
sekitar 3 jam Nesa baru menyelesaikan tugas-nya, sekarang juga sudah pukul 4 sore dan tadi Sinta sudah izin pulang duluan karena tugas-nya sudah selesai meski saat Sinta ingin pulang ada sedikit drama dari Nesa yang tidak rela jika Sinta pulang.
namun bagaimana pun Sinta harus berhenti bekerja karena tengah mengandung besar, dan akan fokus kepada anak dan juga suami-nya nanti. setelah kepulangan Sinta, Nesa kembali mengerjakan tugas-nya dan sekarang sudah selesai hanya tinggal di tanda tangani oleh Xavier.
Nesa melangkah kan kaki-nya menuju pintu ruangan Xavier yang masih tertutup. setelah sampai di depan pintu besar itu Nesa mengetuk pintu terlebih dahulu setelah ada interupsi masuk dari pemilik ruangan itu Nesa melangkah masuk kedalam.
pertama yang Nesa lihat setelah pintu besar itu terbuka, Xavier yang fokus dengan leptop-nya dengan wajah yang sangat kusut seperti baru saja terkena masalah besar. Nesa melangkah perlahan menuju Xavier, setelah tepat di hadapan Xavier, Nesa memberikan berkas yang harus di tanda tangani oleh Xavier.
"ini pak silahkan di tanda tangani, " ucap Nesa sopan.
tidak ada jawaban Xavier terus fokus kepada leptop-nya entah apa yang sedang ia kerjakan sekarang, Nesa menunggu Xavier untuk menandatangani setelah itu ia ingin segera pulang karena tubuh-nya sudah sangat lengket ingin cepat mandi dan rebahan di kasur empuk milik Xavier.
5 menit berlalu dan Xavier masih saja fokus dengan leptop-nya, Nesa yang sudah mulai pegal berdiri meminta untuk Xavier segera menandatangani karena ia benar-benar ingin segera pulang terlebih hari semakin sore.
"pak, tolong dong di tanda tangani saya ingin cepat-cepat pulang, " pinta Nesa sedikit memohon.
namun apa daya, Xavier bagaikan patung yang tidak mendengar ucapan Nesa dan lebih memilih menyibukkan diri dengan leptop-nya. Nesa benar-benar sudah jengah ia duduk di kursi depan Xavier dan bersedekap dada menatap Xavier yang hanya fokus dengan leptop-nya.
"pak, memang-nya bapak tidak mau pulang? " tanya Nesa lagi.
"pak? "
"Xavier? "
"sayang! " panggil Nesa sedikit geli dan ya terbukti Xavier langsung menoleh kepada Nesa.
"why? " tanya Xavier sambil menatap Nesa kesal.
"giliran di panggil sayang aja nengok, " gumam Nesa yang masih dapat di dengar Xavier.
"kamu tadi bicara apa? " tanya Xavier sambil menahan senyum-nya.
"bukan apa-apa dan ya sebaiknya cepat kamu tanda tangani berkas ini, aku ingin segera pulang, " ucap Nesa sedikit merengek.
Xavier yang mendengar rengekan Nesa mengangguk dan langsung menandatangani berkata terakhir hari ini, dengan senang Nesa menerima berkas yang sudah di tanda tangani okeh Xavier dan hendak pergi namun di tahan oleh Xavier.
__ADS_1
"tunggu, siapa yang menyuruh mu untuk pergi? duduk! " tanya Xavier dan menyuruh Nesa untuk kembali duduk.
mau tidak mau Nesa kembali duduk dengan wajah yang di tekuk, hilang sudah impian untuk rebahan nyaman di kasur empuk di apartemen milik Xavier yang mewah itu. Nesa menatap kesal kepada Xavier yang hanya menatap-nya dengan santai tanpa rasa bersalah.
"ada apa lagi sih? " rengek Nesa.
"asal kamu tahu aku ingin segera merebahkan diri tahu? " kesal Nesa.
"hey, kamu bilang kita akan jalan-jalan ya setelah pulang ? " tanya Xavier menjebak Nesa.
"kapan aku bilang seperti itu? " tanya Nesa pasal-nya ia tidak mengingat jika ia berbicara seperti itu.
