
"Huek, akhhh huekk, apa yang salah dengan perut ku? " ucap Xavier di dalam kamar mandi kantor sambil menatap dirinya di kaca wastafel.
"pagi ini aku tidak makan yang aneh-aneh hanya makan rujak buah saja, apa yang salah? huek, " ujar Xavier kebingungan sendiri.
sekarang sudah pukul tiga sore tapi Xavier masih berada di perusahaan karena selalu ia mengambil cuti banyak berkas yang perlu ia tanda tangan langsung meski sudah ada Daniel yang membantu namun itu tetap tidak cukup.
banyaknya permintaan kerja sama dan juga masalah penggelapan uang yang belum selesai membuat pekerjaan Xavier bertambah dua kali lipat lebih banyak, membuatnya harus Lembur untuk beberapa hari kedepan.
sedangkan Daniel yang menunggu Xavier di ruangan Xavier terlihat kebingungan karena Xavier terus-menerus muntah tanpa alasan namun seketika ia tersenyum kala mengingat jika Xavier baru kembali dari hanymoon.
yang kemungkinan menghasilkan janin di perut sang istri namun itu belum pasti bisa jadi Xavier hanya masuk angin saja karena perjalanan dari Jepang ke Indonesia cukup jauh dan harus bekerja ke esokkan harinya dan harus lembur pula.
Xavier keluar dari kamar mandi dengan keadaan pakaian yang sudah acak-acakan dan wajah yang pucat sehabis mengeluarkan semua isi perutnya, Xavier duduk di kursi kebesaran nya dan mengurut pangkal hidungnya. sejak tadi mual terus datang membuatnya tidak fokus bekerja.
"apa kamu baik-baik saja? " tanya Daniel mengerutkan keningnya.
"entahlah, rasanya perutku seperti ada yang mengadukannya, " jawab Xavier sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"hey, aku baca di internet jika kamu merasakan itu namun istri mu tidak itu juga salah satu dari gejala kehamilan di awal bulan, dan jika istri tidak mengidam akan si gantikan oleh suaminya, apa kamu sudah bertanya kepada istri mu kapan terakhir kali dia datang bulan? " jelas Daniel panjang lebar sambil melihat tablet nya dan bertanya.
Xavier yang mendengar itu terdiam, benar juga sudah sekitar sebulan Nesa belum mengeluh tentang sakitnya datang bulan, Xavier melamun dengan pikiran nya sendiri sedangkan Daniel yang di diami oleh laki-laki itu merasa kesal.
"ck! jika kamu tidak kuat sebaiknya pulang saja, pekerjaan in-
" huekk, "
belum selesai Daniel berbicara Xavier sudah kembali berlari menuju kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya, perutnya sudah terasa sangat sakit karena mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya dalam kurun waktu tidak kurang dari 10 menit terus-menerus.
"Halo, sebaiknya kamu datang ke kantor suamimu dan ajak dia pulang aku pusing melihatnya terus mundar mandir kedalam kamar mandi! " ucap Daniel setelah sambungan telepon tersambung.
".... "
"ya sudah cepat! jangan lambat, " setelah mengatakan itu Daniel mematikan sambungan secara sepihak dan menatap datar ke arah Xavier yang kembali duduk di kursi kebesaran nya.
sedangkan Nesa yang tengah berada di apotek membeli alat tes kehamilan karena sudah sebulan lebih ia belum kunjung datang bulan, saat Nesa tengah membayar alat tes kehamilan yang ia beli handphone nya berbunyi terus menerus.
__ADS_1
setelah selesai membayar belanjaannya, Nesa keluar dari apotek dan mengangkat telepon yang terus berdering, ia kira siapa yang menelepon ternyata Daniel yang menelepon.
"apa? baiklah aku akan segera ke sana! " ucap Nesa setelah mengangkat telepon dan langsung di tutup sepihak oleh Daniel.
"astaga, ada apa dengan Xavier? kenapa dia tidak langsung pulang saja, " ujar Nesa khawatir.
Nesa mengkhawatirkan Xavier sambil terus mencari taksi yang akan membawa nya menuju perusahaan sang suami, setelah dapat taksi Nesa langsung mengarahkan supir untuk mengantarnya menuju perusahaan Xavier.
dalam perjalanan tak henti-hentinya Nesa berdoa agar Xavier tidak kenapa-kenapa, sedangkan Xavier terkulai lemas di kursi kebesaran nya dan kekeuh tidak mau pulang alasannya karena pekerjaan harus segera di selesai kan.
sesampainya di gedung perusahaan Xavier, Nesa langsung turun dari taksi dan membayar biaya nya setelah itu langsung melangkah masuk dan langsung menuju ruangan Xavier dengan wajah khawatir nya.
sesampainya di lantai 7 di mana ruangan sang suami berada, Nesa langsung masuk ke dalam ruangan CEO dan yang pertama Nesa lihat adalah Xavier yang bersender di kepala kursi sambil memijat pangkal hidungnya.
Nesa langsung berjalan dan menghampiri Xavier lalu saat sudah sampai di samping laki-laki itu, ia memegang pundak Xavier membuat yang di pegang tersadar dan mendongak melihat ke arah Nesa yang terlihat khawatir.
"sebenarnya ada apa? apa yang terjadi? "
__ADS_1