
Plak
Ardiansyah menampar sangat istri, sungguh ia benar-benar malu melihat tingkah anak sambung-nya itu, itu juga karena istri-nya terlalu memanjakan Jessica membuat ia berbuat seenaknya.
"kamu tahu, jika Xavier melihat video ini perusahaan ku bisa hancur! " murka Ardiansyah.
"kenapa jadi aku? salahkan Jessica! " ucap istri Ardiansyah yang masih memegang pipi-nya yang memerah.
"huh, jika kamu tidak terlalu memanjakan-nya ini semua tidak akan terjadi! " ujar Ardiansyah.
"cari anak mu itu, beri hukuman kepada-nya sudah sore belum juga pulang apakah dia menjual diri-nya? " ucap Ardiansyah menusuk.
saat Ardiansyah hendak menuju lantai dua di mana kamar-nya berada, salah satu asisten rumah tangga menghampiri dengan tergopoh-gopoh dan nafas yang tidak beraturan dari arah luar.
"tuan nyonya, nona Jessica... " ucap pelayan itu menggantung.
"ada apa dengan anak itu? " tanya Ardiansyah cuek.
dan tepat saat ucapan Ardiansyah selesai Jessica di bawa masuk oleh bodyguard dengan keadaan pingsan dan sangat mengenaskan, Ardiansyah dan istrinya yang melihat itu langsung syok berat dan langsung menghampiri Jessica dengan khawatir.
"bagaimana ini bisa terjadi? Jessica hiks" tanya mama Jessica menangis histeris.
"siapa yang melakukan ini terhadap putri ku? " tanya Ardiansyah khawatir juga emosi.
para pelayan dan bodyguard hanya diam sambil menunduk pasalnya mereka tidak tahu kenapa nona mereka menjadi seperti ini, karena tadi saat salah satu bodyguard melihat Jessica yang sudah terkapar tidak berdaya di depan pintu gerbang.
"ku mohon cari tahu dan balas orang itu, hikss, " ucap mama Jessica.
"baiklah sayang, tenang saja sebaiknya kita bawa Jessica ke rumah sakit dulu, " ucap Ardiansyah menenangkan sang istri.
__ADS_1
mereka semua bergegas menuju rumah sakit, mama Jessica terus menangis meratapi nasib sang anak yang entah siapa pelakunya dan tiba-tiba dalam pikiran-nya terbesit nama Nesa.
"apakah ini ulah anak sialan mu itu? " tanya mama Jessica dengan emosi.
"tidak mungkin, anak itu tidak mungkin melakukan ini sendiri apa jangan-jangan Xavier membantu-nya? " ujar Ardiansyah tidak percaya.
"jika memang Xavier membantu-nya, habislah kita, " lanjut Ardiansyah.
tidak lama kemudian mereka semua sampai di rumah sakit, Jessica langsung di bawa ke ruang rawat sedangkan ke dua orang tua-nya menunggu kabar baik dari dokter... saat tengah cemas Ardiansyah mendapatkan telpon dari perusahaan membuat-nya harus pergi.
"aku harus ke perusahaan, kamu jaga dia beri tahu aku jika dia sudah sadar, " ucap Ardiansyah yang langsung mendapatkan anggukan.
setelah itu ia pergi dengan tergesa-gesa, ia yakin karena video yang viral tadi bisa mengancam perusahaan terlebih jika Xavier tahu, sudah pasti perusahaan-nya berada di ambang kebangkrutan.
sedangkan di perusahaan Xavier, Daniel tengah mempersiapkan berkas-berkas yang akan di gunakan untuk memutuskan kerja sama antara perusahaan Xavier dan Ardiansyah yang tidak lain adalah ayah kandung Nesa.
"sudah, apakah kita langsung ke sana? " jawab Daniel dan bertanya.
"ya, aku tidak mau menunda lagi... aku juga sudah merindukan kekasih ku! " jawab Xavier cepat dan langsung berjalan tanpa memperdulikan Daniel yang sudah mesem-mesem.
Daniel memutar bola mata-nya malas, jika sang bos sudah seperti ini pasti tidak bisa di ganggu lagi sungguh kedatangan Nesa membuat bos mereka kembali hangat seperti dulu lagi.