"tadi sebelum kita kembali ke perusahaan, " ucap Xavier.
Nesa kembali mengingat dan ya dia ingat jika tadi siang ia tidak bisa jalan-jalan dengan Xavier dan meminta setelah pulang dari pekerjaan-nya saja. Xavier yang melihat Nesa menggigit bibir bawah-nya menjadi salah tingkah.
"jangan menggigit bibir mu nanti luka, " ucap Xavier dan mengelus pelan bibir Nesa dan melihat dengan penuh dambaan.
Nesa yang di perlakukan seperti itu menjadi salah tingkah, ia menyingkirkan tangan Xavier pelan dari bibir-nya dan mengalihkan tatapan-nya agar tidak bersitatap dengan Xavier sedangkan Xavier hanya menggeleng melihat tingkah menggemaskan Nesa.
"baiklah ayok, " ajak Xavier.
Xavier bangkit dari duduknya dan menarik pelan lengan Nesa yang langsung di ikuti oleh Nesa keluar dari ruangan-nya menuju ruangan tempat di mana Nesa menyelesaikan tugas-nya. setelah Nesa menaruh berkas di laci dan menata-nya mereka bergegas meninggalkan perusahaan yang sudah mulai sepi.
setelah sampai di parkiran seperti biasa Xavier membuka pintu untuk Nesa dan baru ia masuk kedalam mobi-nya. setelah itu Xavier menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan yang mulai sepi itu.
"kita akan kemana? " tanya Nesa.
"ke mall, aku ingin nonton, " jawab Xavier.
"baiklah aku mengikuti mu saja Xavier, " ucap Nesa pasrah.
"wait, tadi kamu memanggilku apa? " tanya Xavier tanpa menoleh ke arah Nesa.
"Xavier, why? " jawab Nesa dan kembali bertanya.
__ADS_1
"jangan panggil aku itu, " ujar Xavier tidak suka.
"lalu kamu ingin aku panggil apa? " tanya Nesa kesal.
Xavier tersenyum penuh arti yang malah membuat Nesa ketakutan karena senyuman Xavier itu. Xavier menatap lekat manik mata Nesa dan kembali menatap jalanan.
"panggil aku sayang, " ucap Xavier.
jelas Nesa shok meski tadi ia sempat memanggil laki-laki itu dengan sebutan sayang, namun apakah ia harus memanggil itu seterusnya? oh tentu tidak itu tidak akan terjadi!
"tidak aku tidak mau! " tolak Nesa kesal.
"why tadi kamu memanggil ku dengan sebutan itu? " tanya Xavier.
"aku hanya iseng tadi, " jawab Nesa acuh.
"aku tidak perduli aku mau kamu memanggil ku sayang mulai sekarang, " ucap Xavier tek terbantahkan.
"baiklah terserah kamu saja, " jawab Nesa mengalah.
Xavier yang melihat Nesa mengalah tersenyum kemenangan, dan tidak lama kemudian mereka sampai di mall mewah yang berada di pusat kota tempat mereka tinggal. Xavier memarkirkan mobilnya di parkiran mall lalu turun dan membukakan pintu untuk Nesa seperti biasa.
"padahal aku bisa sendiri dan terimakasih, " ucap Nesa kepada Xavier.
"Sama-sama, " jawab Xavier sambil tersenyum manis.
setelah itu mereka berdua masuk kedalam mall dengan bergandengan tangan, membuat banyak pasang mata yang memperhatikan mereka ada yang menatap kagum, iri dan masih banyak lagi namun di hiraukan oleh Xavier dan Nesa, mereka hanya acuh.
"kita akan nonton apa?" tanya Xavier kepada Nesa saat sudah ada di lobby bioskop.
"emm... horor atau Romansa komedi? " bukannya menjawab justru Nesa balik bertanya.
"seperti-nya romansa komedi saja, " jawab Xavier.
"baiklah kamu beli tiket dan aku beli cemilan, " jawab Nesa dan langsung di angguki oleh Xavier.
__ADS_1
mereka berdua berpencar dan kembali ke bertemu di tempat mereka berpisah, saat sudah di umumkan jika pintu teater yang akan mereka tonton sudah di buka mereka masuk bersama.