
"apa kamu... masih perawan? " tanya Xavier hati-hati, takut -takut jika Nesa marah dan kembali menampar-nya.
"kamu fikir? " bukannya menjawab Nesa justru balik bertanya.
Xavier mengerti akan pertanyaan Nesa, sungguh ia benar-benar tidak percaya bahkan sekarang Xavier sampai menganga mengetahui fakta jika Nesa benar-benar masih menjaga keperawanan-nya, sungguh wanita langka di zaman seperti ini.
"Are you serious?! " tanya Xavier tidak percaya.
Nesa memutar bola matanya malas, gini nih kalau ketemu laki-laki yang udah sering begituan. Nesa menghela nafas dan menatap Xavier malas sedangkan Xavier yang di tatap seperti itu hanya cengengesan tidak jelas.
"oh ya... bagaimana kamu bisa menjaga kesucian mu terlebih ini kota yang sangat bebas?" tanya Xavier, ie memiringkan tubuh-nya menghadap Nesa dan sedikit memiringkan Kepala-nya yang membuat-nya terlihat menggemaskan di mata Nesa.
Nesa memiringkan tubuh-nya menghadap Xavier dan melakukan hal yang sama seperti Xavier, sungguh rasanya Nesa ingin sekali mencubit pipi Xavier jika ia memiliki keberanian lebih. entahlah seperti-nya Nesa sudah melupakan masalah di kamar tadi.
"apa kamu benar-benar ingin tahu? " tanya Nesa sambil tersenyum.
dengan cepat Xavier mengangguk seperti anak kecil yang meminta di belikan permen, Nesa mengubah duduk-nya menjadi tegak sedangkan Xavier masih di posisi-nya dan siap untuk mendengarkan penjelasan dari Nesa.
"astaga kamu benar-benar menggemaskan, " ucap Nesa tidak tahan.
dan akhirnya Nesa benar-benar mencubit kedua pipi Xavier cukup keras, sedangkan Xavier malah terdiam seperti orang bodoh karena tidak mengerti dengan tingkah laku Nesa hingga ia merasakan sakit di pipi-nya ia melepaskan tangan Nesa tang berada di pipi-nya.
"ck... sakit tahu, " ucap Xavier sambil mengelus kedua pipi-nya yang terkena cubitan dari Nesa.
sedangkan Nesa hanya tersenyum pepsodent seperti tidak merasa bersalah, toh Xavier juga begitu saat mencium-nya tadi. Nesa tersenyum melihat Xavier yang memanyunkan bibir-nya seperti anak kecil.
sungguh kemana sikap arogan juga dingin yang melekat pada diri Xavier? Xavier benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sangat menggemaskan di mata Nesa.
"sudahlah jangan melihat ku seperti itu... dan sekarang cerita kan cepat, " pintar Xavier dan kembali ke posisi awal-nya.
"baiklah-baiklah, lagi pula kenapa kamu ingin tahu tentang itu? " ujar Nesa dengan pertanyaan.
__ADS_1
"entah aku tidak tahu, yang jelas aku hanya ingin tahu bagaimana kamu bisa melindungi mahkota mu itu, " ucap Xavier mantap.
Nesa yang mendengar ucapan Xavier sempat mengerinyit bingung, namun akhirnya ia memberi tahu bagaimana ia bisa menjaga kehormatan-nya dengan baik di jaman seperti ini dan kota besar seperti ini.
"sebenarnya banyak cara agar kita tetap bisa menjaga kehormatan, salah satunya menjauhi pergaulan yang terlalu bebas... aku selalu menjauhi pergaulan itu karena ya yang kamu tahu aku tidak mau terjerumus ke lubang hitam, " jelas Nesa.
Xavier mendengar kan dengan seksama dan mencerna kata demi kata yang Nesa ucapkan, hal itu malah membuat Nesa semakin gemas entah kena angin apa membuat Xavier yang dingin menjadi sangat menggemaskan dalam seketika.
"dan juga, aku membatasi pergaulan dengan laki-laki... aku hanya memiliki beberapa teman laki-laki salah satunya Leon, untuk menghindari hal-hal negatif nantinya lebih baik membatasi diri dari pergaulan bebas, " lanjut Nesa. kalian masih ingat Leon kan? kalau lupa baca di bab makan malam yah!.
"owuhh seperti itu, apa masih banyak wanita seperti mu? " ucap Xavier dan kembali bertanya.
"tentu saja! masih banyak wanita yang menjaga kehormatan mereka dengan sangat baik, banyak wanita yang berprinsip jika kehormatan-nya hanya akan di berikan kepada orang yang berhak atau bisa di bilang suami-nya nanti, " ucap Nesa menatap Xavier dengan tersenyum.