Daniel bergegas menyusul Xavier yang sudah mulai jauh dari jangkauan-nya, dan bersiap menghadapi perusahaan Ardiansyah yang sebentar lagi akan hancur masa jaya-nya.
Xavier dan Daniel datang ke perusahaan Ardiansyah dan ada beberapa kolega lain-nya yang tujuan-nya sama seperti Xavier memutuskan kerja sama karena video viral anak yang selalu di banggakan okeh Ardiansyah.
tidak lupa Xavier membawa beberapa bodyguard untuk berjaga jaga saja, sesampainya di perusahaan Ardiansyah mereka berdua di sambut dan di giring menuju ruang rapat yang di sana sudah terdapat banyak kolega bisnis lain-nya.
"hari ini adalah hari kehancuran perusahaan mu Ardiansyah! haha, " batin Xavier tertawa jahat.
__ADS_1
Xavier dan yang lain-nya menunggu kedatangan sang pemilik perusahaan siapa lagi jika bukan Ardiansyah yang datang terlambat... sebenarnya Xavier paling malas menunggu tapi karena ingin melihat secara langsung jadi ia rela menunggu hanya untuk kali ini.
tidak lama dari itu sosok Ardiansyah muncul di hadapan mereka, dan tanpa basa-basi lagi orang-orang yang ada di sana langsung memberikan berkas yang mereka bawa dan menyuruh dengan paksa Ardiansyah menandatangani surat pemutusan kerja sama itu.
dan setelah semuanya selesai, hanya tinggal Xavier dan Daniel yang berada di ruangan itu, dapat di lihat wajah lesu Ardiansyah karena perusahaan yang selama ini ia bangun hancur dalam seketika karena kecerobohan anak sambung-nya.
"bagaimana tuan? apakah kamu bisa menjelaskan video itu? " tanya Xavier tersenyum miring.
"it-itu memang putri saya, tapi apakah tuan tidak bisa bertoleransi sedikit dengan saya? terlebih dia pernah menjadi orang sepesial di hati tuan? " ucap Ardiansyah bernegosiasi dengan Xavier.
Xavier tersenyum lalu mengangguk-angguk seakan sedang berpikir sedangkan Daniel hanya diam melihat aksi sang tuan. Tiba-tiba Xavier langsung merubah raut wajahnya menjadi datar membuat wajah sumringah Ardiansyah luntur seketika.
"ya memang tapi itu dulu, dia sudah mengkhianati ku dan juga melukai calon istri ku, jadi maafkan saya tuan kerja sama kita cukup sampai di sini! " ujar Xavier dengan menekankan kata mengkhianati.
pupus sudah harapan Ardiansyah untuk bernegosiasi oleh Xavier, ia hanya terdiam dengan wajah pucat. Xavier bangkit dari duduk-nya dan di ikuti oleh Daniel. sebelum keluar Daniel memberikan berkas pemutusan kerja sama dan menyusul Xavier yang sudah berjalan keluar dari ruangan itu.
"setelah ini apa rencana mu? " tanya Daniel setelah mensejajarkan jalan-nya dengan Xavier.
"melihat kehancuran karir Jessica dan setelah itu aku baru puas! " jawab Xavier kejam.
"ah baiklah seperti-nya aku tidak perlu berbuat apa-apa lagi, dia akan hancur sendiri karena video itu, " ucap Daniel santai.
"antar aku kembali ke rumah sakit sekarang, " perintah Xavier.
"baiklah, " jawab Daniel malas.
sesampainya di mobil mereka berdua masuk kedalam dan segera meninggalkan perusahaan milik Ardiansyah yang sudah di ambang kehancuran, Xavier tersenyum puas setidaknya ia sudah membalas dendam sang ayah meski ia kurang tahu betul dendam apa yang di miliki ayah-nya.
ia tersenyum puas, hanya tinggal satu langkah lagi untuk menghancurkan Jessica dan kehidupan-nya dengan Nesa akan tentram tanpa ada ancaman dari keluarga busuk itu... Daniel yang sejak tadi memperhatikan Xavier tersenyum miring menjadi merinding sendiri dan memilih untuk fokus menyetir dari pada melihat singa yang sudah bangun dari tidur-nya.
__ADS_1