
Xavier masih mendekap Nesa dalam pelukan-nya. saat melihat Nesa menangis karena hinaan dari adik tiri-nya hati Xavier terasa teriris ia juga merasakan sesak di dada sampai ia tidak bisa menahan emosi dan melukai wanita itu. meski dulu ia pernah melakukan itu kepada wanita yang sama.
"apa masih sakit? " tanya Xavier, terlihat jelas wajah khawatir yang ia tunjukkan.
"udah enggak, cuma masih panas aja, " jawab Nesa sambil memegang pipi sebelah kiri-nya yang terkena tamparan.
"sebenarnya apa kamu mengenal Jessica? " tanya Xavier tiba-tiba.
deg
Nesa di buat bungkam dengan pertanyaan Xavier, ia bingung harus memberi tahu apa. Ayah juga Jessica selalu mengancam-nya untuk tidak memberi tahu kepada siapapun jika ia adalah anak kandung pengusaha yang cukup ternama di kota itu.
melihat ke ter diaman Nesa, Xavier semakin curiga jika mereka saling mengenal satu sama lain. terlihat jelas saat Jessica menatap Nesa dengan tatapan kebencian juga Nesa yang menatap Jessica seperti itu juga.
"kenapa diam hm? " tanya Xavier lagi karena ke ter diaman Nesa yang membuat-nya semakin penasaran.
"a-anu, aku... belum siap untuk cerita, " jawab Nesa sambil menunduk.
Xavier menghela nafas dan mengangguk lalu ia menarik kembali Nesa untuk masuk kedalam pelukan hangat-nya lagi, Xavier mengelus pucuk kepala Nesa dengan sayang membuat jantung Nesa berdetak dua kali lebih cepat.
"cerita lah jika kamu butuh pendengar aku akan menjadi pendengar yang baik untuk mu, " ucap Xavier yang masih terus mengelus pucuk kepala Nesa.
"Terima kasih mas, " jawab Nesa dan memeluk Xavier dengan erat.
"aku memang tidak tahu hubungan kamu dengan dia tapi aku harap tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku Nesa, " ucap Xavier sambil menatap lurus tepat di manik Nesa.
"iya, " jawab Nesa.
mereka berdua tenggelam dalam tatapan mereka masing-masing, dengan keadaan yang di mana Xavier masih memeluk erat tubuh mungil Nesa dan Nesa yang nyaman di dalam pelukan Xavier yang hangat dan menenangkan terlebih harum dari tubuh Xavier.
__ADS_1
"masih nyaman? " tanya Xavier sambil menaik turunkan alis-nya guna menggoda Nesa.
Nesa yang sadar langsung menjauhkan tubuh-nya dari Xavier dan melepaskan pelukan Xavier, Nesa memanglingkan wajah-nya ke samping agar tidak bersitatap dengan Xavier yang tengah terkekeh karena melihat tingkah menggemaskan Nesa.
"aku harus bekerja, " ucap Nesa dan hendak berdiri.
namun belum sempat Nesa berdiri dengan benar Xavier kembali menarik Nesa dan tepat terjatuh di atas tubuh Xavier, posisi mereka Xavier yang tiduran di atas sofa dan Nesa yang menindih di atas Xavier.
Nesa melotot kala mengetahui posisi mereka yang terlalu intim sedang kan Xavier yang sudah sering melakukan itu hanya tersenyum melihat wajah Nesa yang panik dan mencoba untuk turun dari atas tubuh-nya.
"jangan bergerak jika tidak adikku akan terbangun, " ucap Xavier dengan suara serak.
Nesa yang mendengar itu langsung terdiam fikiran-nya sudah kemana-mana, sedangkan Xavier yang melihat respon Nesa tersenyum kemenangan lalu ia memeluk erat Nesa yang berada di atas tubuh-nya.
Nesa menyembunyikan wajah-nya di dada bidang Xavier menutupi wajah memerah-nya, apa Xavier sering melakukan itu dengan wanita malam? sampai-sampai ia biasa saja dengan posisi seperti ini?
"lepaskan aku ku mohon, " ucap Nesa lirih.
dari pada tidak di lepaskan lebih baik menemani bukan? dengan cepat Nesa mengangguk setuju, lalu Xavier melepaskan pelukan-nya dan membiarkan Nesa bangun dari atas tubuh-nya.
