Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Nesa marah


__ADS_3

Nesa di bawa ke rumah sakit terdekat, dengan keadaan masih emosi Xavier menunggu Nesa saat sedang di periksa, ia belum mendapatkan telepon dari pihak kepolisian tentang Aprilia yang sudah membuat Nesa seperti ini, di tambah Nesa belum juga selesai di periksa membuatnya merasa takut.


ketika sedang mondar mandir di depan pintu UGD, dokter yang menangani Nesa keluar dan menghampiri Xavier, Xavier yang melihat dokter itu sudah keluar langsung membrondongi pertanyaan.


"Dok, bagaimana dengan istri saya? tidak ada luka fatal kan? istri saya sudah sadar kan dok? "


"tenang tuan, pasien tidak mengalami luka serius hanya saja di bagian luka nya sobek dan harus di jahit, selain itu tidak ada lagi pasien harus istirahat terlebih dahulu setelah itu boleh pulang, pasien juga sudah sadar tuan, " jelas dokter panjang lebar.


"baik terimakasih, "


setelah itu dokter meninggalkan UGD, Xavier langsung masuk kedalam UGD untuk melihat keadaan Nesa, dan benar saja Nesa sudah sadar hanya saja terlihat masih lemas karena terlalu banyak mengeluarkan darah tadi.


"sayang, bagaimana keadaan mu? " tanya Xavier setelah duduk di samping Nesa.


"sudah baik-baik saja, hanya masih lemas, " jawab Nesa dan menerima uluran tangan Xavier.


"maaf sayang, seharusnya tadi kamu tidak usah menerimanya tadi, "


"kok aku? aku kan tidak tahu kalau dia menyukaimu, jangan salahin aku dong, "


"aku tidak menyalahkan kamu sayang, aku hanya bilang seharusnya kamu menolak permintaan wanita itu, "


"aku tidak setega itu Xavier, terlebih dia hanya sendiri toh lebih ramai lebih seru! "

__ADS_1


Xavier hanya bisa menghembuskan napas karena Nesa tidak mau mengalah, kejadian ini juga kan karena Nesa yang memperbolehkan wanita itu bergabung jadi ini juga bukan kesalahan Xavier.


"ya kamu salah karena memperbolehkan dia ikut dengan kita! " bentak Xavier beruntung di UGD hanya ada mereka.


Nesa yang mendengar Xavier membentak nya benar-benar tidak percaya, Nesa menahan air matanya agar tidak menangis ia memanglingkan wajah agar tidak bertatapan dengan Xavier.


sedangkan Xavier sudah berdiri ia masih emosi dengan kejadian tadi, dan sekarang Nesa malah membela wanita yang sudah membuatnya masuk rumah sakit seperti ini.


"seandainya kamu tidak mengizinkan dia, kamu tidak akan seperti ini NESA! "


"Oke fine, aku yang salah PUAS KAMU! "


pecah sudah tangisan Nesa kala Xavier kembali membentak nya, Xavier yang melihat Nesa menangis tiba-tiba mematung dan kembali duduk, ia mengambil tangan Nesa namun Nesa menolak nya. Nesa lebih memilih memandang ke arah lain dari pada ke arah Xavier yang tengah merasa bersalah.


"maaf sayang aku tidak bermaksud membentak mu, " ujar Xavier masih mencoba mengambil tangan Nesa.


"sayang, "


"KELUAR! "


Xavier tidak bisa apa-apa lagi, Nesa sedang marah dengannya lagi pula hati wanita mana yang tidak sakit saat di bentak oleh suaminya sendiri, mau tidak mau Xavier keluar dari ruang UGD dengan keadaan bersalah.


Xavier benar-benar merasa sakit kala melihat Nesa terus meneteskan air matanya, dan itu ulahnya, sebelum menutup pintu UGD Xavier kembali melihat kearah Nesa yang tengah melihat kearah lain.

__ADS_1


"maaf sayang, " gumam Xavier.


setelah kepergian Xavier, tangis Nesa semakin pecah entahlah rasanya sakit saat di bentak oleh orang tersayang, meski ia juga dulu sering di bentak namun itu sudah lama dan sekarang ia merasakan nya lagi lewat orang yang ia cintai.


Xavier tidak benar-benar pergi, ia menunggu di luar UGD hingga perasaan Nesa lebih baik, baru Xavier akan kembali masuk dan meminta maaf kepada wanitanya. Nesa yang sudah kelelahan menangis pun berhenti dan tertidur dengan pulas.


Xavier mengintip dari balik pintu saat melihat Nesa sudah tenang ia kembali masuk, dan bersyukur jika Nesa sudah tertidur dengan pulas namun dadanya merasakan sakit kala melihat wajah Nesa yang basah karena air mata.


...****************...


"MAS AKU TIDAK MAU BERCERAI! KENAPA TIBA-TIBA KAMU MINTA BERCERAI SEPERTI INI? " tanya seorang wanita sambil berteriak.


"ayah, kenapa ayah jahat sama kita? kenapa ayah malah mengusir kita dari rumah? " tanya Jessica menangis pilu di dalam pelukan sang mama.


"jangan kalian pikir saya tidak tahu! sudahlah, sebaiknya kalian pergi! dan kamu saya sudah mentalak kamu jadi kita sudah bukan suami istri! " tegas seorang laki-laki paru baya siapa lagi jika bukan Ardiansyah.


"Maafkan aku mas, tapi apakah kamu tidak bisa memberikan kesempatan? " tanya mama Jessica.


"kesempatan? kalian sudah membuat anakku membenci ku! lalu membuat aku mengusirnya! apakah kalian sadar akan kesalahan kalian sendiri? sebaiknya cepat pergi dari sini! aku sudah memesankan taksi, "


setelah itu Ardiansyah berjalan pergi dari pagar menuju ke dalam rumah, sungguh ia sudah muak dengan permainan istri dan anak sambungnya itu, di saat seperti ini mereka baru memohon maaf namun tidak melihat apa kesalahan mereka sebenarnya.


"ma kita akan kemana? "

__ADS_1


"kita ke rumah nenek ya, "


"baiklah, "


__ADS_2