa sangat lucu ketika sedang mengunyah karena kedua pipi-nya yang menggembung membuat-nya seperti ikan buntal.
Xavier memiliki pemikiran jail untuk menjaili Nesa yang benar-benar fokus dengan makanan-nya itu. kebetulan macaroon-nya sisa satu Xavier langsung mengambil dan memakan-nya tanpa tersisa membuat Nesa menatap macaroon yang sudah di telan habis oleh Xavier dengan sedih.
"ihh kenapa kamu malah memakannya? itu tinggal satu tahu! " ucap Nesa kesal.
"apakah aku tidak boleh memakannya? kamu sungguh pelit, " ucap Xavier pura-pura tidak peduli.
Nesa tidak berbicara lagi melainkan sekarang bibir-nya sudah cemberut dan tanpa aba-aba ia menangis membuat Xavier gelagapan bingung harus apa padahal ia hanya memakan satu macaroon saja tapi bisa membuat Nesa menangis seperti ini.
"hey kenapa menangis? aku salah apa? " tanya Xavier panik.
"hiksss bunda hiks, " bukannya menjawab Nesa justru semakin kejer nangis-nya.
hal itu malah membuat Xavier benar-benar di buat bingung oleh Nesa, ia menjadi panik sendiri yang awal-nya hanya mau menjahili malah menjadi seperti ini kan jadi panik sendiri.
"ku mohon jangan menangis, apapun yang kamu mau akan aku turuti, " mohon Xavier sambil memeluk tubuh Nesa.
dan saat itu pula Nesa berhenti nangis hanya menyisakan isakan kecil yang keluar dari bibir-nya, Xavier mereka lega karena Nesa mau di bujuk. Nesa melepaskan pelukan mereka dan menatap Xavier lekat hingga Xavier salah tingkah sendiri.
"kamu menginginkan apa? cepat katakan jangan memandang ku seperti itu, " ucap Xavier tidak nyaman karena di tatap seperti itu.
"baiklah aku menginginkan es krim, dan juga belikan aku macaroon lagi, " ujar Nesa menguarkan keinginan-nya.
"huh baiklah, apakah kamu tidak kenyang saat makan macaroon yang cukup banyak tadi? bahkan aku hanya memakan-nya satu, " tanya Xavier kebingungan.
apakah memang semua wanita suka makan banyak? bahkan ia yang laki-laki saja tidak akan kuat makan segitu banyak-nya. lalu Xavier kembali menyuruh bodyguard-nya untuk membelikan pesanan Nesa sebelum gadis itu menangis lagi dan tidak mau memaafkan-nya.
__ADS_1
"baiklah aku sudah menyuruh anak buah ku membeli-nya so jangan menangis lagi ok? " ucap Xavier dan kembali duduk di samping Nesa.
Nesa langsung mengangguk dengan semangat, bahkan entah kenapa ia sedang ingin bermanja dengan Xavier... setelah Xavier duduk di samping-nya Nesa mengambil lengan Xavier untuk ia peluk dan jari-jari tangan Xavier ia mainkan.
Xavier yang melihat tingkah manja Nesa hanya bisa menggeleng dan bersyukur, karena jarang-jarang Nesa menunjukkan sikap manja-nya. Xavier membiarkan Nesa memainkan lengan-nya ia akan mengecek tentang Jessica dari Daniel.
Xavier meminta Daniel mengirimkan informasi itu lewat email, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Xavier tersenyum puas kala mengetahui jika Jessica sudah cacat di bagian punggung-nya yang biasa ia ekspos untuk memperlihatkan punggung mulus-nya.
belum lagi luka di pergelangan tangan dan kaki yang sulit untuk hilang semakin membuat Jessica terlihat mengenaskan, Nesa yang melihat Xavier tersenyum saat menatap handphone mencubit lengan Xavier dengan kencang membuat si empu mengaduh kesakitan.
"aduh, kenapa sayang? jangan mencubit ku, " tanya Xavier mencoba melepaskan cubitan maut dari Nesa.
"kenapa kamu tersenyum seperti itu? apakah ada yang lebih menarik dari aku? " tanya Nesa cemburu.