"baiklah, " ucap Nesa dan bangkit dari atas tubuh Xavier.
"baiklah kamu tunggu di sini aku selesai kan kerjaan ku dulu, " ucap Xavier dan beranjak dari duduk-nya menuju kursi kebesaran-nya.
"lalu aku melakukan apa? tidak mungkin bukan jika aku makan gaji buta?! " tanya Nesa kepada Xavier yang sudah mulai fokus kepada laptop-nya.
"sebenarnya kamu lebih baik di rumah saja, biar aku yang bekerja toh nanti kamu akan jadi tanggung jawabku sepenuhnya, " ucap Xavier penuh arti.
"apa maksud mu? " tanya Nesa yang memang tidak mengerti.
__ADS_1
"bukan apa-apa, kamu diam saja toh aku bos di sini, jadi kamu harus menurut perintah ku, " ucap Xavier lagi.
Nesa hanya bisa menghembuskan nafas pasrah mendengar ucapan Xavier yang memang sudah tidak bisa di bantah lagi, sebenarnya Nesa tidak enak kepada Sinta yang harus bekerja ekstra di hari terakhir kerja-nya, seharusnya ia menggantikan tapi ia malah terjebak di ruangan Xavier tanpa harus ngapa-ngapain.
Nesa melihat ke sekeliling ruangan Xavier yang tidak pernah mengalihkan atensi-nya, puas melihat sekeliling Nesa memperhatikan Xavier yang sangat fokus dengan leptop-nya. akhir-akhir ini Nesa merasa jika sifat Xavier melunak kepada-nya.
apa Nesa boleh mencintai sosok seperti Xavier? atau itu semua hanya kesalahan? Nesa melamun memikirkan itu semua bahkan sampai panggilan dari Xavier pun tidak di balas oleh Nesa dan mah tidak mau Xavier melemparkan pulpen yang berada di tangan-nya ke arah Nesa dan tepat mengenai kening mulus Nesa.
"aduh... apa sih? " tanya Nesa kesal seraya mengelus kening-nya yang terkena lemparan itu.
"sudah berkali-kali aku memanggilmu tapi kamu tidak menjawab... apa yang kamu fikirkan? jangan bilang jika kamu memikirkan kita saat di malam hari dan ranjang yang hangat? " tanya Xavier sambil menggoda Nesa.
"ck... kenapa fikiran mu sangat kotor? " tanya Nesa kesal seraya mengembalikan pulpen kepada Xavier.
"aku hanya laki-laki biasa jadi sudah wajar bukan? toh kina ini sepasang kekasih jadi tidak aneh lagi bukan melakukan hal itu?" ucap Xavier sambil menaik turunkan alisnya.
"no *** before marriage! " tegas Nesa.
Nesa kembali duduk di sofa ruangan Xavier setelah mengatakan itu. sedangkan Xavier sudah tersenyum arti bukan kah itu tanda jika Nesa menginginkan-nya juga? atau apakah Nesa sudah mencintai-nya? entahlah hanya Nesa dan author yang tahu.
"umm baiklah, tunggu saja sayang, " ucap Xavier dan kembali fokus kepada berkas-berkas yang menumpuk.
sedangkan Nesa yang tidak mengerti maksud dari ucapan Xavier tadi tidak ambil pusing, bukan karena apa ia bilang itu karena ia memang menghindari *** sebelum menikah kesucian-nya akan ia berikan kepada sang suami yang berhak mendapatkan itu.
Nesa fokus dengan handphone-nya melihat berita juga berkelana di dunia media sosial-nya, sampai di satu berita yang membuat ia terfokus dan menganga tidak percaya akan hal itu Nesa terus membaca paragraf demi paragraf yang ada di berita itu.
"Mas kamu harus lihat ini, " ucap Nesa panik.
"maksud mu? " tanya Xavier yang tidak mengerti.
__ADS_1
Nesa langsung bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Xavier dan memberikan handphone-nya kepada Xavier, Xavier membaca berita yang ada di handphone Nesa ia juga tidak kalah terkejut-nya. Xavier mengepalkan kedua tangan-nya hingga urat-urat di tangan-nya terlihat.
prakkk