Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Sebuah mimpi yang seperti nyata


__ADS_3

"XAVIER!! " teriak Nesa yang terbangun dari pingsannya dan langsung terduduk sambil terengah-engah.


bunda yang berada di luar tengah mengobrol dengan Shafira mendengar teriakan Nesa langsung masuk ke dalam ruang rawat bersama Shafira dengan panik menghampiri Nesa yang berkeringat dan terengah-engah seperti orang sehabis lari.


"ada apa sayang? kenapa kamu berteriak? " tanya bunda dengan panik dan menghapus keringat di dahi Nesa.


bunda dan Shafira benar-benar terkejut melihat Nesa yang menangis dan entah apa penyebab karena ia baru saja tersadar dari pingsannya. Shafira juga sempat terkejut dan khawatir kepada wanita itu.


"Xavier baik-baik saja kan bunda? dia tidak meninggal kan bunda? " jawab Nesa pliss hikss, " tanya Nesa kembali menangis.


bunda dan Shafira yang sadar akan pertanyaan dari Nesa tersenyum lalu tertawa, mereka pikir sepertinya Nesa mengalami mimpi buruk sedangkan Nesa yang melihat kedua wanita yang berada di hadapannya tertawa semakin di buat kebingungan.


"hahah sayang, Xavier baik-baik saja semalam kamu pingsan dan baru sadar... jika mau melihat Xavier makan sarapan mu dulu nanti bunda antar kamu ke ruang rawat Xavier, " jelas bunda terkekeh.


"bunda serius? jadi aku cuma mimpi kan? Xavier benar-benar tidak apa-apa kan? " tanya Nesa memastikannya lagi.


"iya sayang, tanya Shafira dia semalaman menunggumu bangun sudah pasti dia tahu keadaan Xavier sekarang, " jelas bunda dengan pengertian.

__ADS_1


"baiklah bunda! mungkin aku yang terlalu khawatir sampai bermimpi buruk, " ucap Nesa.


"ya sudah tidak apa-apa, sekarang makanlah sarapan mu, " jawab bunda dan memberikan semangkuk bubur kepada Nesa.


Shafira yang hanya menyimak tadi tersenyum dan menggeleng. lalu ia menemani Nesa sarapan sedangkan bunda izin untuk keluar memberi tahu Xavier jika Nesa sudah sadar dari pingsannya.


"kamu ke sini sama siapa Shafira? " tanya Nesa di sela makannya.


"sama Daniel, sudah jangan bertanya cepat habiskan agar kamu cepat bertemu dengan suamimu, " jawab Shafira dengan malu.


Nesa hanya mengangguk saja, ia melihat Shafira yang malu saat mengatakan ia datang dengan Daniel sempat bingung namun ia tidak mempedulikan itu dan memilih untuk cepat menghabiskan sarapannya dan melihat Xavier.


sesampainya di ruang rawat, Nesa melihat Xavier yang tengah mengobrol dengan ayah dan Daniel tanpa sepatah kata Nesa berlari dan langsung memeluk Xavier dengan erat, Xavier tersenyum dan membalas pelukan Nesa.


sedangkan yang lain mengerti akan situasi sekarang mereka memilih untuk keluar dan memberikan waktu untuk Xavier dan Nesa berbicara. mengingat semalam Nesa sampai pingsan pasti sangat mengkhawatirkan Xavier.


"hey, jangan menangis sayang! aku baik-baik saja hanya cidera ringan, " ujar Xavier menenangkan Nesa yang menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


"bodo kamu jahat! " sahut Nesa semakin mengeratkan pelukannya.


Xavier hanya tersenyum ia paham akan kekhawatiran Nesa. jadi ia memilih untuk diam dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya. Xavier mengelus pelan rambut Nesa hingga wanita itu berhenti menangis.


setelah berhenti menangis Nesa melepaskan pelukannya, dan sedikit menjauh dari Xavier lalu membalikkan tubuh tidak mau menghadap ke arah Xavier. sedangkan Xavier terkekeh melihat tingkah Nesa yang tengah merajuk kepadanya.


"hehe, jangan merajuk sayang! maaf aku tidak menepati janji ku! tapi sekarang aku baik-baik saja jangan marah lagi ya, " pinta Xavier membujuk Nesa dan memeluk wanita itu dari belakang.


"kamu jahat! kamu bilang akan pulang dengan selamat tapi apa? kamu bohong! asal kamu tahu aku takut kamu pergi ninggalin aku! hiks, " ucap Nesa dan tangisannya kembali pecah.


"maaf sayang! aku janji tidak akan meninggalkan mu lagi! aku janji! sudah jangan menangis lagi nanti tambah jelek, " ucap Xavier membujuk Nesa dan membalikkan wanita itu untuk menghapus air mata yang terus mengalir.


Nesa hanya mengangguk saja. lalu ia kembali memeluk Xavier dengan erat begitu juga dengan Xavier, mereka saling berpelukan Nesa yang sangat takut kehilangan Xavier dan Xavier yang merasa bersalah karena tidak mendengarkan wanita itu.


tanpa mereka sadari di balik pintu, bunda, ayah, Shafira dan Daniel menguping pembicaraan mereka berdua dan terkekeh tanpa suara. huh benar-benar kompak menguping orang yang tengah merajuk dan membujuk.


"astaga, sejak kapan Xavier menjadi seperti itu? " bisik Daniel bertanya.

__ADS_1


"entahlah, ayah juga tidak tahu sudahlah biarkan mereka berdua kita pergi makan saja! " jawab ayah sama berbisik lalu merangkul bunda dan membawa bunda pergi begitu juga dengan Daniel yang membawa Shafira untuk pergi.


__ADS_2