Xavier yang mendengar dan melihat senyum manis Nesa, ikuti tersenyum. sungguh ia benar-benar tidak menyangka jika Nesa bisa sebijak ini, ah seperti-nya ia harus segera menikahi Nesa agar tidak di embat orang lain.
"baiklah kalau begitu aku paham dan ya sekarang sebaiknya kita makan aku sudah lapar, ' ucap Xavier manja.
Xavier yang baru menyadari sikap-nya langsung mengubah wajah-nya kembali datar namun rona merah di pipi-nya tidak bisa mengelak jika Xavier tengah menahan malu sekarang. Nesa yang melihat itu hanya tersenyum dan menggelng menatap tingkah Xavier yang berubah-ubah.
"ya sudah yuk aku juga lapar, " ucap Nesa mengalihkan perhatian.
Xavier mengangguk dan berjalan lebih dulu, Nesa mengikuti langkah Xavier dari belakang ia tidak mau berjalan besisian dengan Xavier takut-takut Xavier kembali mencium-nya huh itu sangat menyebalkan.
"aku tidak akan melakukan itu, berjalan di samping ku kamu sekarang tengah menjadi kekasih ku bukan sekertaris ku, " ujar Xavier seakan tahu dengan isi fikiran Nesa.
Nesa mengangguk dan langsung berjalan mensejajarkan jalan-nya dengan Xavier meski ia sedikit kesulitan karena harus mengimbangi langkah Xavier yang cukup lebar itu.
"bay the way, ini mansion siapa? " tanya Nesa bertanya meski ia sudah tahu jawaban-nya.
"mansion pribadi ku, " jawab Xavier singkat.
__ADS_1
Nesa hanya mengangguk saja dan kembali diam, mereka berjalan menuju ruang makan yang cukup jauh membuat kaki kecil Nesa terasa pegal karena jalan cukup jauh, meski ia juga sering jalan kaki namun mansion Xavier sangat luas jadi terasa semakin jauh.
"seberapa luas sebenarnya mansion ini? " tanya Nesa karena ia sudah lumayan lelah karena berjalan menuju ruang makan yang cukup jauh itu.
Xavier tidak menjawab pertanyaan Nesa, Laki-laki itu kembali menjadi mode dingin padahal Nesa lebih suka Xavier yang menggemaskan seperti tadi setidaknya ia tidak harus merasakan takut berada di dekat Xavier bukan?
mereka sampai di ruang makan, Xavier duduk di ujung meja makan sedangkan Nesa duduk di hadapan Xavier sebelah kanan. meja makan Xavier mungkin cukup untuk 4 sampai 4 keluarga jika di jadikan satu, apa Xavier tidak kesepian saat tengah di mansion sendiri? pikir Nesa.
lalu para pelayan mengantarkan makanan pembuka untuk mereka, Xavier makan dalam diam sejak tadi ia tidak mengeluarkan suara sama sekali. dan Nesa lebih memilih untuk memakan sajian pembuka itu.
setelah selesai dengan makanan pembuka, para pelayan mengganti piring mereka berdua dengan menu utama steak daging kesukaan Xavier. saat sedang makan Daniel sahabat juga asisten pribadi-nya menghampiri mereka.
"hey, kamu makan tidak mengajak ku sama sekali, " ucap laki-laki tampan itu kesal.
Xavier hanya mendengus mendengar ucapan Daniel, tanpa persetujuan dari Xavier Daniel langsung duduk di sebelah Nesa niat-nya untuk menggoda sedikit sahabat-nya itu yang gampang emosi terlebih menyangkut wanita-nya.
"apa kah tidak ada tempat lain untuk kamu duduk selain di samping kekasih ku? " tanya Xavier datar.
sedangkan Nesa yang di sebut seperti itu menjadi salah tingkah, Daniel yang melihat sangat sahabat mulai terpancing semakin gencar menggoda sahabat-nya itu.
"ah aku hanya ingin duduk di samping bidadari apakah tidak boleh? " tanya Daniel sambil menaik turunkan alisnya kepada Nesa.
Nesa hanya tersenyum ia bingung harus menanggapi seperti apa. sedangkan Xavier yang melihat Nesa tersenyum dan bukan-nya menolak menjadi sangat kesal ia melihat Daniel dengan tatapan membunuh-nya.
"baiklah aku akan pindah... aku tidak mau berurusan dengan siang jantan itu, " ujar Daniel dan pindah ke depan Nesa tepat di samping kiri Xavier.
"mengapa kamu datang lagi?! " tanya Xavier tidak bisa santai.
"ck... aku hanya ingin memberi tahu-
"cepat katakan!" belum juga selesai bicara Xavier sudah memotong Ucapan Daniel.
__ADS_1