Xavier yang menyadari jika Nesa sedang cemburu memiliki ide jahil, ia mengangguk dan memanas-manasi Nesa agar semakin cemburu hanya karena handphone.
Nesa yang mendengar itu merasa kesal ia melepaskan lengan Xavier yang berada di pelukan-nya dan merampas handphone Xavier untuk melihat apa yang di lihat oleh Xavier bahkan sampai laki-laki tersenyum lebar.
"tidak ada apa-apa di sini? " ucap Nesa terus membongkar isi handphone Xavier.
"hahaha, aku hanya bercanda sayang, toh tidak ada apa-apa bukan di handphone ku? " ucap Xavier.
Xavier menggeleng untung tadi sebelum handphone-nya di ambil ia sudah menghapus email dari Daniel agar tidak di lihat oleh Nesa. Nesa mengembalikan handphone Xavier dengan malu dan bercampur kesal.
"isss kamu mah, " ucap Nesa manja.
"astaga kekasihku sedang manja rupa-nya, " ujar Xavier dan membawa Nesa kedalam pelukan-nya.
__ADS_1
Nesa hanya diam saat Xavier memeluk-nya, ia menikmati pelukan hangat Xavier dan juga harum tubuh Xavier yang menurut-nya sangat menenangkan pikiran, Xavier terus mengelus pucuk kepala Nesa dengan lembut.
sesekali laki-laki itu mencium-nya, entahlah ia lebih baik melakukan hal ini dari pada membuat mood Nesa berantakan hanya karena ia menolak permintaan Nesa, wanita memang sulit untuk di pahami itu yang Xavier rasakan.
"tuan ini pesanan anda, " ujar bodyguard itu memecahkan suasana di antara Xavier dan Nesa.
"ya taruh di atas nakas saja, " jawab Xavier tanpa melihat ke arah anak buahnya itu.
bodyguard itu menaruh pesanan di atas nakas dengan perasaan canggung, ini untuk kedua kali-nya mengganggu kemesraan Xavier dan Nesa, lalu bodyguard itu segera pergi dari hadapan tuan-nya sebelum Xavier mengamuk.
Nesa tidak melepaskan pelukan-nya ia semakin malu belum lagi kejadian beberapa jam yang lalu saat mereka berciuman dan terpergok oleh bodyguard itu dan sekarang ketika ia sedang ingin bermanja bodyguard itu kembali nongol meski tadi sempat di suruh Xavier untuk membeli pesanan Nesa tapi kan tetap malu.
Xavier tahu jika Nesa malu ia tidak mempermasalahkan jika Nesa terus memeluk-nya, ia malah senang. laki-laki itu terus mengelus pucuk kepala Nesa hingga suara dengkuran halus terdengar yang menandakan gadis itu sudah tertidur.
Xavier tersenyum lalu ia melepaskan pelukan mereka dan memposisikan Nesa dengan nyaman, lalu ia menaruh pesanan Nesa yang es krim kedalam kulkas agar tidak cair nanti-nya sedangkan macaroon-nya di biarkan saja.
Xavier ingin istirahat sebentar namun kedua orang tua-nya datang, membuat-nya mengurungkan niatnya itu, dan juga ia mengingat sesuatu kebetulan sang ayah ikut datang jadi sekalian ia bertanya.
"Nesa tidur ya? " tanya bunda yang melihat ke arah tempat tidur Nesa.
"iya baru saja, " jawab Xavier seadanya.
kedua orang tua Xavier duduk di hadapan Xavier, mereka berdua memaklumi jika Xavier tidak mau Nesa kenapa-kenapa terlebih Nesa sudah mengembalikan putra mereka yang tadi-nya tidak perduli dan dingin sekarang sudah mulai mencair.
"Ayah ada yang ingin aku tanyakan, " ujar Xavier membuka percakapan.
"tanyakan saja, " jawab Ayah Xavier tegas.
__ADS_1
"baiklah, kenapa Ayah sangat tidak menyukai Ardiansyah? " tanya Xavier merubah raut-nya menjadi serius.