
"lalu setelah perjanjian itu selesai... apa yang akan kamu lakukan? " tanya Shafira yang sudah selesai dengan terkejut-nya.
"aku... belum tahu, yang jelas setelah perjanjian selesai aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi dan aku akan pergi dari-nya, " ucap Nesa menguatkan diri-nya sendiri.
"apa kamu mulai mencintai-nya? " tanya Shafira memicing kan mata.
Nesa yang mendengar itu langsung menunduk entah ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang. entah memang ia mulai mencintai Xavier atau hanya sekedar kagum yang berlebihan kepada sosok laki-laki itu.
"entahlah aku juga tidak tahu, " ucap Nesa lirih.
"aku hanya bisa mensuport mu saja Nesa, " ucap Shafira lalu langsung memeluk Nesa.
Nesa membalas pelukan dari sang sahabat. sungguh betapa beruntung-nya ia memiliki sahabat seperti Shafira, dan juga Shafira sudah ia anggap sebagai keluarga-nya sendiri karena ia tidak memiliki keluarga lagi di sini.
kryukkk-krukkkk
"suara apa itu? " tanya Shafira ketika mendengar suara aneh itu.
Nesa menggigit bibir bawah-nya malu, ia belum sempat makan tadi jadi-nya seperti ini deh. Nesa melepaskan pelukan mereka dan cengengesan menatap Shafira yang tengah bingung, Shafira paham saat melihat wajah cengengesan Nesa ia menatap datar Nesa.
"apa kamu belum makan? " tanya Shafira datar.
Nesa membalas dengan gelengan kepala tanda belum, Shafira menghela nafas sungguh sahabat satu-nya ini benar-benar tidak ada akhlak datang ke rumah orang dengan keadaan perut kosong udah tahu Shafira kehabisan makanan.
"aku tidak memiliki makanan, " ucap Shafira jujur.
"kita makan di luar saja, aku sedang ingin makan Bakso, " ucap Nesa.
Shafira tampak ragu, karena ia juga belum gajian masih lama gajian-nya apa lagi kebutuhan-nya itu sangat lah banyak untuk jajan saja ia harus berpikir berkali-kali lipat.
"aku yang traktir, " ucap Nesa saat tahu mimik wajah Shafira.
"baiklah aku ganti pakaian dulu, " ucap Shafira senang karena mendapatkan traktiran dari Nesa.
Nesa mengangguk dan menunggu Shafira selesai berganti pakaian, selagi menunggu Nesa menyelami sosial media-nya dari WhatsApp, instagram bahkan tweeter untuk sekedar melihat informasi terkini.
"ayok, " ajak Shafira ketika sudah tepat berada di hadapan Nesa.
"sudah? baiklah ayok... aku sudah sangat lapar, " ucap Nesa dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
__ADS_1
mereka berdua keluar dari kostan Shafira yang sudah mulai sepi karena hari yang mulai malam, namun karena mereka lapar jadi mereka tidak menghiraukan tentang sunyi-nya malam ini yang begitu kentara.
mereka berdua menuju tukang bakso langganan mereka yang berada di ujung jalan dekat minimarket. karena jarak yang tidak jauh mereka memilih berjalan kaki dari pada pesan taksi toh buang-buang duit yang ada kan?
"ah ya Nesa... bagaimana dengan Leon? " tanya Shafira kala mengingat mantan sang sahabat yang memang ia tidak menyukai-nya.
"aku sudah tidak berhubungan lagi dengan-nya, " ucap Nesa sambil tersenyum.
"sungguh? baguslah kalau begitu, aku memang tidak setuju jika kamu berpacaran dengan pengangguran seperti-nya, " ucap Shafira senang.
Nesa hanya membalas dengan senyuman, sejujurnya ia masih menyimpan rasa kepada Leon sebab dulu saat ia di usir Leon lah yang membantu namun karena sifat-nya yang pemalas membuat Nesa juga capek, masa ia harau Nesa terus yang memberikan uang? tidak mungkin bukan?
mereka sampai di tempat penjual bakso dan langsung memesan bakso, mereka memilih tempat duduk meski tempat duduk di sana hanya dari bangku pelastik mereka tetap nyaman makan di sana, berbeda dengan Xavier yang mungkin sudah mengomel karena makan di tempat seperti itu.
"huh... sudah lama aku tidak makan di sini, " ucap Nesa sambil melihat jalanan yang masih cukup ramai pengendara.
