
setelah meninggalkan tempat itu, Xavier langsung membawa Nesa ke rumah sakit terdekat untuk di obati, selama perjalanan Xavier gelisah dan tidak tenang terlebih wajah Nesa sudah pucat dan punggung-nya mengeluarkan dah beruntung tidak terlalu banyak.
"maaf, maafkan aku sayang aku datang telat... aku pastikan keluarga itu akan hancur! " monolog Xavier sambil terus memeluk Nesa yang lemah.
tidak lama kemudian mobil yang di tumpangi Xavier sampai di depan rumah sakit, Xavier langsung turun dan beberapa suster membawa brankar rumah sakit... Xavier meletakkan Nesa di sana dengan perlahan.
lalu para suster langsung membawa Nesa menuju UGD untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan... Xavier menunggu di luar pintu ruang UGD dengan keadaan campur aduk, khawatir juga sedih.
saking panik-nya Xavier ia lupa menghubungi kedua orang tua-nya... dan akhirnya Daniel yang baru tiba langsung menelpon kedua orang tua Xavier jika Nesa sudah di temukan dan sekarang berada di rumah sakit.
Xavier terus mundar-mandir di depan pintu menunggu kabar baik dari dokter... pintu UGD terbuka dan seorang dokter perempuan yang menangani Nesa keluar... Xavier yang melihat langsung mendekat dan bertanya bagaimana kabar Nesa.
"bagaimana dok? " tanya Xavier tidak sabar.
"anda keluarga pasien? " tanya dokter itu memastikan.
"ya saya suami-nya, " jawab Xavier datar.
sebelum dokter itu berbicara kedua orang tua Xavier datang dan mendengarkan ucapan dokter tentang keadaan Nesa... Xavier bersyukur jika Nesa tidak apa-apa.
"baiklah, luka di tubuh pasien sudah kami obati beruntung luka-nya tidak begitu parah... dan pasien harus rawat inap untuk beberapa hari. sekarang tubuh pasien sangat lemah jadi masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi untuk menunggu pasien sadar, " jelas dokter perempuan itu.
"apa bekas luka-nya bisa hilang dok? " tanya Xavier khawatir.
"bisa pak, karena luka-nya tidak begitu parah kemungkinan besar bisa hilang, " jawab dokter itu sambil tersenyum.
"syukur lah, baik terima kasih dok, " ucap bunda Xavier.
setelah itu dokter yang menangani Nesa pergi, Nesa di bawa keluar oleh suster untuk di bawa ke ruang rawat inap-nya sedangkan Xavier mengurus administrasi, setelah selesai Xavier langsung menuju tempat rawat inap Nesa yang sudah ada bunda dan ayah-nya.
__ADS_1
sesampainya di kamar inap, Xavier langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang bunda, namun ia hiraukan ia lebih memilih mendekat ke arah Nesa dan mencium kening-nya pelan... hal itu membuat ayah dan bunda menggeleng melihat tingkah anak-nya.
"lalu apa yang akan kamu lakukan nak? " tanya ayah Xavier setelah Xavier duduk berhadapan dengan mereka di sofa ruang inap Nesa.
"awal-nya aku hanya akan mengancam-nya saja... namun ini sudah keterlaluan, terlebih kita sudah mengetahui masa lalu Nesa dan aku ingin keluarga itu hancur! " ujar Xavier dengan mengepalkan tangan kuat.
"baiklah, aku juga tidak menyukai Ardiansyah... hancurkan dari anak-nya dulu baru perusahaan ayah-nya, " usul sang ayah.
"baiklah ayah terima kasih usulan-nya, " jawab Xavier tersenyum miring.
"jangan terlalu kejam mereka juga manusia, " ucap bunda Xavier menimpali setelah lama diam.
"tenang saja bunda, soal ini biar Xavier yang urus... bunda urus tanggal pertunangan ku saja, " jawab Xavier tersenyum lembut.