Shafira hanya menanggapi dengan anggukan dan fokus kembali dengan handphone-nya, tidak lama dari itu pesanan mereka datang. dua mangkok bakso juga orange juice tersaji di hadapan mereka membuat mereka tidak sabar untuk memakan-nya.
"selamat makan! " ucap mereka berdua bersamaan.
mereka berdua makan sambil geleng-geleng kepala saking enak-nya. mereka hanya terfokus dengan bakso mereka hingga habis. lima belas menit kemudian mereka selesai makan, Nesa membayar dua porsi bakso juga dua minuman lalu mereka kembali ke kostan Shafira.
"ya, tidak apa-apa... aku juga takut jika kamu harus pulang sendiri selarut ini, " ucap Shafira perhatian.
"trima kasih, " ucap Nesa.
Shafira mengangguk lalu mereka bersiap untuk tidur, namun saat hendak menutup mata Nesa teringat jika ia belum mengabari Xavier sama sekali sejak ia datang ke kostan Shafira ini, karena keasikan mengobrol jadi lupa seseorang yang tengah menunggu-nya.
dengan cepat Nesa mengambil handphone-nya dan segera mengabari Xavier, sebelum itu Nesa melihat ke arah Shafira untuk memastikan jika ia tidak akan menggangu Shafira yang sudah pulas itu.
...****************...
"ck... kemana dia? mengapa belum juga mengabari ku? " tanya Xavier entah pada siapa.
sejak tadi Xavier terus mondar-mandir di kamar-nya menunggu kabar dari Nesa yang sejak tadi ia tunggu namun tidak di kabari juga. ada rasa khawatir juga rindu yang ia rasakan.
apakah ia jatuh cinta? dengan cepat Xavier menggelengkan kepala-nya dan duduk di atas kasur-nya sambil terus menunggu pesan atau telpon dari Nesa yang sejak tadi ia tunggu.
"apa aku yang harus mengabari-nya dulu? " tanya Xavier pada diri-nya sendiri.
__ADS_1
ia menatap handphone-nya ragu, saat hendak memencet tombol telpon ke nomor handphone Nesa, Xavier kembali mengurungkan niat-nya untuk mengabari terlebih dahulu. huh sungguh gengsi mu sangat tinggi Xavier.
"ah sudahlah biar dia saja yang mengabari ku, " ucap Xavier pada akhirnya.
tidak lama dari itu handphone-nya berdering membuat-nya sedikit terlonjak kaget dan hampir membanting handphone-nya, jika ia tidak melihat siapa yang menelepon-nya sudah pasti handphone-nya sudah tidak berbentuk.
Nesa ya Nesa yang menelepon-nya, dengan cepat Xavier mengangkat-nya dan pura-pura menguap saat sambungan sudah tersambung.
"ada apa? " tanya Xavier pura-pura tidak sedang menunggu.
"apa kamu sudah tidur? " tanya Nesa dari sebrang sana.
"hmm... ya, " jawab Xavier singkat padahal ia ingin sekali jingkrak-jingkrak sekarang.
"maaf sudah mengganggu dan... maaf lupa mengabari mu, " ucap Nesa meminta maaf.
"ya tidak apa-apa... apa kamu menginap atau pulang? " tanya Xavier ia takut jika Nesa pulang sendiri apa lagi hari sudah sangat larut.
"aku menginap mas tenang saja, " jawab Nesa.
"huh syukurlah... kalau begitu besok aku jemput, " ucap Xavier.
"ya aku tunggu... sebaiknya kamu lanjutkan tidur mu sudah malam, " ucap Nesa sambil tersenyum.
"ya, kamu juga, " jawab Xavier.
"good night, "
"night too"
dan setelah itu sambungan telpon selesai, Xavier membanting handphone-nya ke kasur dan lompat-lompat kegirangan, entah apa yang membuat-nya se senang ini. dan ya besok ia akan menjemput Nesa ia akan berpenampilan sangat tampat seperti-nya.
setelah itu Xavier membanting diri-nya di atas kasur dengan keadaan telentang menatap langit-langit kamar-nya dan tersenyum membayangkan wajah cerah Nesa. Xavier menggeleng entah sejak kapan ia jadi segila ini padahal baru seminggu.
dan tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus yang berasal dari Xavier yang menandakan jika laki-laki itu sudah memasuki alam bawah sadar-nya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
selagi menunggu cerita ini update, baca cerita ku yang satu lagi yah.
__ADS_1