"baiklah... kalau begitu kami pamit dulu masih ada urusan. dan kamu jaga baik-baik menantu ku, " ucap ayah Xavier menghentikan obrolan mereka.
"ya pasti, kalian hati-hati di jalan, " jawab Xavier dan mendapatkan anggukan dari kedua orang tua-nya itu.
"bos, semuanya udah beres sekarang harus apa? " lapor Daniel dan bertanya.
"aku punya rencana, " ucap Xavier membuat Daniel bingung.
"rencana apa? " tanya Daniel.
"pasung dia dan cambuk dia seperti apa yang dia lakukan kepada Nesa dan jangan berhenti sampai aku memerintah kan, " perintah Xavier.
"baik, kalau begitu aku pergi sampai jumpa, " ucap Daniel dan segera pergi dari kamar rawat inap Nesa.
setelah kepergian Daniel wajah Xavier berubah menjadi sendu menatap Nesa yang terbaring lemah di atas kasur. Xavier terus menggenggam erat tangan Nesa yang bebas dari infus dan terkadang ia mencium-nya pelan.
__ADS_1
"aku pastikan sayang, jika mereka tidak akan hidup bahagia setelah melakukan hal ini kepada mu, " ucap Xavier yakin sambil terus menatap wajah pucat Nesa.
saat Xavier tengah mencium tangan Nesa, tangan Nesa tiba-tiba bergerak dan menggenggam erat tangan Xavier membuat Xavier sedikit panik dan langsung memencet tombol di samping brankar.
"sayang ada apa hey? " tanya Xavier panik sambil mengelus pelan kepala Nesa.
pasalnya nesa menggenggam erat tangan Xavier dan wajah-nya terlihat ketakutan serta peluh yang terus keluar dari wajah Nesa dan mengalir ke leher. tidak lama kemudian dokter yang tadi menangani Nesa datang untuk memeriksa dan tepat kedatangan dokter itu Nesa terbangun dengan ke adaan nafas tidak beraturan.
"nona, tarik nafas pelan-pelan lalu keluarkan dari mulut, " ucap dokter itu dan langsung di lakukan oleh Nesa berkali-kali.
setelah tenang Nesa di periksa Owlh dokter, selama pemeriksaan Nesa tidak melepaskan genggam tangan-nya kepada Xavier... Xavier hanya terus melihat kearah Nesa dan menenangkan kekasih-nya itu, dokter sudah selesai memeriksa dan tersenyum ke arah Nesa.
"kondisi nona sudah mulai stabil, tapi harus banyak istirahat dan untuk luka di punggung-nya saya akan berikan salep untuk mempercepat pengeringan luka dan menghilangkan bekas luka, " ucap dokter itu yang dapat anggukan dati Nesa dan Xavier.
setelah itu dokter itu pergi dari ruang rawat inap Nesa menyisakan dua insan berbeda jenis dengan ke adaan yang berbeda... Xavier langsung memeluk Nesa dan Nesa membalas pelukan Xavier pasalnya ia masih takut dengan kejadian tadi.
"maafkan aku karena lali menjaga mu, " ucap Xavier menyesal.
"tidak apa-apa... tapi bagaimana dengan Jessica? " ucap Nesa dan bertanya.
"dia sudah mendapatkan hukuman-nya, " jawab Xavier santai.
"apa? kamu tidak melukai-nya bukan? " tanya Nesa dan mencoba melepaskan pelukan-nya.
"dia pantas untuk mendapatkan itu, sebaiknya kamu istirahat kamu baru sadar, " ucap Xavier datar karena Nesa masih saja memperdulikan Jessica yang sudah membuat-nya seperti ini.
"baiklah, tapi...
" tapi apa? " tanya Xavier karena Nesa menggantung ucapan-nya.
__ADS_1
"tapi aku lapar, " ucap Nesa pelan sambil menyembunyikan wajah-nya di dada bidang Xavier.
"hahah, baiklah aku belikan makanan dulu, " ucap Xavier tertawa gemas melihat tingkah Nesa yang sangat menggemaskan itu.